Bella's Script

Bella's Script
Menjaga diri lebih baik lagi



Bella dan Devan masih sama-sama terdiam dalam perjalanan menuju rumah Bella. Tangan Bella masih gemetaran dan Devan memperhatikan itu.


Diberikannya sebotol air mineral yang ia simpan di sela pintu mobilnya. Beruntung ia selalu menyiapkan ini dan ada saat Bella memerlukannya.


Ia membuka penutup botol lantas memberikannya pada Bella, wanita ini perlu di tenangkan.


“Thanks.” Bibir Bella bersuara lirih.


Devan tidak menanggapi, ia hanya memperhatikan Bella dari spion tengah. Bella meneguk minumannya tapi sepertinya sangat sulit tertelan. Kedua matanya yang merah dan sembab serta sudut matanya yang memar kebiruan membuat Devan menghela nafasnya tidak nyaman.


“Gue gak bisa pura-pura gak liat dan gak tau apa yang terjadi sama lo Bell.” Ucap Devan dengan penuh kesungguhan.


Ia mencengkram stir kuat-kuat, rasanya masih kesal karena gagal melayangkan pukulan yang lebih keras pada Rangga.


“Dia bakal berubah. Lo gak perlu ambil pusing.” Tegas Bella. Ia masih berusaha menaruh kepercayaan sepenuhnya pada Rangga.


Ia meneguk kembali air minumnya dengan perlahan. Matanya kembali berair. Devan yakin, Bella bukan hanya sedang meyakinkannya kalau Rangga tidak akan mengulangi hal ini, melainkan sedang meyakinkan dirinya sendiri.


“Gue gak akan ikut campur masalah hubungan lo sama cowok lo itu, tapi gue gak akan diem aja sama perlakuan dia terhadap lo.”


“Lo pikir hal kayak gini normal dilakukan sama pasangan lo?” desak Devan. Emosinya selalu menggebu-gebu saat melihat memar itu.


“Ke pinggir!” tegas Bella. Ia menunjuk tepian jalan, ia sudah malas berdebat.


“Bell…” Devan menurunkan tensi suaranya. Ia yakin Bella berniat untuk turun.


“Kenapa lo selalu sekeras kepala ini sih, Bell?” beberapa saat ia menatap Bella yang ada di sampingnya sebelum menghembuskan nafasnya dengan kesal.


“Lo tau gue keras kepala, kenapa lo masih ngedebat gue?!” suara Bella mulai meninggi membuat Devan hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap keras Bella.


Bagi Bella, Devan tidak tahu bagaimana sulitnya menerima seseorang yang kita sayang memiliki keburukan tapi melepaskannya terlampau tidak mungkin. Sangat sakit saat harus menerima dua kenyataan itu harus ia pilih salah satu.


Tidak ada timpalan dari Devan, ia menepikan dulu mobilnya kemudian berhenti. Lantas ia mengunci pintu mobil agar Bella tidak turun.


“Lo apaan sih, buka gak pintunya!!!” gertak Bella. Air mata kembali berkumpul di sudut matanya dan siap untuk pecah.


“Bell, please,,, Lo gak bisa kayak gini terus!” Devan sampai memohon pada Bella.


“Kali ke berapa dia ngelakuin ini sama lo?” Tanya Devan dengan tatapan tajam.


Bella memalingkan wajahnya dan meneguk kembali minumannya hingga habis.


“****!” Dengusnya saat air yang di minumnya tandas lebih dulu padahal ia masih memerlukannya.


“Bukan sekali ini kan?” Desak Devan.


Bella tidak menjawab. Ia memilih melihat keluar jendela dengan tatapan nanar.


HAH! Devan mendengus frustasi, diusapnya wajahnya dengan kasar. Melihat Bella yang seperti ini, ia sangat yakin bukan kali ini saja Rangga melakukan tindakan kasar pada Bella. Terlepas ia sengaja atau tidak, Rangga bahkan tidak meminta maaf dan pergi begitu saja.


Sepertinya Bella sudah sangat malas berbicara. Ia perlu waktu.


Devan mengambil tas yang ada di jok belakang mobilnya. Ia mengeluarkan topi dan kacamata hitam miliknya.


“Pake ini kalau lo masih belum siap jawab pertanyaan-pertanyaan Ozi sama nyokap lo.” Disodorkannya topi dan kacamata hitam itu pada Bella.


Untuk beberapa saat Bella termangu. Ia menatap tangan Devan yang mengulurkan topi dan kacamata padanya.


“Ke depannya, gue bisa jaga diri gue lebih baik dari ini.” Tutur Bella seraya mengambil topi dan kacamata dari tangan Devan. Kali ini ia memang memerlukan dua benda ini. Devan benar, ia belum siap berdebat dengan orang rumah.


“Harus!” Tegas Devan.


Tanpa menunggu lama, ia kembali menancap gas menuju rumah Bella. Sementara Bella, berusaha memejamkan matanya yang berdenyut nyeri agar bisa beristirahat untuk beberapa saat.


****


Tiba di rumah, Devan turun lebih dulu. Sudah beberapa langkah di ambilnya, namun Bella belum juga turun. Ia masih harus menyiapkan dirinya, berusaha terlihat tenang tanpa suara atau tangan yang gemetar saat berbicara dengan Ozi dan Saras.


Beberapa kali ia menghela nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan untuk menenangkan dirinya sendiri. Setelah merasa siap, kemudian ia turun dengan tetap mengenakan topi dan kacamata hitam.


“Wih, dapet apa dari Bogor?” Sambut Ozi saat keduanya sudah masuk ke dalam rumah.


Devan hanya tersenyum, menyambut ajakan Ozi untuk tos. Ia mengambil air mineral lalu meneguknya hingga habis.


“Kenapa lo dek? Pake topi sama kacamata dalem rumah. Lo sakit mata?” Ozi hendak membuka topi Bella namun Bella berusaha menghindar.


Devan yang sedang minumpun segera menoleh.


“Gak apa-apa.” Sahut Bella.


Ia ikut mengambil gelas minum dan meneguk minumannya di samping Devan. Selesai minum mereka sama-sama terdiam saling lirik seperti berusaha menyampaikan pesan melalui isyarat.


“Kalian berdua kenapa sih?” Ozi semakin penasaran saja.


Dua orang yang tidak terbiasa berbohong ini terlihat kikuk saat ada yang disembunyikan.


“Bogor hari ini panas banget.” Keluh Devan seraya melepas jaket yang di pakainya.


“Buka topi sama kacamata lo. Kalau mamah tau, bisa ngomel dia dalem rumah pake topi sama kacamata. Di kira habis triping lagi lo.” Desak Ozi tanpa bisa di bantah.


Akhirnya Bella menyerah. Ia terpaksa melepas kacamata dan topi di hadapan Ozi.


“Kenapa mata lo?!” Ia langsung beranjak dari tempatnya dan menghampiri Bella.


“Ini kena pukul ya?” Ozi berusaha menyentuh luka memar Bella namun Devan segera menahan tangannya.


“Ini salah gue bro, sorry."


"Gue lalai jagain Bella.” Ujar Devan dengan tegas.


Bella jadi menoleh menatap laki-laki di sampingnya dengan tidak percaya. Devan tidak segan mengakui hal yang bukan menjadi kesalahannya hanya demi membuat Bella tidak merasa tidak nyaman.


“Haduuuhhh ada-ada aja. Lain kali hati-hati lo berdua. Kompres es sana, gue ambilin dulu obat.” Ternyata cukup dengan jawaban Devan itu, Ozi tidak lagi banyak bertanya.


Laki-laki itu berlalu pergi ke kamarnya, mengambil obat-obatan yang biasa ia simpan.


Sepeninggal Ozi, suasana jadi canggung. Keduanya sama-sama duduk di kursi meja makan dan saling toleh.


“Kenapa lo berbohong demi gue?” Lirih Bella. Baru kali ini ia menatap cukup laman pada laki-laki di sampingnya.


“Gue gak bohong. Gue kan emang lalai jagain lo, makanya lo sampe kayak gini.” Sahut Devan dengan enteng. Ia kembali meneguk minumannya tanpa mengalihkan pandangannya dari Bella.


“Thanks Van,.. Lo udah ngelakuin banyak hal buat gue hari ini.” Bella berujar dengan sungguh. Ia merasa sangat berutung saat ini Devan ada di dekatnya.


Devan mengangguk-angguk saja. “Inget sama janji lo, ke depannya lo harus lebih bisa jaga diri lo sendiri.” Devan mencoba mengingatkan.


“Hem,… Promise.” Bella mengacungkan dua jarinya sebagai isyarat janji. Bibir berisinya pun tersenyum tipis, satu hal yang langka ia tujukan pada Devan.


Melihat Bella yang seperti ini, entah mengapa perasaan Devan menjadi jauh lebih baik.


Bolehkah ia melihat senyum itu lebih lama lagi?


*****


POV Bella


Rasa ngilu di luka lebamku masih belum kunjung reda, padahal aku sudah memberinya salep cukup banyak. Aku juga sudah mengompresnya tapi masih saja terlihat kebiruan. Argh aku jadi frustasi.


Melihat pantulan wajahku di kaca membuatku memandangi luka ini. Sudut mataku masih berair dan sangat sakit saat aku tekan.


“Rangga, kamu gak sengaja kan?” Aku ingin menanyakan itu padanya.


Tapi dia pergi bahkan sebelum meminta maaf padaku.


Apa yang salah dengan Rangga? Aku tidak melihatnya mabuk namun ia melakukan sesuatu di luar nalarku.


Dan kemarahannya. Sejak kapan ia menyimpan kemarahan itu di benaknya? Prasangka bahwa aku selalu ingin lebih unggul di banding dia dan pikiran kalau aku mengesampingkan pendapatnya. Bukankah beberapa waktu ini ia memang tidak pernah menyediakan waktu untukku? Dia bahkan tidak meresponku saat aku membutuhkan kehadirannya.


Ya tuhan, apa yang salah dengan hubungan kami? Kenapa semakin lama aku semakin tidak mengenal Rangga? Apa terlalu banyak hal yang merubah kami? Kemana perginya pemikiran kami yang selalu saling tertaut dan sama?


Rangga,..


Aku hanya bisa mengguyar rambutku kasar seraya tertunduk di hadapan meja rias. Aku belum bisa memahaminya.


“Bukan sekali ini kan?” Desakan pertanyaan Devan itu kembali terngiang di telingaku. Ingatanku seperti kembali memutar beberapa ingatan perlakuan kasar Rangga padaku.


Aaarrgghhh kepalaku jadi sangat bising. Berisikkk!!!!


Ku tutup mata rapat-rapat berharap bayangan itu hilang. Aku berusaha agar otakku mengganti pikiran yang muncul di benakku. Tapi rasanya sulit. Semua perlakuan kasar Rangga semakin jelas di kepalaku membuatku membuka mata lebar-lebar dan tanpa terasa mataku merah dan berair. Aku jadi ingat apa yang Rangga lakukan padaku. Aku pun jadi ingat pada luka lain di lenganku dan punggungku.


Dua tahun lalu, aku melihat layar ponselnya yang terus berdering sementara Rangga sedang berada di toilet. Aku inisiatif menjawab panggilan itu walau dari nomor yang tidak di kenal.


"Haloo..." lirihku sambil berusaha mencuri dengar suara di sebrang sana.


"BELLL!" tiba-tiba saja Rangga keluar dari kamar mandi, berlari ke arahku dan merebut ponsel dari tanganku.


Satu sikutan keras dari Rangga berhasil mendorongku ke belakang, membuatku terjatuh dan mengenai ujung meja kaca yang membuat lengan dan punggungku terluka cukup dalam.


"AWH!!" saat itu aku hanya bisa mengaduh. Menahan rasa nyeri dan perih datang di waktu bersamaan.


“Astaga! Sorry Bell, aku gak sengaja.” seru Rangga yang panik dan segera menolongku.


Ia membawaku ke rumah sakit dengan tergesa-gesa dan aku terpaksa mendapat beberapa jahitan untuk menutup luka sayatan kaca di lengan dan punggungku. Hingga hari ini, bekas lukanya masih terlihat.


Harus kalian tahu, hal itu juga yang membuat mamah sangat marah hingga memaksaku untuk berpisah dengan Rangga.


Rangga yang impulsive saat marah namun ia juga yang selalu dengan cepat meminta maaf dan merangkulku dengan erat. Aku bisa melihat penyesalan di matanya.


Tapi kali ini semua berbeda. Aku bahkan tidak melihat Rangga yang terkejut saat tangannya membuat mataku biru lebam. Dia pergi tanpa berkata Sorry seperti yang biasa ia katakan padaku. Apa di antara kami memang sudah banyak hal yang berubah?


*******