
Sepanjang perjalanan pulang, pikiran Bella masih tertaut pada kejadian yang baru saja ia lewati. Ingatan akan kekompakan Devan dan crew untuk menjebak Jihan membuat gadis itu kalah telak dan tidak bisa berkutik. Dari serangkaian rencana yang Devan susun dengan teman-temannya, ternyata hanya Bella yang tidak tahu. Ia polos saja datang ke acara itu dengan anggapan hanya untuk menemani Inka.
Dan Inka, apa yang gadis itu lakukan sungguh di luar perkiraan Bella. Baru kali ini Bella melihat Inka menggunakan power-nya untuk menekan seseorang, yaitu Jihan.
“Gue gak mau dia terus ngeganggu lo dengan rencana-rencana liciknya. Gue pengen dia sadar, kalau dia ngeganggu lo berarti dia ngeganggu satu crew PH, tanpa kecuali.” Terang Inka saat Bella bertanya alasan Inka berani menekan Jihan melalui sang ayah.
Taktik cantik yang dimainkan Devan dan teman-temannya ternyata membuat Jihan menyerah. Ia tidak bisa menolak lagi permintaan Devan agar Jihan meminta Amara untuk melakukan konfrensi pers.
“Kenapa sayang?” Tanya Devan, saat sadar kalau Bella tengah memandanginya.
“Ada yang mau ditanyakan atau di katakan?” imbuhnya, melirik Bella dari spion tengah mobil.
“Kenapa mas gak cerita sama aku? Kayaknya cuma aku yang gak tau rencana kalian.” Bella memalingkan wajahnya dari Devan dan memilih memperhatikan jalanan di depannya. Macet, seperti otaknya yang sedang tidak bisa berpikir.
Devan tersenyum kecil, ia mengusap kepala Bella dengan sayang. Ada perasaan menyesal karena membuat Bella merasa dibodohi.
“Aku minta maaf yaa, aku gak ada maksud buat gak ngelibatin kamu di masalah ini. Aku hanya mencoba mengimbangi siasat Jihan dan mengurangi kemungkinan dia akan ngelukain kamu Bell.” Terang Devan yang melirik Bella dengan rasa bersalah.
Kecemasan Devan satu-satunya saat harus berhadapan dengan Jihan adalah kepicikan wanita itu yang mengkin akan melukai perasaan dan mental Bella.
Bella kembali menoleh suaminya dan menatapnya penuh tanya membuat laki-laki itu balas menolehnya dan mengusap pipi Bella.
“Mungkin kamu gak sadar Bell, kalau Jihan beberapa kali menyerang kamu, sayang.”
Kalimat menggantung Devan membuat Bella tercenung.
“Nyerang aku?” Bella menunjuk dirinya sendiri.
Devan terangguk penuh keyakinan.
“Kamu selalu fokus sama apa yang kamu kerjakan. Tidak berpikiran buruk sama orang lain dan menganggap kalau apapun yang mereka lakukan adalah hak mereka. Itu tidak salah, tapi ketika hal itu merugikan kamu, kamu harus melawannya." Ucapan Devan membuat kening Bella berkerut.
Benarkah ia senaif itu? Ya, ia akui memang ia selalu fokus pada apa yang ia kerjakan tapi soal kenaifannya, ia bahkan baru mendengarnya.
"Mungkin kamu gak sadar kalau dia sudah beberapa kali menyerang kamu. Dimulai dari dia memaksa script kamu untuk di pakai, menentukan pemain sesuai keinginannya, memaksa kamu untuk berlatih dengan Rangga, menyebar video BTS syutting kita dan membuat netizen membully kamu, mengupload foto-foto kamu dulu dengan Rangga dan membuat kamu merasa bersalah atas gossip yang saat ini menyebar.”
“Sekilas, hal itu akan terlihat wajar di dunia yang penuh persaingan. Kamu menganggap bahwa semua orang itu baik. Semua orang itu seperti dua sisi mata uang dimana ada sisi baik dan ada sisi buruk. Itu pun hak mereka. Tapi jangan lupa ada sebagain orang yang menunjukkan sisi buruknya dengan menyakiti orang lain dan sebagian orang lagi memanfaatkan sisi baik orang lain untuk keuntungan pribadinya."
"Aku gak ngelarang kamu untuk baik dan tulus, tapi terkadang kamu juga perlu waspada. Karena tidak semua orang memperdulikan kebaikan kamu." Devan menatap sang istri beberapa saat sebelum kemudian harus kembali menginjak pedal gas untuk melajukan mobilnya.
Bella tercenung beberapa saat, ia menggiiti jemarinya sambil berpikir. Ia menyetujui benar ucapan Devan saat ini. Sebuah pemikiran yang bahkan tidak terlintas di benaknya. Tapi Devan seperti membuka pikiran Bella untuk melihat dari sudut pandang lain. Sudut pandang dari seseorang yang memiliki cukup banyak pengalaman hidup.
“Apa Mas pernah berpikir kalau hal ini juga dilakukan Jihan karena dia tertarik sama Mas? Dia suka sama Mas. Iya kan?” Bella dengan kesimpulan di benaknya, berusaha memvalidasi.
“Maybe..” Sahut pendek Devan seraya melirik Bella.
“Sayang, apa motif dia, kita gak perlu paham sebenarnya karena kita bukan polisi yang punya hak untuk menyalahkan dia atau hakim yang berhak menjustifikasi dia. Kita gak bisa ngatur pikiran dia tapi kita bisa mengatur respon kita terhadap dia."
"Entahlah, aku sendiri tidak yakin dia benar-benar menyukaiku atau hanya ingin menjaga harga dirinya di depan teman-temannya.” Cetus Devan tiba-tiba.
Devan masih ingat saat tanpa sengaja ia mendengar obrolan Jihan dengan kedua temannya. Ia bisa melihat kalau Jihan sangat tidak bisa menerima ucapan buruk apapun yang tertuju padanya, sekalipun itu dari orang terdekatnya.
“Aku merasa kalau aku hanya salah satu bagian dari usahanya untuk mengukuhkan kekuasaannya di hadapan orang lain. Seperti saat dia menunjukkan usahanya untuk membuat crew lemah di bawah tekanannya. Dia tidak pernah benar-benar menyukai orang lain, dia hanya menyukai egonya saja.” Terang Devan. Ia kembali menoleh sang istri yang tengah berpikir keras.
“Dia hanya menggunakan kita sebagai landasannya untuk terbang tinggi Bell. Dan aku, aku gak akan ngebiarin dia mendarat sempurna di atas usaha kita hanya demi memenuhi egonya. Apalagi dengan cara menyakiti kamu lagi.”
Ia meraih tangan Bella untuk kemudian ia genggam dengan erat.
“Terserah dia mau melakukan usaha apapun di belakangku, tapi tidak untuk menyakiti wanitaku. Itulah alasan aku tidak mengajak kamu datang sayang. Aku takut kalau usahaku untuk menekan Jihan akan membuat kamu merasa tidak nyaman dan sedih. Egonya dia, hanya cukup berurusan dengan ku tidak boleh lagi menyakiti kamu.” Tegas Devan seraya mengecup tangan Bella dengan sungguh.
Bella menoleh suaminya dengan perasaan yang entah. Ia masih tidak habis pikir, bagaimana ia tidak sadar dengan semua usaha Jihan untuk menjatuhkannya.
Ia akui, beberapa ucapan Devan benar adanya. Jika tadi ia tahu kalau Devan akan bertemu Jihan dan memaksa untuk ikut, mungkin ia akan menghancurkan semua usaha Devan. Melihat Devan berbicara dengan Jihan saja sudah membuat dadanya bergemuruh. Berbagai pikiran buruk tentang Devan langsung menghinggapi pikirannya.
Ada ketakutan yang kemudian membuat berpikir kalau Devan mungkin juga akan meninggalkannya.
Pada titik ini ia sadar, Devan sedang melindungi Bella dari perasaan itu. Ketakutan karena traumanya yang dulu.
“Terima kasih Mas, aku bahkan nyaris tidak menyadari semuanya.” Ungkap Bella dengan sungguh.
“Hem, my pleasure, sayang.”
“Aku tau kamu tidak akan menyadari semua ini karena kamu tidak pernah berpikir buruk pada orang lain. Tapi, dari masalah ini kita harus belajar, kita tidak pernah bisa menaruh ekspektasi dan kepercayaan terlalu tinggi pada seseorang yang tidak terlihat berniat menyakiti kamu sekalipun. Kita tidak pernah benar-benar tahu pikiran dan keinginan seseorang. Kita hanya perlu sesekali untuk egois, melindungi diri kita dari hal-hal tidak terduga.”
Bella hanya tercenung mendengar ucapan Devan barusan. Devan benar, tidak salah jika sesekali kita egois pada diri kita. Karena tidak semua hal yang ada di diri kita bisa kita berikan begitu saja, terutama kepercayaan.
Melihat Bella yang terdiam, Devan jadi teringat perbincangannya dengan Inka sebelum kedatangan mereka.
"Gue akan bawa Bella ke acara itu." Ucap Inka lewat sambungan telepon.
"Jangan Ka. Kita udah sepakat kalau kita gak akan libatin Bella lagi. Gue gak mau Jihan mengintimidasi Bella lagi. Gue udah berjanji sama lo semua kalau gue akan menyelesaikan masalah ini supaya Jihan nggak ganggu kita semua lagi."
"Tapi Van, Bella juga harus ngeliat usaha lo. Usaha lo buat bikin Jihan ngejauh dari lo. Lo jangan lupa, Bella pernah di khianatin dalam hubungannya, jangan sampai kepercayaan Bella turun karena lo mulai berani menyembunyikan sesuatu dari dia. Sekalipun yang lo sembunyiin adalah usaha terbaik lo untuk hubungan kalian berdua. Gue gak mau Bella kecewa lagi." Tegas Inka di ujung kalimatnya.
Dan saat ini, harus Devan akui kalau usaha Inka tepat. Tanpa sengaja ia membuat Bella melihat usahanya untuk membuat Jihan menjauh. Bukankah dengan begini kepercayaan Bella terhadapnya akan tetap terjaga?
*****