
“Sorry tiba-tiba duduk di sini, tadi aku gak sengaja liat kamu tapi sepertinya kamu sedang sibuk. Apa kabar?” Rangga yang menatapnya dengan penuh atensi. Ia tersenyum kecil pada Bella, senyuman khas yang dulu selalu membuat Bella tergila-gila.
Penampilan laki-laki ini tampak berbeda dari sebelumnya. Dengan kumis tipis di atas bibirnya dan jenggot yang di cukur kasar hingga ke jambangnya. Rangga sudah tidak serapih biasanya seperti ia sedang tidak memikirkan penampilannya. Kesan metroseksual yang melekat pada dirinya, tidak terlihat di penampilannya yang sekarang.
“Baik. Sedang apa kamu di sini?” Bella tidak bisa menyembunyikan rasa keterkejutannya dihampiri laki-laki ini.
“Mengurus hak cipta lagu.” Ujarnya.
Ia mengeluarkan satu keping CD yang berisi lagu-lagu miliknya yang di jadikan soundtrack untuk filmya sekarang.
“Aku gak yakin kamu udah dengerin lagu yang aku kirim lewat wa. Beruntung kita bertemu di sini, jadi aku mau memberikannya secara langsung.” Disodorkannya CD itu pada Bella.
Untuk beberapa saat Bella hanya memandangi CD di tangan Rangga. Ia akui, ia memang tidak membuka pesan dari Rangga sama sekali. Entah sudah berada di urutan ke berapa pesan yang dikirim Rangga melalui aplikasi chat itu.
“Ambillah, ini masih free.” Canda Rangga, untuk mengurangi ketegangan.
“Hem, makasih.” Bella akhirnya mengambil CD itu dari tangan Rangga.
Ia memperhatikan cover di wadah CD itu, gambar Rangga sedang memeluk gitarnya yang di buat siluete gelap dengan satu titik cahaya lampu yang di tempatkan seolah jauh dari Rangga.
Menggenggam, judul mini album yang Rangga buat.
“Aku harap, kamu mau dengerin lagu-lagu di sana. 2 dari 6 lagu itu, inspirasinya dari kamu Bell, dari kenangan kita.” Terang Rangga tanpa di minta.
Laki-laki itu tersenyum kecil lantas berubah sendu saat menatap wajah Bella yang tampak terkejut tapi tidak bisa berbuat banyak.
“Ya, aku akan mendengarkannya. Terima kasih.” Hanya itu yang bisa Bella janjikan.
“Syukurlah..” ucapan Rangga terdengar bersamaan dengan hembusan nafasnya yang lega.
Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi tanpa melepaskan pandangannya dari Bella yang masih memperhatikan cover CD itu. Tepatnya, melihat satu per satu list judul lagu yang Rangga nyanyikan.
“Bell, boleh aku bicara hal lain?” Lagi Rangga bersuara dengan lirih, seperti penuh keraguan.
“Silakan,..” Hanya itu jawaban pendek Bella yang ikut menyandarkan tubuhnya dan menatap jauh ke depan sana.
Melihat abang-abang penjual bakso tahu gerobak yang sedang melayani pembelinya, jauh lebih menenangkan di banding bersitatap dengan Rangga.
Terdengar helaan nafas dalam yang di raup Rangga sebelum memulai kalimatnya. Ia tampak ragu namun kemudian tersenyum kecil saat mengingat beberapa kenangan yang melintas di pikirannya.
“Dulu, kamu pernah menyarankan aku untuk berkarir solo dulu, tapi aku langsung menolaknya. Apa saat itu kamu sangat kecewa?” Rangga memulai pembicaraan.
“Kenapa kamu menanyakan itu sekarang?” Bella balas bertanya dengan dahi mengkerut bingung. Bukankah itu sudah lampau? Bella saja sudah lupa bagaimana rasa kecewa itu pernah ia rasakan.
“Aku tau, itu tidak pantas di tanyakan sekarang.” Rangga tersenyum miring untuk dirinya sendiri.
“Hanya saja, saat ini aku sadar kalau dulu kamu sangat berusaha keras untuk mendukung dan mengimprove karir aku. Bodohnya, dulu aku menganggap itu sebagai usaha kamu untuk mengaturku.”
“Aku minta maaf Bell,…” kalimat terakhir Rangga terdengar tulus tapi tidak lantas membuat Bella menoleh. Baginya saat ini sudah tidak ada yang perlu dimaafkan, urusannya dengan Rangga sudah selesai.
“Aku juga minta maaf karena dulu, aku selalu berpikir kalau kamu ingin selalu memegang kendali atas aku. Tidak membiarkan aku melakukan apa yang aku inginkan. Kamu terlalu sibuk mengurusi segala sesuatu tentang aku hingga sempat membuat aku muak.”
Kalimat Rangga terjeda, ia mencondongkan tubuhnya lantas menangkup wajahnya dengan kedua tangan yang ia usap kasar.
“Sekarang baru aku pahami, kalau itu karena kamu tahu apa yang aku butuhkan, sementara aku hanya tau apa yang aku mau.” Ia menoleh Bella yang ada di sampingnya dan gadis itu hanya meliriknya sedikit.
“Dulu aku benar-benar bodoh Bell. Aku terlalu bebal dan tidak menghargai kamu.”
“Saat hubungan kita berakhir dan kamu melihat sendiri semua kecurangan yang aku lakukan di belakang kamu, kamu bertanya, apa yang harus kamu rubah supaya aku gak pergi. Apa yang harus kamu perbaiki supaya aku gak ninggalin kamu.”
“Aku gak bisa menjawab Bell, bahkan hingga saat ini.”
“Karena aku sadar, tidak ada yang perlu kamu ubah dan perbaiki dari semua kesempurnaan itu. Hanya aku yang sebenarnya tidak bisa mengimbangi kesempurnaan yang kamu tunjukkan di depan aku.”
Rangga tertunduk lesu di hadapan Bella. Ia bahkan tidak bisa menyembunyikan air matanya yang kemudian menetes begitu saja.
Harus Bella akui, ia cukup terkejut dengan semua pengakuan Rangga tapi sayangnya, hatinya bahkan sudah tidak bergetar sedikitpun saat mengingat semua yang Rangga ucapkan saat ini. Hatinya sudah tidak terrenyuh oleh semua penyesalan dan maaf Rangga.
“Kamu Pelangi yang begitu indah, buat aku yang buta warna, Bell… Kata-kata di penutup script kamu, memang sangat cocok untuk menggambarkan semua kebodohan aku.”
“Tapi sekarang, mata aku sudah terbuka Bell. Aku tau apa yang aku butuhkan, aku tau seperti apa tujuan hidup aku. Dan aku tau, kalau seharusnya aku tetap ada di sisi kamu. Tidak membiarkan kamu pergi untuk alasan apapun.”
“Lalu, bisakah kita memulai semuanya dari awal Bell? Aku ingin memperbaiki semuanya. Aku ingin kamu selalu menjadi bagian penting di hidup aku. Aku mohon,”
Rangga sampai turun dari bangku lalu bersimpuh di hadapan Bella. Seraya tertunduk, ia benar-benar mengharapkan maaf dan pengampunan Bella.
Ia memang mengasihani Rangga sebagai sesama manusia yang menyesali perbuatannya. Tapi untuk kembali bersama? Apa dia sedang bercanda?
“Bell,.. Please…” Rangga memberanikan dirinya untuk menatap Bella. Dengan mata yang merah dan basah serta penuh sesal. Ia harap, ini semua dapat meluluhkan hati Bella.
Bella tersenyum kecil pada Rangga.
“Terima kasih atas permintaan maaf kamu yang tulus.”
“Sebagai manusia yang egois, aku sangat ingin mendengar permintaan maaf kamu sejak dulu. Aku ingin kamu sadar kalau kamu sudah sangat menyakiti aku, Ga.”
“Kamu adalah kenangan terindah yang mengajari aku bahwa seperti itulah cara mencintai yang sesungguhnya. Memberikan hal terbaik untuk pasangan, menempatkan kebahagiaan dan kepentingan dia di puncak prioritas dan jangan sampai mengkhianatinya. Selama 8 tahun, aku bertahan dengan prinsip itu.”
“Aku berhutang banyak untuk pembelajaran yang kamu berikan buat aku.”
“Tapi,” Bella menghela nafasnya dalam untuk menenangkan jantungnya yang sempat berdetak kencang karena emosinya naik.
“Aku tidak hidup untuk masa lalu, Ga. Masa sekarang buat aku jauh lebih penting dan indah. Karena apa?”
“Karena seseorang telah mengajarkan aku, bahwa, tidak perlu menjadi sempurna untuk dicintai oleh seseorang. Sesekali, tunjukkan kelemahanmu di hadapannya agar dia tau, kalau kamu bukan manusia sempurna. Jika dia benar-benar mencintaimu, dia tidak akan pergi meninggalkanmu untuk alasan apapun. Dan kita tidak pernah ada di kondisi semacam itu."
"Saling menerima kekurangan dan mencintai kelebihan satu sama lain. Kita selalu merasa kurang untuk satu sama lain. Aku merasa kamu kurang perhatian, aku merasa kamu kurang memprioritaskan aku, aku juga merasa kamu kurang mencintai aku dan mungkin lebih banyak kurang yang kamu dapatkan dari aku, hingga kamu mencari yang lain di belakang aku. Aku paham akan hal itu, sepenuhnya.”
“Untuk hubungan semacam itu, apa yang bisa di perbaiki Ga, apa?” Bella menatap Rangga penuh tanya.
Rangga tidak bisa menjawab, hanya air mata yang kemudian menetes sebagai bentuk penyesalan.
“Kita pernah bersama sangat lama tapi hanya sebentar kita memiliki hati satu sama lain. Tidak salah sebenarnya kalau kamu merasa jenuh tapi, kamu sudah membuat pilihan atas hubungan kita. Dan pilihan kamu saat itu, buat aku tidak akan pernah bisa di perbaiki.”
“Kamu harus tau Ga, aku sangat bahagia saat ini. Sangat teramat bahagia hingga aku merasa kalau semua orang harus merasakan seperti ini.” Bella menempatkan tangannya kanannya di atas paha, membuat Rangga bisa melihat cincin yang tersemat di jari manis tangan kanan Bella.
“Bell, kamu udah punya pasangan? Kamu udah nikah?” cepat-cepat Rangga menyusut air matanya dan hendak meraih tangan Bella, namun Bella segera menghindar.
Bella terangguk pelan seraya tersenyum.
“Saat kamu datang dan duduk di sampingku, harusnya kamu sudah melihat cincin pernikahan ini di jariku. Tapi, kamu memang tidak pernah berubah Ga. Kamu selalu tidak peka. Kamu tidak pernah mencoba memahami situasi yang ada di sekitar kamu. Kamu hanya punya tujuan, kalau orang lain harus tau keinginan kamu. Itulah yang membuat kita berbeda dan tidak akan pernah bersatu.”
Tubuh Rangga ambruk di tempatnya. Kedua kakinya sudah gemetar tidak mampu menahan tubuhnya yang mendadak lemah tidak bertenaga. Ia hanya bisa merutuki apa yang telah ia perbuat selama ini. Hatinya hancur dan harapannya benar-benar musnah. Tidak adakah jalan lain untuk ia mendapatkan kembali hati Bella?
“Aku minta maaf atas kesalahan aku selama ini. Dan aku mohon, tolong berhenti berpikir kalau kita bisa bersama lagi. Kesempatan kita sudah habis. Sekarang, aku dan kamu hanya dua orang asing yang bertemu dalam satu pekerjaan yang sama."
"Terima kasih untuk pembelajaran selama 8 tahun ini, itu sangat berarti buat aku.” Tandas Bella yang kemudian berlalu meninggalkan Rangga di tempatnya.
Baru dua langkah di ambilnya, ia segera tersadar kalau suaminya sudah berdiri di kejauhan, memandanginya dengan senyum terkembang. Devan mengulurkan tangannya pada Bella dan Bella bergegas berlari kecil menghampiri sang suami.
Saat berada di samping Devan, Bella melingkarkan tangannya di lengan Devan.
“Apa aku meninggalkan kamu terlalu lama?” Tanya Devan yang mengecup pucuk kepala Bella seraya melirik Rangga yang jatuh terduduk di tanah berumput. Laki-laki itu tampak hancur.
“Cukup lama untuk menyelesaikan sebuah masalah.” Timpal Bella. Ia ikut menoleh Rangga yang ada di belakangnya lantas mengimbangi langkah kaki Devan yang pergi menjauh dari Rangga.
"Kamu marah, karena aku ngobrol sama Rangga?" Bella menatap wajah sang suami yang berada persis di sebelah wajahnya.
"Aku akui, aku cemburu." Kalimat Devan terdengar tegas.
"Tapi bukan pada laki-laki itu melainkan pada kenangan kalian."
"Aku selalu takut kalau orang lama akan menjadi pemenangnya."
"Tapi, setelah aku mendengar bahwa kamu tidak pernah hidup di masa lalu dan lebih bahagia di masa sekarang, aku merasa kalau aku sudah tidak perlu mencemaskan apapun. Aku tau, sepenuhnya hati kamu buat aku Bell..." Tegas Devan dengan penuh keyakinan.
Ia memindahkan tengan kokohnya untuk merangkul Bella. Menempatkan lengannya melewati leher Bella. Ia ingin mengikis jarak dengan sang istri.
“Maaf Ga, aku tidak akan pernah bisa mengulang apapun sama kamu. Kamu hanya masa lalu yang harus aku hapus dari scriptku.” Batin Bella. Hanya beberapa saat saja Bella menatap sang mantan kekasih, sebelum kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Devan.
“I love you…” Bisiknya.
“I love you more, sayang…” Balas Devan dengan kecupan singkat di bibirnya.
“Mass,,, Kebiasaan.. Ini tempat umum tau.” Wajah Bella merona merah karena malu.
“Hahahaha… Aku lupa.” Hanya itu jawaban Devan yang akan terus ia katakan setiap kali tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mengecup bibir Bella.
****