
“Hey,” sapa Ozi saat tiba di ruang perawatan Bella.
Ia menarik kursi di samping Bella dan berusaha duduk dengan tenang di sana. Ia memandangi sang adik yang terbaring lemah dan tetap mengarahkan pandangannya ke arah tembok di sampingnya.
“Gimana kabar lo hari ini dek?” tanyanya yang berusaha berbicara sehangat mungkin.
“Apa yang lo rasaian? Ada yang sakit?” Ia hendak meraih tangan Bella namun kemudian ia urungkan. Tiba-tiba saja hatinya pun meringis mendengar pertanyaannya sendiri.
Ozi tertunduk lesu, menyadari harusnya pertanyaan ini ia tanyakan sebelum hari ini. Sebelum Bella merasa di kekang tanpa alasan, sebelum Bella merasa tidak ada yang memahaminya dan sebelum Bella membuat keputusannya sendiri.
Ya, harusnya sebelum itu semua.
Melihat Bella yang terbaring lemah, dengan straight jacket yang masih melekat di tubuhnya juga rahangnya yang mulai tirus dan jemarinya yang mulai kurus, membuat Ozi sesak sendiri.
Ternyata begitu sulit untuk menahan agar air mata tidak menetes di hadapan Bella.
“Maaf karena gue udah gagal. Bukan hanya gagal menjaga fisik lo, tapi juga gagal menjaga perasaan dan mental lo." Ia mengawali kalimatnya. Berharap Bella memberi atensi pada kesungguhannya.
"Gue selalu ngerasa kalau lo masih kecil. Masih harus gue atur, harus gue arahin. Sampe gue lupa bertanya, apa yang lo pikirin dan apa yang lo rasain sekarang.”
“Lo bener dek, gue terlalu banyak menggunakan perasaan gue untuk mengukur perasaan lo. Gue terlalu keras sama lo tapi gue lemah sama diri gue sendiri.”
“Bukan lo yang sebenarnya jatuh dalam bayangan hitam, tapi gue."
"Gue yang gak mau mencoba untuk bangkit. Gue yang gak mau mencoba menyelesaikan masalah gue. Gue yang terlalu banyak ketakutan sampai gue maksa lo melakukan apa yang gak bisa gue lakuin. Gue yang,” kalimat Ozi terjeda dengan air mata yang perlahan menetes.
Dadanya semakin sesak saja dan tidak ada kalimat yang mampu menggambarkan penyesalannya karena membuat Bella seperti ini.
Harusnya ia lebih paham kalau Bella memerlukan bantuannya, bukan penghakiman darinya.
“Gue gak tau harus kayak gimana nebus semua kegagalan gue. Tapi, kalau boleh gue minta, tolong jangan memilih pergi sebelum gue. Gue gak bisa dek, gue gak akan kuat kehilangan lo.” Ia tersedu di hadapan Bella. Pertahanannya gagal untuk terlihat kuat di depan Bella.
“Lo mau gue berjuang, ya gue akan berjuang. Gue akan mencari dokter terbaik untuk mengambil penyakit di kepala gue. Gue gak akan ngeluh lagi walau harus minum obat setiap hari. Gue gak akan takut walau harus di operasi. Gue akan nahan semua sakitnya buat lo. Karena gue mau kita bersama-sama lebih lama lagi.”
“Jadi gue mohon, lo bertahan sama gue dek. Gue akan memperbaiki sikap gue sama lo. Gue gak akan maksa-maksa lagi. Gue akan mencoba memahami pikiran lo dari sudut pandang lo dan gue mau menghabiskan banyak waktu yang indah sama lo dan mamah.” Terang Ozi Panjang lebar.
Di sentuhnya tangan Bella yang terkulai di sisi tubuhnya. Ia mentautkan ujung jemarinya dengan ujung jemari Bella yang tidak tertutup straight jacket. Tangannya dingin juga lemah dan Ozi hanya bisa menangis di tempatnya.
Sementara Bella, ia masih menatap tembokan putih di hadapannya. Matanya berkedip pelan dan bulir air mata ikut menetes.
Andai saja Ozi tahu, ia pun menyesalkan semua yang sudah terjadi saat ini. Antara ia dan Ozi, antara Ia dan Rangga dan antara ia dengan ayahnya yang terpaksa harus ia ungkapkan dan malah menyakiti semua orang.
Hah, bisakah semua di perbaiki? Terutama rasa trauma akan ingatan di kepalanya.
*****
Berdiri di depan pintu seraya menatap kaget pada wanita yang kini ada di hadapannya. Gadis itu pun tidak kalah terkejut namun masih berusaha tersenyum pada Ozi demi tidak terlihat bodoh.
“Sore mas Bima,” sapanya dengan ragu.
“Sore,” dalam sepersekian detik Ozi pun tersadar dari kebuntuan pikirannya.
Ia mengarahkan tangannya pada kursi tunggu yang ada di depan ruang rawat Bella.
“Kamar 206, isolasi.” Inka masih membaca tulisan itu di benaknya sebelum menurut pada Ozi untuk duduk di kursi itu.
Mereka duduk berdampingan tanpa tahu harus memulai pembicaraan dari mana. Di tangannya, Inka membawa parcel buah yang ia taruh di atas pangkal pahanya lalu ia mainkan pitanya karena salah tingkah bertemu Ozi.
“Em, terima kasih udah ngasih tau kondisi Bella lewat pesan.” Ujar Inka tiba-tiba.
Selama berada di kantor perasaannya memang tidak karuan, maka ia memutuskan untuk datang langsung ke rumah sakit.
“Bella masih belum boleh di jenguk.” Terang Ozi tanpa menoleh Inka. Ia menatap lurus ke depan, memandangi anak kecil yang sedang menikmati permen loli di samping ibunya.
“Aku dateng gak cuma untuk Bella, tapi juga untuk mas Bima dan tante Saras.” Timpal Inka. Kali ini jemarinya saling tertaut.
“Thanks.” Ozi mengangguk-angguk kecil. Ia memandangi wajah anak perempuan di depannya dan membuat anak itu menyembunyikan wajahnya di balik lengan ibunya.
Jujur, ada rasa hangat saat ia mendengar ucapan Inka. Bisakah ia katakan kalau Inka membuatnya tidak merasa sendirian?
“Bella sekecil itu waktu pertama kali di rawat di rumah sakit karena demam tinggi, gara-gara gak nurut waktu nyokap bilang jangan hujan-hujanan." Tiba-tiba saja Ozi bercerita tanpa di minta membuat Inka menatapnya penuh atensi.
"Selama sakit dia gak nangis apalagi ngeluh. Dia cuma tiduran di ranjang, meluk barbie Rapunzel sambil memejamkan mata dengan terpaksa. Gue masih ngeliat bola matanya yang bergerak-gerak walau matanya tertutup.” bibirnya tersenyum kecil mengenang tingkah Bella.
“Abang, adek mau sekolah yaa.. Temen-teman adek pada nungguin. Kami udah janjian mau main loncat karet.” Mengutip kalimat Bella dulu yang membuatnya cemas.
“Dia megang tangan gue dengan erat dan gue bisa ngerasain badannya yang masih panas.” Ozi jadi memandangi telapak tangannya yang lebar, tempat Bella menaruh tangannya di sana.
“Dia bilang, dia udah baikan. Minum obat juga langsung sembuh. Dan jangan bilang nyokap, karena gak mau nyokap cemas. Dia selalu penuh energi padahal kami tau kalau dia gak lagi baik-baik aja.”
“Persis seperti beberapa hari ini.” Ozi mengepalkan tangannya dengan kesal, ada kemarahan yang kali ini ia tunjukkan dari ekspresinya yang dingin.
“Yang berbeda adalah, kali ini gue terlalu egois. Gue cuma fokus pada Bella yang gak boleh bertahan dalam rasa sakitnya. Tanpa gue mikirin perasaan dia dan mengabaikan kalau mengakhiri semuanya bagi dia itu sangat sulit."
"Gue seolah gak mau tau gimana perasaan dia. Yang gue tau hanya menunjukkan arogansi, membuat Bella menurut dan sadar kalau pilihannya salah. Bodoh!” dengusnya seraya mencengkram kepalanya yang berdenyut pusing.
Penyesalanya saat ini bisakah mengembalikan senyum Bella yang beberapa hari ini tidak di lihatnya?
“Bella selalu kuat.” Inka menimpali seraya menatap Ozi di sampingnya.
“Dia gak pernah nunjukkin kesulitannya di depan siapapun. Dia matahari di antara kami. Dia memberi cahaya yang sangat terang sampai bayangannya begitu hitam. Dia sumber energi buat aku sama temen-temen di kantor. Dan ngeliat Bella redup, kami merasa semuanya suram.” Ungkap Inka.
Suara Inka yang parau membuat Ozi menatap wanita itu penuh atensi. Lihat matanya yang berkaca-kaca. Bukan sebuah kebohongan kalau gadis ini sedang mencemaskan adiknya.
Inka jadi teringat Bella yang selalu tertawa saat di beri candaan receh oleh Roni. Bella yang selalu mengatakan, “Lo gak usah khawatir, gue bisa bantu lo.” pada siapapun yang membutuhkan bantuannya.
“Gaiisss selamat hari jum’at, jangan lupa untuk mute group trachea dan fokusin waktu kalian ngumpul sama keluarga okeeeyyy. Sayang kalian banyak-banyak... See you on monday!!!” Itu yang biasanya di serukan Bella begitu notifikasi pesan pengingat absen pulang, masuk ke ponsel mereka.
“I love Monday, coffee breaknya gue traktir coffee biar lo pada semangat okey!” ucapan itu kerap Inka dengar saat Bella mulai menyalakan komputer di meja kerjanya. Energinya seperti selalu terbaharui.
Ucapan-ucapan Bella itu ternyata sangat Inka rindukan. Suaranya yang ceria dan hangat begitu sopan masuk ke rongga telinganya dan memberi mereka suntikan semangat .
Ia sampai kadang lupa, Bella pun manusia biasa yang mungkin bisa terpuruk seperti sekarang tanpa bisa di duga.
“Makasih udah dateng.” Ujar Ozi tiba-tiba.
“Hem, sama-sama. Kalau Bella udah boleh di temuin, boleh aku minta mas Bima buat ngabarin aku?” pinta Inka penuh harap.
Ozi hanya mengangguk membuat Inka tersenyum lega.
“Kalau gitu, aku permisi pulang. Salam buat tante Saras. Mas Bima sama tante juga jangan lupa untuk selalu jaga kesehatan.” Ujar Inka yang kemudian beranjak dari samping Ozi.
“Hem,” hanya itu sahutan Ozi sebelum melihat Inka berbalik dan pergi meninggalkannya.
Melihat bahu Inka yang semakin lama semakin jauh, Ozi jadi teringat akan perkataan Bella beberapa waktu lalu.
“Inka anak yang baik. Lo gak bisa manfaatin dia sesuka lo. Kalau lo gak suka, jangan bikin dia ngarep.” Ucap Bella dengan penuh kemarahan.
Dan saat ini Ozi hanya bisa memandangi chat yang pernah di kirimkan Inka padanya. Tidak ada satupun yang ia balas kecuali pesan yang terakhir.
Ia mencoba menuruti keinginan Bella untuk tidak membuat gadis itu berharap. Tapi sepertinya, mulai sekarang mereka akan lebih sering berbalas pesan.
*******