Bella's Script

Bella's Script
Para pejantan tangguh



“Nih!” Bella menyodorkan sebuah paper bag pada Ozi.


“Apaan nih? Hadiah? Tumben?” tanya Ozi beruntun. Senyum-senyum tidak jelas dengan dahi mengernyit. Padahal mereka baru bertengkar tapi sang adik memberinya hadiah tentu bukan hal yang biasa.


“Gak usah bawel, lo bukanya kalau udah nyampe tempat kerja.” Decik Bella. Seperti anak kecil mendapat hadiah, mata sang kakak langsung berbinar.


“Lo kan belum gajian, punya duit lo?” akhir bulan biasanya menjadi waktu yang krisis untuk keuangan Bella. Tentu memberinya hadiah di tanggal tua seperti ini sangat patut di pertanyakan.


“Bawel lo! Kalau gak mau, sini gue ambil lagi!”


“Ehhh!! Entar dulu!” Ozi menepuk tangan Bella yang mau mengambil paper bag-nya


“Lo gini amat sih jadi adek, ngasih hadiah tapi mau di ambil lagi. Mana ngasih hadiahnya juga jarang lagi.” Gerutu Ozi. Ia mengintip isi dari paper bag tersebut. Dari kotaknya sih ia yakin kalau isinya adalah jam tangan.


“Makanya jangan suka bawel!” sengit Bella dengan kesal.


“Hahahaha… Iya. Iyaaa…” sejenak Ozi menatap sang adik dengan penuh sayang.


“Makasih ya… Lo emang adek terbaik yang gue punya.” Di usapnya pucuk kepala Bella dengan lembut.


“Iyaaakkk sama-sama.. Udah akh, di tontonin orang noh!” Bella segera menurunkan tangan Ozi saat melihat mata petugas keamanan yang berbinar dari balik kaca ruangannya.


“Hehehehe… Iyaaa…”


“Gue masih selalu ngerasa kalau lo tuh masih bocah. Tau-taunya sekarang udah jadi art director aja.” Puji Ozi seraya memandang kagum pada sang adik.


“Lebay lo! Udah sana berangkat!” Bella memalingkan wajahnya dari sang kakak. Ucapan Ozi membuatnya terharu.


Beberapa tahun ini tanpa sosok seorang ayah di hidupnya, Ozi menjadi kakak yang terlampau sempurna. Ia bisa menjadi teman berantem, teman cerita, kakak yang iseng dan menyebalkan lalu tentu saja ia pun bisa menjadi ayah yang baik untuknya.


“Iyaaa, berisik lo!” memasukkan paper bag dari Bella ke dalam tasnya.


“Lo lembur gak?” pertanyaan rutin yang selalu di tanyakan Ozi setiap akan meninggalkan adiknya yang bekerja.


“Pulang jam 7an paling. Masih ada kerjaan yang belum kelar. Lo kalau lagi sibuk gak usah jemput, gue bisa pake taksi online.”


“Taksi online apa taksi onlie?” sindir Ozi. Ucapannya tertuju pada laki-laki yang ia yakini masih menjadi pacar Bella.


“CK!! Lo apaan sih?! Mau ribut lagi di sini?” ucapan Bella ikut sinis. Ia selalu kesal kalau Ozi sudah menganggapnya pembohong.


“Ya udah gue gak ngajak ribut. Tapi inget ya, tunggu gue yang jemput! Jangan pulang sama taksi manapun.” Tegasnya mengakhiri perdebatan.


Bella hanya bersidekap dengan wajah kesal. Ia sudah lelah bertengkar dengan Ozi karena masalah hubungannya dengan Rangga yang tidak kunjung mendapat restu.


“Bang, nitip Adek gue yak!” serunya pada petugas keamanan yang sejak tadi stand by memperhatikan mereka.


“Biasa, kasih dia biscuit kalau jam 12 belum keluar buat makan siang.” Imbuhnya.


“Siap mas ozi!” sahut petugas keamanan yang langsung sikap sempurna. Baginya permintaan dari Ozi adalah sebuah tugas penting.


Ozi membalasnya dengan acungan jempol.


“Ikh! Lo apaan sih?! Kebiasaan nitipin gue ke orang-orang. Lo pikir gue masih bocah!”


“Lah, elo kan emang masih bocah!” Ozi Kembali mengusap kepala Bella yang di kibaskan oleh sang adik.


“Berangkat lo sana!” sengitnya.


“Okey, lo juga masuk. Bye!” dengan semangat Ozi memakai kembali helmnya. Mesin motor pun menyala. Setelah memberikan sebuah senyuman manis, ia memarkir motornya dan pergi dengan menyisakan sisa asap knalpotnya.


Akhirnya Bella bisa menghela nafas lega. Setiap pagi, drama seperti inilah yang ia alami. Perpisahan penuh drama dengan sang kakak yang posesif dan over protective namun sangat ia sayangi.


“Makasih ya pak!” seru Bella pada pak Min, satpam kantor.


“Siap mba Bell! Selamat bekerja!” sahutnya dengan semangat.


Bella jadi ikut mengepalkan tangannya mengikuti gerakan laki-laki yang berusia hampir setegah abad ini.


*****


“Gimana, gimana, udah lo kasihin kan?” Inka langsung rusuh saat melihat kedatangan Bella.


Ia mengikuti Bella ke mejanya, mengambilkan tas punggung Bella juga melepas jaketnya dan menyampirkannya di kursi.


“Udeh…” sahut Bella seraya menarik kursi kerjanya. Di tatapnya wajah Inka yang berseri mendengar jawaban Bella.


“Lo seneng banget sih?!” dengan sengaja Bella menyikut bahu Inka untuk menggodanya.


“Hehehehhe… Makasih ya Belsky.” Rangkulan hangat langsung di berikan Inka pada sahabatnya. Sungguh jantungnya berdebar sangat kencang membayangkan respon Ozi saat membuka hadiah pemberiannya.


“Kira-kira mas bima suka gak ya?” wajah Inka langsung terlihat cemas. Tatapannya gusar sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Suka lah! Mana ada orang gak suka di kasih hadiah. Mehong lagi!” timpal Bella.


“Aamiin…” dengan sepenuh hati Inka mengusap wajahnya, membuat Bella tersenyum sendiri melihat kesungguhan Inka terhadap kakaknya.


“Abang gue emang agak cuek, terutama sama cewek.” Kalimat menggantung Bella membuat Inka memandanginya serius. Tangannya mengepal kuat dengan ekspresi wajah cemas. Bella tahu, perasaan Inka tengah tidak menentu.


“Tapi, dia bukan tipe orang yang gak menghargai usaha orang lain.” Imbuhnya disertai senyuman.


“Thanks Bell,” lirihnya seraya terangguk.


“Astaga, jantung gue rasanya mau pecah denger kalimat lo tadi.” Di sibaknya rambut panjang ke belakang dengan senyum lega.


“Hem..” Bella hanya tersenyum tipis seraya menarik kursi untuk ia duduki.


“Ada apa nih? Pagi-pagi kayaknya udah tegang banget gini…” sebuah suara mengalihkan fokus Bella dan Inka.


“Ada proyek baru ya?” lanjut Rini yang datang dengan seorang wanita berpenampilan rapi yang tidak lain adalah Melisa.


Ia berdiri tegak di samping Rini dengan kedua tangan bersidekap di depan dada, tidak tertarik untuk ikut berbincang.


Bella dan Inka kompak tersenyum lalu terangguk menyapa Melisa yang hanya mendelik.


“Kayaknya matahari terbit dari kamar lo ya, cerah banget tuh muka,” goda Inka, tidak berniat menjawab.


“Hahahaha… Bisa aja lo.” Rini langsung menyalakan ponselnya, membuka kamera dan melihat riasannya. Sedikit merapatkan bibirnya untuk meratakan warna gincu di bibirnya yang full lower dengan pewarna bibir berwarna jingga, terlihat kontras dengan kulitnya yang sawo matang.


“Gak salah dong, kalau  gue ke ruang audisi sekarang?”


“Ctik!” sambil mengedipkan mata dan menjentikkan jarinya.


“Emang ada audisi apa Rin?” Inka Ikut penasaran.


“Hhahahaha… Lo ketinggalan info yaaa…” di sikutnya Melisa sambil tertawa genit.


“Lo kan yang selalu paling update di sini. Ya gak Bell?” sahut Inka. Yang senang terbang, memang harus di angkat lebih tinggi. Benar saja, Rini semakin semangat.


“Jangan cerita ke yang lain!” seketika Rini menjentikkan jarinya di depan wajah Inka yang terangguk kaget. Wajahnya mulai mendekat dan berbisik,


“Ada audisi buat host acara adventure gitu. Isinya laki jantan semua yang lagi pamer dada, hihihihi…” Rini tertawa gemas sendiri.


“Oouhhh…” lirih Inka. Pantas saja assisten script writer ini terlihat berdandan cantik pagi ini, rupanya ada yang di incar.


Suara Rini yang masih tergolong cukup terdengar, membuat Bella sedikit terpaku. Ia kembali teringat kejadian pagi tadi saat tidak sengaja melihat seorang laki-laki yang bertelanjang dada berdiri di hadapannya bahkan sempat membekap mulutnya.


“Lo gak gue apa-apain!” suara tegas itu kembali terngiang di telinga Bella. Hembusan nafasnya yang wangi mint bercampur wangi sabun kesehatan rasanya kembali membelai syaraf di hidung Bella. Tatapan matanya yang tajam tepat beberapa senti saja dari wajah Bella, membuat tubuhnya lemas seketika tidak bisa berontak.


Bella bisa melihat air yang masih menetes dari ujung rambutnya yang gondrong jatuh di lehernya, terus berjalan melewati lekuk lehernya, ke dada dan bola mata Bella turut serta mengikuti arah laju air tersebut dengan mode slow motion.


Rasanya dada Bella sesak tanpa alasan. Teriakan yang terkumpul di tenggorokannya hilang begitu saja berganti pekikan tertahan.


“BEL!!!” seru Rini sambil menjentikkan jarinya di depan wajah Bella. Kebiasaan memang ini anak.


“HAH? Iya gimana?” ia sampai tersentak mendengar suara Rini.


Tanpa Bella sadari Inka dan Melisa ikut memandanginya seraya tersenyum tipis.


“Daripada lo lamunin, mending ikut liat langsung!” Rini langsung menarik tangan Bella tanpa permisi.


“Rin, mau kemana ini?” Bella berjalan tertatih mengikuti langkah Rini yang panjang.


“Wujudin halusinasi lo!” serunya sambil terkekeh.


“Astagaaa!! Gue gak ikut, ada kerjaan!” tolak Bella.


Sayangnya Bella terlambat. Di hadapannya sudah berkumpul para lelaki berpenampilan jantan dan tampan yang sedang mengikuti casting.


“Waw, itu dimas andrean bukan sih?” gemas Rini, sambil meremas tangan Bella,


“Gak tau!” sahut Bella seraya memalingkan wajahnya. Ia melepaskan tangannya dari cengkraman Rini yang sedang gemas sendiri.


"Ya ampuunnn rotiii sobeknyaaa.... Uuhhh... Mana mengkilap gitu lagi." beberapa orang menoleh Rini yang meremas gemas tangan Bella.


Setelah tadi satu orang laki-laki bertelanjang dada di hadapannya dan kali ini ada sekitar 4 sampai 5 laki-laki yang baru keluar dari ruang casting selesai mempertontonkan perut six pack, bahu dan lengan bawah yang kuat, dada yang bidang serta punggung yang lebar berbentuk V.


“Ya tuhan, ini harus aku anggap ujian atau rejeki?” gumam Bella. Hari ini matanya terlalu banyak melihat hal yang indah.


“Hay, gue Rini…” dengan cepat Rini langsung menyodorkan tangannya pada seorang laki-laki berkulit coklat. Permukaan kulitnya benar-benar mengkilap.


“Indra.” Sahut laki-laki itu.


Kedatangan Rini dan ketiga gadis lainnya rupanya menarik perhatian kaum jantan lainnya untuk mendekat.


“Gue duluan yaa… Ada persiapan syuting.” Bisik Bella seraya mengabaikan uluran tangan salah satu laki-laki.


Tanpa menunggu persetujuan Rini, Bella pun pergi dengan tergesa-gesa. Badannya terasa gerah dan pikirannya tidak karuan.


“Kok temennya pergi?” tanya salah satu laki-laki.


“Em, dia udah punya cowok. Takut terdestraksi kali.” Ledek Rini.


“Gue  juga duluan. Gue juga otewe punya cowok. Bye!!!” Inka baru tersadar setelah bersalaman dengan sekitar 6 laki-laki.


“Bego! Jadian aja belum tentu!” gerutu Rini melihat kepergian Inka.


******