Bella's Script

Bella's Script
Pilihan sulit



Di depan meja rias, Devan dan Bella saat ini berada. Devan masih membantu Bella mengeringkan rambutnya dengan hair dryer sambil sesekali menggoda sang istri dengan mengecup lehernya atau meniup tengkuk Bella hingga membuat bulu kuduk Bella meremang.


Setelah tadi Bella yang membantu suaminya berpakaian, kini ia yang diurusi Devan. Katanya kasihan keramas pagi-pagi takut masuk angin, karena itu ia membantu Bella mengeringkan rambutnya. Padahal nyatanya ini hanya ajang bagi Devan untuk menggoda sang istri yang akan ia tinggalkan bekerja.


“Mas, ihhh… Geli tau!” protes Bella saat Devan beralih untuk mencium tengkuk bawah Bella. Sapuan rambut halus di dagu Devan memberi sensasi geli yang membuat bulu kuduk Bella semakin meremang lalu menggeliat kecil.


“Seharian ini aku bakal kangen sama wangi kamu, makanya mau aku ciumin dulu sebelum berangkat kerja.” Ujar Devan dengan santai.


Ia semakin menikmati menyesap wangi tubuh Bella sementara arah hair dryer entah kemana.


“Nanti aku beneran masuk angin loh kalau ngeringin rambutnya gak selesai-selesai.” Protes Bella yang masih mengenakan handuk untuk membungkus tubuhnya.


“Hehehhe… Iya-iyaa… Ini sebentar lagi juga selesai kok.” Akhirnya Devan fokus kembali pada tugasnya mengeringkan rambut Bella. Bella hanya tersenyum melihat usaha suaminya walau pada akhirnya rambutnya di buat berantakan oleh Devan.


“Aku kayak habis naik ojek dengan kecepatan 120 km/jam.” Bella terkekeh melihat hasil kerja suaminya.


“Tapi messy hair gini lagi trend loh yang, tinggal di kasih poni terowogan casablanka. Pasti keren.” Ledek Devan.


“Ish kamu apa sih Mas, tau terowongan Casablanka segala.” Bella jadi tertawa mendengar ledekan suaminya.


Selesai dengan tugasnya, Devan menaruh hair dryer di atas meja rias lalu memeluk Bella dari belakang sembari menempatkan dagunya di bahu Bella.


“Aku suka liat kamu ketawa kayak tadi, cantik. Bikin duniaku semakin berwarna.” Ucap Devan sambil mencium pipi Bella.


Bella balas menoleh dan mencium pipi Devan.


“Salah. Kamu yang bikin hidup aku berwarna.” Timpal Bella tidak mau kalah.


"Oh ya?"


Bella mengangguk kecil.


“Itu namanya kita saling melengkapi.” Devan menatap lekat wajah Bella di cermin. Hatinya ikut tersenyum melihat Bella yang sudah tidak lagi muram.


“I Love you.” Imbuhnya dengan senyuman tipis.


“I love you more, Mas.” Sahut Bella.


Ini moment mahal bagi Bella dan Devan, setiap paginya.


Puas memandangi sang istri, Devan segera mengambilkan baju Bella.


“Pake bajunya ya… Aku mau cek email dulu.”


“Okey.” Bella mengambil alih baju dari tangan Devan. ia segera berpakaian sementara Devan tampak serius memperhatikan layar laptopnya.


“Ada masalah, Mas?” Bella masih memperhatikan perubahan ekspresi Devan yang mendadak serius.


“Oh, nggak apa-apa, cuma masalah kerjaan.” Sahut Devan pendek lalu menutup laptopnya. Hanya sebentar saja ia mengecek email dan langsung memasukkan laptop ke dalam tasnya.


“Hari ini aku pulang agak malem karena ada janji temu sama orang. Kamu di rumah aja ya, sampai keadaan benar-benar aman.” Devan segera beranjak dari tempatnya, membawa tas laptop yang selalu ia bawa kemanapun.


“Okey, aku udah selesai kok. Sini aku bawain.” Bella mengambil alih tas laptop di tangan Devan dan berjalan keluar kamar.


Baru menutup pintu kamar, namun tiba-tiba terdengar suara keras Saras dari ruang tamu.


“ASTAGFIRULLAH!” seru Saras yang seperti terkejut.


“Mamah?!” Bella langsung terhenyak.


Ia segera berlari menuju ruang tamu bersama Devan.


“BRUK!” suara benturan pintu yang beradu dengan dinding terdengar begitu jelas.


Mereka semakin terkejut saat melihat kemunculan seorang wanita yang menerobos masuk dari pintu yang dibuka Saras.


Ia berjalan sempoyongan mengagetkan keluarga Fauzi yang sedang berkumpul di ruang tamu.


“Tolong…. Tolong aku…” Ucap wanita itu seraya bersandar pada dinding. Seperti ia sudah kehilangan tenaganya.


“Astaga!” seru Saras saat melihat dengan jelas wajah wanita itu yang tak lain adalah Amara.


Devan segera menarik tangan Bella untuk bersembunyi di belakangnya saat melihat Amara memegang pecahan botol di tangannya.


Wajahnya sudah di penuhi luka dengan rambut yang berantakan. Langkahnya gontai, berusaha bertahan dengan menyisir dinding di sampingnya.


“Mas, dia berdarah.” Ucap Bella yang melihat darah mengalir di kakinya bersama cairan bening yang kental.


“Jangan mendekat.” Tahan Devan, tidak membiarkan Bella yang refleks mendekat pada Amara.


“Astaga Amara, kamu hamil?” Ozi yang baru datang tidak kalah terkejut.


Amara tidak menjawab, ia terkulai lemah jatuh di lantai dengan sisa tenaga yang hampir habis.


“Tolong gue Bang,… Sakit…” Rintihnya pada Ozi, sambil memegangi perutnya yang semakin sakit.


“Bang, tolongin dia. Dia kesakitan…” Bella malah ikut panik melihat Amara dengan penampilan hancur dan kesakitan.


“Lo tenang dulu!” Ozi berusaha menenangkan Bella. Walau Amara saat ini musuhnya, Ozi tahu persis kalau kepedulian Bella selalu lebih besar pada orang lain.


“Kamu buang pecahan botol itu, baru kami akan menolongmu.” Bujuk Devan dengan hati-hati. Ia tetap menahan Bella di belakangnya agar tidak mendekat.


Tidak lantas menuruti, Amara malah menggunakan pecahan botol itu untuk memotong tali yang mengikat erat tangan kirinya. Kencangnya ikatan itu membuat tangan kiri Amara sampai pucat. Ia menggesekkannya beberapa kali sampai kemudian tali itu terlepas barulah ia melemparkan pecahan botol itu.


“Mas Bim, hati-hati…” ucap Inka saat mendekat pada Amara.


Ozi hanya mengangguk kemudian mendekat pada Amara.


“Abang, sepertinya itu air ketuban. Mungkin Amara akan melahirkan.” Ucap Saras dari kejauhan.


“APA?” Ozi menoleh tidak percaya pada sang ibu namun Saras hanya mengangguk. Ia sangat yakin dengan penglihatannya.


“Abang, cepet tolong dia, dia bisa mati.” Ucap Bella yang benar-benar panik.


Seperti dejavu, kalimat itu juga yang dulu diucapkan Bella saat Amara hampir meninggal setelah disiksa oleh ibunya yang mabuk.


Ozi kalang kabut. Ia segera menuruti permintaan Bella dengan menggendong tubuh Amara yang basah dengan darah lalu membawanya ke dalam mobil. Wanita itu kini tidak sadarkan diri tepatnya setelah ia masuk ke dalam mobil dan di baringkan di jok belakang.


“Bawa ke rumah sakit terdekat Bang.” Seru Bella dan Ozi mengangguk menyanggupinya.


Walau Amara musuhnya saat ini, Bella seperti lupa apa yang telah Amara lakukan padanya. Ia hanya tahu kalau ia dan keluarganya tidak boleh membiarkan Amara meninggal di rumahnya dalam keadaan menyedihkan seperti ini.


*****


Tiba di rumah sakit, Amara langsung ditangani oleh dokter. Semuanya berjalan dengan cepat tanpa ada ba bi bu lagi.


“Pasien mengalami perdarahan hebat dan kami harus melakukan tindakan operatif dengan segera. Namun kemungkinan hanya satu nyawa yang bisa kami selamatkan, ibunya atau bayinya. Siapa yang harus kami selamatkan?” tanya dokter pada Ozi.


“Akh sial!” dengus Ozi dalam hati.


Kejadian ini benar-benar diluar dugaannya. Wanita yang hampir membunuh adiknya, kini nyawanya berada di ujung tanduk. Tidak hanya itu, Ozi harus memutuskan nyawa siapa yang harus ia pilih untuk diselamatkan.


Ia tidak bisa berpikir, pikirannya blank.


“Dok, saya boleh berdiskusi dulu dengan keluarga saya? Karena wanita ini tidak memiliki keluarga. Kami hanya kenalannya yang berusaha menolongnya saja.” Terang Ozi yang belum bisa memutuskan.


Dokter tampak menghela nafasnya berat, ia bisa memahami kondisinya namun ia tetap harus mendapat jawaban dari Ozi sebagai penanggung jawab pasien. “Silakan. Namun waktu kita tidak banyak.” Tegasnya begitu mendesak.


Mendengar jawaban dokter, Ozi segera berbalik menatap Bella, Devan dan Inka.


“Siapa yang harus kita selametin? Amara atau bayinya?” Tanya Ozi dengan gugup.


Mereka tampak termenung dengan pikiran masing-masing.


“Kalau kita selametin bayinya, nanti siapa yang akan menjaga anak itu? Tapi kalau kita selametin Amara, Amara pasti akan sangat kehilangan.” Inka mengerucutkan pilihan yang harus mereka ambil.


“Apa gak sebaiknya kita tanya balik sama dokter?”


“Maksud lo?” Kini Ozi menatap Bella yang sarannya mengambang.


“Maksud gue, kita tanya dokter, siapa yang sedikit resiko kematiannya dan memiliki peluang hidup ke depannya lebih besar, maka dia yang diselamatkan. Terlepas itu ibunya atau bayinya. Kedua nyawa itu berharga dan kita gak bisa mengorbankan salah satunya hanya dengan memilih ibu atau bayinya. Pada akhirnya, kita gak mungkin kan mengabaikan siapapun yang selamat dari salah satunya.” Terang Bella dengan penuh kesungguhan.


Ketiga orang dihadapannya kini termenung dan berusaha memutuskan.


“Iya, aku setuju.” Devan yang lebih dulu setuju.


“Iya aku juga setuju.” Inka mengikuti.


Dan pada akhirnya Ozipun menyetujui pilihan mereka. Yang memiliki peluang keselamatan terbesarlah yang harus di selamatkan.


Tanpa mereka duga, Amara mendengar obrolan dan kesimpulan mereka. Amara hanya bisa memalingkan wajahnya mendengar kesepakatan keempat orang tersebut.


“Harusnya bayiku yang kalian selamatkan.” Batin Amara yang meringis penuh sesal.


*****