
“Huhuhuuuu....Belskyyy!!!!” Seru Inka yang berhambur untuk memeluk Bella. Dari kejauhan ia sudah heboh dengan air matanya yang berurai seraya merentangkan tangannya. Saat Bella sudah ada dihadapannya, ia langsung memeluk Bella dengan erat.
“Lo bikin gue mewek Bell.” Protes Inka dalam pelukan Bella.
“Hahaha...Sorry...” Bella jadi gemas sendiri dengan tingkah Inka. Ia melepaskan pelukan sahabatnya lantas menatap wajah Inka yang sembab.
"Jelek lo!" Ledek Bella seraya mengusap sisa air mata di wajah Inka.
"Aaahhh ngeseliinn..." Sambil merengek Inka tetap tertawa. Ia mengucek matanya yang masih belum berhenti menangis.
"Hahahaha..." Bella mengusap punggung Inka dengan sayang.
Latihan tadi memang cukup menguras tenaga dan air mata. Beruntung Bella bisa tetap fokus untuk menyelesaikan setiap dialog yang dihafalnya.
“Wuhuu Kereeenn Bell!!!” Indra mengangkat tangannya ke udara, mengajak Bella tos.
“Makasih bang.” Bella membalasnya seraya tersenyum lega. Indra mencengkram jemarinya dengan erat sambil menggungcang-guncang tangan Bella, penuh kebanggan.
Bella bisa menghela nafas lega setelah akhirnya ia bisa menyelesaikan tantangan Jihan yang kini berjalan mendekat di belakang Devan.
Tiba di hadapan Bella, Devan langsung menyodorkan sebotol minum air mineral dan selembar tisue untuk Bella.
“Good job.” Ucapnya dengan penuh rasa bangga.
“Thanks you.” Bella terangguk takzim. Ia menerima dua benda yang disodorkan Devan tersebut. Laki-laki ini memang selalu tahu apa yang Bella butuhkan saat ini.
Meneguknya perlahan untuk meloloskan sensasi globus di lehernya karena terlalu sering beradegan menahan tangis selama latihan.
Melihat Bella yang telah menyelesaikan pekerjaannya, Devan jadi tercenung. Untuk kesekian kalinya ia kembali mengagumi gadis alpha dihadapannya.
"Keyakinan lo bener, Bella kuat." Puji Indra seraya memandangi Bella dan Devan bergantian.
Devan tersenyum kecil mendengar pujian Indra bahwa keyakinannya pada Bella tidak salah.
"Gue akan melindungi Bella, melindungi dia dari rasa takut untuk membuat pilihan. Dia bebas melakukan apapun karena gue yakin dia punya rasa tanggung jawab yang tinggi dan pertimbangan resiko yang matang atas pilihan yang dia ambil. Gue cukup menjadi support system-nya." Kalimat Devan itu yang kembali terngiang di telinga Indra beberapa waktu lalu. Dan dia benar-benar memenuhi perannya.
Indra jadi ikut memandangi Bella. Seorang Bella yang memang setelan pabriknya begitu, terbiasa berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri terlebih itu adalah sebuah tantangan. Terkadang ia malas berdebat panjang dan memilih fokus menyelesaikan apa yang bisa ia lakukan. Ia seperti tidak mengenal rasa takut dan ragu. Segala sesuatu dihadapinya dengan berani termasuk saat ia harus berperang dengan dirinya sendiri.
Namun, bukan berarti ia tidak membutuhkan bantuan orang lain. Ia hanya terbiasa, ketika tersudut ia seolah dipaksa untuk punya prinsip untuk meng-upgrade dirinya sendiri lewat masalah yang dihadapinya.
Sepertinya di pikirannya saat itu, kalau bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, mengapa harus merepotkan orang lain? Mengapa harus membuat orang lain berdebat untuk membela dirinya dan menyulitkan orang lain?
Bella yang kini tengah meneguk minumannya adalah wanita yang sangat mengapresiasi usaha orang lain. Matanya selalu berbinar penuh atensi saat ia melihat seseorang yang ada di sekitarnya menunjukkan inisiatif untuk membantunya dan berusaha memahami posisinya.
Dia unik, ia kerap tertegun saat melihat usaha seseorang untuk membantu dan memahaminya, seperti yang kini tengah dilakukan Devan. Bella mungkin tidak familiar dengan istilah di bantu tapi Devan selalu menunjukkan hal itu hingga Bella mulai terbiasa melihat itu dari Devan. Devan men-treat-nya dengan tepat walau hanya lewat sebotol minum air mineral dan selembar tisue.
Lihat saja helaan nafas leganya saat ia menatap Devan. Wajah sendu saat ia ber-acting tadi pudar begitu saja berganti senyuman manis ibarat matahari yang malu-malu terbit di ufuk timur. Indra semakin yakin bahwa cepat atau lambat seorang alpha seperti Bella akan jatuh ke tangan lelaki dengan "Act of service" terlebih ia tulus seperti Devan. Hanya perlu menunggu waktu saja.
“Waw, ternyata kamu memiliki bakat terpendam Bell.” Puji Jihan saat tiba di hadapan Bella. Ia bertepuk tangan santai mengapresiasi hasil kerja Bella. Perhatian orang-orang pun kini tertuju pada sang produser.
“Terima kasih mba. Tapi saya masih harus banyak belajar mba.” Sahut Bella yang tersenyum tipis.
Jujur, dari lubuk hatinya yang paling dalam Bella ingin mengucapkan terima kasih karena tantangan Jihan tadi justru membuat Bella mengenali perasaannya sendiri. Perasaan takut yang pada akhirnya berani untuk ia hadapi.
“Gimana, mba Jihan udah puas kan ngeliat langsung profesionalitas Bella?” Tanya Inka dengan sinis. Ia tahu persis intrik Jihan dengan meminta Bella menjadi partner latihan Rangga.
Selama latihan, Inka melihat Jihan yang tidak terlalu memperhatikan acting Bella dan Rangga. Ia lebih asyik memperhatikan perubahan ekspresi Devan yang sebenarnya lurus-lurus saja.
“Dia salah sasaran.” Batin Inka yang tersenyum sinis pada Jihan.
“Loh, saya tidak mempertanyakan profesionalitas Bella kok. Saya memang memerlukan bantuan Bella untuk memancing emosi Rangga. Bagaimanapun, kalian pernah punya cerita di masa lalu ya sedikit banyak itu bisa memberi gambaran dong. Dan buktinya berhasil kan?” Terang Jihan tanpa rasa canggung membahas luka lama orang lain di hadapan banyak orang.
“Yakin, itu tujuan mba Jihan?” Sinis Inka.
“Heish!!” Roni segera menepuk bahu Inka agar tidak meneruskan kalimatnya.
Jihan hanya mengendikkan bahunya acuh melihat tatapan sinis Inka. Ia berusaha terlihat tenang walau sebenarnya ia menyimpan kemarahan karena ternyata usahanya gagal. Devan tidak terusik sama sekali, malah semakin intens memperhatikan Bella.
“Bukankah harusnya laki-laki itu cemburu dan bertengkar dengan Bella? Kenapa dia tenang-tenang saja?” Batin Jihan saat melirik Devan.
Tanpa ia tahu kalau sebenarnya perasaan Devan bergejolak saat melihat adegan Bella dan Rangga tadi. Ada banyak ketakutan jika mungkin Bella kembali depresi dan terjatuh. Itu yang ia cemaskan saat melihat Bella beracting. Ia tidak terpancing sedikitpun dengan usaha Jihan membuatnya kecewa pada Bella karena mengiyakan permintaan Jihan. Ia menaruh kepercayaan penuh pada Bella, ia yakin kalau gadis itu bisa melakukannya dengan cara yang benar.
Dan memang terbukti sesuai dugaan Devan.
“Ya udah, sekarang kita break dulu. Setengah jam lagi kita ambil adegan yang sesungguhnya. Ngomong-ngomong, makasih ya Bell atas bantuannya. Sorry kalau bikin lo gak nyaman.” Indra berusaha menetralisir keadaan.
“Sama-sama bang.” Timpal Bella seraya menghembuskan nafasnya lega.
Sekali waktu ia pun menoleh Rangga yang tertegun di tempatnya, menatap Bella dengan tatapan yang tidak bisa Bella uraikan. Ada apa dengan lelaki itu?
****
Pada satu titik langkahnya terhenti. Ia termenung cukup dalam,
“Tunggu, apa perasaan Rangga untuk Bella juga sedalam yang ia tunjukkan saat ber-acting tadi?” Batinnya dengan wajah cemas.
Bagaimana kalau Rangga bener-benar berpikir untuk kembali pada Bella? Apa yang harus ia lakukan?
"Akh sial!" Amara benar-benar gelisah. Ia menghampiri meja riasnya dan memandangi wajahnya.
“Tenang Ara, dandanan lo jauh lebih menyegarkan di banding Bella.” Ia menyisir rambutnya agar tetap rapi. Di polesnya lagi bibir tipis itu dengan lipstick merah merona, warna kesukaan Rangga.
“Walau Bella kurusan, body lo tetap menang. Gue menarik memakai baju kayak gini. Dan Bella, mana berani dia pake baju seksi kayak gini?” Lagi Amara bergumam. Ia tersenyum sinis walau tidak bisa menyembunyikan sepenuhnya gurat kekhawatiran di wajahnya.
“Gue juga udah ngasih semuanya sama Rangga. Mana mungkin dia kepikiran buat balik lagi sama Bella.” Amara berusaha menghibur dirinya sendiri yang ketar-ketir.
Ia tersenyum puas pada bayangan dirinya di cermin namun kemudian wajahnya berubah resah.
“Rangga gak akan berusaha balik lagi sama Bella kan?” Untuk ke sekian kalinya ia bertanya pada dirinya sendiri. Entah mengapa ia jadi begitu takut.
“Jihan, ya ini gara-gara Jihan. Dia yang sok-sok-an nyuruh Bella buat jadi temen latihan Rangga. Sial, gue harus nemuin perempuan itu.” Gumam Amara yang mengeram kesal penuh kemarahan.
Ia segera keluar dari ruangannya dan pergi mencari Jihan. Di kejauhan ia melihat Jihan yang sedang berbincang dengan Lisa. Entah apa yang mereka perbincangkan. Cepat-cepat Amara menghampiri wanita itu.
“Mba Jihan, kita perlu bicara.” Ucap Amara dengan tergesa-gesa.
“Ya, tentang apa?” Tanya Jihan dengan santai.
“Ada apa Ra?” Lisa ikut bertanya. Menurutnya cara bicara Amara terlalu berani pada Jihan.
“Bukan urusan lo. Pergi sana!” Sinisnya pada Lisa.
Lisa hanya menggeleng melihat sikap Amara, sekali lalu ia pamit pada Jihan dan pergi meninggalkan dua wanita ini.
“Okey, apa yang mau kamu bicarakan?” Tanya Jihan langsung pada intinya. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, menunggu Amara menyampaikan maksudnya.
“Apa maksud mba Jihan tadi? APA MAKSUD MBA JIHAN MINTA BELLA LATIHAN SAMA RANGGA?!” Suara Amara meninggi tidak terkontrol. Matanya membulat kesal dengan tangan yang mengepal menahan marah.
Jihan hanya tersenyum kecil melihat tingkah Amara. Sepertinya Amara kebakaran jenggot karena acting Rangga dan Bella tadi benar-benar berhasil.
“Kenapa, kamu takut tergeser lagi?” Tanya Jihan dengan senyuman sinis di ujung kalimatnya.
“Apa maksud mba Jihan? Mba Jihan sengaja kan ngelakuin ini? Mba Jihan lupa sama perjanjian kita?” Amara semakin tidak terima.
“Hey! Jaga sikap kamu!” Jihan tidak terima dengan cara Amara mengintrogasi dan mengintimidasinya. Baginya tidak ada yang boleh bersikap melewati batas seperti ini terhadapnya.
Amara berusaha mengendalikan emosinya saat melihat Jihan yang tampak tidak terima. ia belum sehebat itu untuk menentang Jihan.
“Kamu tau Amara, cara kamu selama ini tidak ada yang berhasil. Kamu payah.” Ujar Jihan seraya mencondongkan tubuhnya pada Amara dan berbisik sinis di ujung kalimatnya.
“Apa maksud mba Jihan? Saya sudah berusaha melakukan tugas saya dengan berusaha menjatuhkan mental Bella. Saya juga sudah berusaha memberi jalan pada setiap laki-laki yang tertarik pada Bella untuk mendekatinya. Saya sudah melakukan tugas saya. Tapi apa yang mba jihan lakukan, mba Jihan malah buka lagi celah untuk Rangga dan Bella. Siapa yang sebenarnya payah?!” Ujar Amara tidak terima.
“Eh, jaga mulut kamu. Kamu harus tau kamu sedang berbicara dengan siapa!” Mata Jihan membulat tidak terima.
“Kamu sadar Ara, semua usaha kamu itu gagal. Tidak ada hasilnya. Dan kalau kemudian Rangga berpikir untuk balik lagi sama Bella, ya itu karena ketidakmampuan kamu mempertahankan Rangga. Tidak ada urusannya sama saya.” Dengan mudah Jihan mengelak.
“Jadi, mulai sekarang, saya akan melakukan dengan cara saya sendiri. Dan kamu, urus saja urusan kamu. Sepertinya kamu mulai kerepotan.” Tegas Jihan yang memandangi Amara dengan sinis dari atas hingga bawah.
“SIAL!!” Amara hanya bisa mengumpat dalam hati.
Kalau saja Jihan tidak mengancamnya untuk membeberkan latar belakang keluarganya, ia tidak akan sudi untuk membuat kesepakatan dengan wanita licik seperti Jihan.
“Gimana, udah mulai sadar?” Tanya Jihan setengah meledek ekspresi kesal Amara yang terpaksa ia telan kembali.
Amara tidak menimpali. Ia memilih pergi dari hadapan Jihan yang selalu memandangnya rendah.
“Hah, anak anjing memang gonggongannya saja yang keras. Tapi nyalinya nol besar.” Ujar Jihan yang tersenyum penuh kemenangan melihat Amara pergi dengan kesal.
Tugasnya sekarang adalah memastikan jalan untuk ia mendekat pada Devan semakin lurus dan lancar tanpa hambatan. Ia yakin, dalam satu bulan ini Devan bisa jatuh dalam pelukannya.
Ada yang berani bertaruh?
*****
Mau lanjut tapi jangan lupa like comment dan votenya dulu yaa...
Terima kasih