
Video berdurasi masing-masing 1 menit dan 45 detik itu terus Bella putar berulang. Ia masih mencari apa yang kurang dari video ini hingga ia tidak merasakan apapun.
“Bell, lo yakin teaser-nya gak bikin baper? Gue sampe baper tau. Apalagi pas part si Michael narik tangan Minara, anjayy terharu banget gue padahal adegan itu cuma 3 detik.” Rini terus berceloteh saat keluar dari ruang rapat. Baginya, pendapat Bella aneh.
Bella hanya termenung. Tidak menanggapi ucapan Rini yang terus mengusik pikirannya.
“Bukan karena pemainnya mantan lo kan?” Pertanyaan Rini kali ini membuat Bella menoleh.
“Maksud lo?” Bella balik bertanya.
Rini tersenyum tipis.
“Lo yakin semua yang lo lakuin sekarang adalah karena professionalisme kerja? Ini kesempatan yang terlalu besar yang lo kasih buat seseorang yang udah ngehancurin hidup lo. Lo gak inget gitu gimana jahatnya mereka sama lo? Terus aja mereka nunjukkin kemesraan mereka di lokasi. Lo gak ngerasa terganggu?”
“Mereka sering makan bareng-bareng. Amara sering duduk di pangkuan Rangga. Mereka suka bercanda dan tiba-tiba Amara nyium Rangga. Kalau gue sih bakal ilfeel dan mungkin berpengaruh sama penilaian gue terhadap teaser ini. Lalu lo masih yakin gitu ini gak mempengaruhi penilaian lo terhadap teaser-nya?” Rini menyampaikan pendapatnya dengan blak-blakan.
"Rin, feel dalam sebuah teaser gak melulu tentang sebuah kebaperan. Karena bukan cuma itu yang mau gue tunjukkin." Itu alasan yang Bella utarakan saat itu.
“Tapi, mungkin gak omongan gue tadi?” Rini terus mendesak dan kali ini benar-benar Bella pikirkan.
Kini sudah puluhan kali teaser itu Bella putar, dan Bella belum menemukan apapun. Ia bahkan membaca script berulang, membaca bagian yang dulu ia lingkari untuk di jadikan teaser dan ini sama dengan teaser yang di buat Kemal. Tapi kenapa masih tidak memberi kesan dan perasaan apapun?
“Kamu di sini?” Suara yang Bella kenal tiba-tiba menjeda pikiran Bella.
Seorang laki-laki tampan menghampiri Bella yang sedang termenung sendirian di tepian kolam renang. Seperti biasa, kakinya ia celupkan ke dalam air kolam walau tidak lantas membuat kepalanya berhenti berpikir.
“Jadi ini tempat favorit yang dulu sering kamu ceritain?” Adalah Rangga yang kini duduk di atas bangku dan memandangi Bella yang masih terkejut.
Dulu ia hanya mendengar cerita tempat ini dari Bella. Bagaimana menyenangkannya menghabiskan waktu di tempat ini seolah ia tidak perlu pergi berlibur kemanapun, di sini saja cukup. Itu yang selalu Bella ceritakan.
“Refreshingnya aku murah yang, cukup pergi ke taman PH yang ada di bagian belakang departemen artistic, terus celupin kaki deh ke kolam. Rasanya merinding banget tapi seketika pikiran aku jadi lebih tenang, kosong dan aku bisa menikmati setiap detik sambil mencium wangi bunga gardenia. Enak banget pokoknya. Sesekali kamu harus coba datang ke sana.” Ucap Bella beberapa tahun lalu. Dan kini Rangga melihatnya langsung.
Sesuai yang di ceritakan Bella, tempat ini memang sangat nyaman. Tenang dan di tata dengan cantik. Sehingga penglihatan menjadi segar dan tercerahkan.
“Hey!” Rangga menjentikkan jarinya pada Bella yang hanya melamun melihat tanaman rambat di dinding.
Bella tampak terkejut. Ia mematikan layar ponselnya lantas menarik kakinya yang basah dari dalam kolam.
“Ada apa ke sini?” Bella beranjak dari tempatnya. Berbicara berdua dengan Rangga tidak terlalu nyaman untuknya.
Ia berdiri tegak namun tidak menatap Rangga sedikitpun.
“Makasih buat kesempatannya.” Ucap Rangga seraya tersenyum.
Rangga ikut beranjak dari tempatnya dan menghampiri Bella untuk berdiri disampingnya. Perasaannya masih membuncah sejak mendengar tawaran untuk membuat lagu dan mengisi soundtrack untuk filmnya sendiri. Yang tidak kalah mengejutkan adalah, Lisa bilang Bella yang menyarankan hal ini. Benarkah?
Mereka sama-sama terdiam, memandangi tetesan air yang sengaja di buat berderai di permukaan kaca. Dari pantulan kaca, Bella bisa melihat Rangga yang tengah menoleh dan memandanginya.
“Kenapa kamu kepikiran buat ngasih aku kesempatan ngisi soundtrack nya?” tanya Rangga penasaran. Aapa yang ada di pikiran Bella saat ini.
Ia benar-benar tidak sabar menunggu Bella memberikan jawaban. Namun beberapa saat ia hanya terdiam, seperti sedang merangkai kalimat yang tepat untuk ia sampaikan pada Rangga.
“Bell..” Kali ini Rangga sengaja mencondongkan tubuhnya sedikit merunduk agar bisa menatap Bella yang hanya tertunduk.
Tangannya mengepal kuat, apakah ia gugup ataukah marah?
“Kamu masih peduli sama aku Bell?” Lagi Rangga bertanya membuat Bella terhenyak dengan matanya yang membulat.
“Nggak!” Cepat sekali Bella menjawab dan menoleh Rangga.
“Lalu?” Tanyanya lagi.
Rangga benar-benar menguji ketenangan Bella yang sedang berusaha mengendalikan emosi dan nalarnya agar tetap berada di jalur yang tepat.
Kenapa juga laki-laki ini harus tersenyum seolah sedang mengejek pilihan Bella.
“Bukankah kamu ingin menunjukkan kalau kamu lebih mampu?” Kini Bella yang balik bertanya.
Ia mengutip ucapan Rangga saat mendatanginya di apartemen Devan.
Laki-laki itu kini menegakkan tubuhnya, memasukkan kedua tangannya ke masing-masing saku celana kiri dan kanan. Ia menghela nafas dalam seraya tertunduk saat mengingat kalau tanpa sengaja ia memukul mata Bella.
“Jadi seperti ini caranya?” Tanya Rangga.
“Iya!” Sahut bella cepat, membuat laki-laki itu tersenyum. Dalam pikirnya, Bella benar-benar masih memperdulikannya.
“Kalau kamu memiliki mimpi dan rencana yang baik, susun dengan cara yang baik. Perkenalkan diri kamu ke dunia melalui jalur prestasi bukan sensasi. Dan jangan rusak cerita saya oleh ketidakmampuan kamu mempresentasikan isi cerita yang saya buat.” Tegas Bella tanpa di duga. Ia seperti tanpa ragu mengatakan semuanya.Dan terdengar sangat pedas di telinga Rangga.
Senyum yang semula terkembang di bibir Rangga kini hilang. Laki-laki itu menoleh Bella yang tidak ragu balas menatapnya.
“Seriously, itu yang kamu pikirkan sekarang?” Tanya Rangga tidak habis pikir.
“Ya. Apa maksud saya bisa di mengerti dengan jelas?” Bella balik bertanya dengan wajahnya yang tenang. Tidak ada ekspresi yang berarti yang menunjukkan akalau ia ragu.
Rangga hanya tersenyum tipis. Kini ia memalingkan wajahnya dari Bella dan memandangi bayangannya sendiri dari pantulan kaca. Buram, tidak terlihat jelas seperti apa ekspresinya.
“Kamu pasti sangat membenci aku Bell,..” Lirihnya tanpa berani menoleh Bella.
Entah mengapa sesal yang ia rasakan mulai semakin besar. Ia menyangka kalau tawaran Eko untuk membuat soundtrack bagi filmnya adalah alasan Bella karena masih memperhatikannya. Masih peduli padanya. Tapi sepertinya ia salah. Ia melihat benar tembok pembatas yang di bangun Bella di depan matanya.
Terdengar helaan nafas dalam dari mulut Bella.
“Saya ingatkan, meskipun ini taman, tapi ini bukan tempat untuk membicarakan hal pribadi.” Bella berujar dengan mempertegas sikapnya.
“Jadi dimana kita bisa berbicara secara pribadi?” Rangga balik bertanya.
Gadis iitu sedikit terhenyak walau masih bisa mengendalikan dirinya.
“Tidak ada yang perlu saya bicarakan secara pribadi. Saya permisi.” Bella memilih pergi tanpa memberikan Rangga kesempatan untuk menyimpulkan hal lain.
“Bella! Bell!!” Panggil Rangga.
Namun Bella ttidak menghiraukannya. Ia bahkan meninggalkan script yang tadi ia corat coret setelah puluhan kali ia baca lagi dan lagi.
Dan saat Bella beranjak meninggalkan Rangga, ada Devan yang mematung di jalannya. Laki-laki iitu melihat Bella berada di taman bersama Rangga cukup lama namun entah apa yang mereka bicarakan.
Di tangannya bahkan ia membawa dua gelas minuman bercafein.
Saat mereka berhadapan, mereka hanya saling menatap. Tidak ada yang mereka ucapkan untuk satu sama lain. Dan Bella memilih pergi dari hadapan Devan tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.
“Bell,.. Gue bisa salah paham.” Batin Devan yang ikut memandangi arah berlalunya Bella dengan langkahnya yang Panjang dan cepat.
Sepertinya Bella tidak ambil peduli dengan isi pikiran orang lain saat ini termasuk pikiran Devan.
*****