
Syuting beberapa scene terakhir terasa tidak terlalu menyenangkan. Euphoria yang biasanya terasa kuat di detik-detik akhir syuting, sama sekali tidak ada. Biasanya lebih banyak canda tawa di banding ketegangan. Namun kali ini berbeda, walau acting kedua pemain semakin bagus, namun beberapa kali mereka mendapat protes dari sang sutradara dan cameramen. Chemistry-nya tidak terlalu kuat saat tertangkap kamera.
“Michael, tunjukin ekspresi lo jatuh cinta sama perempuan. Liatin itu ke penonton lo.” seru Devan dari kursi sutradara.
“Okey, sorry…. Gue minta break 5 menit.” Rangga mengusap wajahnya kasar, sulit sekali mengakhiri scene ini padahal ini scene penuh cinta.
Amara yang menjadi lawan mainnya untuk bermesraan terlihat kesal sendiri. Entah mengapa dari tadi Rangga sangat sulit untuk fokus.
“Sini deh, lo liat dulu muke lo di kamera.” Kemal memanggil Rangga agar mendekat.
Rangga mengacungkan jempolnya dan berlari kecil menghampiri crew.
“Lo liat bagian ini,” Devan memutar ulang scene yang tadi di ambil dan Rangga dengan penuh atensi, menyimak. Adegan berdurasi 6 menit itu di perhatikan oleh Rangga dengan baik-baik.
“Okey, di bagian ini nih expresi lo gak tepat. Coba lo nonton dulu film genre romance, terus lo bandingin ekspresi pemainnya dengan ekspresi lo. Ya walaupun gak sebanding sama mereka, tunjukin eksspresi terbaik lo sebagai seorang laki-laki yang lagi jatuh cinta. Inget, ini scene *******, lo gak bisa bikin kesalahan sedikitpun.” Devan kembali mengarahkan.
“Okey, Sorry. Sekarang gue nangkep. Boleh tolong kirim potongan videonya ke gue, gue mau pelajari sebentar.” Pinta Rangga dengan semangat. Ia pun ingin syuting segera selesai. Beradegan mesra dengan seseorang yang sedang menjadi pasangan bertengkarnya tidaklah nyaman.
“Gue kirim lewat wa. Coba lo cek.” Ujar Kemal.
“Okey, makasih bang.” Rangga pun segera pergi setelah mendapatkan potongan video tersebut.
“Waahh, alamat sampe malem ini nyelesein satu scene doang.” Gerutu Kemal yang sudah sangat lelah. Ia menggaruk kepalanya dengan kasar karena gatal di penuhi keringat.
“Sorry bro, tapi kita memang harus bikin visual yang bagus di akhir klimaksnya.” Timpal Devan.
“Iyaa, soal itu gue setuju. Sampe jam berapa juga kita jabanin lah, yang penting selesai hari ini.” Indra ikut menambahkan.
Di tempat berbeda, Amara memilih merapikan penampilannya. Mood nya mendadak buruk setelah proses syuting banyak terjeda karena Rangga. Amara tidak habis pikir, entah apa yang menganggu pikiran Rangga hingga beradegan mesra saja sulit di lakukannya. Padahal itu sesuatu yang biasa bagi mereka terlebih semalam pun mereka menghabiskan waktu bersama dengan penuh gairah.
"Bagian mana yang mau di touch up?" Tanya seorang make up artis yang membantu Amara merias diri.
"Lipstick gue, bikin agak sensual dikit." Pinta Amara seraya memandangi wajahnya di cermin. Ia pun mengusap perutnya yang semakin membuncit padahal sudah memakai korset. Mahluk kecil di dalam tubuhnya rupanya tumbuh dengan baik. Menyebalkan!
“Lisa kemana Ra?” Tanya Inka saat masuk ke ruangan Amara.
Amara sampai terhenyak dan segera menurunkan tangannya dari perut. Ia hanya melirik dari kaca, malas untuk berbicara dengan orang-orang yang dekat dengan Bella.
“Udah gue pecat!” Sinisnya.
“Lo pecat? Terus manager lo sekarang siapa?” Inka sampai melongo. Semudah itu Amara memecat managernya.
“Gak ada. Gue sama Rangga sekarang cuma berdua. Kalau ada apa-apa, langsung aja hubungin gue atau Rangga. Lagian kami masih bisa ngehandle kerjaan. Gak ada Lisa juga gak ngaruh. Ngapain mempekerjakan orang yang gak tau tugasnya apa?!” Amara berbicara dengan enteng sambil mengulang untuk memoles bibirnya dengan lipstick.
Inka hanya mengangguk-angguk saja, tidak terlalu memikirkan jawaban Amara.
“Temen lo kemana gak keliatan? Lagi depresi ya sampai gak datang ke lokasi?” Amara tersenyum sinis di ujung kalimatnya.
“Siapa maksud lo?” Inka bersidekap seperti hendak menantang Amara.
“Ya siapa lagiiii… Bestie lo lah! Pasti dia lagi nangis di pojokan gara-gara di serang sama netizen. Makanya, lo kasih tau dia supaya gak jadi pelakor.” Lagi ucapan Amara terdengar sarkas dan menyebalkan.
“Mana ada bestie gue yang depresi. Dia lagi keperluan yang gak bisa di tinggalin makanya gak masuk. Lagian ngapain juga mikirin omongan netizen yang gak penting? Modal kuota sama pikiran picik doang, bangga!” Balasan Inka tidak kalah sinis.
“BRUG!” Amara langsung memukul meja rias di hadapannya hingga sang make up artis terhenyak karena meja rias yang berguncang.
"Apa lo bilang?"
Ia tidak terima dengan ucapan Inka yang menurutnya menyebalkan.
Namun Inka tidak ambil pusing, Amara yang memulainya dan mana mungkin ia akan tinggal diam? Hanya sebuah senyuman miring yang di tunjukkan Inka untuk merespon sang artis yang menatapnya dengan sebal. Dia yang memulai dia sendiri yang kesal.
“Permisi…” Sebuah suara terdengar di pintu ruang istirahat.
“Ya..” Sahut Inka yang segera berbalik.
“Mau ketemu siapa?” Tanyanya pada seorang wanita berambut pirang yang tersenyum merekah di samping seorang pria eropa.
Inka tidak begitu mengenali dua orang itu.
“Sorry, Amaranya ada? Gue Nadine, sahabatnya.” Ucap wanita itu.
“Ada, tuh di dalem. Masuk aja, dia lagi break.” Sahut Inka dengan santai. Ia tidak mau terlalu memikirkan kedatangan orang-orang yang ada di pihak Amara, terlebih melabeli dirinya sebagai sahabat Amara.
“Thank you."
"Come on beb, let’s meet her.” Ajak Nadine seraya menarik tangan laki-laki yang tidak lain adalah Keith.
“Ara!” Panggil Nadine saat melihat sosok Amara di depan meja rias. Ia tersenyum dengan lebar melihat sahabatnya.
“Kejutaaaannnn…” Lanjut Nadine yang antusias menghampiri Amara. Memeluk Amara dengan erat dan senyumnya tidak pernah lepas.
Berbeda dengan Nadine, Amara masih tampak terkejut melihat kedatangan Nadine bersama Keith. Benarkah ini Keith?
“Hey, kok malah ngelamun sih? Masih inget kan, ini cowok gue, Keith.” Nadine berusaha menyadarkan Amara yang mematung di tempatnya.
“I-Iya, gue masih inget.” Sahut Amara dengan terbata-bata.
Ia benar-benar tidak percaya kalau Keith ada di hadapannya. Laki-laki itu tersenyum tenang padahal ia sudah membuat Amara gundah gulana belakangan ini. Bisa-bisanya ia tersenyum dengan manis pada Amara seolah tidak ada apa-apa di antara mereka.
“Gue ganggu gak nih? Gue baru pulang dari New Zeland sama Keith, langsung mampir ke sini. Buat lo!” Terang Nadine seraya memberikan papper bag yang berisi oleh-oleh untuk Amara.
“Oh ya, kalian dari New Zealand?” Amara masih belum melepaskan pandangannya dari Keith. Rupanya laki-laki ini pergi ke New Zealand, pantas saja Amara mencarinya kemana-mana tapi tidak ada.
“Iyaaa… Lo inget dong waktu itu gue bilang kalau gue mau liburan sama temen-temen gue ke New Zealand. Tau-taunya Keith nyusul, terus dia NGELAAMARR GUE!!!!” Nadine terlonjak antusias seraya memamerkan cincin berlian yang tersemat di jemari lentiknya.
“APA?!” Baru kali ini Amara menoleh sahabatnya setelah tadi hanya memandangi Keith.
“Iyaaa… Romantis banget kan si bule ini. Makanya gue bilang juga lo pacarannya sama bule aja. kalau udah sayang, dia gercep loh Ra. Dia malah ngajak gue nikah bulan depan. So sweet kaaannnn????” Nadine tersenyum lebar setelah ucapannya.
Ia memnadangi cincin di jari manis tangan kirinya dengan bangga sementara Amara ikut memandangi cincin di jari Nadine lalu beralih menatap Keith dengan tidak percaya. Keith hanya menggaruk dahinya salah tingkah. Walau ia tidak persis paham dengan ucapan Nadine pada Amara namun ia cukup mengerti kalau Nadine sedang memamerkan cincin pertunangannya.
“Akh sial!” Batin Amara sambil menahan sesak.
******