Bella's Script

Bella's Script
Terbangun



Bau alkohol yang seolah menjadi ciri khas parfum rumah sakit kembali mengisi rongga hidung Bella. Ia masih berlari dengan cepat menuju ruangan tempat Ozi di rawat setelah mendapat telepon dari Saras.


“Adek harus ngeliat abang sekarang.” Satu kalimat itu lolos membuat Bella bergegas berlari dari halaman parkir Rumah Sakit.


Bersama dengan Inka, Ia berlari secepat mungkin menuju ruang perawatan Ozi untuk melihat langsung kondisi sang kakak.


“Hah, hah, hah...” Bella masih terengah di depan ruangan Ozi.


Tirai terbuka lebar dan ia melihat Saras sedang di dalam sana menemani Ozi yang baru sadarkan diri.


"Aahhh..." Tubuh Bella rasanya lemas. Ia pikir sesuatu yang buruk terjadi pada sang kakak, nyatanya bukan hal buruk yang terjadi.


Bella pun mendekat, tersenyum lega, air matanya sampai menetes saat melihat sang kakak yang bisa mengangkat tangannya yang lemah untuk menyapa Bella.


Bella membalasnya dengan usapan lembut di kaca jendela untuk menyapa sang kakak. Rasa ingin menangis langsung menyeruak karena bahagia.


“Mah, abang mau ketemu adek.” Suara Ozi terdengar tidak terlalu jelas karena masih sangat lemah. Bibirnya kering dan tenggorokannya rasa tercekat.


Ia menatap sang adik di depan sana dengan mata yang berkaca-kaca. Lihat saja Bella yang menangis sesegukan di dalam pelukan Inka. Mereka saling berangkulan untuk saling menguatkan.


“Iya, mamah panggilin ya.. Abang tunggu sebentar.”


Ozi hanya mengangguk pelan. Kepalanya masih terasa pusing sehingga pergerakannya sangat terbatas.


Saras pun segera keluar, untuk memanggil Bella.


“Abang mau ketemu adek. Adek masuk gih.” Pinta saras seraya mengusap air mata di pipi Bella.


“Iya mah, adek ke dalem dulu ya..” Bella mengambil baju pengunjung pasien yang semula di pakai Saras. Ia begitu tergesa-gesa ingin menemui sang kakak.


“Tit tit tit tit tit..” Suara monitor menyambut Bella saat ia masuk ke dalam ruang ICU. Udara dingin dari AC langsung menyergapnya dan membuat ia bergidik.


Ia mendekat pada Ozi yang masih tidur terlentang di atas ranjang pasien.


“Hey...” Sapa Bella pada sang kakak.


“Hey...” Balas Ozi.


Ia berusaha menggapai tangan Bella yang dingin menyentuh lengannya.


Bibirnya kering dengan wajah yang tirus seperti tanpa energi. Ozi benar-benar lemah.


“Hem,, Gue liat. Lo hebat, lo menuhin janji lo untuk selalu ada buat gue.” Suara Bella terbata-bata. Bukankah ini waktunya untuk tersenyum, tapi kenapa air matanya terus menetes?


Ia benar-benar tidak menyangka, saat Saras menghubunginya ia memberitahu kalau sesuatu terjadi pada Ozi, jantungnya seperti mau copot. Ia sangat getir setiap kali ponselnya berdering dan nama Saras yang muncul di layar. Ia takut hal yang buruk terjadi pada sang kakak.


“Maafin gue, karena saat lo bangun, gue gak ada di jendela itu.” Lirih Bella dengan penuh sesal.


Ozi menggeleng. “Mamah bilang lo pergi buat nyelesein masalah. Apa masalahnya udah selesai?” Ternyata Ozi yang lebih mengkhawatirkan sang adik.


“Ya, masalahnya udah selesai. Lo gak usah khawatir.” Bella membalas genggaman tangan sang kakak yang erat memeganginya.


“Devan mana?” Mata Ozi tertuju pada jendela besar di hadapannya.


“Devan?"


"Oh Devan masih ada urusan. Gue udah ngasih tau dia dan sebentar lagi dia balik.”


“Gimana perasaan lo sekarang? Apa yang sakit?” Bella mengusap sisa-sisa keringat di dahi Ozi dengan tisue.


“Nggak ada yang sakit, cuma pusing aja. Gue masih pengen tidur dek.” Mata Ozi berkedip lemah.


“Iya, lo istirahat dulu. Kalau lo perlu sesuatu, gue akan ada di sini, sama Inka juga.” Bella melirik seseorang yang ada di kaca.


Ozi mengikuti arah pandang Bella. Benar saja Inka ada di sana dan sedang memandangi Ozi dengan berurai air mata walau senyumnya tetap terkembang.


“Sampein terima kasih gue sama dia.” Ozi menatap Inka nanar. Gadis itu tampak tersenyum saat menyadari Ozi sedang menatapnya.


“Lo sampein sendiri. Dia nunggu lo yang ngomong langsung.” Goda Bella, berusaha menyemangati Ozi.


Ozi hanya tersenyum lalu memejamkan matanya.


“Kalo gak keberatan, minta dia nunggu gue.” Lirih Ozi pelan namun masih bisa di dengar oleh Bella.


Bella hanya mengangguk, ia pun tersenyum pada Inka di luar sana. Satu kesempatan baik untuk mendekatkan Inka dan Ozi akan segera di mulai. Setelah terpuruk karena penyakitnya, kini saatnya Ozi memikirkan pasangan hidup. Ada wanita yang setia menunggunya di luar sana.


****