Bella's Script

Bella's Script
Apa bisa?



Meja kerja Andra masih di penuhi dengan banyak berkas yang harus ia periksa. Mulai dari daftar kontrak dengan perusahaan rintisan, tawaran kerjasama periklanan hingga tumpukan laporan yang sudah selesai di buat stafnya dan harus ia periksa dengan cepat.


Di antara banyaknya dokumen itu, terselip sebuah amplop coklat yang rasanya cukup familiar untuknya. Terlebih di sudut kanan bawah amplop itu ada tanda tangan seseorang dengan inisial W.


Andra mengenal benar tulisan tangan dan tanda tangan itu. Ia segera membuka amplop dan memeriksa isinya.


Mengeluarkan beberapa lembar kertas dari dalam amplop dan Andra langsung sadar kalau amplop itu berisi wasiat sang ayah untuk adik perempuannya.


Dengan tubuh bersandar pada kursi kebesarannya seraya menggaruk dahinya yang tidak gatal, Andra masih memandangi satu per satu lembaran kertas itu. Dari semua surat saham yang ada di tangannya, tidak ada yang menyatakan kalau Inka memiliki bagian di perusahaan utama keluarga.


Semuanya statusnya sebagai pemegang saham di PH lain baik di PH milik Eko, paman mereka. Ataupun di PH milik keluarga Wijaya, juga di sebuah perusahaan rintisan yang menjadi rekanan perusahaan milik Wibisono saat ini.


Kalau di hitung, sumber pendapatan Inka dari saham ini, yang terbesar adalah dari PH keluarga Wijaya karena PH itu sedang naik daun. Sementara dua PH lainnya adalah PH bermasalah yang menurut Andra akan segera gulung tikar.


Andra tersenyum sinis, saat sadar ternyata wasiat yang diberikan Wibisono hanya recehan di banding perusahaan besar yang saat ini di pimpinnya.


“Papah memang paling tahu cara menyenangkan anak-anaknya tapi kemudian menjatuhkannya. Tau begini, aku tidak perlu repot-repot berebut surat wasiat ini dengan anak itu.” Andra berdecik sebal. Usahanya untuk merebut wasiat ini ternyata tidak akan menguntungkannya.


Andra mengambil ponsel dari sakunya lalu mencari kontak Inka di daftar kontak teleponnya.


“Anak itu membuang-buang energiku saja. Anak haram memang cocoknya hanya di kasih permen. Begitu saja dia akan diam.” Gumamnya sambil tersenyum sinis.


Tapi kemudian senyumnya terhenti saat ia sudah menemukan kontak Inka di ponselnya. Anak pungut, nama Inka di daftar kontaknya dengan foto profil foto Inka bersama ketiga kakaknya saat liburan keluar negeri.


Inka tersenyum lebar di foto itu, mempertontonkan giginya yang sebagian ompong karena sering makan permen. Ia duduk di atas pangkuan Afnan, adik pertamanya sementara Andra dan Arfan mencium pipi kiri dan kanan Inka. Terlihat sekali kalau Inka sangat bahagia kala itu. Lebih dari itu, Andra jadi teringat bagaimana sayangnya ia dulu pada anak kecil yang bawel ini.


“Akh sial!” Dengus Andra seraya melempar ponselnya ke atas meja.


Ia mengusap wajahnya dengan kasar lantas menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Kepalanya mendongak menatap langit-langit ruangannya yang di dominasi warna putih.


Melihat foto profil Inka membuat ia mengingat kembali kenangan indah sekaligus kenyataan menyakitkan yang ia alami.


Di benaknya mulai berputar ingatan masa kecilnya bersama ketiga adiknya, terutama Inka.


“Kak, kakak kenapa gak mau main sama aku? Apa kakak marah? Aku udah gak nakal lagi kok? Tadi pagi waktu bangun aku gak nangis, terus aku juga ke kamar mandi sendiri gak di anter bibi. Aku juga mau makan sendiri gak usah di suapin bibi.” Bujuk anak kecil yang menatap Andra dengan sedih.


Di tangannya ia memegangi boneka bunny kesayangannya. Boneka yang sering di sembunyikan Andra untuk menjahilinya.


“Kak, main di tenda yukk.. Aku mau bikinin masakan kesukaan kak Andra. Kak Afnan sama kak Arfan juga katanya mau ikutan main kalau kak Andra mau main sama aku.” Inka kecil menarik-narik lengan baju Andra yang berdiri membelakanginya.


Ia sudah memohon dengan sangat meminta perhatian dari ketiga kakaknya. Tapi Andra dan kedua adiknya selalu mengabaikan Inka setelah ia tahu kalau Inka adalah anak hasil perselingkuhan sang ayah dengan wanita lain.


“Pergilah! Aku tidak suka bermain denganmu.” Tolak Andra, mengibaskan tangan Inka yang memegangi lengan bajunya.


“Kak Andraaaa.......” Rengek Inka yang hanya bisa menangis di tempatnya. Menangisi sang kakak yang selalu mengabaikannya.


Seiring waktu berjalan, keadaan di rumah itu semakin tidak nyaman. Terlebih saat ibu kandung Andra meninggal. Kebencian Andra pada Inka semakin besar, karena ia paham ibunya meninggal karena mengalami depresi berat atas perselingkuhan ayahnya.


Dan hingga saat ini, kebencian itu masih ada.


“Kak, kalau aku bukan anak hasil perselingkuhan papah melainkan benar-benar anak yang diambil dari panti, apa kakak akan berhenti membenciku?”


Pertanyaan itu di tanyakan Inka saat ia beranjak remaja. Tepatnya saat ia mengikuti acara pelulusan di sekolahnya dan tidak satupun kakaknya yang hadir. Sementara teman-temannya sudah berhias cantik dan berfoto dengan keluarganya.


“Bisakah kakak menganggapku anak yatim piatu saja? Tidak masalah kalau kakak menganggap kita tidak sedarah. Asalkan kak Andra berhenti membenciku. Aku sayang kakak.” Ujar Inka di balik pintu kamarnya dengan toga pelulusan yang membalut tubuh kurusnya.


Andra mendengar jelas suaranya yang bergetar saat berbicara. Mata Inka yang merah dan basah serta menunjukkan permohonan yang besar, selalu membuat hatinya gundah. Untuk itu, ia tidak bisa membukakan pintu untuk sang adik. Dan hingga sekarang, pintu itu masih tertutup rapat.


“Permisi Tuan.” Ucap sebuah suara yang tidak asing di telinga Andra.


Andra segera membuka matanya yang semula terpejam. Ia memutar kursinya membelakangi Mala, sang sekretaris yang tiba-tiba ada di hadapannya.


“Saya sudah bilang agar kamu mengetuk pintu sebelum masuk.” Ucapnya kesal tanpa berbalik pada Mala.


Ia menekan sudut matanya yang berair saat mengingat semua masa lalu yang berputar di kepalanya.


Andra menghembuskan nafasnya kasar mendengar timpalan Mala. Ia memejamkan matanya beberapa saat dan mengatur nafasnya agar lebih tenang.


“Kalau kak Andra marah, atur nafas selama 10 detik, hirup lalu buang... Nanti akan ada peri baik yang datang nyamperin kakak dan meluk kak Andra supaya kak Andra happy dan gak marah lagi.” Begitu celoteh Inka kecil yang seperti ada di hadapannya.


Andra menatap bayangan Inka yang perlahan memudar. Dan benar saja, Andra melakukan apa yang Inka katakan sampai kemudian perasaannya terasa jauh lebih baik.


“Ada apa?” Andra kembali berbalik dan menatap Mala dengan tajam. Tatapan dingin yang biasa ia tunjukkan pada sekretarisnya ini.


“Ini tuan, saya mau menyampaikan berkas ajuan kerjasama dari beberapa perusahaan. Tim pengembang sudah mengeceknya dan menunggu persetujuan tuan.” Terang Mala sembari menaruh beberapa dokumen di meja.


Andra segera mengecek dokumen-dokumen itu tapi pikirannya malah tidak fokus.


“Saya permisi tuan.” Mala merasa kalau Andra membutuhkan waktunya sendiri. Ia memang tidak suka di ganggu saat sedang serius bekerja.


“Tunggu!” Cegah Andra tiba-tiba.


“Iya tuan, ada lagi yang bisa saya bantu?” Tawar Mala.


Laki-laki itu tampak ragu namun sejurus kemudian ia menatap Mala yang berdiri di hadapannya.


“Apa kamu pernah membenci orang terdekatmu?” Tanya Andra tiba-tiba.


Mala sedikit mengernyitkan dahinya, tidak paham dengan pertanyaan Andra yang terlalu personal, tidak seperti biasanya.


“Sudahlah, kamu tidak perlu menjawabnya kalau kamu tidak bisa.” Andra melempar amplop di tangannya dengan kasar. Sepertinya ia bertanya pada orang yang salah.


“Pernah, tuan. Saya pernah membenci orang terdekat saya.” Timpal Mala dengan tenang. Jawaban yang sungguh tidak terduga.


Mendengar jawaban Mala, Andra kembali menatap wanita itu. Wanita yang selama bekerjanya tidak pernah ia ajak berkontak mata.


“Lalu?” Rupanya Andra penasaran dengan kelanjutan cerita Mala.


“Saya berhenti.” Mala tersenyum kecil pada Andra.


“Maksudmu?” Andra menatap Mala tidak paham.


“Saya berhenti membenci orang itu karena saya merasa, dengan saya membenci orang itu, waktu saya terbuang sia-sia.”


“Selama membenci orang lain, pikiran saya selalu berfokus pada orang tersebut. Perasaan saya tidak pernah tenang, saya selalu mencari tahu kabar buruk dari dia padahal sebenarnya tidak ada yang dia lakukan juga terhadap saya apalagi merugikan saya.”


“Sayalah yang rugi karena terus memikirkan hal yang tidak seharusnya saya pikirkan.”


“Karena itu, saya berhenti. Saya ingin bisa bernafas lega. Saya juga ingin bisa memikirkan hal lain yang lebih penting. Dan saya tidak mau lagi merasakan sakit. Maka, saya biarkan saja semuanya berjalan apa adanya. Tanpa perlu memikirkan lagi rasa sakit saya yang sebenarnya tidak lantas sembuh setelah saya membenci orang itu.” Terang Mala dengan panjang lebar.


“Apa kamu berhasil?” Andra masih dengan rasa penasarannya.


“Ya, saya berhasil.”


“Sekarang saya merasa kalau hidup saya jauh lebih indah. Saya tidak lagi merasa sakit perut atau pusing hanya karena mengingat orang itu. Bagaimanapun, setiap orang bisa melakukan kesalahan. Urusan mereka mau berubah atau tidak, ya itu urusan mereka. Urusan saya hanya mengatur perasaan saya agar tidak diracuni oleh rasa benci pada siapapun. Waktu dan perasaan saya terlalu berharga tuan.” Tegas Mala dengan senyum terkembang di bibirnya.


Senyum yang selalu di tunjukkan oleh Mala dan sering Andra abaikan begitu saja.


Mendengar penuturan Mala, Andra hanya terdiam. Satu hal yang langsung ia akui keberanannya bahwa perutnya sakit dan kepalanya pusing saat mengingat kebenciannya pada Inka. Sayangnya, tidak ada hal yang perlu Inka perbaiki karena gadis itu tidak melakukan kesalahan terhadapnya.


Lantas apa yang harus ia lakukan sekarang?


Melupakan rasa bencinyakah?


Apa bisa?


****