Bella's Script

Bella's Script
Pria Eropa



“Yang,… Rangga… Buka dong pintunya…”


Panggil  Amara di balik pintu apartemen Rangga. Sudah beberapa kali ia mengetuk pintu membunyikan bel namun Rangga tidak juga membukakannya.


Kesal karena Rangga tidak menanggapi, akhirnya ia mencoba menelponnya. Jemari lentiknya menari dengan lincah di atas keypad. Tidak lama panggilan tersambung namun Rangga tidak menjawabnya.


“Isshh! Kemana sih ini orang? Tidur apa pingsan?” Amara melihat jam yang melingkar di tangannya. Memang sudah cukup larut.


“RANGGAAAA!!!! GAA!!! INI AKUU, ARAAA!!!” Akhirnya ia memutuskan menggedor pintu apartemen, berteriak sekerasnya dan memijit bel berkali-kali hingga membuat tetangga Rangga keluar untuk melihatnya.


“Mas nya gak ada kali mba. Coba lah di telepon, jangan teriak-teriak gitu. Anak saya baru tidur.” Ujar salah satu penghuni apartemen yang menatap Amara dengan kesal.


“Suka-suka gue lah!” Dengus Amara balas mengerlingkan matanya sinis. Ia memakai kembali kacamata hitamnya dan mengacuhkan permintaan wanita berdaster tersebut.


Wanita itu hanya menggelengkan kepala melihat sikap Amara. Tidak punya empati sama sekali menurutnya.


“Muka cantik tapi kelakuan minus!” Gerutunya pada sang suami yang menjadi pelampiasan kemarahannya.


“Kenapa?” Tanya sang suami yang menyusul keluar.


“Udah kamu masuk. Males aku urusan sama cewek model begitu.” Wanita itu tidak mau suaminya melihat penampilan Amara yang sangat terbuka.


Di tempatnya Amara masih mencoba menghubungi Rangga. Ini keempat kalinya ia mencoba menghubungi. Dan syukurlah, kali ini di jawab.


“Ya Ra,..” Suaranya terdengar segar, tidak seperti sedang tidur.


“GA!!!! Kamu kemana sih! Ini aku di depan apartemen kamu dari tadi. Di telponin gak di angkat lagi. Aku kan jadi di julitin sama ibu-ibu resek di sebelah...” Keluh Amara dengan rengekannya yang manja.


Rangga tidak menjawab. Ia malah menutup teleponnya dan tidak lama kemudian,


“Ceklek.” Pintu apartemen Rangga terbuka.


Terlihat sosok Rangga yang muncul dari balik pintu. Ia melepaskan headset yang semula melingkar di lehernya.


“Sorry tadi aku gak denger.” Ia membukakan pintu lebih lebar.


“Ish kamu mah.” Amara langsung menerobos masuk, menubruk bahu Rangga dengan sengaja.


“Kamu lagi ngapain sih?!” Lanjutnya saat melihat banyak kertas berserakan di ruangan itu. Lengkap dengan gitar dan keyboard.


“Aku lagi nulis lagu buat soundtrack. Kamu mau kemana jam segini masih dandan?” Rangga jadi memperhatikan penampilan Amara yang sangat terbuka.


“Aku mau ngajak kamu keluar yang. Suntuk aku di rumah terus.” Amara bergelendot manja di lengan Rangga.


“Jangan sekarang yaaa.. Kerjaan aku belum selesai.” Ia berusaha melepaskan tangan Amara yang melingkar di lengannya.


Ia berjalan kembali menuju mejanya dan mengambil gitar yang tergeletak di sofa.


“Ihhh apaan sih!! Ayolah yang, kita keluar. Aku bener-bener bete ini…” Amara menarik-narik tangan Rangga agar mengikuti maunya.


“Ra, tolonglah jangan gini. Ada hal yang lebih penting yang harus aku kerjain sekarang.” Dengan tegas Rangga menolaknya.


“Kamu ngeselin sih!” Amara melepaskan lengan Rangga dengan kasar.


“Terus aja urusin lagu kalau menurut kamu lagu ini lebih penting di banding aku!” Amara bersidekap kesal di hadapan Rangga. Bibirnya mengerucut tidak terima karena merasa tersisihkan.


“Sorry yaaa… Lain waktu kita keluarnya. Sekarang kamu bisa ajak mba Lisa dulu. Sama, ganti gih bajunya jangan terlalu terbuka kayak gini. Atau mau pake jaket aku?” Rangga memberikan jaketnya yang ada di atas sofa.


“Gak usah! Aku bisa ngurus diri aku sendiri. Urus aja lagu kamu yang lebih penting itu. Sejak dulu permintaan Bella memang selalu lebih penting dari maunya aku!” Amara memilih beranjak pergi dari hadapan Rangga. Ia merasa sudah tidak penting lagi bagi Rangga.


“Raa,,, Jangan gitulah…" Ia meraih tangan Amara


"Aku ngelakuin ini juga buat masa depan kita.” Namun dengan cepat Amara mengibaskannya.


Wanita itu tidak berkata apapun lagi melainkan memilih pergi setelah membanting pintu dengan keras.


“SH**T!!!” dengus Rangga yang meradang kesal.


Amara selalu bersikap seperti ini. Keinginannya selalu dirasa lebih penting di banding kebutuhan orang lain, termasuk kebutuhan Rangga. Kenapa semakin lama sikapnya semakin menjadi dan tidak bisa dimaklumi?


Rangga hanya menghembuskan nafasnya kasar. Semakin sulit saja mengikuti semua keinginan Amara.


****


Kesal Rangga tidak menanggapi permintaannya, akhirnya Amara memilih pergi sendiri ke club. Di dalam mobil ia masih merapikan penampilannya. Memakai lipstick merah terang, menyemprotkan parfum ke sekujur tubuhnya, merapikan rambut dan terakhir, sedikit menurunkan kemben di dadanya. Setengah dadanya yang indah terekspos semakin jelas dan menggoda. Ia mengenakan blazer dipenuhi manik yang akan terlihat kerlap kerlip saat terkena pantulan cahaya lampu disko.


“Sempurna!” Gumamnya memuji kecantikannya yang paripurna.


“Welcome beautiful. Long time not see.” Sapa seorang Barista saat Amara tiba di meja bar.


“Hay Leo!” Sapa Amara seraya mengibaskan rambutnya dengan seksi.


“Rame banget ini. Kayaknya gue datang di waktu yang tepat.” Amara duduk menghadap orang-orang yang asyik meliukkan badannya mengikuti alunan musik.


“Iyaaa.. Ada beberapa pengusaha besar yang lagi pada party bareng temen-temennya.” Sahut Leo. Ia menyodorkan segelas minuman favorit Amara.


“Thanks.” Amara mengambil gelas yang di sodorkan Leo, lantas meneguknya perlahan. Ia menikmati sensasi pahit yang masuk ke tenggorokannya.


“Cowok lo gak ikut?” Leo bertanya dengan penasaran. Terakhir Amara ke sini bersama seorang laki-laki tampan berwajah Indo Cina yang ia perkenalkan sebagai pacarnya.


“Nggak lah. Cowok gue yang sekarang cowok rumahan. Susah di ajak jalan.” Keluh Amara.


“Tapi jago dong di ranjang?” Goda Leo.


“Lumayan, bisa 4 ronde.” Amara tersenyum genit.


“Hahahahaha Shi**t you b*tch!” Seru laki-laki itu seraya tertawa.


Amara hanya tersenyum lalu meneguk minuman beralkohol di tangannya dengan anggun.


Sejurus kemudian, ia melihat seorang laki-laki berjalan ke arahnya. Laki-laki itu tersenyum saat cahaya lampu disko berwarna merah menerpa wajahnya, membuat Amara bisa melihat dengan jelas siapa sosok itu.


Amara menurunkan gelasnya, ia bersikap sangat tenang dengan sedikit senyuman simpul untuk membalas laki-laki tersebut.


“He’s a boss! Big Boss!” Bisik Leo penuh penekanan.


“I know it.” Dengan anggun Amara menaruh gelasnya di atas meja. Menaikan kaki kanannya di atas kaki kiri lantas menegakkan tubuhnya.


“*Tequ*la please.*” Ujar laki-laki itu yang kemudian duduk di samping Amara dan menghadap ke barista.


Leo segera mengambilkannya dan menaruh satu gelas kecil minuman beralkohol itu.


“Anda berniat untuk mabuk?” Tanya Leo seraya tersenyum.


Laki-laki itu hanya memainkan gelas di tangannya, memutar minuman memabukkan itu perlahan lantas memandangi Amara yang duduk di sampingnya.


“Seseorang sudah membuatku mabuk dari sejak aku melihatnya.” Sahut laki-laki berwajah Eropa yang tidak lain adalah Keith.


Leo hanya mengendikkan bahunya. Setelah ini ia memilih memberi ruang pada dua orang yang saling lirik tersebut.


Keith mencondongkan tubuhnya pada Amara, jarak mereka cukup dekat hingga ia bisa mencium wangi Amara yang begitu menggoda.


“Tidak baik seorang gadis cantik berada di tempat seperti ini. Banyak anj*ng liar yang berkeliran dan beberapa di antara mereka sangat suka menerkam gadis cantik.” Bisik Keith seraya menggigit bibirnya sendiri dengan gemas.


Amara benar-benar membuatnya tidak bisa berpaling.


Amara melirik seraya tersenyum, begitu menggoda bagi Keith.


“Apa aku bisa mengandalkan seseorang di tempat asing seperti ini?”


Amara mengibaskan rambutnya, membuat Keith bisa melihat leher Amara yang putih dan jenjang. Ia sampai mengeram dalam hati karena harus menahan keinginannya untuk mengecup leher tersebut.


Satu tawaran ia berikan.


“May I?” Ia mengulurkan tangan kanannya pada Amara.


“Why not?” Timpal gadis itu tanpa pikir panjang.


Ia mengambil gelas di tangan Keith lantas meneguk minuman itu hingga habis.


Keith terkekeh melihat tingkah nakal Amara.


Setelah menikmati minuman tersebut, Amara memberikan tangannya pada Keith dan lantas di kecup oleh Keith. Wanita ini tersenyum penuh kemenangan karena bisa menaklukan seorang alpha. Ia turun dari kursinya, berlari kecil menghampiri kerumunan orang-orang yang asyik menari di atas lantai dansa seraya menarik tangan Keith untuk mengikutinya.


Tentu saja, dengan sukarela Keith mengikuti langkahnya. Kesempatan tidak datang dua kali bukan?


Dan semuanya di mulai. Kesenangan sesaat yang Amara pikir bisa membantu melepaskan kejenuhannya.


Benarkah hanya untuk sesaat saja?


*****