
Sudah memasuki jam tidur, namun Bella masih asyik dengan ipad di tangannya. Ia duduk bersandar pada sandaran tempat tidur seraya membuka satu per satu buku tabungan yang ada di sampingnya. Saat ini ia tengah menghitung biaya yang harus ia siapkan untuk banyak hal.
Ia masih sangat bersyukur karena fee khusus sebagai penulis script film sudah ia terima. Maka saat ini adalah waktunya ia membagi-baginya sesuai kebutuhan yang ia susun berdasarkan skala prioritas.
Uang memang bukan segalanya tapi harus Bella akui, segala kebutuhannnya saat ini membutuhkan uang.
Ia merinci semua bakal pengeluaran di laman Ipad- nya. Ia juga mengecek transaksi penerimaan akhir dari tabungan bersama ia dan Ozi untuk memberangkatkan Saras haji.
“Apa gue lunasi aja ya?” Bella tampak berpikir.
Ia pikir kalau ini masih menjadi tabungan bersamanya dengan Ozi, Ozi akan memiliki beban bulanan yang harus ia bayar. Maka rasanya Bella harus membicarakan ini dengan sang kakak.
“Biaya kuliah semester 5 buat Ibra.” List-nya berjalan ke prioritas berikutnya.
Sejumlah uang ia sisihkan untuk biaya kuliah Ibra juga biaya hidupnya. Ia tidak ingin nanti sampai kelabakan mencari uang untuk biaya kuliah Ibra. Sejumlah nominal ia transfer ke rekening Ibra lalu ia ceklist di list prioritasnya.
"Done." Gumamnya.
Tidak berselang lama, ponsel Bella langsung berbunyi. Ada satu pesan masuk yang segera ia baca.
“Kak, lo transfer duit lagi ke gue?” Ibra langsung mengiriminya pesan begitu notifikasi dari pihak bank muncul di layar ponselnya.
“Y.” Hanya satu huruf itu yang menjadi balasan Bella.
“Gue baru mulai kuliah bulan depan, kenapa lo udah transfer sebanyak ini? Lama-lama gue pake buat jalan-jalan sama beli motor baru nih.” Ancam Ibra.
“Terserah lo.” Balas Bella singkat lagi.
Tidak ada balasan lagi dari Ibra. Ia yakin, walaupun Ibra mengancam akan menghambur-hamburkan uangnya, tapi anak ini tidak pernah benar-benar melakukannya. Ia bahkan bekerja keras agar tidak terlalu bergantung pada Bella, seperti yang selalu ia lakukan selama ini.
“Biaya pengobatan abang…” Bella bergumam sendiri sambil mengigiti ibu jarinya. Ia tidak tahu berapa perkiraan biaya yang akan ia butuhkan.
Ia tahu, walaupun Ozi memiliki asuransi kesehatan tapi terkadang biaya akomodasi yang mereka perlukan di luar dugaan. Ia juga harus memastikan agar biaya-biaya ini tidak menjadi beban pikiran Ozi dan Saras.
Ia menuliskan angka yang cukup besar untuk satu biaya utama itu.
“Okey, ini sisanya. Harus gue tabung.” Ada sekitar 11 juta yang menjadi sisa uang Bella.
Ia menghela nafas lega karena ia cukup bisa memenuhi kebutuhannya. Di peluknya tubuhnya sendiri seraya tersenyum dan menepuk-nepuknya dengan lembut.
“Good job Bell… “ Ujarnya mengapresiasi usahanya sendiri.
Menurut psikolog yang ia pilih untuk konsultasi, hal ini perlu dilakukan untuk menghilngkan rasa tertekan dan lelah. Ia patut berterima kasih dan mengapresiasi dirinya sendiri untuk setiap kerja keras yang ia lakukan. Dan benar saja, ia seperti mendapat semangat baru untuk melakukan hal yang lebih baik di masa mendatang.
Melihat jam di dinding, malam sudah hampir larut rupanya. Sejak pulang bekerja, ia belum mengecek lagi kondisi kakaknya. Ia memutuskan untuk beranjak dari tempat tidurnya dan menemui Ozi di kamarnya.
“Hay, lo di sini?” Sapa Bella saat melihat sang kakak ada di ruang keluarga.
“Hay! Iya.. Sini..” Ozi menepuk tempat di sampingnya agar Bella duduk di sana.
“Lo lagi ngapain bang?” Bella sedikit mengintip layar laptop yang sedang di pangku Ozi.
“Emm,, ini.. Devan nawarin gue project.” Ujarnya dengan senyum terkembang.
“Lo masih juga kerja?” Suara Bella langsung naik.
“Eehh bukaaannn…”
Ozi menunjukkan layar laptopnya secara utuh pada sang adik. Mulai sekarang ia memutuskan untuk tidak ada lagi yang ia sembunyikan dari Bella.
“Lo liat dulu… Gue kan iseng yaa buka-buka situs yang bahas tentang film dan gambar 3D. Terus gue keidean gitu. Gue kan sering diplopia, kenapa enggak gue nyoba bikin karya-karya kayak gini.” Ozi menunjukkan beberapa gambar animasi 3D yang ia buat pada Bella.
“Terusss... Iseng lah gue cerita sama Devan, eh kata Devan dia punya kenalan produser film khusus 3D. Dia juga yang desain wahana 3D di taman bermain dan desain taman cahaya yang kayak gini. Keren kan?” Ozi juga menunjukkan gambar-gambar yang di kirimkan Devan lewat aplikasi chat.
“Bagus.” Puji Bella seraya melihat-lihat gambar di laptop Ozi.
“Lo suka bikin kayak gini bang?” Tanya Bella seraya menatap lekat sang kakak yang matanya berbinar.
“Banget dek! Gue gak pernah nyangka, selain photography, ada pekerjaan menarik lainnya yang gak pernah gue bayangin gimana cara kerjanya.”
“Gue udah coba apply 2 class online tentang materi beginian. Mereka minta gue nunjukkin sample karya gue dan setelah gue kirim ternyata di approve. Gilaaa gue seneng bangeeettt!!! Gue bisa gabung sama orang-orang creative di luar sana. Otak gue seperti kerja lagi dengan cara yang berbeda.” Ozi berbicara dengan menggebu-gebu penuh semangat.
Bella yang melihatnya, tersenyum haru. Kakaknya seperti menemukan kembali semangat hidupnya.
“Lanjutin kalau lo suka. Tapi inget, lo harus cepet sembuh kalau lo mau semua mimpi lo ini jadi kenyataan. Dan kalau sampai mimpi lo terwujud, gue sama mamah harus jadi dua orang pertama yang ngeliat karya terbaik lo.” Tutur Bella dengan penuh keyakinan.
“Hem, I promise. Makasih dek!” Singkat Ozi memeluk Bella dengan perasaan bahagia.
“Bella udah setuju. Gue boleh mendalami bidang ini.” Ozi menulis pesan pada Devan di hadapan Bella.
“Dia nyuruh gue bilang dulu sama lo. Kalau lo setuju, baru dia mau ngenalin gue sama temennya itu.” Tanpa di minta Ozi menjelaskan lebih dulu.
“Okey.” Sahut Bella seraya mengusap punggung Ozi. Terlihat sekali Ozi yang masih tersenyum senang mendengar dukungan dari Bella.
Tidak lama berselang, ponsel Bella berdering. Saat di lihat, ternyata nama Devan yang muncul di layarnya.
“Gue ke kamar dulu. Inget, jangan begadang.” Pamit Bella seraya berpesan.
“Sip sip! Lo juga istirahat.” Ozi mengacungkan jempolnya pada Bella.
Setelah berlalu, cepat-cepat Bella menjawab telepon Devan setelah menuruni anak tangga dan menjauh dari Ozi.
“Ya Van?” Ia masuk ke kamarnya dan membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
“Hay, lo belom tidur?” Suara Devan terdengar lembut dari sebrang sana.
“Belum. Baru habis nemuin abang. Tapi kayaknya dia lagi sibuk.” Terang Bella. Ia meraih tedy bear di ujung tempat tidurnya untuk ia peluk.
“Lo lagi ngapain?” Berganti Bella yang bertanya.
“Nelpon lo.” Sahut Devan seraya tersenyum.
“Iyaa gue tau. Maksud gue lo lagi ngapain selain nelpon gue?” Bella jadi tertawa sendiri mendengar ucapan Devan.
“Nggak ngapa-ngapain. Gue emang selalu fokus sama satu hal. Seperti sekarang, gue fokus buat nelpon lo.” Terang Devan dengan sejujurnya.
“Lo gila ya emang.” Bella kembali tersenyum mendengar sahutan Devan.
“Lah malah ketawa.” Rupanya Devan mendengar tawa lirih Bella.
Ia pun membaringkan tubuhnya di sisi tempat tidur menghadap ke kiri. Seolah keduanya sedang berhadapan di tempat yang berbeda.
“Van,”
“Ya.”
Keduanya berbicara singkat. Bella tampak masih berusaha merangkai kata-katanya.
“Makasih ya. Udah bantu banyak hal buat gue dan keluarga gue.” Lanjut Bella tiba-tiba.
Dulu ia sangat kesal karena sering melihat Ozi sembunyi-sembunyi menghubungi Devan. tapi sekarang, ia merasa bersyukur karena Devan ternyata menjadi sahabat yang baik untuk kakaknya.
“Keluarga lo, keluarga gue juga Bell.” Sahut Devan dengan nada serius.
Ia masih mengingat, selama hampir satu tahun ia tinggal di rumah Bella dan Saras mengurusnya dengan baik padahal keluarganya sendiri seolah mengabaikannya. Mereka lebih sibuk dengan prahara keluarga Devan yang tidak berkesudahan.
“Lo harus inget, selain Ozi punya lo dan nyokap lo, dia juga punya gue yang pasti akan selalu support dia dengan cara gue.” Tegas Devan yang membuat Bella tersentuh dengan ucapannya yang tulus.
“Lo bener Van, lo bagian dari keluarga ini.” Bella ikut menegaskan itu.
“Apa sekarang lo bisa maafin gue? Gue tau, harusnya dulu gue gak pergi tiba-tiba dari hidup lo. Tapi,”
“Gue maafin lo. Jauh sebelum hari ini, gue udah maafin lo. Tapi lo tau gak sih sedihnya gue karena lo gak pernah ngasih kabar sama gue sementara lo telponan dan chattingan sama abang gue?” Tiba-tiba saja Bella merasa sedih sendiri.
Devan tersenyum gemas mendengar rengekan Bella.
“Bisa video call?” Tawar Devan, alih-alih menjawab pertanyaan Bella. Ia ingin melihat wajah Bella saat ini.
“Gak perlu! Akh ngeselin lo! bye!!!” Tandas Bella yang mengakhiri panggilannya. Tiba-tiba saja ia menangis saat ia mengingat bagaimana sedihnya ia di tinggalkan di hari ulang tahunnya.
Tanpa berkata apa-apa Devan pergi dan tidak pernah menghubunginya sekalipun sampai kemudian laki-laki itu kembali datang dengan sosoknya yang menjadi asing.
“Bell,, I’m really sorry. Mulai sekarang, gue gak akan pergi kemanapun lagi.” Pesan itu di terima Bella kemudian.
“Aahhhhh lo ngeseliinnn!!!!” Gerutu Bella. Di lemparnya ponsel menjauh lantas ia sembunyikan wajahnya di bawah bantal.
Entah apa yang terjadi dengan dirinya saat ini. Yang jelas di sebrang sana Devan masih memandangi foto profil Bella di aplikasi chatnya.
"Lo juga bagian penting dari hidup gue Bell." Ujarnya seraya tersenyum.
*****