Bella's Script

Bella's Script
Harus tau,



Di ruangan tunggu kini Bella dan Devan berada. Devan masih mengoperasikan laptopnya dan menunggu balasan email dari temannya, sementara Bella asyik berbincang dengan Saras.


“Mas, mau jam berapa ke kantor?” Panggil Bella pada suaminya.


“Sebentar lagi, ini aku masih ada yang harus di urus.” Sahut Devan yang masih fokus menatap layar laptopnya.


“Aku beneran gak usah ikut?”


“Iya, kamu temenin mamah jaga Ozi.” Baru kali ini Devan menatap Bella untuk meyakinkannya.


Ia bisa melihat kalau Bella bimbang, antara ingin ikut dengan ingin menjaga dan menunggu Ozi siuman.


“Hem, okey.” Dengan terpaksa Bella setuju.


Ia melanjutkan perbincangannya dengan Saras sementara Devan kembali dengan pekerjaannya.


“Tring.” Sebuah notifikasi email masuk dan terlihat kalau pengirimnya adalah Frans, rekan kerja Devan saat di Singapore.


Devan segera membaca pesan yang sudah ia tunggu sejak semalam.


“I’m so sorry bro, I can’t help you in this time.” Balas Frans yang singkat.


Devan sampai terdiam memandangi pesan Frans, padahal ia berharap Frans bisa membantunya lagi kali ini. Ada apa dengan sahabatnya, tidak biasanya seperti ini. Masalah yang ia hadapi pun sama dengan yang ia hadapi sebelumnya. Yaitu keinginan untuk mem-banned semua berita tentang Bella.


Devan tidak tinggal diam. Ada yang aneh menurutnya dengan penolakan Frans. Devan segera mengambil ponselnya.


“Aku permisi nelpon bentar.” Ucapnya dengan tergesa-gesa. Devan berlalu begitu saja meninggalkan Bella dan Saras yang masih bingung.


“Iya.” Sahut Bella dengan wajah melongo.


“Devan kenapa dek, ada masalah di kantor?” Saras ikut penasaran.


“Nggak tau mah. Bentar, adek ambil hp dulu dari tas mas Devan.” Bella segera beranjak dan mengambil ponselnya yang mati dari tas Devan.


Sejak tadi Devan yang memegang ponselnya dan sengaja menaruhnya di dalam tas. Ia bilang, Bella tidak perlu menyalakan ponselnya. Kalau perlu apa-apa cukup lewat ponsel Devan. Terlalu aneh sebenarnya karena Devan tidak pernah semangatur ini masalah alat komunikasi Bella.


Setelah ponsel di tangan, Bella segera menyalakannya. Ia menunggu hingga ponselnya siap di gunakan.


“Tante Mella minta foto keluarga sayang.” Suara Saras membuyarkan pikiran Bella.


“Oh, yang banyakan masih di kamera abang mah. Tapi ini ada beberapa di hp adek, di kirim sama bang Indra. Nanti adek kirim ya mah.” Terang Bella, tidak sabar menunggu ponselnya siap di pakai.


“Iya sayang. Mamah bilangin dulu ke tante Mella. Lagian lagi kayak gini, bukannya nanyain kabar keponakannya, malah maintain foto. Ini video apa lagi, pake kirim-kirim video segala.” Gerutu Saras pada sang kakak ipar.


Bella hanya tersenyum kuning mendengar gerutuan sang ibu. Ia memperhatikan Saras di tempatnya, termasuk saat tiba-tiba ekspresi Saras berubah.


“Astagfirullah…” Mata wanita paruh baya itu membola tiba-tiba. Sementara tangan kanannya menutup mulutnya dengan terkejut.


“Ada apa mah?” Bella segera mendekat dan mengintip ponsel Saras.


Tanpa sadar, ia segera mengambil ponsel Saras saat melihat video yang di kirimkan Mella.


“Seperti apa hubungan mereka sebenarnya? Mari ikuti investigasi kami, membuka tabir perselingkuhan King dengan sang pelakor.” Ucapan host gossip itu cukup menohok bagi Bella.


“Tring!”


“Tring!”


“Tring!”


“Tring!”


“Tring!”


“Tring!”


“Tring!”


“Tring!”


“Tring!”


“Tring!”


Puluhan notifikasi kemudian masuk ke ponsel Bella. Bella menoleh ponsel di sampingnya dengan penuh keterkejutan. Tak terkecuali Saras yang masih duduk di sampingnya.


Dengan tangan gemetar Bella mengambil benda pipih itu dan menatap layar ponselnya dengan nanar.


Ada belasan panggilan tidak terjawab juga pesan yang baru masuk ke kotak pesannya. Tidak lama ponsel itu berdering dan nama Rini yang tampil di sana.


“Ya Rin,” suara Bella terdengar lemah, ia masih sangat terkejut.


“Syukurlah… Bell lo kemana aja, kenapa susah banget di hubungi?” Tanya Rini dengan cepat.


“Gue,” Bella menjeda kalimatnya dengan menelan saliva yang menghalangi jalan nafasnya, kasar-kasar.


“Lo udah buka sosmed lo belum? Gila, netizen yang budiman semakin sarkas sama lo.” Lanjut Rini tanpa ragu.


“Hah, gue…”


Bella baru ingat kalau ia sengaja mengeluarkan akun media sosialnya agar tidak menerima notifikasi apapun. Sebelumnya, ia berpikir kalau tanggapan netizen tentang dirinya tidak lah penting tapi kemudian ia sadar kalau keluarganya mungkin salah satu dari sekian banyak netizen yang mempertanyakan kebenaran gossip itu.


Sejenak Bella jadi memandangi laki-laki yang sedang bertelepon itu. Apa mungkin ini alasan Devan menjauhkan Bella dari ponselnya?


“Bentar lagi kita mau rapat Bell, lo bisa datang kan? Gue yakin ini mau ngebahas masalah gossip yang berimbas buruk sama film kita.” Rini melanjutkan kalimatnya tanpa ragu.


Gamang, Bella masih memperhatikan suaminya yang tampak emosional saat bertelepon.


Bella pun menoleh sang kakak yang berada di ruangannya dan menatapnya lekat dari kejauhan. Sepertinya ia harus meninggalkan Ozi untuk beberapa saat, berdua dengan ibunya. Bukankah ia harus menyelesaikan masalah ini?


“I-Iya…” Sahut Bella seraya mencengkram ujung bajunya kuat-kuat. Matanya tampak berkaca-kaca namun ia sudah tidak ingin menangis. Kemarahannya sangat besar, terhadap siapapun yang menebar gossip ini.


Dari tempatnya kini Bella memandangi laki-laki yang masih bertelepon itu. Entah apa yang ia rasakan saat melihat Devan. Kesal, marah, sedih, malu, terharu, akh entahlah. Entah apa arti kesesakan yang kini mengisi rongga dadanya.


*****