
Crew yang mendengar pertanyaan Kemal pun ikut berbisik, sementara Devan hanya tersenyum kecil pada Bella. Apa maksud senyuman itu?
“Hah, iyaa gue tau. Soalnya waktu itu gue,..” Rini menggantung kalimatnya dan berusaha mencari alasan.
Tapi mendadak pikirannya buntu. Hanya keringat dingin yang kemudian terlihat muncul di dahinya, wajahnya berubah pucat, dengan kedua tangan saling mencengkram. Karena terlalu antusias memberi ide, ia sampai tidak bersiap akan adanya pertanyaan Kemal barusan.
“WOY! JAWAB GUE!!!” Seru Kemal seraya menggebrak meja.
Rini sampai terhenyak kaget mendengar suara Kemal. Bibirnya kelu dan ia tidak berani mengangkat wajahnya sedikitpun. Sepertinya ia menyadari satu hal.
“Yang tau clip ini cuma Kemal. Gue, Bella dan editor sekalipun belum di kasih liat sama Kemal."
"Apa lo yang maksa assistant cameramen buat nyalin semua video BTS dan teaser?” Tanya Devan dengan ringan. Sikapnya yang tenang membuat Bella menatap heran pada suaminya.
Apa yang sebenarnya Devan maksudkan?
“Shi*t!!” Lirih Rini tanpa berani mengangkat kepalanya.
****
Di ruangan Eko, kini Rini berada.
Setelah di ketahui kalau Rini lah yang men-copy behind the scene itu, wanita ini kini harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.
“Kenapa kamu melakukan ini Rin? Kenapa kamu bisa melakukan hal yang bahkan tidak terlintas di pikiran saya?” Eko bertanya dengan penuh penekanan. Ia menatap tajam wanita yang hanya bisa menundukkan kepalanya.
“BRAKK!!!”
“JAWAB SAYA!!!” bentak Eko yang habis kesabaran.
Rini yang sudah bekerja di PH ini lebih dari 15 tahun sebagai assistant script writer, tidak pernah ia duga akan melakukan hal sepicik ini. Selama ini ia terlihat begitu kompak dengan Bella, bisa berbaur dengan crew yang lain tapi nyatanya, ia melakukan hal di luar nalar.
Setelah terdiam cukup lama, akhirnya Rini memberanikan diri mengangkat kepalanya. Ia menatap Eko sekilas sebelum bulir air mata menetes di sudut matanya.
“Karena saya tidak suka bekerja di bawah Bella.” Suara Rini terdengar pelan namun begitu mengagetkan bagi Eko.
“Apa kamu bilang?” Eko beranjak dari tempatnya dan menghampiri Rini lalu berdiri di samping wanita yang mengusap air matanya dengan kasar.
“Saya sudah bekerja lebih lama dari Bella, tapi saya hanya selalu menjadi assistant-nya." Ia balas menatap Eko.
"Script saya jauh lebih bagus dari Bella tapi bapak dan produser selalu lebih memilih script Bella di banding script saya. Apa PH ini tidak bisa melihat loyalitas karyawannya? Apa harus selalu karyawan favorit yang dilirik karyanya di banding yang lain?” Rini berbicara dengan suara bergetar. Tangannya saling menggenggam kuat satu sama lain.
“Astaga Rini, kamu benar-benar berpikir seperti itu?” Eko sampai tidak habis pikir.
“YA! Itu yang saya rasakan selama ini.” Sahut Rini dengan suara meninggi.
“Bapak bahkan tidak pernah melirik script yang saya buat. Bapak selalu meminta Bella membuat script tentang ini dan itu. Termasuk project ini, bapak lebih memilih memindahkan kembali Bella ke departemen penyutradaraan. Sementara saya?”
“Script saya hanya di pakai saat script itu diajukan oleh Melisa. Apa menurut bapak itu adil?!!!” Tangis Rini sampai pecah. Matanya yang merah dan basah menatap Eko dengan penuh kekecewaan.
Eko tidak tinggal diam.
“Alasan kamu tidak masuk akal Rin.” Ujar Eko, ia beralih dari tempatnya dan kembali ke kursi kerjanya.
“Apa kamu lupa kalau saya pernah memberi kamu banyak kesempatan tapi kamu tidak bisa menyelesaikannya tepat waktu?” Eko mencondongkan tubuhnya pada Rini.
“Berapa kali saya menawarkan untuk kamu pegang miniseri dengan memakai script kamu, tapi kamu selalu membiarkan kesempatan itu lepas. Kamu tidak pernah fokus dengan pekerjaan kamu. Apa saya harus menunggu kamu yang selalu menyia-nyiakan kesempatan?” Pertanyaan Eko terdengar lirih namun penuh penekanan.
“Tidak bukan?!” Pertanyaan Eko terdengar semakin tajam.
“Dan sekarang, kamu memilih untuk melakukan hal tidak pantas selama project film berjalan. Apa kamu lupa kode etik kamu sebagai salah satu crew di tim ini?”
Rini tidak bergeming, ia hanya memalingkan wajahnya dari Eko yang menatapnya penuh selidik.
“Kamu bahkan tidak bisa menjaga integritas di pekerjaan kamu. Apa saya masih harus percaya?” Eko menarik tubuhnya menjauh dari Rini, ia menatap Rini untuk beberapa saat lalu menghembuskan nafasnya kasar. Ia masih tidak habis pikir.
Rini tidak lagi menjawab. Ia menyeka air mata di pipinya dengan kasar. Satu hal yang ia lakukan saat ini, melepas kartu identitas pegawai yang ia kalungkan di lehernya dan menyimpannya di hadapan Eko.
“Bapak tidak harus percaya pada saya. Saya permisi.” Ucapnya seraya beranjak dari tempatnya.
Eko hanya melirik name tag itu. Ia bahkan enggan untuk melihat wajah Rini. Wanita itu terlalu mengecewakannya. Jika kemudian Rini memilih pergi, maka tidak ada alasan bagi Eko untuk menahannya.
******