
Mengajak Bella ke café menjadi pilihan Inka kali ini. Ia ingin lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Bella setelah kemarin-kemarin jarang bersama-sama. Ia sangat rindu berbagi cerita dan tawa dengan Bella yang selama ini di kenalnya.
Entah apa yang Bella rasakan sebenarnya saat ini yang jelas ia tampak lebih baik dari beberapa hari ke belakang.
“Warna kuteknya cocok di jari lo.” Puji Bella saat melihat jemari Inka yang dipakaikan kutek berwarna soft pink. Gliter di atasnya membuat kuku Inka terlihat cantik berkiluan.
Inka yang sedang mengaduk minumannya dengan sedotan kemudian memandangi jarinya dan tersenyum.
“Ini hasil karya gebetan anak café itu.” Sahut Inka seraya menatap Bella dan tersenyum.
“Ohh…” Bella canggung menanggapi. Sudah pasti Ibra yang dimaksud Inka.
“Gimana kabar mas Bima, Bell? Udah lama gue gak denger kabarnya.” Wajah inka berubah sendu.
Sejak pertemuan terakhir di RS mereka tidak pernah bertemu lagi. Hanya sekali mereka berkirim pesan dan kali ini Ozi membalasnya dalam waktu cepat.
“Emm.. Baik. Gue juga jarang ketemu abang. Gue sering pulang malem dan saat gue berangkat dia masih di kamarnya. Belakangan dia sering begadang, katanya ada project yang lagi dikerjain.” Sahut Bella. Ia jawab saja sesuai kabar dari Saras.
Entah mengapa sekarang Ozi lebih banyak menghindar darinya.
Inka mengangguk dengan wajah sendu. Air mukanya terlihat sedih. Ia menyeruput kembali minumannya dengan perasaan gundah.
“You okey?” Bella jadi penasaran.
Ada apa dengan sahabatnya yang terlihat muram.
“Yaaa,, not bad.” Suara Inka terdengar bergetar.
Terlalu banyak hal yang terjadi dan membuat ia tidak baik-baik saja. Ia menengadahkan kepalanya seperti berusaha mengalau air mata tapi air matanya ternyata lolos menetes.
Ia tersenyum pada Bella seraya mengusap air matanya.
“Hey, you need a hug?” Tawar Bella. Ia yakin ada yang salah dengan Inka. Di genggamnya tangan Inka yang dingin dan gadis itu mengangguk pelan.
Dengan cepat Bella menghampiri dan memeluk Inka dengan erat.
“Sssttt… It’s okey kalau lo mau nangis. Gue di sini Ka.” Lirih Bella yang terdengar hangat di telinga Inka.
Tak berselang lama, Inka kemudian terisak. Awalnya pelan tapi kemudian semakin lirih dan sesegukan. Seperti gadis ini sedang sangat kesakitan.
Bella semakin mengeratkan pelukannya. Untuk beberapa saat ia membiarkan Inka menangis dan Bella hanya menemaninya sampai semua kesedihannya tertumpahkan.
Baru kali ini Bella melihat Inka menangis sedalam ini. Terakhir kali ia melihat Inka menangis karena menyesal telah menjadi mata-mata Bella untuk Ozi. Tapi kali ini tangisannya terdengar berbeda.
“Mau cerita? Gue bisa dengerin.” Tawar Bella setelah Inka terlihat lebih tenang.
Ia menatap wajah sembab Inka yang masih tertunduk lantas berusaha untuk mengangkat wajahnya.
Bella mengusap sisa air mata di wajah Inka dan gadis itu berusaha tersenyum.
“Thanks Bell.” Ujarnya dengan lirih.
Bella mengangguk-angguk saja seraya memandangi Inka.
Gadis itu mengambil selembar tissue, melap air mata dan air hidung yang menetes begitu saja. Beberapa kali ia terlihat menghela nafasnya dalam untuk menenangkan dirinya.
“Sedih gue. Saat lo ada masalah, lo nyelesein semuanya sendiri. Tapi saat gue ada masalah, lo selalu ada. Lo bahkan tau saat gue lagi gak baik-bak saja Bell. Padahal lo cuma liat muka gue doang.” Ucap inka sambil meremas tissue di tangannya.
Bella jadi tercenung mendengar ucapan Inka. Tanpa sadar ia telah membuat salah satu orang terdekatnya merasa tidak berguna padahal ia tidak bermaksud seperti itu. Ia hanya ingin agar masalahnya tidak menjadi beban bagi orang lain.
“Sorry, gue bukan bermaksud bikin lo ngerasa bersalah. Cuma, setiap orang kan punya cara sendiri ngehadapin masalahnya. Dan gue, gue tau cara gue ngehadapin masalah kemaren terlalu, emm… terlalu kekanakan.” Ujar Bella. Ia juga ragu apa istilah yang tepat untuk cara yang ia lakukan kemarin. Yang jelas, ia berpikiran sangat sempit.
“Lo gak kekanakan Bell."
"Lo terlalu mandiri, sampe gue gak tau bagian mana yang bisa gue bantu dari lo. Sorry, bukan maksud ngehakimin lo. Cuma, kadang gue ngerasa kalau gue gak cukup berarti buat jadi sahabat lo. gue,” Kata-kata Inka tercekat. Air matanya kembali menetes dan ia usap dengan tissue yang sudah basah.
“Heeeyy… Gue gak maksud kayak gitu Ka… Maafin gue kalau gue udah bikin lo ngerasa kayak gitu.” Bella menggenggam tangan Inka dengan erat.
“Kenapa lo yang harus minta maaf? Lo lebih kesulitan dari gue. Gue sayang sama lo Bell. Lo tau gak kalau kemaren tuh hari-hari gue sepi banget?” Kalimat Inka terdengar terbata-bata sambil menahan tangis.
Bella tidak menimpali. Ia memilih untuk memeluk Inka dari samping seraya mengusap-usap bahu sahabatnya. Mereka berangkulan, Inka menyandarkan kepalanya pada Bella.
“Sekarang gue udah lebih baik. Dan lo bisa lebih tenang. Hem?” tutur Bella dengan penuh keyakinan.
Ya, hari ini perasaannya sudah jauh lebih baik di banding hari-hari sebelumnya.
Inka mengangguk kecil sambil tersenyum. Tenang rasanya mendengar ucapan Bella.
“Ada hal lain yang mau lo certain sama gue?” tanya Bella penasaran.
“Ihhh lo yaaa.. Suka tau aja.” Inka langsung melepaskan pelukannya. Ia menatap Bella dengan kesal.
“Hahahaha… Angry bird gue..” Ledek Bella seraya menjawil pipi Inka dengan gemas.
Inka memang lebih sering merajuk dan marah di banding Bella. Itu mengapa Roni memberinya panggilan Angry bird untuk Inka.
Inka hanya mengkerut, tidak protes.
“Bell,” tiba-tiba saja raut wajah Inka berubah serius.
“Ya?” Bella memfokuskan perhatiannya pada Inka.
“Gue butuh bantuan lo saat ini.” Ujarnya ragu, ia menatap Bella dengan takut-takut.
“Untuk?” Bella jadi penasaran. Biasanya Inka selalu dengan mudah mengatakan apapun tapi kali ini seperti tertahan.
“Akh gue bingung ngomongnya. “ Inka seperti sedang mencari kalimat yang tepat untuk menjelaskannya.
“Jadi, saat ini kondisi perusahaan bokap lagi gak baik-baik aja, karena banyak artis yang milih mundur dari PH. Mereka kayak stuck sama ide di PH. Lo, bisa gak jadi konsultan departemen creative di perusahaan bokap gue?” Tanya Inka dengan penuh kekhawatiran.
Ia menatap Bella yang tampak terkejut mendengar permintaannya.
“Akh permintaan gue emang ngadi-ngadi Bell. Lo bisa lupain aja.” inka langsung melarat permintaannya. Ia tahu persis seperti apa loyalitas Bella terhadap perusahaan.
Walau ayah Inka dan Eko adalah saudara kandung namun tetap saja mereka ada persaingan bisnis, terlebih setelah perusahaan ayah Inka di kelola oleh kakak tirinya.
“Gue gak tau harus berkomentar apa Ka.” Lirih Bellla dengan pikiran yang tiba-tiba kosong.
Ia tahu permintaan Inka itu penting bagi sahabatnya tapi tidak terbayang seperti apa ia menolongnya.
“Gue tau. Makanya ini juga sulit buat gue.” Inka menangkup wajahnya seraya tertunduk. Ia kehabisan akal untuk membantu perusahaan orang tuanya saat ini.
Akhirnya keduanya hanya terdiam. Entah apa yang mereka pikirkan masing-masing. Jika kondisinya sesulit ini, wajar saja Inka terlihat sedih.
*****
“If I fell in love with you
Would you promise to be true
And help me
Understand
'Cause I've been in love before
And I found that love was more
Than just
Holding hands…”
Saras bersenandung lirih sambil berdiri di depan kuali dan sedang menggoreng sesuatu. Sudah cukup larut namun wanita ini masih membuat makanan.
Bella mendekat, duduk di kursi makan dan memperhatikan Saras yang asyik bersenandung. Sesekali ia menggunakan spatula sebagai mic dan Bella hanya tersenyum gemas melihat tingkah ibunya yang belum sadar akan keberadaannya.
“Would love me more than her?” Satu lirik lagu itu ia nyanyikan dengan penuh penekanan sambil mengangkat makanan dan menempatkan di kawat saringan beberapa saat sebelum menaruhnya di atas piring.
Ia mencium wangi makanan yang tidak lain adalah pempek.
“Astagaaa!! Adekkkkkk!!!!” Serunya saat ia berbalik dan mendapati Bella sudah duduk di hadapannya. Ia kaget sendiri.
Gadis itu hanya tersenyum melihat wajah terkejut Saras.
“Kok gak bilang kalau udah pulang?” Ia menaruh piring berisi pempek di atas meja dan mematikan pemutar musiknya.
“Adek tadi udah bilang salam, tapi gak ada yang nyahutin.” Sahut Bella sejujurnya, walau ucapan salamnya hanya dalam hati.
“Hehehhe… Mamah gak denger.” Saras terkekeh malu.
“Wa’alaikum salam…” Lanjutnya.
Bella jadi tersenyum kecil karena berhasil mengerjai ibunya.
“Abang mana mah?” Bella celingukan mencari Ozi. Biasanya kalau sudah judulnya bikin pempek, kakaknya akan lebih dulu berada di meja makan.
“Di kamarnya. Katanya tadi masih ada kerjaan. Hari ini dia WFH lagi.” Terang Saras dengan wajah cemasnya.
Sejak Ozi sakit, ia memang lebih sering bekerja di rumah. Duduk di depan komputer walau sesekali pandangannya kabur karena efek penyakitnya.
“Adek cek dulu ya. Kita makan bareng.” Bella beranjak dari tempatnya.
Saras mengiyakan saja, ia bisa tersenyum lega melihat Bella yang sudah membaik.
Satu per satu anak tangga di jajaki Bella. Tiba di depan kamar Ozi, ia segera mengetuk pintu.
“Abaaang… Lo udah tidur?” Panggil Bella dari luar.
Tidak ada sahutan dan Bella mengetuk lagi tetap saja sepi.
Akhirnya ia memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. Ia melihat Ozi yang sedang terduduk di meja kerjanya, menggunakan headset dan tengah melihat sesuatu di layar laptopnya.
“Bang…” Panggilnya lagi.
“I-Iya!” buru-buru Ozi melepas headset dan menutup layar laptopnya. Sangat tergesa-gesa.
“Kenapa dek?” Cepat-cepat ia berbalik.
“Lo nonton apaan sih ngumpet-ngumpet segala? B*kep ya?!!!” Terka Bella sambil menunjuk Ozi.
“Enak aja!” Ozi segera menepis tangan Bella.
“Daripada nonton begituan, mending praktek langsung.” Imbuhnya dengan santai.
“Ya udah sono praktek! Udah dapet belum calon istrinya? Gue gak sabar mau liat ponakan gue senyebelin bapaknya gak?!” Timpal Bella tidak mau kalah.
“Yeee nih bocah!” Ozi menjitak Bella pelan.
“Aduuhhh!! Lo maen kekerasan ya! Gue bilangin mamah lo!” Ancam Bella sambil mengusap-usap kepalanya.
Ozi hanya terkekeh. Ia segera meraih kepala Bella lantas mengecup bagian kepala yang tadi di jitaknya. Tidak sakit sebenarnya, Bella hanya sedang mencari perhatian saja.
“Sembuh?” tanya Ozi memastikan.
“Lumayan. Di tambah es krim, lebih sembuh lagi.” Timpalnya sambil tergelak.
Ozi jadi ikut tertawa sambil memandangi wajah sang adik. Ia merasa sangat beruntung karena sikap Bella sudah kembali seperti semula.
“Gue sayang sama lo.” Ujar Ozi tiba-tiba. Tatapannya berubah menjadi lekat dan hangat.
Melihat Bella, rasa sesal di dadanya kembali hadir. Bisakah ia mengakui di hadapan Bella kalau ia menjadi salah satu orang yang menyebabkan adiknya hancur?
Tidak, ini terlalu menakutkan. Ia tidak mau membuat Bella kembali sedih apalagi membencinya. Ia tidak mau kehilangan senyum Bella yang saat ini bisa ia lihat lagi. Tidak, ia tidak seberani itu sekarang.
“Hem, Gue tau.” Bella balas menatap Ozi.
Ia mendekat pada sang kakak lalu memeluknya dengan erat. Ozi tampak terkejut dengan pelukan Bella yang tiba-tiba. Untuk beberapa saat ia terdiam, membiarkan kedua lengannya melingkar di tubuh Ozi dan menempatkan kepalanya di dada Ozi. Ia bisa mendengar suara jantung Ozi yang berdetak dengan lambat dan stabil. Ini sangat menenangkan bagi Bella.
“Lo udah minum obat?” Bella melepaskan pelukannya dan berganti menatap wajah sang kakak.
Masih saja wajahnya terlihat pucat.
“Udah.” Sahutnya. Ia bisa melihat kalau Bella mencemaskannya.
“Katanya mamah bikin pempek. Udah jadi belum ya?” Ozi berusaha mengalihkan pembicaraan. Mengingat penyakitnya membuat ia merasa tidak berdaya.
“Udah, makanya gue manggil lo.”
“Ya udah, yuk turun. Gue gak sabar mau makan yang banyak. Tadi gue sengaja gak makan malam, pengen pempek.”
“Hem, lo boleh ngambil bagian gue satu.” Mereka sama-sama keluar dari kamar.
“Makasih dek…” Sahut Ozi seraya mengusap kepala Bella yang membuat rambutnya berantakan. Tidak lama sampai ia merapikan kembali rambut Bella.
Bella hanya tersenyum melihat tingkah kakaknya. Ada-ada saja tingkah isengnya.
*****