Bella's Script

Bella's Script
Kunjungan seorang ayah



Suara tangis seorang bayi terdengar jelas di sebuah ruangan perawatan. Suaranya yang nyaring membuat riuh seisi ruangan yang di huni oleh empat orang bayi dalam masing-masing incubator. Satu menangis dan bayi lainnya menyahuti ikut menangis.


“Hey, baby... It’s okey... Ini mamih...” Suara Amara terdengar lirih seraya mengusap dada bayinya dengan tunjuk. Teramat lembut.


“Ssstttt... Kamu gak sendirian nak... Tenang yaaa...” Ucapnya lagi berusaha menenangkan.


Seorang perawat di belakangnya ikut tersenyum melihat interkasi ibu dan bayi itu.


“Bayinya sudah semakin aktif bu. Minum susunya juga semakin banyak.” Ujar perawat yang membersihkan kaki bayi yang terkena urine-nya sendiri.


“Kapan saya boleh menyusui dia langsung sus? Biar gak di pompa terus.” Amara begitu intens memperhatikan bayinya, mengajaknya tersenyum saat sepasang mata jernih itu menatapnya.


“Siang ini dokter akan visite. Nanti harus di lihat dulu refleks hisapnya sudah bagus atau belum. Rencananya, dokter juga akan melepas selang oksigennya karena paru-parunya sudah berkembang sempurna.”


“Apa saya bisa segera membawanya pulang?”


“Bisa bu. Setelah semuanya membaik, ibu bisa segera membawanya pulang. Lagi pula, berat badan bayinya sudah naik. Malah cenderung pesat.”


“Syukurlah... Good Job anak mamih. Kamu hebat nak.” Ungkap Amara yang tersenyum gemas pada bayinya. Telunjuknya begitu erat di genggam oleh tangan mungil itu.


Tanpa mereka tahu, di luar jendela ada seorang laki-laki eropa yang tengah memandangi Amara dan bayinya. Hanya perawat itu yang menyadarinya dan mengangguk sopan pada Keith.


“Apa ibu mengenal seseorang di luar sana?” Tanya perawat itu pada Amara.


Perhatian Amara pun teralih pada sosok Keith yang tengah memandanginya dari balik jendela kaca. Bibirnya yang semula tersenyum, kini terhenti.


“Tidak. Tolong tutup tirainya sus.” Pinta Amara dengan tegas.


“Baik.”


Perawat itu segera beranjak untuk menutup tirai setelah sebelumnya mengangguk hormat pada Keith.


Dan Amara, melihat Keith datang ke rumah sakit, entah mengapa perasaannya jadi tidak menentu. Mungkin saja laki-laki itu datang untuk memohon agar ia mencabut tuntutannya pada Nadine. Menyebalkan bukan?


“Jangan biarkan orang lain masuk dan mengunjungi anak saya ya sus.” Pesannya pada perawat di sebelahnya.


“Baik bu.” Timpalnya patuh.


Amara kembali tercenung, walau ia sudah melarang orang lain untuk datang, rasa was-was tetap saja ada di hatinya. Ia takut jika ada orang lain yang bersikap jahat pada ia dan bayinya.


“Sus, boleh gak kalau bayinya di rawat di ruangan saya juga? Saya ingin menemaninya.” Pinta Amara.


“Saya konsultasikan dulu ya bu. Ibu silakan kembali dulu ke ruangan, nanti saya menemui ibu.”


“Baik, terima kasih.”


Dengan langkah tertatih Amara kembali ke ruangannya. Ia memang sudah tidak menggunakan kursi roda karena ia ingin bisa berjalan sendiri dan melakukan aktifitasnya dengan normal. Namun di sisi lain ia harus menahan sakit saat luka bekas operasi masih terasa berdenyut nyeri ketika ia banyak bergerak.


“Amara!” Panggil Keith dari belakang.


Dub!


Jantung Amara seperti di hantam pukulan keras saat mendengar suara itu. Ia memilih untuk tidak menoleh apalagi berhenti. Ia berpura-pura tidak mendengar panggilan Keith.


“Amara!” Keith segera menghampiri Amara, menghadang langkahnya di depan Amara.


“I can hear you but I don't care about you.” Timpal Amara yang mendelik sinis.


“What do you want? Asking forgiveness for Nadine?” Lanjutnya, tidak suka.


“No Amara. Listen to me. I didn't come for Nadine. It’s for us. You and me, and our baby of course.” Sahut Keith dengan cepat.


Setelah melihat sosok bayinya, ia semakin yakin kalau bayi laki-laki yang dilahirkan Amara adalah putranya.


Amara tersenyum kecil mendengar ucapan Keith. Ia terkekeh lantas tertawa terbahak-bahak sampai matanya berair.


“Ahahahahaha.... You said, us? It's mean you and me Keith?” Amara kembali bertanya tanpa menghentikan tawanya. Ia redam kuat-kuat rasa sakit di perutnya di hadapan Keith. Di hadapan laki-laki ini ia harus terlihat kuat agar Keith tidak semena-mena.


*“Yes*, Amara. I do it for us.” Keith dengan penuh kesungguhan.


“Oh, really? It's so sweet Keith...” Mata Amara membulat menatap Keith dengan haru. Bibirnya tersenyum lebar.


“But, don't you remember what you said before, Keith?” Amara menunjuk kepala Keith dengan telunjuknya yang lentik. Bibirnya tersenyum sinis sementara matanya berubah meruncing pada Keith.


“If you don’t remember, let me remind you"


"Ehm!” Amara berdehem lantas menegakkan tubuhnya.


“Amara, it’s not mine. It’s yours. I have nothing to do with that baby!” Amara berbicara dengan tegas, menggunakan logat dan ekspresi Keith kala itu. Sungguh menyakitkan untuk di ingat hingga ia menitikkan air mata di ujung kalimatnya.


“Do you remember now, Keith? Hem?” Kali ini Amara menatap Keith dengan penuh kemarahan.


Lihat saja matanya yang menyalak ingin memuntahkan semua kemarahannya namun terpaksa ia tahan. Tubuhnya tidak sekuat itu untuk menumpahkan semua emosinya.


“Amara, please...” Keith bersimpuh di kaki Amara. Ia menggenggam tangan Amara dengan erat.


*“Let me fix everything,* Ara.  I promise to do better than before. Please forgive me. I’m really sorry, Ara.” Keith terpekur dengan air mata berlinang. Memohon dengan sungguh pada Amara.


Setetes air mata meleleh di pipi Amara. Ia memalingkan wajahnya dari Keith. Permintaan maaf Keith malah terasa seperti permainan bodoh yang sedang dilakukan laki-laki ini untuk mendapatkan kembali simpatinya. Laki-laki itu hanya ingin menebus rasa bersalahnya, bukan menunjukkan cintanya. namun sayangnya rasa bersalah Keith, saat ini tidak berarti apa-apa bagi Amara.


*“You must know* Keith, I've been through my most difficult time without you. I once struggled between life and death, without you. Nothing is more difficult than that. And I can get through it, by my self. So what are we for? Hem?” Amara merendahkan suaranya.


Keith hanya terdiam.


Yang diucapkan Amara memang benar adanya. Ia tidak ada di saat Amara begitu membutuhkannya. Ia tidak mendampingi di saat Amara berjuang antara hidup dan mati. Semua kesulitan terbesarnya telah Amara lewati seorang diri. Dan Amara pun benar, lantas untuk apa mereka bersama?


Perlahan Keith melepaskan genggaman tangannya. Tangannya yang lunglai jatuh begitu saja di atas kedua pangkal pahanya.


*“You can't answer it,* Keith. So, just let me go...” Tandas Amara dengan rasa kecewa yang mendalam.


Benar bukan, kalau Keith hanya datang untuk menebus dosanya?


Keith tidak lagi menjawab. Ia hanya tertunduk lesu di hadapan Amara. Sementara Amara, memilih melenggang pergi meninggalkan laki-laki itu. Ia mengusap air matanya dengan kasar. Baginya ia tidak perlu menangisi seorang laki-laki yang hanya menjadikannya pilihan tanpa perasaan cinta yang seutuhnya.


****