Bella's Script

Bella's Script
Lampu merah



Hakikat roda kehidupan itu berputar, jelas sangat terasa oleh Saras.


Beberapa jam lalu ia baru merasakan kebahagiaan yang membuncah saat melihat Bella di persunting oleh seorang laki-laki yang dicintainya. Satu pencapaian besar bagi seorang ibu yang membesarkan anak gadisnya seorang diri.


Rasanya hari tidak ingin usai dan keinginan untuk terus merasakan kebahagiaan ini masih Saras harapkan dari lubuk hatinya yang paling dalam.


Sayangnya, tidak semua keinginan dan harapan itu bisa terwujud. Beberapa jam berikutnya, Saras di buat berurai air mata saat mendapati Ozi yang berguling-guling di lantai kamarnya seorang diri tengah melawan rasa sakit yang hebat di kepalanya.


Hati ibu mana yang tidak hancur, menyaksikan anaknya kesakitan seperti hendak meregang nyawa.


Seperti naik roller coaster dan mencapai pucak ketinggian namun tiba-tiba dalam hitungan detik ia dijatuhkan begitu saja, jantung Saras seperti berhenti berdetak.


Hatinya menjerit, membayangkan hal buruk yang mungkin dialami Ozi.


Tidak, ia bahkan tidak sanggup untuk membayangkannya. Saat bayangan wajah Ozi yang pucat dan kesakitan, mengerang tertahan menyembunyikan kesakitannya agar tidak merusak kebahagian pernikahan Bella, Saras langsung membuka matanya.


Matanya tidak berani lagi terpejam, karena bayangan wajah Ozi tergambar semakin jelas. Tangannya yang gemetaran ia gunakan untuk menopang kepalanya yang tertunduk. Ia menangis sesegukan. Apa jadinya jika tadi ia terlambat? Bisakah ia tetap berdiri utuh?


“Mah…” Bella meraih tubuh gemetar Saras dan membawanya ke dalam pelukannya. Wanita itu lalu terkulai lemas. Ia memang butuh waktu untuk bersandar, harinya terlalu berat.


Rasa berat itu tidak hanya bagi Saras, tapi bagi seluruh keluarga Fauzi.


Sudah satu jam berlalu sejak Ozi masuk ke dalam ruang operasi dan mereka terduduk di ruang tunggu. Harap-harap cemas memandangi lampu merah yang menyala di atas pintu ruang operasi.


“Operasi akan berlangsung sekitar 6 sampai 8 jam. Kami akan berusaha seoptimal mungkin dan mohon do’a dari keluarga untuk kelancaran operasi.” Itu penjelasan dokter yang di terima Bella sebelum menanda tangani persetujuan tindakan.


8 jam, 8 jam itu sangat lama. Satu jam yang baru Bella lewat saja rasanya sudah seperti satu abad. Terlebih saat cemas seperti ini.


Namun apa boleh di kata, ia memang hanya bisa pasrah dan menunggu sambil berdo’a untuk kelancaran semuanya.


Suara langkah kaki terdengar menghampiri Bella dan Saras. Ada Ibra yang kemudian duduk di sampingnya.


“Nggak. Gue udah izin sama dosen buat gak masuk siang ini.” Ibra menyandarkan tubuhnya pada dinding lalu memejamkan matanya.


Jantungnya masih berdebar kencang sejak tadi ia mendengar teriakan Saras dari kamar Ozi dan membuatnya berlari dengan cepat menaiki anak tangga menuju kamar Ozi.


Melihat Ozi yang tergolek tidak berdaya dan Saras yang menangis meraung-raung memanggil anaknya, tanpa berpikir panjang Ibra langsung membopong tubuh sang kakak yang lebih tinggi darinya dan membawanya turun ke mobil.


Akh, walau sudah mengusap wajah beberapa kali bayangan menakutkan itu masih saja jelas terlihat.


“Lo baru mulai kuliah tapi udah bolos.” Ucapan Bella terdengar pelan. Ibra sadar itu hanya bentuk pengalihan perasaan kakaknya dan tidak perlu di tanggapi Ibra.


“Udah bang?” Tanya Ibra saat Devan memberikan kembali ponselnya.


“Udah, udah gue bilangin ada keluarga yang sakit. Lo di bolehin izin tapi nanti ada tugas yang di kirim lewat email lo katanya.”


Rupanya Devan baru selesai menghubungi Dosen Ibra untuk memintakan izin.


"Hem. Makasih bang." Beruntung rasanya memiliki seorang kakak yang bisa membantunya meminta izin dosen.


Bella menengadahkan wajahnya melihat tubuh tinggi menjulang yang berdiri di hadapannya. Devan mengusap kepalanya dengan lembut membuat mata Bella kembali berkaca-kaca. Ia mengigit bibirnya untuk menahan tangis.


“Ozi akan bertahan, kamu harus percaya itu.” Lirihnya untuk menenangkan Bella.


Walau sebenarnya ia sama cemasnya dengan yang lain.


Bella hanya terangguk dan membiarkan tangan Devan mengusap buliran air matanya. Saat ada Devan ia memang selalu begitu mudah menunjukkan kelemahannya.


******