Bella's Script

Bella's Script
Apa aku katakan saja?



POV Bella


Finally, hari yang berat ini berakhir. Ya, aku bilang ini hari yang berat karena hari ini aku seperti mendapatkan kembali semua emosiku dan berusaha menerimanya dengan lapang dada. Mereka semua telah kembali, rasa marah, sedih, kesal, bahagia, terharu dan perasaan lainnya yang membuat aku merasa seperti separuh jiwa yang melengkapi psikisku telah kembali. Rasa tersentuh itu aku merasakannya lagi.


Tapi ada satu hal yang hilang, yaitu energi negative yang selama ini terasa bertumpuk di pundakku hingga membuatku merasa selalu terbungkuk lemah. Rasa dikalahkan oleh ego dan keadaan diri sendiri hingga aku berpikir tidak ada hal yang baik yang terjadi dalam hidupku. Hari ini aku menang, ya aku menang melawan diriku sendiri dan berhasil berdamai dengan keadaan. Kalimat "Aku baik-baik saja" itu benar-benar aku rasakan seutuhnya. Tanpa kepura-puraan.


Akh, lega rasanya bisa melangkahkan kaki seringan ini sekarang. Perasaan ini membuatku tanpa ragu melangkahkan kaki dengan nyamann ke  arah yang sudah tahu harus aku tuju.


Mobil Devan  persis di depanku dengan jarak sekitar 2 atau 3 meter saja, mungkin. Kaca mobilnya yang tidak terlalu gelap membuatku bisa melihat siluete sosok Devan dengan jelas. Randomnya aku, aku berhenti sejenak lalu memandangi sosok pria di dalam mobil sambil meneropongnya dengan keempat jariku, 2 telunjuk dan dua ibu jari membentuk kotak.


Ku arahkan maju mundur seperti sedang melakukan zoom in dan zoom out ke arah Devan. Satu mataku memincing seperti sedang mengekernya. Satu gambaran aku dapati, Devan sedang termenung. Aku yakin, laki-laki itu sedang memandangi laptopnya sambil berpikir. Aku bisa yakin karena ada bias cahaya di dalam kabin yang membuat siluete Devan terlihat sangat jelas.


Hahahha, kadang aku memang serandom ini. Aku juga bisa membayangkan dengan posisi duduk seperti itu Devan pasti sedang serius berpikir. Ia menopang dagunya dengan tangan kanan sambil mengelus dagunya yang ditumbuhi rambut halus dari jambang hingga ke jenggot. Bibirnya sudah pasti sedikit mengerucut dengan alis yang saling tertaut. Alis kirinya lebih tinggi di banding alis kanan. Tidak tertinggal matanya yang tajam menatap layar laptop. Kalau layar laptopnya memiliki nyawa, dia pasti salah tingkah.


Begitu caraku menggambarkan ekspresi seseorang saat membuat sebuah cerita. Dan mulai hari ini aku merasa bersyukur karena Devan menjadi bagian nyata dari script cerita hidupku. Aku akui dia ada di script-ku dan memegang peranan penting. Aku sebut, dia salah satu tokoh utama.


Karena melamun aku sampai lupa kalau Devan sudah lama menungguku. Sudahi dulu senyum-senyum tidak jelas dan hal random yang aku lakukan ini. Aku percepat langkah kakiku untuk sampai ke mobil.


“Tok-tok-tok.”


Aku ketuk sedikit kaca pintu mobil memberi tanda kedatanganku pada Devan. Aku memang sengaja melakukannya karena mungkin apa yang ia lihat adalah hal privasi yang tidak boleh di lihat sembarang orang, termasuk aku. Aku menghargai itu. Seperti halnya Devan yang memberiku privasi, aku pun melakukan hal yang sama. Aku menghormati pria ini.


Aku melihat tangannya terulur berusaha membuka pintu dari dalam.


“Hay!” Sambutnya saat pintu mobil terbuka dan aku menampakkan wajahku.


“Hay.” Aku menyahuti seraya tersenyum. Entah mengapa dadaku tiba-tiba berdebar lebih kencang hanya karena melihat dia tersenyum seraya menatapku penuh atensi.


Perlu aku katakan, kalau ini dua refleks baru yang aku alami saat Devan memperhatikanku. Bibir yang tersenyum dan jantung yang bergetar. Tidak tahu sejak kapan aku memiliki dua refleks ini.


“Thanks udah nunggu. Sorry tadi Inka bilang mau ikut nengok abang tapi ternyata gak jadi karena bokapnya ngundang dia pulang.” Terangku saat sudah duduk di dalam mobil.


“It’s okey, no problem.” Timpalnya dengan santai. Melihat dia tersenyum setelah menungguku lama, membuatku jadi tidak salah tingkah. Aku membenarkan lagi posisi dudukku agar tidak terlihat kikuk. Jantungku jadi gemetar dan ada sensasi gerah hingga aku refleks mengipas-ngipasi wajahku yang rasanya panas.


“Oh sorry, gue lupa.” Devan segera menyalakan AC mobil setelah menyalakan mesin. Mungkin dia pikir aku kegerahan.


“Oh, thanks.” Akh salah lagi. Aku segera menghentikan aksi mengipasi muka sendiri, rupanya hal sekecil apapun yang aku lakukan, Devan memperhatikan dan meresponnya. Menyulitkan dia bukan?


Dia hanya tersenyum menimpaliku.


"Masih ada kerjaan?" Aku melirik laptop yang masih menyala di atas pangkuannya.


"Emmm cuma konfirmasi email. Oh iya Bell, ada yang harus gue kasih tau sama lo." Dia menutup laptopnya dan mengalihkan perhatiannya padaku.


"Ya?" Aku penasaran dia mau bilang apa. Aku balas menatap wajahnya tapi tidak bertahan lama saat mata kami bertemu pandang. Gilla, ini membuatku merinding, padahal kami sudah sering sekali berbicara sedekat dan seintens ini. Ada apa denganku?


"Gue gak tau, ini tepat atau nggak gue ngomongin ini sekarang sama lo." Dia berbicara serius dan aku malah ketar-ketir.


"Tentang?" Aku tidak sabar, Devaaaannn... Lo mau ngomong apa sih? Aku menggerutu dalam hati.


Dia menghela nafas dalam membuatku terpaksa menahan nafas. Heeeyyy cepaaattt!!! Jangan buat aku tidak karuaaaannn...


"Ada penawaran dari perusahaan temen gue, buat Ozi."


Akh sial, nafasku berhembus kasar setelah tahu Devan akan membahas apa. Ini bukan tentang kami lagi.


"Ehm?" Aku berusaha tenang.


"Dia nawarin kerjasama buat project pameran 3D cahaya di Singapore. Tapi ozi nolak karena dia gak yakin bisa nyelesein project ini dengan kondisinya sekarang. Padahal sebelumnya dia terlihat antusias banget waktu apply ajuan kerjasama. Menurut lo gimana?" Devan benar-benar serius.


Aku tercenung sebentar melihat netra pekat itu menatapku lekat. Akh aku semakin tidak karuan. Bayangan bang Ozi juga sekarang memenuhi pikiranku.


"Wajar kalau dia berubah pikiran. Fokus dia saat ini bukan ke kerjaan tapi ke dirinya sendiri. Tapi gue yakin bukan berarti dia gak mau."


"Sekarang kita hargai dulu pilihannya, setelah semuanya selesai, abang gue udah balik lagi sehat, kita dukung dia dari awal. Jangan sampe penolakan abang gue menghambat kerjaan temen lo. Abang gak akan suka itu. Rasa bersalahnya akan sangat tinggi." Terangku apa adanya.


Devan terangguk paham. Sikap tenangnya seperti deburan ombak yang perlahan membasahi tubuhku dan memberiku ketenangan hingga dengan leluasa mengungkapkan isi pikiranku. Devan memang selalu seperti ini.


"Okey, gue setuju." Sahutnya.


"Okey." Aku menimpali dengan perasaan lega.


Perhatianku ikut beralih, aku memperhatikan lingkungan sekitar, jarak mobil Devan dengan mobil lain yang terparkir di sampingnya, khawatir akan menyenggol. Tapi Devan sangat lihai, dengan satu kali putaran stir, mobil berhasil keluar dari area parkir.


Tunggu, kenapa aku jadi memperhatikannya? Padahal biasanya saat sudah duduk di kursi penumpang, fokusku akan berpindah pada ponsel untuk mengecek pesan-pesan dan panggilan yang mungkin terlewat atau belum sempat aku baca karena hectic dengan pekerjaan. Tapi kali ini kebiasaanku berbeda. Melihat tampilan ponsel yang hanya aku gunakan untuk berkirim pesan dan bertelepon, tidak lagi menarik di banding, memperhatikan seseorang yang duduk di sampingku.


Hahahaha… Ya, aku jadi sering memperhatikan yang di sampingku sambil menahan senyum.


Seperti yang aku akui tadi, saat berlatih bersama Rangga tadi, aku seperti melakukan lompatan besar dalam hati, mental dan pikiranku.


Sejak mulai adegan, aku terus berusaha mengingat semua kenangan yang pernah aku lewati bersama Rangga. Saat pertama kali kami bertemu, rasa gemetar karena Rangga mengungkapkan cinta, hal-hal menyenangkan yang aku lakukan bersama Rangga hingga saat terburuk yaitu Ketika Rangga mengkhianatiku.


Otakku sengaja aku putar mengingat semua kenangan itu untuk membantuku mengumpulkan emosi saat memainkan tokoh Minara yang aku ciptakan. Tapi tidak berhasil. Meski semua kenangan itu berputar di kepalaku, aku tidak merasakan apapun.


Untuk beberapa saat aku cemas. Ya, aku sangat cemas takut aku gagal. Takut aku tidak bisa mengeluarkan emosiku. Melihat mata Rangga yang menatapku dengan tajam lalu berubah sedih, bahkan tidak membuat jantungku berdebar sedikitpun. Aku sangat asing dengan perasaanku sendiri. Aku tidak merasakan apapun pada Rangga, sekalipun itu rasa marah.


Aku tidak tahu persis sejak kapan perasaan itu di mulai. Namun, beberapa bulan berpisah dari Rangga, aku mulai menemukan kenyamananku sendiri. Aku tidak lagi tidur larut malam hanya karena menunggu kabar dari seseorang yang aku cemaskan sementara dia tidak memikirkanku. Aku mulai tidak terlalu menikmati makanan manis yang kerap aku konsumsi hanya untuk mempertahanku moodku agar tetap baik setelah mengalah dari ego Rangga. Aku bisa bepergian ke banyak tempat tanpa khawatir Rangga mencurigaiku. Aku juga mulai memanjangkan lagi rambutku setelah ku potong pendek karena rasa kesalku.


Perubahan yang aku lakukan pada diriku tidak lagi untuk Rangga, melainkan untuk diriku sendiri. Aku bahkan tidak peduli jika tampilanku saat ini tidak menarik bagi Rangga dan aku tidak memenuhi tuntutan standar kecantikan yang Rangga buat. Aku, aku lebih bisa mencintai diriku sendiri saat ini.


Namun, hal berbeda aku rasakan saat kemudian tanpa sengaja aku melihat Devan. Hanya melihat sorot matanya saja membuat perasaanku tidak karuan. Aku belum me-recall apapun ceritaku dengan Devan karena cerita kami memang hanya sedkit, belum pantas di buat kenangan. Dia memberiku gambaran lebih tentang diriku sendiri. Diriku yang sempat ingin aku lukai karena kekecewaanku sendiri.


Devan berbeda,


Melihat dia menatapku saja membuatku berhasil merasakan berbagai macam emosi. Emosi yang selama ini aku tahan dan tidak aku tunjukkan.


Pada titik itu aku seperti tersadar. Aku mulai mengenali perasaanku. Aku bisa merasakan kesedihan Minara, tapi aku tidak lagi merasakan kesedihanku sendiri saat Rangga memilih Amara. Aku bisa merasakan kekalutan perasaan Minara namun tidak lagi merasakan kekalutanku saat mengingat bagaimana aku menjalani hari tanpa Rangga. Aku juga bisa merasakan rasa berkecambuk saat membayangkan bagaimana gigihnya Michael memperjuangkan Minara tapi aku tidak lagi merasakan apapun atas usaha Rangga memperjuangkanku.


Tunggu, memperjuangkanku? Pernahkah Rangga melakukannya untukku?


Ragu. Ya aku ragu.


Saat itu aku sadar, perasaanku untuk Rangga sebenarnya sudah lama hilang. Aku tidak terrenyuh sedikitpun dengan air mata Rangga tapi aku sangat tersentuh hanya karena membayangkan mata Michael yang berkaca-kaca menangisi Minara. Padahal Michael hanyalah tokoh fiksi yang aku ciptakan.


Rupanya mamah benar. Setelah rasa cinta hilang, yang tersisa hanyalah sebuah kesepakatan. Tapi bagiku, kesepakatan itu bukan hanya dengan pasangan kita melainkan kesepakatan dengan diri sendiri. Kapan aku siap berhenti mengenang Rangga? Kapan aku siap menerima kalau Rangga hanyalah masa lalu? Dan kapan aku siap berdamai dengan diriku sendiri? Karena pada akhirnya mengikhlaskan seseorang dimulai dengan kesiapan menerima orang baru tanpa memikirkan lagi masa lalu.


Semua itu di mulai hari ini. Rasa takut itu hilang saat aku melihat sorot mata laki-laki di sampingku.


Laki-laki yang aku pandangi dengan penuh perasaan.


Laki-laki yang selalu punya inisiatif terhadapku.


Laki-laki yang memiliki banyak rencana untuk melindungiku.


Laki-laki yang berjuang dimulai dari hal kecil hingga hal besar untukku.


Laki-laki yang sangat menghormati setiap pilihanku.


Seperti halnya ombak laut, Devan bisa menenangkan dan bisa sangat bergemuruh tergantung kondisiku, tergantung kebutuhanku. Tapi aku tahu, perasaannya tidak pernah berubah terhadapku.


Dan perlahan, rasa takut itu hilang.


Aku bisa menghela nafas lega setelah melewati pergolakan batin siang tadi. Diam-diam ku pandangi laki-laki di sampingku. Laki-laki yang membuat bulu kudukku meremang sekaligus membutku tersenyum.


“Do you wanna say something*?*” Tanyanya tiba-tiba.


"Hah?" Aku sampai terhenyak kaget karena pertanyaannya.


Dia melirikku seraya tersenyum kecil. Seketika pikiranku kosong. Darimana dan bagaimana aku memulainya? Apa yang harus aku katakan?


*****


Lanjut?


Jangan lupa Like, Comment dan vote-nya yaaa....


Happy reading...