Bella's Script

Bella's Script
Endorse?



Sudah hampir jam 8 pagi, namun Rangga belum melihat tanda-tanda kedatangan Amara ke apartemennya. Biasanya gadis itu sudah membuat kericuhan dengan meneleponnya atau mengetuk-ngetuk pintu kamarnya yang biasa ia kunci. Ia mencoba menghubungi gadis itu, namun ponselnya tidak aktif.


“Ya ampun Ra, kemana sih kamu. Bisa kesiangan ini.” Gumam Rangga sambil terus berusaha menghubungi Amara.


Penyakit lama dari kebiasaan Amara yang satu ini memang sangat sulit di ubah. Pergerakannya lambat, datang ke lokasi kesiangan hingga membuat para crew menunggu dan sepanjang jalan marah-marah dengan mood yang tidak bagus karena belum sarapan.


Weekday, ujian pertama Rangga adalah menghadapi Amara.


“Huh!” Rangga menghembuskan nafasnya kasar. Ia berusaha menghela nafasnya dalam-dalam untuk mencoba menjernihkan pikiran agar nanti tidak terpancing oleh sikap Amara yang kekanakan.


“Ting tong!” Suara bel berbunyi di waktu yang tepat.


Rangga segera mengambil tas yang berisi perlengkapan syutingnya, sudah waktunya ia berangkat.


Ia menyalakan sebentar doorviewer di dinding apartemennya. Bukan Amara yang ia lihat melainkan seorang kurir pesan antar berjaket hijau. Rupanya itu barang pesanan yang ia pesan beberapa saat lalu.


Sambil mengambil sarapan, Rangga memutuskan untuk langsung berangkat karena setibanya di lokasi ia harus bersiap untuk take.


“Atas nama mas Rangga?” Ujar driver pesan antar.


“Iya mas. Makasih ya.” Rangga mengambil satu goodiebag belanjaan yang dipesannya.


“Sama-sama. Mari mas, permisi.” Dengan segera laki-laki muda itu pun pergi.


Rangga menggunakan lift untuk naik ke lantai 6, tempat unit apartemen Amara berada. Melewati lorong dan saat tiba di depan jendela besar, ia sempatkan untuk melihat ke bawah. Ternyata mobil Amara terparkir di luar bukan di basement.


Tumben pikirnya. Tiidak biasanya Amara memarkir mobilnya di depan loby terkecuali sehabis bepergian. Rangga sempat berpikir, apa mungkin mobil Amara di pakai Lisa?


Rangga hanya menggelengkan kepalanya saat ia merasa kalau yang ada di benaknya kini tidak perlu dipikirkan lebih lanjut. Ia hanya harus segera mengajak Amara berangkat sebelum mereka kesiangan.


Tiba di unit apartemen Amara, Rangga lantas menekan passcode dan pintupun terbuka.


“Ra,” panggil Rangga saat mendapati suasana apartemen yang sangat sepi.


“Pasti masih tidur. Kebiasaan.” Gerutu Rangga yang segera menuju kamar Amara.


“Raa,, bangun Ra..” Rangga mengetuk pintu kamar Amara, namun tidak ada sahutan dari dalam sana.


“Ra,..” Sekali lalu Rangga memutar handle pintu, terkunci. Tumben pikirnya, tidak biasanya Amara mengunci pintu kamarnya.


“Araaa,, buka Ra. Ayo bangun, udah siang ini.” Rangga mengetuk pintu kamar Amara dengan lebih keras.


“ARA!!!” Kali ini Rangga meninggikan suaranya.


“I-Iya Ga.” Terdengar suara Amara yang terdengar gemetar dan capek di balik pintu.


“Se-sebentar.” Ia juga terdengar gugup.


“Jangan lama-lama, kita bisa kesiangan Ra. Gak enak nanti sama crew.” Ulti Rangga dari luar kamar.


Tidak menunggu lama sampai kemudian terdengar Amara membuka kunci pintu kamarnya.


Perlahan pintu kamar pun terbuka dan menunjukkan sosok Amara yang terlihat berantakan dengan pakaiannya yang minim. Wajahnya pucat pasi tapi bukan seperti baru bangun tidur.


“Kamu sakit?” Tanya Rangga saat melihat titik-titik keringat di dahi Amara. Ia menempatkan punggung tangannya di dahi Amara.


“Eng-nggak.” Amara terlihat gelagapan. Ia berusaha mengibaskan tangan Rangga yang akan menyentuhnya. Beda sekali dengan Amara yang biasanya selalu suka di belai.


Rangga membuka pintu kamar Amara lebih lebar, agak mencurigakan menurutnya.


“Kamu udah mandi?” Rangga masuk ke kamar Amara dan sang pemilik hanya berdiri di depan pintu dengan wajah tegangnya.


Beda dari biasanya, suasana kamar Amara sangat rapi. Tidak ada baju dan alat-alat make up yang berserakan di lantai. Tidak ada sehelai rambutpun yang terlihat oleh Rangga. Selimut sudah terlipat rapi begitupun posisi bantal berada pada tempat yang tepat.


“Kalau beres-beres bikin kamu capek, kamu kan bisa minta Lisa buat nyariin ART.” Kasian juga melihat Amara sampai kelelahan karena beres-beres, pikir Rangga.


“I-Iya.” Amara berusaha tersenyum saat Rangga menatapnya penuh kecemasan.


“Keren juga kamu bisa beres-beres serapi ini Ra.” Rangga mengacungkan dua jempolnya pada Amara. Ia tersenyum penuh kebanggan. Ia tidak menyangka kalau Amara berusaha sekeras ini.


Gadis itu hanya tersenyum dengan helaan nafas lega yang begitu ketara.


“Aku mandi dulu ya..” Pamit Amara.


“Hem.” Rangga membiarkan Amara pergi begitu saja. Dari belakang ia memperhatikan Amara yang berjalan menjauh darinya.


“Iya..” Entah mengapa nyalinya menciut hanya untuk sekedar berbalik dan berhadapan dengan Rangga.


“Kamu tidur jangan pake baju itu lagi. Terlalu terbuka. Liat, bagian pinggangnya bahkan sudah robek. Ya aku tau, itu pasti nyaman, tapi bakal bikin kamu masuk angin.” Komentar Rangga, pada baju bermodel Chemise yang di pakai Amara.


Menurutnya dress tipis berbahan satin tanpa lengan dan hanya mengandalkan tali kecil di bahu kiri kanan dengan aksen serut di bagian dada itu terlalu terbuka. Bahannya memang terlihat adem dan cocok di pakai Amara, namun ia tidak setuju kalau Amara terlalu sering memakai baju tidur seperti ini.


“Iya, nanti aku ganti.” Sahut Amara seraya menghembuskan nafas lega karena Rangga hanya memprotes baju tidurnya.


“Okey, aku tunggu di luar sambil nyiapin sarapan. Jangan terlalu lama ya, kamu make up nanti aja di lokasi.” Pesan Rangga.


Amara hanya mengangguk dan segera masuk ke kamar mandi.


Di dapur kecil itu Rangga mulai menyiapkan sarapan. Ia menuangkan oat yang baru ia beli melalui layanan pesan antar. Menambahkan susu rendah lemak beserta buah-buah segar favorit Amara. Potongan pisang sengaja ia tambahkan di sarapan miliknya karena ia selalu membutuhkan kalori lebih banyak dari Amara.


Di sela menyiapkan sarapan, Rangga mendengar dering ponsel berbunyi. Dari nada deringnya tentu bukan miliknya. Setelah memperhatikan seisi apartemen, ternyata suara ponsel itu dari dalam sling bag Amara yang berada di atas sofa.


Rangga segera menghampirinya. Ia memeriksa isi tas, dan benar saja ada ponsel Amara yang berdering. Saat Rangga mengeluarkan ponsel itu, beberapa barang ikut terjatuh. Sebuah kartu nama, rokok, pemantik api gas dan beberapa lembar tisue basah.


Entah sejak kapan Amara mulai merokok.


“Halo..” Rangga mencoba menjawab telepon dari seseorang tanpa nama.


Namun baru kata tersebut yang di ucapkan Rangga, tangan Amara sudah terlebih dahulu merebut ponsel di tangan Rangga.


Rangga sampai kaget karena kedatangan Amara yang tiba-tiba. Gadis ini bahkan masih memakai handuk yang menutupi tubuhnya. Sisa busa facial foam bahkan masih ada di pipinya.


“Halo?” Amara segera mengambil alih. Ia terlihat terkejut melihat tatapan Rangga yang kebingunan dengan sikap Amara saat ini.


“Halo?” Amara mengulang panggilannya seraya menjauh dari Rangga.


Tapi sudah tidak ada suara di sebrang sana. Di belakang Rangga, ia tertunduk lesu dengan helaan nafas lega.


“Siapa sih Ra, kok langsung di ambil aja?” Rangga bertanya penuh penasaran.


Amara segera berbalik dan menggenggam ponselnya erat-erat.


“Em,, Aku juga gak tau. Belakangan ada orang iseng yang nelpon ke sini. Aku pikir dari salah satu owner brand product yang mau nawarin endorse, tapi kayaknya orang iseng lagi.” Amara berusaha setenang mungkin menjawab rasa penasaran Rangga.


“Endorse? Kenapa gak lewat Lisa? Itu kan nomor pribadi.” Sambil bertanya Rangga mengambil jaketnya, dan memakaikannya pada Amara. Lantas ia mendorong perlahan tubuh Amara agar masuk ke kamar.


“Lisa tuh belakangan gak bisa kerja. Kesel aku yang.” Keluh Amara yang menurut saja masuk ke dalam kamar.


“Okey, kita obrolin nanti, sekarang pake baju dulu. Waktu kita gak banyak.” Setelah mengantar Amara ke kamarnya, Rangga pun menutup pintu kamar Amara, agar kekasihnya segera berpakaian.


Rangga kembali ke meja makan. Ia menuangkan jus jeruk favorit Amara dan menaruhnya di samping menu sarapan. Pikirannya masih penasaran dengan sikap Amara tadi. Kenapa kekasihnya harus sepanik itu karena panggilan ponselnya ia yang jawab?


Berusaha mengusir keraguan akhirnya Rangga menghubungi Lisa. Ia mengirimkan pesan pada Lisa untuk memastikan semuanya. Panggilan tanpa nama itu terlihat membuat Amara cukup gelisah.


“Mba Lisa, sorry mau nanya. Ara ada tawaran endorse dari brand product tertentu gak sekarang-sekarang ini?” Tulis Rangga.


Ia langsung mengirimnya dan tidak lama Lisa langsung membacanya.


“Kalian masih dimana? Ini gue udah di lokasi.”


“Gak usah mikirin endorse, semua kontrak endorse product udah gue selesein. Gak usah lo pikirin, yang penting buruan ke sini. Ini ada fans Ara yang ngirim bunga banyak banget, gak tau siapa. Pusing gue.” Balas Lisa dengan emoticon penat yang ia sertakan di ujung kalimatnya.


“Okey, makasih mba. Bentar lagi gue sama Ara berangkat.” Balas Rangga.


Lisa tidak lagi membalas dengan text melainkan dengan video bucket bunga yang sangat banyak. Benar-benar banyak, pantas saja Lisa sampai pusing.


Dari siapa sebenarnya bucket bunga sebanyak itu?


*****


Ada apa sih sebenarnya sama Ara? Apa yang dia sembunyiin dari Rangga?


Ada yang bisa nebak?


Kuys tulis di komen. Jangan lupa like nya yaaa...


Thank you..