Bella's Script

Bella's Script
Mata yang sama



Mobil Devan masih melaju santai membelah jalanan ibu kota yang tidak terlalu ramai. Di hari dan jam kerja, jalanan memang cukup lenggang walau tidak pernah kekurangan kendaraan yang melintas di atas permukaan aspal yang rata itu.


Alwi menaikkan kembali kaca jendelanya setelah beberapa saat menikmati udara kota Jakarta yang sudah tidak sesegar dulu. Kebisingan dan hilir mudik kendaraan berbagai warna dan plat mengisi jalanan utama.


Terakhir kali ia menginjakan kakinya di kota ini adalah di hari saat kecelakaan naas itu terjadi. Ia membawa jenazah seorang adik yang begitu ia cintai di dalam peti mati.


Akh, kalau mengingat kejadian itu, rasanya ia tidak bisa lupa bagaimana hancurnya perasaannya saat itu. Ia bahkan tidak bisa duduk tegak walau berada di cabin pesawat first class yang mewah dan nyaman. Ia hanya bisa menangisi dan merutuki kepergian sang adik yang begitu di cintainya.


Namun hari ini, langit Jakarta menyambutnya dengan ceria. Seperti sepasang mata yang berbinar saat melihat kedatangannya. Ya, sepasang mata milik Bella yang membuatnya tidak bisa menolak untuk lupa.


“Jadi, gadis itu yang membuat kamu bersikeras pulang ke negera ini?” Tanya Alwi setelah merasa lebih baik.


“Hem. Tapi dia bukan lagi seorang gadis. Aku sudah menikahinya.” Sahut Devan dengan tenang.


Entah jawaban Devan sedang bercanda atau tidak, yang jelas jawaban itu membuat Alwi tersenyum dalam hati. Seperti keponakannya ini sedang menegaskan kalau wanita itu sudah menjadi miliknya seutuhnya.


“Dia persis mamahmu. Sangat berenergi dan bersemangat.” Puji Alwi dengan kesadaran penuh.


“Seperti yang om tau, aku memang tidak pernah salah memilih.” Timpal Devan. Terpaksa menginjak rem karena lampu merah menyala di depan mata.


Alwi menoleh keponakannya beberapa saat sebelum kemudian memandangi jalanan di depannya. Baginya, Devan banyak berubah.


“Persamaan Mamah dan Bella adalah mereka sangat baik, hangat dan menyenangkan. Tapi lebih dari itu, Bella membuat hidupku yang hening menjadi hingar dengan banyak keceriaan. Dia juga yang membuatku sadar kalau hidup tidak hanya tenang senang dan sedih.” Lanjut Devan dengan penuh kebanggan.


Ia menginjak kembali pedal gas saat lampu menyala hijau.


“Sepertinya kamu sangat mencintainya.” Komentar Alwi.


“Apa perlu aku ceritakan lebih mendetail?”


“Tidak perlu. Saya tidak akan iri dengan sebuah cerita romansa. Ingat Devan, selalu ada sebuah perpisahan dalam sebuah hubungan.” Kali ini kalimat Alwi terdengar agak sinis.


“Ya, om benar.” Aku Devan yang membuat Alwi menolehnya.


“Ada satu perpisahan membuat kita terpaksa harus menerimanya. Tapi ada jenis banyak perpisahan yang memberi kita pilihan untuk mempertahankan atau melepaskannya.” Lanjut Devan, balas menoleh Alwi.


Alwi tersenyum kecut, sepertinya Devan sedang menyindirnya. Menyindir ia yang terpaksa harus menerima perpisahan dengan sang adik sekaligus menyindir hubungannya dengan calon istri yang terpaksa ia tinggalkan karena di rasa tidak bisa menerima kondisinya saat itu.


“Jangan merasa tersinggung, aku tidak sedang membahas kita, melainkan Bella.” Devan menambahkan kalimatnya saat melihat Alwi mendadak tercenung.


“Bella pernah bertemu dengan dua hal itu dan keduanya membuat dia sempat terpuruk. Dan ajaibnya, dia masih bisa memilih untuk bangkit. Satu hal yang tidak pernah aku duga kalau dia bisa melakukannya.” Mengingat perjuangan Bella yang gigih untuk memilih bangkit.


“Tidak masalah bertemu dengan sebuah kehilangan, tidak masalah berhadapan dengan keterpurukan tapi, jangan pernah lupa kalau kita selalu bisa melewati itu bersama dengan orang yang kita sayangi. Itu yang aku lihat dari Bella. Dan tanpa sadar, Bella pun membuatku memilih untuk bangkit dari keterpurukan.” Devan mengeratkan genggaman tangannya pada stir, saat ini hatinya berdesir mengingat kesungguhan dalam usaha Bella hingga bisa melewati semuanya.


“Om pun bisa melakukan itu.” Hiburnya pada laki-laki yang ada di sebelahnya.


Alwi tidak menimpali. Ia melihat hotel yang ia pilih untuk pertemuan sudah ada di depan matanya. Namun ia memilih untuk tidak menghentikan Devan. Sepertinya, ia tidak ingin mengakhiri perbincangannya dengan Devan yang nyaris tidak pernah ia lakukan sebelumnya.


“Om mau minum kopi?” Tawar Devan. Ia ingin tahu apa Alwi akan menerima usahanya untuk mendekat atau kembali memasang tembok tinggi untuk melindungi hatinya dari kekecewaan.


“Pilihkan yang terbaik yang ada di sini.” Sahut laki-laki itu tanpa penolakan.


Dan dengan senang hati Devan membawa Alwi keliling Jakarta dan mencari kopi terbaik untuk menemani mereka berbincang banyak hal. Bukankah ini kesempatan langka?


*****


Beberapa hari ini, jumlah penonton yang menyaksikan film produksi Devan dan tim terus bertambah. Lagu-lagu Rangga yang menjadi soundtrack film itupun terus di putar di berbagai platform digital music. Kesuksesan keduanya seperti beriringan seimbang dengan popularitas keduanya yang semakin menanjak.


Setiap harinya, kursi studio di bioskop penuh oleh penonton dan itu semua sudah berjalan lebih dari satu minggu ini. Kondisi tidak terduga itu membawa film tersebut menjadi film box office karena tingginya peminat untuk menonton film bergenre romans itu.


“Wah, beneran naik lagi ratting-nya, gilaaakkk!!! Gue bener-bener gak nyangka! Hahahahaha…” Suara Bella yang sedang bertelepon terdengar jelas dari ruang tamu.


“Iya ini sih rekor banget Ka! Kirimin gue capaiannya ya, gue mau liat sendiri.” Pinta Bella pada sahabatnya.


Inka sedang membahas pencapaian film di kantor bersama rekan-rekan crew dan promotor sementara Bella memilih beristirahat di rumah sambil merawat ayah mertuanya.


“Okey, nanti lo bawa capaiannya kalau main ke sini ya. Gue tunggu!” Pesan Bella.


Setelah puas tertawa bahagia dengan Inka, Bella pun mengakhiri panggilannya.


“Seru amat.” Komentar seseorang yang menuruni anak tangga.


“Hahaha… Iya. Gue baru dapet info dari Inka kalau sampe hari ini penonton masih rame yang nonton film gue. Bahkan ada beberapa yang nontonnya berulang. Ini gila sih, gue masih gak percaya.” Ungkap Bella yang tidak bisa menyembunyikan wajah bahagianya.


“Wih selamat ya! Kerja keras lo benar-benar membuahkan hasil.” Ucap Ozi seraya mengusap kepala Bella.


“Makasih abang sayang. Ini semua berkat orang-orang yang terus support gue dan crew, sampe akhirnya kami ada di posisi ini. Termasuk dukungan lo!” Bella meninju lengan Ozi dengan tinjunya yang lemah.


“Iya lah. Mana mungkin gue gak dukung lo sama Devan.” Timpal Ozi.


“Thank you!” Bella mengecup singkat pipi sang kakak. Sikapnya benar-benar manis.


Ozi tersenyum kecil melihat tingkah sang adik yang kadang memang sangat manis.


“Ngomong-ngomong, lo mau kemana? Kok rapi banget.” Bella memperhatikan Ozi dengan seksama. Ia juga mencium wangi tubuh sang kakak yang wangi.


“Mau ketemu Inka, ada yang mesti gue obrolin.” Terang Ozi yang terlihat serius.


“Ciee,… Mau persiapan LDR ya?” Goda Bella sambil menyikut lengan sang kakak.


Lusa memang Ozi akan berangkat ke Singapore untuk menghadiri pertemuan dengan pimpinan perusahaan. Ia akan mengerjakan project pertamanya sebagai tim desain grafis. Ia akan stay di Singapore selama 2 hari.


“Ya, kurang lebih begitu.” Akunya.


“Ngomong-ngomong Devan mana?” Ozi memedarkan pandangannya ke sekeliling rumah.


“Baguslah. Kalau sering latihan nanti papah Amri bisa cepet sembuh.”


“Iyaaa, Aamiin…” Bella mengamini.


“Ya udah, gue pergi dulu yak.”


“Hem, hati-hati.” Bella melambaikan tangan pada sang kakak.


“Seneng juga liat lo jadi doyan nge-date sama Inka.” Gumam Bella seraya memandangi punggung Ozi yang semakin lama semakin menjauh.


Ia sangat senang karena pada akhirnya Ozi menemukan kebahagiaannya sendiri.


Di tempat berbeda, Inka sudah bersiap menunggu Ozi di depan kantor. Saat mobil Ozi berhenti, ia segera menghampiri dan masuk ke dalam mobil itu.


“Hay pacar! Mau kemana kita?” Tanya Inka dengan antusias. Cepat-cepat ia memasang seatbelt melingkari tubuhnya.


“Kejutan.” Sahut pendek Ozi.


“Aku suka kejutan. Mmuuach!” Inka refleks mencium pipi Ozi dengan semangat. Tapi kemudian ia terdiam dan wajahnya memerah saat Ozi meliriknya dan tersenyum.


“Kalo lagi seneng, kamu emang selalu gini ya?” Tanya Ozi iseng mencandai Inka.


“Iyaa. Kalo lagi seneng tingkat kecerahanku memang melebihi 100 persen. Tapi kalo refleks kiss, cuma sama mas Bima doang.” Timpal Inka yang tersipu.


Ozi balas tersenyum sambil tetap fokus melajukan mobilnya masuk ke jalanan dan berbaur dengan kendaraan lain.


“Ke cowok lain nggak gitu kan?” Rupanya Ozi sedang was-was.


“Jangan mikir aneh-aneh deh. Mana kita mau LDR lagi selama dua hari ke depan.” Inka mengerucutkan bibirnya kesal.


“Lah, aku kan cuma nanya. Khawatir boleh dong.” Timpal Ozi dengan santai.


“Khawatir apa nggak percaya?” Inka mendelik kesal pada Mas pacar.


“Dih, kok kamu yang ngambek sih? Aku kan cuma nanya yang.” Ozi mengusap pipi Inka dengan sayang.


“Habis pertanyaannya kayak gitu. Mas Bima lupa secinta apa aku sama mas Bima?” Bibir Inka menerucut kesal.


“Emang secinta apa?” Goda Ozi yang mulai suka menggoda kekasihnya.


“Mas Bima, ikh!” Inka berdecik sebal. Menyilangkan tangannya di depan dada.


“Iya, iyaa… Aku tau. Kamu kan emang bucin banget sama aku.” Ozi dengan rasa percaya dirinya yang tinggi.


“Tauk akh!” Inka memalingkan wajahnya dari Ozi. Entah mengapa Ozi begitu suka menggodanya.


“Iya, iyaa… Aku deh yang bucin sama kamu.” Ralatnya, demi membuat Inka seneng.


“Mana? Coba lliat mana bucinnya? Kok aku gak ngerasa?” Berganti Inka yang menggoda Ozi.


“Ini kan aku lagi usaha. Ngajak kamu nge-date, pergi ke tempat yang menyenangkan. Ngabisin waktu lebih banyak sama kamu. Emang itu bukan tanda kebucinan ya?”


“Bukanlah! Itu mah kewajiban dalam hubungan percintaan tau!”


“Kok kewajiban sih? Kesannya terpaksa banget loh,…” Tanpa sadar perdebatan pasangan baru itu membawa mereka sampai di sebuah café.


“Ya bukan gitu lah. Maksud aku,”


“Mmuach!” tiba-tiba saja Ozi mengecup bibir Inka yang masih terbuka karena berbicara.


Saat itu juga Inka langsung bungkam dengan wajah merah merona.


“Mas Bima, ikh!” ia memukul lengan Ozi dengan gemas.


“Dih, kok malah mukul? Bukannya di bales.” Timpal Ozi.


“Gak mau! Malu!” tolak Inka sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.


“Iya deh iya, gak usah di bales sekarang. Nanti aja kalo kita udah nikah.” Ozi meraih tangan Inka yang menutup wajahnya.


“Sekarang, kita turun dulu yuk. Aku laper soalnya.” Pinta Ozi dengan wajah memelas. Ia sudah memarkirkan mobil dengan aman.


“Ya udah, ayok!” Dengan segera Inka membuka pintu mobil dan turun lebih dulu meninggalkan Ozi. Ozi hanya tersenyum melihat tingkah Inka yang ternyata lucu saat salah tingkah.


“Ayooo, katanya laper.” Protes Inka dari luar.


Dengan senang hati Ozi pun turun menyusul sang kekasih.


Mereka berjalan bergandengan tangan masuk ke dalam café. Inka menatap dengan bangga tangannya yang di genggam Ozi. Ia tersenyum cerah saat pelayan menyapanya.


Tapi baru beberapa langkah masuk ke dalam café, tiba-tiba saja langkahnya terhenti. Ia mematung di tempatnya saat ia melihat seseorang berdiri menyambutnya di meja yang di pesan Ozi.


Seorang wanita menatap Inka dengan haru sambil menutup mulutnya menahan tangis. Saat itu juga Inka memalingkan wajahnya ketika ia mengenal benar wajah yang sangat mirip dengan dirinya.


“Inka, mau kemana?” Tahan Ozi yang berusaha menahan tangan Inka.


Inka tidak menjawab, melainkan memilih pergi meninggalkan Ozi.


“Inka!” panggil Ozi.


****