
Tiba di kantor, kondisi Bella sudah lebih baik. Tamu bulanan resmi datang dan perasaannya sudah lebih lega. Ia memulai kembali pekerjaannya dengan fokus.
Sampai dengan kemarin rasanya melakukan apapun membuatnya emosional. Saat menulis script saja ia jadi terbawa perasaannya sendiri. Rini dan Melisa jadi memandanginya saat melihat Bella yang senyum sendiri dan sesekali termehek-mehek sambil mengusap air mata.
“Lebay banget sih! Bipolar kali dia!” gerutu Rini yang masih bisa Bella dengar.
Saat menulis, ia memang lebih suka memakai headphone walau tidak sedang mendengarkan lagu apapun. Tujuannya hanya agar bisa meredam sedikit suara di sekitarnya.
Seperti sekarang, seorang OB menghampirinya dan membawa sebuah keresek bertuliskan brand salah satu dari mart bersaudara.
“Ini buat mba Bella.” Ujarnya pelan.
“Dari siapa?” Bella jadi memandangi 3 botol minuman khusus wanita, satu toples kecil kacang almond dan satu bar coklat hitam.
“Dari mas Devan.” Bisiknya, membuka sedikit headphone Bella sambil tersenyum gemas.
Bella hanya mengangguk dengan mulut membulat huruf O. “Makasih.” Timpalnya.
Setelah perginya OB tersebut, Bella jadi memandangi Devan yang ada di ruangannya. Ia tampak sedang ber-telephone. Bella menyimpulkan mungkin sedang berbicara dengan kakaknya.
Tumben ada peningkatan pikirnya, biasanya hanya membelikan 2 botol minuman khusus wanita saja. Ini tiga di tambah coklat segala.
“Makasih..” gumam Bella yang tidak di dengar siapapun.
Bella jadi berpikir, terlepas apapun alasan Devan pulang, ia harus berterima kasih. Paling tidak, rumah jadi tidak terlalu sepi. Ia mulai ada teman bicara dan berpikir walau sering kali merespon pertanyaan Bella dengan pertanyaan lagi. Devan yang dulu di kenalnya memang bukanlah Devan yang sekarang ia lihat. Banyak sekali perubahan begitupun dengan dirinya. Memang benar adanya, waktu bisa merubah banyak hal.
Bicara soal waktu, Bella jadi teringat pada Rangga. Sudah beberapa hari ini Rangga tidak ada kabar. Pesan yang ia kirim semalam pun tidak ada balasan. Di baca pun belum. Kemana lagi perginya Rangga kali ini. Belakangan ia suka sekali menghilang tanpa kabar.
Akhirnya Bella memutuskan untuk menelpon Rangga. Di taman belakang saat ini Rangga berada. Satu deringan, dua dan tiga deringan belum di jawab. Baru deringan ke empat akhirnya terdengar suara yang tidak asing tapi bukan Rangga.
“Hallo,” ujar suara di sebrang sana.
“Iya hallo.” Sahut Bella.
“Bell, ini gue Niko. Rangganya lagi di toilet. Gue sama anak-anak baru sampe Surabaya, ada manggung tar malem.” Dengan cepat Niko menjelaskan.
“Oh ya, di Surabaya? Jam berapa? Emang kalian kapan berangkat?” Niko di berondong dengan banyak pertanyaan.
“Berangkat kemaren siang pake kereta cuma ya di sini banyak yang harus di siapin. Nanti deh detailnya gue minta si Rangga nelpon balik lo ya.”
“Oh iya Ko. Makasih.” Panggilan pun terputus.
Bella jadi memandangi layar ponselnya yang menampilkan wallpaper fotonya dengan Rangga. Semakin ke sini, semakin banyak hal yang tidak Bella tahu tentang Rangga.
Seperti saat ini, saat akan pergi-pergian biasanya Rangga akan mengabarinya satu hari sebelumnya. Memintanya untuk membantu menyiapkan barang kebutuhannya di luar kota. Tapi sekarang, ia malah tahu dari Niko. Ada masalah apa sebenarnya dengan hubungan mereka berdua? Apa mungkin Rangga sudah berada di titik jenuh soal hubungannya dengan Bella? Atau ia sudah terbiasa tanpa ada Bella di dekatnya?
*****
Surabaya
Suara hingar musik saat band akan memulai tampil sudah mulai terdengar. Suara soarakan penonton pun membahana saat MC membuka acara band indi kali ini. Banyak di antara Fans dari band yang hari ini pentas membawa bendera atau spanduk nama band favorit mereka. Mereka memanggil nama band yang mereka idolakan.
Di ruang persiapan, Rangga dan teman-temannya masih menyiapkan penampilan mereka. Niko yang sudah terlihat rapi menghampiri Rangga yang tengah menata rambutnya.
“Lo udah hubungin Bella?” tanya Niko. Ia ikut berdiri di samping Rangga, memperhatikan penampilannya.
“Bentar lagi.” Sahut Rangga yang tengah memoles rambutnya dengan pomade. Menyisirnya rapi dan maskulin, ciri khas Rangga.
“Kapan lo mau ngasih tau Bella? Lo mau gini-gini aja? Kasian Bella bro.” Niko mengingatkan dengan nada serius.
Kalimat Niko sepertinya tidak menyenangkan bagi Rangga. Ia segera mengambil ponselnya dan berdiri menantang Niko.
“Inget, Bella cewek gue. Lo bukan siapa-siapanya. Gak usah sok peduli sama Bella. Atau sampe sekarang lo masih suka sama Bella?” Rangga tersenyum sinis pada Niko.
“Playing victim lo.” sahut Niko dengan kesal.
Serta merta Rangga mengangkat tangannya hendak memukul Niko.
“Eett tahan bro tahan… “ beruntung kedua temannya yang lain segera menahan.
“Kita mau tampil nih. Jangan sampe malah adu jotos.” Ujar Ikhsan.
Niko dan Rangga pun saling melengos. Terkadang emosi memang tidak mengenal waktu dan tempat.
Meninggalkan Niko yang masih berdiri di depan kaca, Rangga memilih duduk sambil melakukan panggilan. Hanya satu deringan dan suara Bella langsung terdengar.
“Iya yang…” sapa Bella di sebrang sana. Ceria sekali menyambutnya.
“Bella sayaaang…” Rangga sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Niko.
Niko hanya berdecik lantas pergi meninggalkan Rangga dan Ikhsan yang masih mode siaga.
“Yang, kok gak bilang kalau ada manggung di Surabaya?” suara Bella kembali terdengar.
“Iya Bell, aku kemaren sibuk ngurusin banyak hal. Sampe lupa ngabarin. Maaf ya sayang… Padahal aku kangen banget sama kamu.”
Kalimat Rangga kontan membuat Bella tersipu. Ia selalu tahu cara untuk mengambil hati Bella.
“Aku juga kangen banget sama kamu. Aku ke sana yaaa buat nyemangatin kamu. Sekalian nyari inspirasi.” Tawar Bella dengan semangat.
“Eh gak usah sayang. Aku cuma sehari ini lagi di sini. Besok juga pulang. Ada urusan penting juga di Jakarta.”
“Eemmm… Padahal aku pengen banget nemenin kamu dan liat kamu tampil. Kangeennn…” rengek Bella.
“Iyaaa aku juga kangen. Nanti udah nyampe Jakarta aku kabarin. Kita jalan yaa…. Udah lama gak nonton sama kamu.”
“Waahhh beneran? Asyiikkkk…. Iya deh nanti kita jalan yaa…”
“Bener ya, tapi jangan sampe abang kamu tau. Aku gak mau kamu kena masalah lagi.”
“Nggak, sekarang sih tinggal sogok mata-matanya abang aja, udah gak bakal resek dia.” Janji Bella dengan semangat.
“Okeeeyy… Sekarang aku siap-siap dulu. Nanti kamu pap yaa…”
“Iya sayang, kamu juga tapi yaaa… Semoga manggungnya lancar. Bismillah dulu semoga ketemu sama produser yang baik.”
“Iyaaa bismillah…”
“Fighting sayang, I love you…”
“See you Bella sayang… Love you…”
Panggilan pun terputus. Rangga tersenyum senang setelah mendengar suara Bella. Bella gadis yang selama ini menjadi kekasihnya, memang selalu memberi warna tersendiri dalam hidupnya.
Di sebrang sana, Bella masih melonjak-lonjak kegirangan. Inka memperhatikan tingkah Bella dari dalam cafe. Bagaimana Bella tersenyum dengan wajahnya yang merona membuat Inka ikut tersenyum sendiri. Sudah cukup lama sejak Bella selalu terlihat murung.
Sempat Inka mengetik beberapa baris pesan namun kemudian urung ia kirimkan pada Ozi. Ia tidak mau merusak suasana hati Bella. Lihat saja Bella yang asyik berfoto dengan ekspresinya yang ceria. Sudah pasti foto-foto itu untuk Rangga.
Hah, rasanya Inka tidak mau merusak kabahagiaan Bella itu.
Pulang makan siang, Bella buru-buru kembali ke kantor. Katanya ia baru saja dapat inspirasi untuk script nya.
“Gue duluan!” serunya saat berbelok lebih dulu ke ruangan departemennya.
Inka hanya melambaikan tangan dan kembali ke ruangannya dengan lemah. Bisa bertemu Bella hanya sesekali ternyata membuat harinya sepi. Tidak ada teman bercerita seasyik Bella sekarang yang setiap saat mau mendengarnya berceloteh dan tertawa terkekeh-kekeh.
“Miss you bell… Padahal baru tadi kita bareng-bareng.” Gumam Inka.
Di meja kerjanya, Bella melanjutkan pekerjaan. Tangannya dengan lincah menari di atas barisan alfabeth. Devan yang baru datang setelah beristirahat hanya memperhatikan sejenak sebelum kemudian kembali ke meja kerjanya.
Barisan kalimat, paragraph di buat Bella. Detik terus berputar dengan cepat hingga akhirnya Bella menuliskan kalimat terakhir dalam part ke 16 script-nya.
“Finally…” ungkapnya. Tanpa terasa matahari sudah condong ke barat karena sudah hampir jam 5 sore.
“Aduuhh aduuhh enak banget.” Ia menggeliat, merenggang kan tulang-tulang sendinya. Ahhh rasanya sangat nikmat.
“Wow, udah part 16 Bell?”
“Astaga!” Bella sampai terperanjat mendengar suara di belakangnya. Hampir saja ia terjatuh dari kursinya.
“Pak Eko, maaf pak saya kira gak ada orang.” Dengan cepat ia bangkit.
Di samping Eko ada seorang wanita cantik dengan tampilan berkelas tersenyum padanya.
“Jihan,”
“Bella,”
Tanpa sungkan mereka saling berjabat tangan. Melisa dan Rini pun mendekat dan melakukan hal yang sama.
“Bro Devan kemana ya, saya belum lihat.” Tanya Eko memperhatikan ruangan milik Devan.
“Oh, mas Devan sedang keluar, ngobrol sambil ngopi katanya sama para astrada.” sahut Rini dengan cepat.
“Oh, itu dia.” Melisa ikut bersuara saat melihat kedatangan Devan dengan 2 assistant sutradaranya.
“Bro Devan!” panggil Eko dengan semangat.
Devan pun segera mendekat.
“Astaga.” Dengus Jihan saat melihat Devan mendekat dengan kedua temannya.
Ia mengingat benar siapa laki-laki ini.
“Perkenalkan, ini nona Jihan, produser untuk project film kita. Nona Jihan, ini bro Devan sutradara yang saya ceritakan waktu itu.” terang Eko
Jihan berusaha tenang saat mengulurkan tangannya pada Devan.
“Jihan,”
“Devan,”
Mereka saling berjabat tangan beberapa saat. Bisa terlihat wajah Jihan yang sedikit memerah menahan malu atas insiden di depan café beberapa hari lalu. Kalau di ingat saat ia memaksa memanggil nama Devan dengan Satya, rasanya ia ingin menggali tanah untuk bersembunyi di perut bumi. Tapi sikap Devan berkebalikan. Entah ia tidak mengingat Jihan atau memang terlampau acuh hingga tidak berreaksi berlebih saat melihat Jihan.
“Okey, kita berkumpul sebentar di ruang rapat. Ada beberapa hal yang perlu kita bicarakan. Mari,” beruntung Eko yang mengalihkan pembicaraan.
“Baik pak.” Sahut mereka nyaris bersamaan.
Ruang rapat menjadi tempat mereka berkumpul. Eko sudah menuliskan beberapa deadline yang harus mereka capai dalam waktu dekat. Pembicaraan pertama adalah perihal kapan mereka bisa mulai mencari talent dan proses syuting. Mengingat target penayangan semakin dekat.
“Bell, udah sampe mana progress penulisan script?” tanya Eko setelah menulis beberapa point di papan tulis.
“60% pak. Sudah 16 part dan akan masuk ke part 17 dari 24 part.” Terang Bella.
“Oke, good. Berapa lama waktu sampai finishing?”
“Dua minggu dan semoga bisa lebih cepat.”
Jawaban Bella memang selalu meyakinkan dan terarah. Eko tampak termangu, seperti tengah berpikir keras.
“Target kita adalah di musim liburan ini. Film-film luar juga tidak terlalu banyak di produksi tahun ini. Kita bisa menggempur perhatian calon penonton dengan teaser-teaser yang bagus di media sosial yang mudah viral. Pastikan munculin part andalannya ya Bell.” Pesan Eko dengan lugas.
“Baik pak.” Bella mencatat beberapa point penting di atas tabletnya.
“Okey, minggu depan, saya akan bicara dengan departemen lain untuk proses syuting supaya mereka bisa me-reschedule khusus untuk project kita. Dan kalian bersiap lah.” Eko memang seorang yang optimistis dan berhasil mendapat dukungan dari para staffnya.
“Baik pak.” Sahut mereka bersamaan.
“Okey, rapat hari ini selesai, untuk hal lainnya akan kita bahas kemudian.”
Rapat selesai dan beberapa orang keluar dari ruangan. Bella masih di tempatnya, melihat-lihat layar tab saat kemudian Devan menghampiri.
“Bisa gue liat progress script lo?” tanyanya.
Sebagai sutradara dan penulis mereka memang harus memiliki pandangan yang sama dan memastikan cerita dapat bergerak dengan baik. Bella mengembangkan karakter-karakter dalam film agar believable dan relatable dengan penonton dan Devan yang mencari sudut pandang itu tentu harus mengenal betul cerita itu agar dapat penentuan plot dan alur cerita, menentukan bloking pemeran, pengembangan karakter, memilih lokasi yang dibutuhkan cerita, referensi musik, pergerakan kamera, pilihan shot, dan hal-hal kreatif lainnya.
Tugas Bella dan Devan memang terikat satu sama lain.
“Silakan,” Bella menyodorkan tab-nya pada Devan.
“Sorry, ganggu waktunya.” Suara Jihan tiba-tiba terdengar.
“Ya,”
“Ya,” sahut keduanya bersamaan membuat mereka saling menoleh.
“Em, bisa saya bicara sebentar dengan Devan?” Jihan tampak ragu, namun tetap menyampaikan maksudnya.
“Bisa, silakan duduk.” Devan mendorong sedikit kursi di sampingnya.
“Di sini?” tanyanya ragu.
“Perlu di tempat lain?” Devan balik bertanya.
Bella hanya terdiam sambil mengulum senyum. Ternyata pada semua orang cara bicara Devan memang seperti itu.
“Oh, gak pa pa sih di sini juga.” Akhirnya Jihan mengikuti saja.
Bella tetap fokus dengan tabnya. Mengetik beberapa hal yang muncul di benaknya. Walau tidak bisa ia pungkiri perbincangan Devan dan Jihan pasti akan di dengar jelas olehnya.
“Saya, mau minta maaf soal kejadian tempo hari.” Ucap Jihan perlahan.
Malu sebenarnya mengakui ini, namun ia harus mengatakannya.
“Saat itu saya sedikit mabuk dan di tantang teman saya untuk melakukan hal bodoh. Astaga, harusnya saya tidak menerima tantangannya.” Ia sampai menutup wajahnya karena malu.
Telinga Bella rasanya jadi ikut meruncing saat mendengar Jihan meminta maaf. Entah apa yang gadis cantik itu lakukan tapi sepertinya hal fatal.
Satu hal yang Bella tahu sekarang, Devan tidak suka dengan ruang pribadi. Berbicara berdua saja untuk hal yang pribadi sepertinya di hindari olehnya.
Melihat respon Devan yang dingin tidak memberi tanggapan langsung, membuat Jihan jadi salah tingkah. Ekspresi laki-laki itu datar saja membuat Jihan bingung bersikap.
“Tapi, saya benar-benar menyesal. Saya harap hal itu tidak mengganggu hubungan professional kita.” Tegas Jihan.
“Tidak masalah. Tidak perlu diingat.” Tegasnya tanpa kata-kata lain.
“Emmm, baiklah.” Jihan tersenyum namun sebenarnya ia sangat malu.
“Terima kasih sekali lagi. Saya permisi. Mari Bell,” pamitnya bergegas pergi.
“Iya mba, hati-hati di jalan.” Bella melambaikan tangannya dengan senyum ceria seolah tidak tahu apa-apa. Namun tidak bisa di pungkiri matanya tetap melirik Devan yang hanya mengangguk saat Jihan pamit.
Setelah Jihan pergi, Devan kembali membaca script yang di tulis Bella. Sementara Bella jadi memperhatikan Devan dari samping. Bagaimana bisa ada orang sedingin ini, pikirnya.
“Kenapa?” tanya Devan.
Eh, ternyata dia peka juga kalau sedang di perhatikan. Di kira akan cuek saja.
“Gak kenapa-napa. Mata gue lagi senam aja, lirik kiri kanan. Capek kali melotot mulu ke depan liatin komputer.” Kilah Bella.
Devan jadi menoleh membuat mereka bertemu pandang.
“Beneran!” seru Bella dengan mata membulat. Otomatis ia menarik tubuhnya menjauh dari Devan.
Devan hanya tersenyum tipis dan kembali menatap layar tab.
“Gue ketemu dia di depan sebuah café. Dia salah ngenalin gue.” Terang Devan tanpa di minta.
Bella jadi terpaku. Ia tidak menyangka kalau Devan akan bercerita soal pertemuannya dengan Jihan.
Melihat Bella yang tidak berkomentar, akhirnya Devan menoleh lagi dan menatapnya cukup laman.
“Kirim filenya ke gue, gue mau liat lengkap.” Tegasnya.
Mata bulat yang katanya pegal itu mengerjap beberapa kali. Jarak mereka cukup dekat, namun tidak sedekat saat insiden pertama bertemu. Yang sama hanya tatapannya saja yang laman.
“Hem!” sahut Bella. Ia mengambil tab dari tangan Devan dengan segera.
“Gue duluan, mau nulis!” tegasnya.
Ia segera beranjak, langkahnya tergesa-gesa sampai menabrak ujung meja yang membuat ia sedikit mengaduh dan mengusap pangkal pahanya.
Devan hanya tersenyum saat melihat Bella pergi. Ada apa dengan gadis itu?
****