
“Dek,” Sebuah suara serak memanggil Bella yang sedang terduduk di sofa sambil membaca dokumen. Dokumen itu adalah dokumen yang diberikan Devan semalam. Penawaran kontrak Kerjasama untuk Ozi.
“Oh hey.” Cepat-cepat Bella menghentikan aktivitasnya. Ia menghampiri Ozi yang baru terbangun.
Setelah mendapat suntikan Obat dua jam lalu, Ozi terlihat sangat mengantuk hingga tertidur. Dan baru sekarang ia bangun.
"Lo perlu sesuatu?" Tanya Bella, membungkuk, menatap lekat sang kakak.
"Nope." Sahutnya yang berusaha tersenyum.
“Gimana, masih kerasa pusing?” Dengan punggung tangannya Bella menyentuh dahi Ozi. Tidak terasa demam.
Ozi menggeleng seraya tersenyum. Ia juga memperhatikan sekelilingnya yang sepi, hanya ada Bella saja.
“Devan lagi nganterin mamah pulang. Tadi ada yang mau ngmabil jahitan nelponin terus. Jadi gue minta mamah pulang dulu aja, istirahat di rumah. Mumpung libur, jadi gue yang jagain lo.” Bella seperti paham maksud Ozi memperhatikan lingkungan sekitar.
Ia mengambil selembar tissue untuk melap kening Ozi dengan lembut. Belakangan Ozi selalu berkeringat padahal udara cukup dingin karena AC.
“Thanks.” Ujar Ozi dengan senyumnya yang tipis. Ia merasakan perhatian Bella yang sangat besar padanya.
Untuk beberapa saat, Bella jadi memandangi wajah Ozi sudah terlihat lebih segar dari sebelumnya. Tepatnya setelah mendapatkan perawatan beberapa hari ini. Wajahnya tidak lagi terlihat pucat dan tenaganya sudah mulai pulih. Ia bisa tersenyum lega melihat kondisi Ozi yang semakin membaik.
Bella melihat jam di dinding, sudah lewat tengah hari.
“Mau makan sekarang?” Tawar Bella.
“Hemm.” Perut Ozi sudah mulai keroncongan karena tadi pagi sarapannya tidak habis. Ia juga melewatkan snacking-nya karena tidur cukup lama.
Ia berusaha bangun dan Bella segera membantunya. Mendudukan Ozi dengan pelan-pelan.
“Gue naikin sandarannya yaa, biar lo bisa nyender kalau pegel.” Cepat-cepat Bella beralih ke ujung tempat tidur Ozi dan memutar tuas di sana.
“Segini cukup?”
“Ya, udah cukup.” Ozi bisa menyandarkan tubuhnya dengan nyaman pada sisi tempat tidur yang terangkat.
“Okeeyy, saatnya makan..” Seru lirih Bella pada sang kakak. Ia duduk di samping Ozi dan mendekatkan makanan yang sudah di antar oleh petugas gizi.
Ozi jadi tersenyum mendengar suara Bella yang dibuat seperti anak kecil dengan senyuman yang membuatnya gemas sendiri.
“Mau makan yang mana dulu nih? Rolade apa sup?” Bella menunjuk dua menu dihadapannya bergantian.
“Boleh minta burger gak?” Goda Ozi.
“Boleh. Tapi nanti setelah lo sembuh. Gue akan minta izin cheat day sama dokter, khusus buat lo. Tapi gak boleh sering-sering. Makanan kayak gitu gak terlalu sehat, banyak lemah jahatnya. Kecuali nanti gue yang masakin.” Cerocos Bella sambil membuka satu per satu plastic wrapping yang menutupi makanan.
“Lo, masak?” Tanya Ozi tidak percaya dengan senyum tertahan.
Bella ada di dapur itu hanya membuat berisik dan berantakan saja. Keahliannya hanya membuat mie kuah dan yang lainnya, akh Ozi tidak jamin adiknya bisa.
“Iya lah. Setelah selesai syuting film, gue udah daftar kelas buat belajar memasak bareng Inka. Gue harus upgrade kemampuan gue sendiri jadi gak ada alasan buat gak bisa.” Sahut Bella dengan yakin.
“WAW, keren!!” Ozi sampai berdecak kagum. Baru kali ini ia mendengar Bella dengan semangatnya yang menggebu-gebu.
“Terima kasih.” Bella mengangguk takjim dengan gayanya yang tengil. Ozi sampai terkekeh melihat tingkah adiknya.
“Minum dulu ya, biar gak seret.” Bella mendekatkan segelas air mineral pada sang kakak.
“Bismillahirohmanirohim.” Lirihnya sebelum Ozi menyeruput air di gelas.
Setengah gelas habis di minum oleh Ozi. Terlalu lama tidur ternyata membuat tenggorokan Ozi kering. Manis sekali rasanya saat air mineral dingin itu masuk ke tenggorokannya. Memberi sensasi dingin di perutnya.
“Okey, sekarang lo makan yaa…” Bela mengambil satu sendok nasi yang ia celupkan ke dalam kuah sup.
“Aaa…” Dengaan telaten ia menyuapi Ozi. Ozi menurut saja dengan membuka mulutnya lebar-lebar.
“Rolade-nya.” Ujar Bella saat satu sendok makanan sudah di kunyah Ozi.
Ozi asyik mengunyah seraya memandangi sang adik dengan segaris senyum.
“Kenapa, gue tambah cantik ya?” Tanya bella yang terus mendapat tatapan dari sang kakak.
“Iyaa, adek gue tambah cantik.” Aku Ozi, seraya mengusap pipi Bella. Bella bisa merasakan jemari Ozi yang kurusan dan dingin. Walau tidak sepucat beberapa hari lalu.
“Gimana kabar lo sekarang?” Tanyanya tiba-tiba. Entah angin apa yang membuat Ozi bertanya kabar Bella.
“Heemm… Baik lah. Sangat baik malah. Gak ada yang perlu lo khawatirin soal gue.” Tegas Bella. Ia mengambil sendokan kedua dan memberikannya pada Ozi.
Lagi, Ozi hanya menurut saja.
“Syukurlah.” Timpal Ozi. Tangannya yang terpasang infus kini terangkat, berusaha mengusap kepala Bella.
“Gue seneng kalau denger lo lebih baik.” Dengan lekat Ozi menatap Bella.
Bella tersenyum tipis. Ia selalu takut setiap kali Ozi menatapnya dengan lekat penuh rasa cemas seperti ini. Kenapa kakaknya tidak pernah berhenti mencemaskannya? Apakah ia masih belum terlihat baik-baik saja?
“Lo sendiri gimana? Apa yang lo rasain sekarang?” Bella balas bertanya.
Ozi menurunkan tangannya yang semula mengusap kepala Bella. Ia beralih memandangi kedua kakinya yang tertutup selimut. Ia tersenyum kelu, tepatnya berusaha tersenyum agar Bella tidak cemas.
“Jauh lebih baik. Gue berasa punya tenaga lagi. Cuma akhir-akhir ini, gue sering ngerasa kaki gue sering banget kesemutan. Apa efek dari penyakit gue kali ya?” Tanya Ozi pada Bella.
Bella jadi ikut memandangi kaki Ozi. Kenapa jadi takut saat melihat kedua kaki Ozi?
Semula ia pikir kalau Ozi menyampaikan keluhan di tubuhnya, bisa lebih membuat Bella tenang karena ia tidak harus menduga-duga hal buruk yang dirasakan sang kakak. Tapi nyatanya saat Ozi mengeluhkan kondisinya, ia tidak merasa lebih baik. Kecemasannya sama besar.
“Nanti kita konsulin ke dokter yaa.. Kalau dokter visit, nanti lo sampein aja apa yang jadi keluhan lo sekarang, biar dokter lebih tepat lagi nanganinnya. Kerjasama yang baik antara pasien, keluarga pasien sama tim medis itu bisa meningkatkan efektivitas pengobatan loh bang.” Bella dengan kalimat diplomatisnya dan berusaha tenang.
Ia menyuapkan kembali nasi ke mulut Ozi yang kemudian Ozi kunyah pelan-pelan.
“Iyaa,,, Nanti gue bilang. Lo gak usah khawatir.” Sahut Ozi balas menenangkan.
“Assalamu ‘alaikum…” Sebuah suara terdengar di mulut pintu. Ozi dan Bella kompak menoleh.
“Wa’alaikum salam…” Sahut Bella dan Ozi bersamaan.
“Ayo sini masuk.” Di belakangnya Bella juga melihat Devan yang membawa satu keresek makanan pesanananya. Wajahnya langsung berubah cerah dengan rona kemerahan di pipinya.
“Hay Belsky.” Inka segera memeluk Bella.
“Kok kalian bisa bareng?” Tanya Bella yang melirik Devan, mengikuti kemana laki-laki itu bergerak. Devan tersenyum tipis pada Bella. Melihat Bella yang tersenyum begitu, jantungnya selalu berdetak tidak karuan.
“Iya, tadi ketemu di depan pas gue nanya ruang perawatan mas Bima. Mas Bima apa kabar?” Tidak lupa Inka pun menyapa Ozi yang dirindukannya.
“Sudah lebih baik.” Sahut Ozi yang terangguk pada Inka. Sikapnya sudah lebih ramah, tidak sedingin terakhir kali mereka bertemu.
“Syukurlah.” Ucap Inka dengan sungguh-sungguh. Melihat Ozi yang kurusan dengan rahangnya yang semakin tirus membuat hati Inka mencelos. Pantas saja kalau Bella selalu mencemaskan sang kakak.
“Duduk Ka, lo pasti penasaran sama kondisi abang kan? Ngobrol aja.” Bella segera berdiri, mempersilakan Inka duduk. Ia bahkan mengedipkan mata kanannya pada Inka sebagai kode.
Ya walaupun sebenarnya ini hanya alasan agar ia bisa menghampiri Devan.
“Boleh gue lanjutin nyuapin mas Bimanya?” Inka memang opportunis, pandai memanfaatkan peluang.
“Boleh kalo lo gak keberatan. Abang, gue makan dulu ya sama Devan, laper banget soalnya. Lo makannya di bantu Inka. Gak apa-apa kan?” Bella beralasan.
“Hem,..” sahut Ozi singkat. Ia berusaha menegakkan tubuhnya yang semula tersandar. Ia tahu, Bella memang belum makan dan pasti lapar.
Malu-malu Inka duduk di samping Ozi dan mengambil sendok.
“Mas Bima sukanya makan sama yang mana?” Inka berusaha basa basi, membuat Bella menahan tawanya gemas.
Saat ia menoleh Devan, ternyata Devan malah sedang memandanginya.
“Jangan ganggu mereka.” Mungkin itu arti isyarat gelengan kepala yang ditunjukkan Devan pada Bella. Ia tahu benar isengnya Bella kalau menggoda Ozi.
Bella mengangguk saja mengiyakan. Ia segera menghampiri Devan dan mengambil keresek di tangannya.
“Heemmm… Wangi banget Van.” Seru Bella yang tersenyum kecil seraya menatap Devan penuh perasaan.
“Sorry lama, tadi jalannya di putar pas menuju tukang sotonya, soalnya lagi ada car free day.” Terang Devan.
Ia mengambil meja kecil untuk makan lalu duduk tenang di sofa.
“It’s okey, yang penting lo udah sampe dengan selamat.” Bisik Bella yang sedikit mencondongkan tubuhnya saat duduk di samping Devan.
“Sure.” Devan balas tersenyum seraya mengusap kepala Bella.
Bella segera menggeleng saat tangan Devan terlalu lama di atas kepalanya. Ia pun melirik Ozi yang terlihat memandanginya dari pantulan kaca.
“Okey, sorry lupa.” Bisik Devan balas tersenyum. Ia bisa melihat tatapan waspada Ozi padanya.
“Ka, lo udah makan?” Bella berusaha mengalihkan perhatian Ozi yang terus tertuju padanya dan Devan, sambil pura-pura sibuk menata makanan yang di bawa Devan.
“Udah, sebelum ke sini gue makan dulu. Aaaa.. Mas.” Lagi Inka menyuapi Ozi dan Ozi tidak protes.
Inka tersenyum senang melihat respon Ozi walau terus memandangi Bella dan Devan. Memangnya ada apa dengan dua anak itu?
“Wah, bawang gorengnya banyak banget Van…” Bisik Bella penuh penekanan. Dalam hati ia berseru girang.
“Iya, tadi gue minta di extra, gue bilang yang pesen makanan ini pelanggan tetap. Ya akhirnya dia ngasih. Lo suka?” Devan balas berbisik.
“Sukak bangeeett… Makasih..” Bella terlihat sangat exciting. Matanya membulat penuh semangat.
“Bagus kalau lo suka. Sekarang ayo makan yang banyak, biar gak sakit.” Devan mengambil sendok dan memberikannya pada Bella.
“Eemm Thanks you..” Sikap Devan membuat Bella meleleh saja.
Lihat saja senyum Devan yang ikut terbit saat mendengar Bella berbisik manja. Gemas menurutnya.
“Boleh gue suapin gak?” Tawar Devan.
“He'em…” Bella mengangguk semangat.
Cepat-cepat Devan menyendok makanannya dan menyuapkannya ke Bella. Bella mengunyahnya dengan semangat.
“Enaak bangeeett.. Lo juga makan dong..” Bisik Bella sambil cekikikan tertahan.
Devan malah mengusap sudut bibir Bella yang masih menyisakan nasi dari sendoknya.
“EKHM!!!” Tiba-tiba saja Ozi berdehem keras membuat wajah Bella dan Devan kompak berubah tegang. Tubuh Devan yang semula condong pada Bella kini berubah tegak, tangannya pun segera turun.
“Mas Bima mau minum?” Inka yang lebih dulu kaget. Ia menyodorkan air minum pada Ozi, khawatir Ozi tersedak.
Namun dengan cepat Ozi menepisnya.
“Lo berdua ngapain sih sibuk sendiri? Pake bisik-bisik segala?” Tanya Ozi dengan kesal.
Bella dan Devan hanya saling tatap. Cepat-cepat Bella menelan makananya dan refleks Devan menyodorkan minum. Mereka saling memberi isyarat, bagaimana cara menjawab pertanyaan Ozi.
“HEH!!! Kok pada diem aja?” Suara Ozi semakin keras. Ia tidak terima di abaikan.
"Astaga!" Hampir saja air minum menyembur dari mulut Bella. Bella dan Devan benar-benar mematung saling memberi isyarat dengan mata dan tautan alis. Kira-kira mereka harus menjawab apa?
*****
HEH!!! Hahahaha.....
Bang Ozi emang ya kadang-kadang.
Gak boleh aja adeknya senyum-senyum seneng.
Lanjut marah gak nih bang Ozi? hahaha
Sebelum lanjut, jangan lupa like komen dan vote-nya yaa... 1 lagi, tambahkan sebagai favorit juga yaaa...
Makasih llohh.... Sarangheyo