
Heloo weekdays…
Mungkin itu yang Bella serukan dalam hatinya saat ia menurunkan jendela ketika ingin menghirup udara bebas ibukota. Ia mengambil nafas dalam-dalam sambil terpejam dan kemudian menghembuskannya perlahan.
Udara ibukota memang sudah tidak sesegar dulu namun sensasinya cukup melegakan. Lumayanlah untuk membangun mood di hari senin yang selalu hectic.
Baru kali ini, seringnya jalanan tersendat karena kemacetan, tidak membuat Bella kesal. Tentu saja, ia tengah satu mobil dengan laki-laki yang sering kali tersenyum memandanginya penuh perasaan. Moment langka dimana selama di RS Ozi selalu memperhatikan gerak-gerik dan ekspresi ia dengan Devan. Hah, rupanya ada satpam baru yang terus memantau mereka.
“Hari ini kayaknya cuaca bakalan cerah gak akan hujan. Mudah-mudahan bertahan sampe sore biar gak ngehambat pengambilan scene.” Ujar Bella seraya memandangi awan putih yang berarak di langit Jakarta.
“Gue liat di prakiraan cuaca, memang gak ada kemungkinan turun hujan. Ya semoga sesuai prediksi.” Timpal Devan yang masih fokus dengan stir di tangannya.
Lagi ia harus menurunkan rem tangan saat laju mobil terhambat oleh lampu merah perempatan yang padat kendaraan.
“Berapa scene lagi sih yang belum ke ambil? Dikit lagi kan ya?” Bella membuka script yang ada di tangannya dan sudah ia tandai bersama Devan.
“Sekitar 42 scene lagi. Semoga selesai di minggu ini.” Ungkap Devan penuh harap.
“Waaahhh… Nggak kerasa, syuting bakalan selesai. Tapi habis ini peer kita masih banyak ya Van.” Ujar Bella sambil menoleh Devan.
“Ya… Tahap selanjutnya, kita mesti mengawal proses editing, kalau udah selesai kita ajuin hak cipta dulu, promosi dan beberapa hal detail lain yang mudah-mudahan bisa selesai dalam waktu satu bulan.” Devan melengkapi kalimatnya.
Ia melajukan lagi mobilnya dan berbelok menuju jalan arah studio. Setelah perempatan dan masuk ke jalur ini memang tidak terlalu ramai. Devan bisa menginjak pedal gasnya lebih dalam agar segera sampai di studio.
“Waaahhh…. Gue beneran gak sabar. Mudah-mudahan semuanya di lancarin.”
“Aamiin…” Ucap keduanya bersamaan.
Mereka saling menoleh dan melempar senyum.
Bella bisa menghembuskan nafas lega, ternyata sangat menyenangkan memiliki pasangan dengan bidang pekerjaan yang sama. Banyak hal yang bisa mereka bahas untuk lebih saling mendekatkan diri dan mengenal satu sama lain.
Tidak sampai 10 menit, mereka sampai di parkiran studio. Dari luar studio sudah terlihat orang-orang yang berlalu lalang, sibuk dengan pekerjaannya. Bella merapikan rambutnya dan melepas rol rambut yang sedari tadi ada di keningnya. Ia menggunakan kaca visor untuk merapikan penampilannya.
“Kenapa?” Bella melirik Devan yang sedari tadi memandanginya.
“Lo kok cantik banget sih Bell?” Tanya Devan seraya menyandarkan tubuhnya ke sandaran jok. Ia sedang sangat betah memandangi Bella.
Bella tersenyum kecil, lantas dengan jarinya ia merapikan lip tint yang ia poleskan ke bibirnya.
“Becaaauuuseee…. You, in love with me.” Bella terlihat santai menjawab sambil memasangkan tutup *lipstick-*nya.
Devan mentautkan alisnya saat mendengar jawaban Bella.
“Beneran loh Van. Lo ngerasa gue cantik karena lo lagi jatuh cinta sama gue.” Bella ikut menyandarkan tubuhnya ke sandaran sambil membalas tatapan Devan.
“Semuuuuaaa yang lo cintai itu akan terlihat cantik dan indah. Bunga liar aja bisa jaaaauuuhh keliatan lebih cantik dibanding bunga mawar saat lo lagi jatuh cinta sama bunga liar.” Bella dengan gerakan tangan yang luwes dan ekspresinya yang total untuk menegaskan kalimatnya.
“So, kalau suatu saat lo ngerasa gue udah gak cantik lagi, check this out. Tanya hati lo.” Bella menyentuh dada kiri Devan dan menatapnya lekat.
“Just ask, do you still love me?” Tanyanya, mengunci dua manik hitam milik Devan.
“Atau, kalau suatu waktu lo ngerasa ada bunga lain yang lebih suka lo pandangin dan baunya lebih nyaman buat lo hirup di banding bunga liar yang ini,” Bella menunjuk dirinya sendiri.
“Just tell me, karena bunga itulah pemenangnya."
"Gue gak akan memperebutkan sesuatu yang sudah bukan milik gue lagi. karena sekalipun gue berhasil merebut hati lo lagi dan perasaan cinta lo kembali, rasanya gak akan sama. Akan selalu ada yang hilang dan tidak sempurna.”
“Saat itu juga, gue akan bersiap pergi dan gak akan memaksa lo untuk ada di samping gue lagi. Jangan lakukan hal seperti itu sama gue, pura-pura bertahan padahal udah gak ada cinta. Itu lebih menyakitkan.” Tegas Bella di akhir kalimatnya.
Ia pikir, ia perlu menegaskan hal ini pada Devan. Ini seperti early warning bagi Devan kalau ia tidak mau sebodoh dulu lagi.
Bella menegakkan tubuhnya, lantas mengambil tas. Beberapa saat ia terpaku sambil memandangi Devan yang menatapnya entah dengan perasaan seperti apa.
“What?” Tanya Bella penasaran dengan tanggapan dan arti tatapan Devan.
Devan tidak lantas menjawab. Ia memilih meraih tangan Bella lantas menggenggamnya erat.
“Jangan pernah ragukan perasaan gue Bell. Gue bersungguh-sungguh.” Ungkap Devan dengan penuh kesungguhan. Ia tertunduk di hadapan Bella.
“No, gue gak ragu sama perasaan lo. Tapi rasanya, gue perlu ngasih tau hal seperti ini sama lo.” Bella membalas genggaman tangan Devan.
Devan hanya termenung. Di kecupnya tangan Bella lantas ia berujar, “I love you..”
Dengan lekat ia menatap manik coklat milik Bella. Ia berharap perasaannya sampai pada Bella.
“I love you too.” Sahut Bella dengan yakin.
Untuk beberapa saat mereka saling memandangi dan tersenyum satu sama lain. Sampai kemudian Bella tersadar kalau mereka sudah cukup lama di dalam mobil.
“Astaga, udah siang ini Van.” Seru Bella saat melihat orang-orang tidak lagi berlalu lalang di luar studio.
“Iyaaa… Gue selalu gak sadar sama waktu kalau lagi sama lo.” Devan mengguyar rambutnya kasar.
“Sa ae ayaaang…” Goda Bella.
“Eh nggak… Gak tau tadi gue ngomong apa.” Cepat-cepat Bella mengatupkan mulutnya dan memalingkan wajahnya dari Devan.
“Beeellll,,, Tadi gue denger kata itu… Please… ulangiin dong.” Devan merengek seperti anak kecil.
“Nggak akh, gue gak ngomong apa-apa. Lo mah salah denger kali.” Bella masih iseng menggoda Devan.
“Bell, ngomong gak? Hah, ngomong gak?!” Devan menarik tangan Bella dan berusaha mengigitnya dengan gemas.
“Astaga Vaaaannnn,,,, Ini penyerangan tau..” Bella berusaha menarik tangannya dan menghindari gigitan Devan.
“Ayo ngomong lagiii…” Paksa Devan yang bersikeras ingin mengigit Bella.
“Hahahahaha,,,, Iyaa iyaaa,,, Ayaaaang noh aayaaang… Gue manggil lo gitu.” Pekik Bella yang geli sendiri melihat tingkah Devan. Satu tangannya berusaha mendorong bahu Devan agar menjauh darinya. Ia baru tahu kalau Physical touch, physical attack salah satu ungkapan cinta milik Devan.
Laki-laki gondrong ini ternyata bisa merengek seperti bayi juga.
“Nah gitu dong. Jadi itu panggilan gue sekarang?” Devan tersenyum lega.
“Iyaaa… Puas lo?” Tanya Bella sambil menahan tawanya melihat wajah Devan yang memerah.
Ia mengangguk-angguk pelan seperti anak kecil dengan senyumnya yang malu-malu. Aakkhh rasanya Bella ingin mencubitnya.
“Puas lah. Tapi belum puas kalau, hawk!” Tiba-tiba saja Devan mengigit tangan Bella dengan gemas.
“Vaaannn… Astagaaaaa, malah di terusin!” Protes Bella yang kaget Devan meneruskan aksinya, mengigit gemas tangan Bella.
“Hehehehe… Sorry ayang. Habis lo gemesin.” Balas Devan.
“Dasar emang lo.” Bella balas menyerang dengan kelitikan di pinggang Devan.
“Ahahahaha… Ampun Bell ampuunn..” Devan sampai gelagapan geli sendiri mendapat serangan dari Bella. Cepat-cepat ia menarik tubuh Bella untuk mendekat padanya dan menguncinya dengan lengannya yang kokoh dalam pelukannya. Untuk beberapa saja saat ini ia ingin memeluk Bella. Membiarkan deburan ombak di dadanya yang terasa menggetarkan.
"Hahahha... Okey ampun.. Gak gue kelitikin lagi." Bella akhirnya menyerah. Ia terdiam, tidak lagi melawan agar Devan melonggarkan pelukannya, terlalu erat menurutnya.
Memang ia akui, pelukan Devan memang selalu membuatnya nyaman. Ia bisa tenang bersandar dan menghembuskan nafasnya dengan lega di sana, hingga ia sulit beranjak.
Devan menahan Bella agar tetap dalam jangkauannya, tidak terlalu jauh. Di kecupnya pucuk kepala Bella setelah gadis ini tidak lagi berontak.
“Van,” Bella menyentuh dada Devan yang berdebar kencang di dekat telinganya. Debarannya sangat kuat, sama dengan jantungnya yang berdebar kencang.
“Hem,..” Devan semakin mengeratkan pelukannya.
“Emm… Bisa gak kalau kita sembunyiin dulu hubungan kita di depan temen-temen?"
"Why?" Devan memandangi Bella yang ada di pelukannya. Ozi saja sudah tahu, lalu untuk apa mereka harus menyembunyikan hubungan mereka?
"Emm.. Gue gak mau hubungan kita jadi bahan perbincangan crew di sini. Itu bikin gue gak nyaman.” Pinta Bella.
Ia menengadah menatap wajah Devan yang ada di atas kepalanya.
Devan tampak berpikir seraya menatap sepasang manik coklat yang ada di hadapannya. Sebenarnya ia sangat ingin kalau semua orang tahu bahwa Bella sekarang miliknya. Tapi, melihat Bella seperti ini, ia jadi berpikir kalau perasaan nyaman Bella jauh lebih penting dari ini.
“Boleh. Tapi untuk sementara aja yaa sampai syuting selesai.” Devan mengalah.
“Beneran?” Bella langsung terlonjak dengan wajahnya yang sumeringah. Ia sedikit merenggangkan tubuhnya dari pelukan Devan.
“Iya. Kenyaman lo nomor satu.” Tegas Devan seraya mencolek hidung Bella.
“Eeemmm.. Thank you…” Bella merajuk manja dengan ekspresi wajahnya yang menggemaskan.
“Astagaa, gak bisa, gak bisa…” Lirih Devan seraya memalingkan wajahnya dari Bella. Ia membentur-bentur kepalanya sendiri ke jendela. Ini terlalu menggemaskan menurutnya. Ia sampai mengigit bajunya sendiri sambil menggeretakan gigi.
“Kenapaaa?” Bella jadi penasaran dan tetap dengan ekspresinya yang membuat Devan gemas.
“Gak apa-apa.” Sahut Devan seraya menarik nafas dalam berusaha mengendalikan perasaannya.
Gak apa-apa tapi tangannya sudah memegangi tangan Bella lagi.
“Mau gigit ya lo?!” Terka Bella sambil waspada.
Devan hanya tersenyum gemas.
“Gak! Gak mau! Gue mau turun!” Tolak Bella seraya membuka pintu mobil.
“BEELLL!!!! Kok pergi sih?!”
*******
Heh, Devan.. Ente yaaa kadang-kadang ;D
Anak orang di gigitin. Kalau satpam tau, habislaah, hahaha...
Ada yang mau bantu lapor ke bang Ozi?