Bella's Script

Bella's Script
Cerita masa lalu sahabat



Di kursi tunggu saat ini Bella tertidur. Ia tetap terduduk dengan kepala yang telungkup di atas meja. Kedua tangannya yang bertumpuk ia dijadikan bantalan.


Matanya masih terlihat bengkak setelah tadi, tidak henti menangis saat melihat tubuh suaminya yang di penuhi luka. Ia mengobati Devan sambil terisak-isak, membayangkan betapa sakit dan perihnya luka-luka di tubuh Devan.


Baru sekitar dua jam ini Bella tidur. Ia tidak berbincang banyak dengan suaminya karena masing-masing perlu waktu untuk menenangkan dirinya.


Di tempatnya Ozi berdiri, Ia memandangi Bella yang masih terlelap. Walau pun ia tidak tega tapi rasanya sekarang Ozi sudah membangunkan Bella kembali. Ozi mengambil kursi yang ia geser perlahan ke dekat Bella dan mulai memanggil Bella.


“Dek,... Bangun Dek...” Panggil Ozi seraya mengusap kepala Bella.


Mata Bella yang tertutup rapat itu segera terbuka.


“Ada apa?” Tanyanya dengan tergesa-gesa.


Ia langsung duduk tegak dan membuat kepalanya pusing berputar, dada berdebar kencang dan sedikit mual. Memang seperti ini yang dirasakan kalau bangun tidur tiba-tiba apalagi setelah ia tidak tidur semalaman.


Dengan mata merahnya ia menatap Ozi penuh tanya.


“Minum dulu. Kalau perlu cuci muka.” Ozi mendekatkan sebotol air mineral dan tisue basah. Dua benda yang selalu ia bawa kemanapun.


“Devan mana?” Bella celingukan mencari suaminya. Tadi Devan duduk persis di sampingnya tapi sekarang sudah menghilang lagi.


“Devan lagi di ruangan Papah Amri. Papah Amri baru aja sadar dan nyariin Devan.” Ucap Ozi dengan senyum terkembang.


“Apa? Papah udah sadar? Nanyain aku juga gak?” Cerocos Bella, belum puas.


“Iyaa, nanyain lo. Tadi Devan bilang lo baru tidur, jadi gak di bangunin.” Ozi mengambil selembar tisue basah dan mengelapkannya ke wajah Bella.


"Alhamdulillah..." Ucap Bella sambil merebut tissue dari tangan Ozi.


“Gue bisa sendiri bang.” Protes Bella yang langsung mengelapkannya ke seluruh wajah.


Ozi memandangi sang adik sambil mengusap kepala Bella dengan lembut.


“Gue masih suka lupa kalau lo udah nikah. Perasaan lo masih anak kecil aja.” Ucapnya dengan segaris senyum. Ia mencubit hidung bangir Bella dengan gemas, menyisakan rona merah di ujung hidungnya.


“Iya, anak-anak yang lagi belajar bikin anak.” Ucap Bella asal.


“Eehhh... Bocah!” Ozi mengusap wajah Bella dengan telapak tangannya yang besar.


“Iihh kebiasaan lo bang.” Bella mengibaskan tangan Ozi yang menutupi wajahnya.


Ozi hanya tersenyum kecil melihat tingkah Bella. Di sela situasi tegang ini, rupanya Bella masih bisa menghibur Ozi.


“Minumnya.” Ozi membukakan botol minum untuk sang adik. Bagaimana pun Bella harus benar-benar sadar saat akan bertemu dengan Amri.


"Udah segeran?" Tanyanya, setelah Bella selesai minum.


"Udah." Bella menutup kembali botolnya.


"Lo kenapa ngeliatin gue gitu amat?" Bella jadi penasaran dengan tatapan Ozi yang begitu lekat.


Ozi menghela nafasnya dalam dan berusaha menenangkan dirinya sebelum berbicara dengan Bella.


"Entahlah. Mungkin karena gue khawatir sama lo." Ozi berpindah tempat duduk ke samping Bella. Memeluk sang adik dari samping lalu menepuk-nepuk lengan Bella yang kurusan.


"Gue tau, yang lo dan Devan hadapi saat ini cukup sulit. Gue rasa, ini ujian yang sangat besar buat lo berdua, khususnya Devan."


"Tapi gue mohon, lo bertahan ya... Pegang tangan Devan dengan sangat erat. Seperti waktu dia megang tangan lo selama ini. Dia pasti sangat butuh dukungan lo buat melewati semuanya." ujar Ozi tiba-tiba seraya menatap mata Bella yang mulai bening.


Kantuknya sudah benar-benar hilang dan berganti perhatian penuh pada sang kakak.


"Iya gue tau. Gue nyesel banget udah mikir jelek soal Devan. Gue gak tau kalau hubungan dia sama om nya ternyata seburuk itu. Gue gak habis pikir, gimana bisa dia ngehajar Devan sampe separah itu?"


Bulu kuduk Bella kembali meremang saat mengingat luka-luka di tubuh Devan. Luka lebam dan berdarah karena pukulan dan hantaman benda tumpul.


"Devan udah mengalami kekerasan itu dari sejak dia kecil. Gue inget persis kejadian waktu Devan pengen datang ke sidang papah Amri dan om Alwi melarangnya. Karena Devan tidak menurut, Om Alwi menghajar Devan habis-habisan bahkan dia mengancam kalau dia akan menuntut papah Amri dengan hukuman mati atau penjara seumur hidup."


"Devan sangat ketakutan waktu itu."


"Termasuk waktu dia maksa Devan ikut ke Singapore. Dia mengancam kalau Devan tidak ikut, dia tidak akan membiarkan Devan ketemu lagi sama papah Amri seumur hidupnya. Makanya Devan cuma bisa nurut."


"Buat Om Alwi, Devan adalah ambisi sekaligus balas dendamnya. Dia pikir, dia bisa membentuk Devan sesuai dengan keinginannya yaitu menjadi anak yang kelak akan menghancurkan ayahnya sendiri. Laki-laki yang dia anggap sebagai pembunuh adik kesayangannya."


"Untungnya Devan gak sepenuhnya nurut sama om Alwi. Dia punya sikap sendiri. Dia tahu mana yang salah dan mana yang benar. Dan yang terpenting, dia tahu kalau papah Amri gak bersalah." Terang Ozi dengan helaan nafas berat.


Bisa Bella lihat mata Ozi yang berkaca-kaca saat menceritakan tentang sahabatnya.


Sejak kecil Devan selalu diperlakukan kasar. Ia begitu takut pada Alwi karena ia tahu kalau Alwi bisa melakukan apa saja. Ia akan dengan mudah mewujudkan kata-kata yang ia ancamkan pada Devan. Maka, bukan tanpa alasan jika kemarin Devan begitu panik dan hilang akal. Ia tahu, Alwi tidak akan segan-segan untuk menyingkirkan Amri untuk selamanya.


"Lo juga harus menjaga diri lo Dek. Kalau ada sesuatu hal yang mengancam lo, mending lo ngomong. Gak usah ada yang di tutupi. Kita keluarga, udah sepatutnya kita saling melindungi." Tandas Ozi dengan penuh kesungguhan.


"Iya, gue paham." Bella terangguk patuh. Ia bisa menyimpulkan kalau Alwi bukan orang yang mudah untuk di hadapi. Perlu usaha yang keras untuk menghadapi laki-laki itu.


******