
“Jadi, Bella yang akhirnya menjadi istri kamu?” Tanya Amri di sela obrolannya dengan Devan.
Mereka tengah bersantai di teras apartemen sambil menikmati secangkir kopi. Keduanya benar-benar menghabiskan waktu bersama, setelah lama tidak berjumpa. Berbincang tentang satu sama lain, seolah ingin membayar banyaknya waktu yang mereka lewati secara terpisah.
“Memang menurut papah siapa lagi?” Devan balik bertanya.
“Yaa, papah pikir kamu akan dekat dengan banyak wanita. Sejak kecil kan kamu incara banyak gadis dan ibu-ibu kompleks. Banyak anak-anak perempuan yang naksir kamu kalau kita jalan-jalan ke mall atau ke taman.” Amri jadi mengingat kenangan ia bersama Devan dulu.
Saat Devan kecil, putranya ini sudah menarik perhatian banyak gadis. Pembawaannya yang tenang, dingin dan sorot matanya yang tajam sudah pasti membuat jantung para gadis berdegub kencang. Dan itu terbawa hingga ia dewasa seperti sekarang.
“Nggak lah, pah. Devan gak pernah main-main sama perempuan. Waktu Devan mending digunakan untuk belajar banyak hal, seperti yang papah ajarkan dulu.” Terang Devan dengan senyum simpul. Walau kebersamaannya dengan sang ayah dulu sangat singkat, tapi begitu membekas di pikiran Devan.
Amri terangguk pelan. Ia memandangi wajah sang anak yang begitu ia rindukan.
“Jadi, apa sekarang kamu benar-benar sudah jadi seorang astronaut atau produser film?”
Laki-laki paruh baya itu masih mengingat dua cita-cita yang selalu Devan katakan sejak dulu. Ia selalu berkata kalau ia tidak mau menjadi pengusaha seperti dirinya atau menjadi seorang aktris terkenal seperti ibunya.
“Sutradara Pah.” Devan tersenyum kecil saat mengingat usahanya untuk mewujudkan cita-cita itu begitu berat.
Ia kerap bertentangan dengan Alwi, laki-laki yang membesarkannya yang menginginkan ia menjadi seorang pengusaha, penerus kerajaan bisnis milik keluarga Anggita.
“Dan papah tau, yang Devan nikahi adalah seorang script writer berbakat. Seperti hobynya, ia sangat suka bercerita hal menarik sejak kecil.” Perlahan Devan mulai memperkenalkan Bella.
“Papah mau liat project baru aku sama Bella?” Dengan antusias Devan bercerita. Binar matanya selalu berkilauan saat ia membicarakan wanita yang sedang menyiapkan makan malam di dalam rumah.
“Tentu. Rupanya jodoh memang nggak kemana. Kalian gak cuma menikah tapi juga ada project bersama.” Amri dengan kekagumannya.
Devan dengan semangat mengeluarkan ponselnya. Membuka gallery poselnya dan menunjukkan sebuah video teaser pada Amri.
“Papah liat ini.” Ajak Devan. Ia menggeser kursinya lebih dekat dengan Amri dan melihat teaser itu bersama-sama.
Amri tampak menikmati saat video berdurasi kurang dari satu menit itu di putar Devan. Laki-laki itu tersenyum dan matanya tampak berkaca-kaca haru melihat pencapaian yang di capai oleh Devan.
“Bagus.” Pujinya.
Ia begitu bangga pada sang anak yang bisa tetap tumbuh dengan baik walau tanpa pengawasan Ia dan mendiang istrinya.
Ia mengusap bahu Devan dan menepuknya dengan bangga.
“Makasih Pah.”
Ungkap Devan dengan perasaan hangat yang menyeruak di dadanya. Perasaan yang pernah hilang selama 15 tahun ini. Tapi kemudian ia kembali, membuat Devan merasa kalau hidupnya kini terlalu indah meski tidak sempurna.
Selesai menonton video itu, Devan dan Amri sama-sama terdiam. Mereka saling menoleh lalu melempar senyum. Seperti tidak percaya kalau mereka bisa kembali bersama walau tidak lagi utuh.
Devan melihat Amri menghela nafasnya dalam lalu menghembuskan pelan. Seperti ada sebuah beban yang baru saja terlepas dari pundaknya.
“Kamu tau, papah sempat berpikir kalau seharusnya mungkin papah berada di dalam sel itu seumur hidup. Karena papah telah menghancurkan kebahagiaan keluarga kita, jadi rasanya itu cukup adil.”
“Papah juga gak tau, apa yang akan papah lakukan jika papah terbebas. Apa mamah akan senang melihatnya atau mungkin marah karena ini tidak adil. Mamah selalu bilang kalau mamah ingin memiliki umur yang panjang supaya bisa mendampingi kamu sampai dewasa, menikah dan punya keluarga kecil yang bahagia. Tapi papah malah mengakhiri mimpi itu.”
Tanpa terasa air mata menetes di pipi Amri. Air mata yang selalu setia menemaninya selama 15 tahun terakhir ini.
Devan ikut terpekur mendengar ucapan Amri. Benar adanya kalau itu mimpi yang selalu diucapkan Anggita sejak dulu.
"Karena selain ingin berumur panjang, mamah juga ingin melihat kita berbahagia. Tidak bisakah kita mewujudkan salah satu mimpi mamah?”
Devan bersuara lirih. Ia menatap sang ayah yang terlihat penuh sesal.
Laki-laki itu tertunduk dan buliran air mata begitu mudah menetes di punggung tangannya yang saling mencengkram. Tangan yang kosong karena tidak ada lagi tangan wanita yang sangat ia cintai, yang selalu ia genggam dengan erat. Ia hanya bisa bertemu dengan Anggita dalam angan-angannya, memutar setiap memori indah yang pernah mereka lewati dulu. Tetus berulang dan berulang lagi.
Tanpa sadar, tangis Amri semakin pecah. Ia menangis sesegukan di samping Devan.
Dengan perasaan yang sedih, Devan menghampiri sang ayah dan memeluknya dari samping membuat tangis laki-laki itu semakin menjadi.
Devan mengusap bahu Amri dengan lembut, bahu yang tidak lagi setegap dulu. Untuk saat ini ia tahu, kalau tempat yang ayahnya butuhkan adalah bahunya yang kuat untuk ia bersandar.
****
“Silakan pah.”
Bella menyodorkan makanan mendekat pada sang ayah mertua. Beberapa menu sudah tersaji di meja makan untuk mereka nikmati bersama.
Ini pertama kalinya mereka berkumpul dalam satu meja yang sama untuk meikmati makan malam.
“Maaf karena Bella masih menyuguhi papah dengan makanan dari luar, Bella belum bisa makan. Hehehe…” Aku Bella yang tersenyum kecil.
“Loh ya gak apa-apa… Makan itu kan selain perkara menunya apa, yang terpenting dengan siapa kita menikmatinya.” Sahut Amri dengan bijak.
Bella jadi tersenyum senang mendengar ucapan ayah mertuanya.
“Sini sayang,…” Devan menepuk tempat di sampingnya agar Bella duduk.
“Mas, ihhh…” Bisiknya dengan wajah merona karena malu ia di panggil seperti itu di hadapan Amri.
“Ya nggak apa-apa, papah seneng loh liat kita romantis, iya kan pah?” Timpal Devan yang ikut melibatkan ayahnya.
“Iyaaa, papah seneng kalau ngeliat kalian akur, saling menunjukkan rasa sayang. Itu bikin papah berasa muda lagi.” Aku Amri.
“Tuh kan. Kamu harus tau, kalau papah itu orangnya romantis. Gombalannya banyak.” Puji Devan tanpa ragu.
“Iyaaa, jangan aneh kalau Devan suka merayu-rayu kamu. Itu bakat dari papah.” Amri dengan semangat menimpali.
“Tapi, Mas Devan gak romantis loh pah sama Bella. Seringnya cuek-cuek aja gitu.” Bella mencoba menggoda sang suami membuat mata Devan membulat gemas pada sang istri.
“Jangan cuek-cuek lah Van. Bikin Bella jatuh hati sejatuh-jatuhnya sama kamu supaya hatinya 1000% buat kamu. Bisa mendapatkan hati wanita yang kita cintai itu adalah kebahagiaan dan kedamaian terbesar loh.” Ucap Amri dengan penuh kesungguhan.
“Iya pah, nanti Devan akan lebih romantis lagi sama Bella. Devan akan bikin Bella klepek-klepek.” Devan mengamini ucapan ayahnya dan tersenyum nakal pada Bella.
Bella langsung bisa menangkap signal yang dikirim Devan melalui tatapan dan senyuman suaminya itu.
“Iyaaa… Pokoknya papah akan mengawasi kamu. Papah gak mengizinkan kamu menyakiti sedikitpun istri yang sudah kamu nikahi. Ingat pesan papah.” Amri berujar dengan sungguh.
“Siap!” sahut Devan dengan semangat.
Bella jadi tersenyum kecil melihat interaksi ayah dan anak ini. Ia bisa melihat bagaimana usaha keduanya untuk mengisi kekosongan ruang di hati satu sama lain. Dan melihat sikap manis Amri, ia bisa membayangkan bagaimana besarnya cinta papah Devan pada mendiang mamahnya. Mungkin hal itu yang membuat ia sangat merasa bersalah dalam kurun waktu yang lama.
****