
“Gue mau nikah.” Itu kalimat yang tiba-tiba Bella ucapkan di tengah perbincangan ia dan Inka saat menuju ruang property.
Rasanya ia tidak bisa menyembunyikan lagi kabar ini dari sahabatnya, karena lambat laun Inka harus tahu.
“HAH?” Pendengaran Inka mendadak terganggu saat tadi Bella berbicara.
“Gimana tadi gimana?” Lagi ia bertanya. Entah ia benar-benar tidak mendengar atau hanya berpura-pura.
Bella tersenyum kecil melihat tingkah Inka yang segera merapat pada Bella, mendekatkan telinganya ke wajah Bella sambil menyibak rambut yang menutupi lubang telinganya.
Bella balas mendekat pada Inka, lalu berbisik di telinga Inka.
“Gue mau nikah nyong.” Bisik Bella penuh penekanan.
“HAH? SERIUS ANJIIIRR?!!” Inka langsung menyalak, menarik tubuhnya menjauh. Matanya menatap Bella penuh selidik. Ia masih merasakan panasnya tiupan udara Bella di telinganya.
“Lo gak lagi becanda kan?” Inka langsung mengambil langkah di depan Bella dan menghadang sahabatnya. Ia merasa perlu penjelasan lebih.
Bella mengangguk yakin sambil menahan senyum yang nyaris terbit.
“Sama siapa Belsky?! Kok lo gak cerita apa-apa tiba-tiba mau kewong aja!” Inka menyenggol Bella dengan sengaja dan gadis itu hanya terkekeh. Ia mengguyar rambutnya yang dibiarkan tergerai dan berhambur terkena hembusan angin serta senggolan Inka yang cukup kuat.
"Menurut lo?" Bella balas menggoda. Membuat Inka kepo itu menyenangkan tau.
"Gue lagi gak mau mikir. Jadi mending lo kasih tau gue sekarang sebelum gue teriak, okey?" Ia mencengkram kedua bahu Bella dengan tatapan tajam penuh rasa penasaran.
"Gak!" Bella menggeleng sambil menahan senyum. Ia masih asyik menggoda Inka.
"Belsky, lo bilang atau gue teriak?!" Ancam Inka yang mengarahkan telunjuknya pada Bella.
Bella hanya terkekeh, lantas menoleh seseorang di sebrang sana.
“Dia.” Tunjuk Bella dengan sudut matanya. Ia balas menatap Devan yang memandanginya dari kejauhan.
“Devan?!” Inka langsung terlonjak kaget.
Bella mengangguk kecil dengan wajah yang memerah.
“Sialan! Dari kapan lo mulai seriusan sama Devan? Kok gue gak tau?” Inka mengoceh sendiri karena merasa di khianati oleh sahabatnya.
"Biar gue tebak, pasti sejak di Bogor. Atau..." Bla bla bla, Inka semakin asyik berceloteh.
Sayangnya, pikiran Bella tidak di sini. Ia asyik berbalas senyum dengan Devan. Senyumnya semakin terbit saat tiba-tiba sebuah pesan masuk dan ternyata pengirimnya adalah Devan.
“Lo cantik banget sih Bell. Makan malem di luar yuk.” Tulis Devan tanpa emoticon apapun. Benar-benar mencerminkan Devan yang dingin dan kaku, namun berusaha gombal di waktu yang bersamaan.
“Akh sial!” Bella mendengus sebal sambil mengipasi wajahnya yang mendadak menghangat. Bisa-bisanya Devan membuatnya tersipu dengan rayuan yang kaku begini. Membuat ia gerah saja.
Karena asyik membaca pesan Devan, ia sampai lupa kalau di sampingnya ada Inka yang asyik mengoceh.
“Bisa gak? Gue lagi pengen di suapin sama calon istri.” Lagi Devan mengirimi pesan.
Bella menahan senyum sambil mengigit jarinya sendiri. Pandangannya tertuju pada Devan. Lantas ia mengangguk mengiyakan.
“Iya apa nggak?” Lagi Devan mengiriminya pesan. Belum puas sepertinya kalau Bella belum membalas pesannya.
“Iya ayaaaang…” Balas Bella. Ia menutup wajah dengan tangan kanan, karena malu.
Sementara di sebrang sana Devan malah mengigit script di tangannya dengan gemas. Di panggil dengan panggilan seperti itu membuat darahnya bergejolak. Ia langsung mengipas-ngipaskan kaosnya karena kegerahan.
“Huwh!” Ia menghembuskan nafasnya kasar lantas kembali tersenyum pada Bella. Semangat kerjanya langsung bertambah berkali lipat setelah Bella mengiyakan ajakannya untuk makan malam.Dalam pikirnya semua harus segera selesai agar bisa pulang tepat waktu.
“HEH!” Tepukan Inka di lengan kanannya membuat Bella terperanjat.
“A-Apaan sih lo!” Ia memegangi dadanya yang serasa jantungnya mau copot. Gara-gara memperhatikan tingkah Devan, Inka jadi terabaikan.
“Beneran sama dia?!” Lagi Inka bertanya dengan penasaran.
“Iyaaa!!! Baweeellll!!!” Bella mencubit kedua sisi pipi Inka dengan gemas. Seperti anak kucing yang menempel pada induknya, Inka mengikuti kemanapun arah pandang dan gerak Bella.
“Kenapa sih kuping lo ngedadak budeg!” Bella melotot sebal pada sahabatnya.
“Tau nih! Lo yang jatuh cinta kenapa gue ikutan begok sama budeg ya?!” Inka menepuk-nepuk kepalanya perlahan.
Ia jadi memandangi Bella dengan wajahnya yang lega. Tidak di sangka kalau Bella dan Devan akan sampai di titik ini, yaitu menikah.
“Hahaha… Dasar lo!” Bella jadi tertawa melihat tingkah sahabatnya.
"So, are you happy?" Tatapan Inka lekat pada sahabatnya. Ia memperhatikan benar setiap titik ekspresi Bella. Terutama binar matanya.
"Sangat. Gue sangat bahagia." Aku Bella dengan sesungguhnya.
"Gue ikut bahagia buat lo ya Bell." Inka memberi pelukan hangat pada sahabatnya. Erat untuk beberapa saat.
"Thank you Ka." Bella jadi tersentuh dengan pelukan hangat Inka.
Setelah beberapa saat, Inka melepaskan pelukannya dan memandangi Bella dengan segaris senyum.
"Cieee.. Yang mau kewong." Ledeknya dengan usil. Ia menyenggol bahu Bella dengan sengaja.
"Hahaha... Resek lo!" Bella tidak bisa menyembunyikan raut bahagianya.
“Yuk akh! Biar cepet kelar.” Sekali waktu ia menarik tangan Inka menuju ruangan property setelah ia sempatkan menoleh dan melambaikan tangan pada Devan yang tidak henti memandanginya.
“Apa gue secantik itu ya?” Batin Bella, bertanya pada dirinya sendiri. Mata Devan terlalu berbinar menurutnya. Ia jadi menyentuh pipinya sendiri yang terasa menghangat. Hah, seperti ini rasanya cinta.
“Rencana kapan Bell?” Suara Inka kembali mengalihkan pikiraan Bella dari Devan.
“Apanya?” Karena tidak fokus, Bella jadi balik bertanya.
“Nikah Belsky! Kita kan lagi ngebahas nikah! Eeeeehhh elo ya, lama-lama gue sambit juga deh!” Inka geram sendiri pada sahabatnya.
“Hahahaha… Galak amat lo. Gue do'ain lo cepet nikah juga yaaa, biar gak galak-galak.” Timpal Bella. Ia memberikan sebuah lukisan pada Inka untuk ia gunakan sebagai aksesories di ruangan lokasi syuting.
“Aamiin....." Inka mengamini Bella dengan sungguh. Diambilnya lukisan dari tangan Bella lantas ia taruh di dekat meja.
"Siapa sih yang gak pengen nikah. Apalagi sama mas Bima. Tapi, gue ngalah deh. Lo aja duluan, gue masih harus usaha.” Inka terlihat sendu setelah mengucapkan kalimat itu.
Bella jadi memandangi Inka yang ada di sampingnya. Ia terrenyuh dengan kegigihan usaha Inka yang setia hanya menunggu Ozi tanpa pernah berpikir untuk menjalin hubungan dengan laki-laki lain.
“Abang orang yang keras dan berprinsip tapi hatinya hangat Ka. Kalau lo mau bertahan, gue akan temenin. Cuma saat ini fokus abang bukan untuk menjalin hubungan. Fokusnya saat ini adalah, tidak menjadi beban bagi siapapun termasuk lo.” Tegas Bella seraya mengusap bahu Inka.
“Ya, I know. Dia laki-laki yang gentle dan itu yang bikin gue kagum.” Sahut Inka dengan senyuman yang kembali terukir.
Dengan senang hati Inka menerima vas itu lalu menempatkannya di samping kanan tubuhnya. Untuk beberapa saat ia memilih duduk di atas meja, mengikuti Bella.
“Rencananya, besok lusa.” Bella menoleh Inka yang menunggu jawabannya. Sebaris senyum terbit di bibir merah muda Bella.
“Waw, cepet juga ya…” Inka mengangguk-angguk saja.
“HAH? BESOK LUSA?!” Inka langsung terperanjat saat sadar dengan kata-katanya. Ia baru ingat kalau lusa itu adalah 2 hari ke depan.
“Lo yakin besok lusa?” Inka sampai melotot pada sahabatnya. Benar-benar tidak percaya dengan yang di dengarnya.
Bella hanya tersenyum. Mengusap tangannya yang berdebu dengan tissue.
“Abang minta, gue nikah sebelum dia di operasi. Malah rencananya lusa, ya gue sama Devan minta perpanjangan waktu lah. Di kasihnya besok lusa doang. Makanya, rencananya kami cuma menggelar akad doang sama keluarga terdekat aja. Gak sampe hati gue pesta dalam kondisi kayak sekarang.” Terang Bella dengan gamblang.
“Mungkin mas Bima takut gak bisa jadi wali lo. Karena menikahkan lo sama laki-laki yang terbaik menurut dia dan lo, adalah mimpi besarnya. Dia mau memastikan lo bisa hidup bahagia dengan laki-laki yang tepat."
"Heem.. Gue iri sama lo Bell. Kapan ya abang-abang gue bisa kayak gitu sama gue? Cemas dikiiiitttt aja, sama gue.” Ujar Inka dengan penuh harap.
“Suatu hari, hal itu akan terjadi Ka. Lo anak yang baik, sayang sama mereka. Gue yakin, abang-abang lo kelak akan sadar bahwa, lo adalah adik mereka yang harus mereka jaga dengan baik. Percaya sama gue.” Sahut Bella dengan harapan yang sama.
“Aamiin…” Dengan semangat Inka mengamini.
Keduanya saling bertatap sambil melempar senyum. Menyenangkan rasanya memiliki sahabat yang saling menyemangati satu sama lain.
“Okey, kita balik sekarang? Devan pasti nyariin lo, lirik sana sini. Kemana nih calon bini gue? Mana saingan dimana-mana lagi.” Goda Inka dengan ekspresinya yang mumpuni.
“Hahahaha… Sa ae lo!” Bella merangkul pundak Inka dengan hangat.
Mereka berjalan bersisian keluar dari ruang property.
“Bell!” panggil seorang crew yang menghadang langkah Bella dan Inka.
“Ya, kenapa bang?” Bella dan Inka kompak menghentikan langkahnya.
“Ada yang nyari noh, emak-emak di depan. Bawa makanan segala.” Ujar crew tersebut.
“Emaknya Bella?” Inka ikut penasaran.
“Gak tau juga gue. Tapi Amara kenal kayaknya.” Sahut Crew dengan kurang yakin.
Bella jadi tercenung, siapa sebenarnya yang sedang mencarinya.
****
“Mah, ini masih jam kerja. Ngapain mamah ke sini?” Sayup-sayup Bella mendengar suara Rangga di balik pintu ruang tunggu pemain.
“Mamah gak akan ganggu. Mamah cuma mau ketemu Bella. Udah itu aja.” Sahut seorang wanita yang Bella kenal juga suaranya.
Akhirnya Bella memutuskan untuk masuk dan menemui wanita itu, yang tidak lain adalah Lina. Ibunya Rangga.
“Tante,” sapa Bella saat melihat Lina sedang bersitegang dengan Rangga. Di ruangan itu juga ada Amara yang menatap sinis kedatangan Bella.
“Ya ampun Bell… Neng cantik....” Lina segera menghampiri Bella. Spontan Bella meraih tangan Lina yang terulur padanya hendak bersalaman.
“Apa kabar?” Lina memandangi Bella dengan penuh atensi.
“Alhamdulillah baik tante. Tante apa kabar?”
“Alhamdulillah sehat juga. Duh, udah lama ya kita gak ketemu. Makanya tante mampir ke sini, pengen ketemu Bella.” Lina mengusap punggung Bella dengan lembut.
Wanita ini memang selalu bersikap baik pada Bella, bahkan sejak saat Bella dan Rangga berpacaran dulu.
“Iya tante. Ada yang perlu Bella bantu tan?” Bella jadi penasaran ada apa wanita ini mencarinya.
“Emmm,,, Begini.” Lina melirik Amara yang tersenyum tengah meminta perhatiannya.
Sejak mereka bertemu, Lina memang sengaja mengabaikan Amara. Melihat penampilannya, Lina tidak terlalu suka. Terlebih dari caranya melirik Bella, bener-benar sinis dan menambah daftar hal yang tidak ia sukai dari seorang Amara yang cantik. Bella masih menjadi idamannya untuk menjadi pasangan Rangga.
“Tante liat loh video kamu sama Rangga. Itu kalian pas lagi apa sih? Sedih sesek gimana gitu.”
Perhatian Lina benar-benar hanya tertuju pada Bella. Bella jadi tidak nyaman mendapat atensi berlebih dari Rangga dan Amara.
Bella tersenyum kecil. Dalam pikirnya, ternyata semakin banyak saja yang melihat dan tahu video itu.
“Itu salah satu adegan syutting tante. Rangga lagi latihan.” Terang Bella apa adanya.
“Wah udah tante duga. Itu Bella jadi pacarnya Rangga di film ini?” Lina terlihat begitu semangat.
“Oh, enggak tante. Itu Bella cuma bantu Rangga latihan aja.” Terang Bella, berusaha menetralisir keadaan.
“Em... Boleh gak tante ngajak Bella keluar. kita ngobrol sebentar." Pinta Lina terang-terangan.
"Maah,, Bella masih kerja Mah." Adalah Rangga yang menolak.
"Sebentar aja... Mamah udah lama gak ngobrol sama Bella." Lina langsung melingkarkan tangannya di lengan Bella.
"Bisa kan Bell?" Kali ini Bella di tatap penuh harap oleh Lina.
Bella bisa melihat sikap waspada Amara yang memandanginya tidak suka namun ia juga tidak bisa protes.
"Iya tante, bisa." Akhirnya Bella mengiyakan. Tidak enak juga menolak Lina yang sudah datang jauh-jauh.
"Waahhh Asyiikk.. Ayo Bell. Tante juga udah bawa makanan jajanan pasar kesukaan Bella." Ajak Lina yang hanya bisa membuat Bella mengangguk setuju.
"Mamah pergi dulu ya Rangga." Pamit Lina seraya menepuk pipi sang anak.
Sementara Amara hanya ia lirik dengan segaris tarikan bibir kelu.
"Permisi." Ujarnya dengan kaku.
"Iya tante, silakan." Walau dongkol, Amara hanya mengiyakan. Lihat saja tangannya yang kemudian mengepal di belakang tubuhnya.
Hah, bagaimana ini? Sampai kapan Bella harus mengiyakan permintaan Lina?
*****
Mau lanjuti nihh...
Tapi jangan lupa like, komen, vote dan favoritnya yaaa... Gift nya juga boleh di taburin, hehehe
Terima kasih