Bella's Script

Bella's Script
Demi PH



Perjalanan menuju kantor Bella di isi dengan keheningan. Bella asyik berbalas pesan di ponselnya. Sesekali ia tersenyum dan seringnya mengernyitkan dahi. Sementara, Devan tetap fokus dengan jalanan yang dilewatinya.


Lampu merah terakhir membuat perjalanan mereka terhenti. Suara deringan ponsel milik Devan terus terdengar, namun sepertinya laki-laki ini tidak berniat menjawabnya.


Perhatian Bella jadi teralihkan pada layar ponsel yang menyala dan hanya menampaknya nomor seseorang tanpa ada nama yang tertulis.


“Jawab dulu kek, berisik banget tau.” Sengit Bella setelah deringan kedua pun di abaikan Devan .


“Gak penting.” Sahut Devan pendek.


Bella menghembuskan nafasnya kasar, fokusnya berbalas pesan benar-benar sudah rusak.


“Kalau orang ngehubungin lo, apalagi sampe berkali-kali, ya berarti penting. Terlepas itu pentingnya buat lo atau pun buat dia doang. Tetep harus lo jawab.” Timpal Bella dengan berapi-api.


“Egois banget dong kalau pentingnya buat dia doang dan gue di paksa harus jawab.” Sahut Devan seraya memalingkan wajahnya ke luar jendela.


Lampu sudah hijau dan ia sudah harus menginjak pedal gas.


“Gak kitu konsepnya dodol.” Bella tidak mau kalah.


“Lo udah ngejustifikasi orang sebelum lo tau alasan orang lain. Pikiran seperti itu yang lebih egois.” Imbuhnya.


“Maksud lo sekarang gue yang di justifikasi egois cuma gegara gak mau jawab telpon?” pertanyaan Devan ternyata membuat Bella hanya mampu membuka mulut tanpa bersuara.


Devan tersenyum tipis, ternyata bisa juga membuat Bella tidak menimpali kata-katanya. Tapi tidak seru juga kalau Bella langsung diam begitu pikirnya.


“Lagian, gue lagi nyetir. Gak boleh jawab telepon sambil nyetir. Itu ada di Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), tepatnya pada Pasal 106 ayat (1) yang berbunyi: ”


“Cukup! udah cukup!!" sekalinya bicara langsung mengeluarkan produk hukum, membuat kesal saja.


"Helooo, lo dari abad mana sih? Zaman sekarang itu, ada teknologi namanya headset, headphone atau sound system untuk mobil yang bisa bikin lo jawab telpon meski lagi nyetir. Atau perlu gue pegangin telponnya?” ledek Bella.


“Tapi semua teknologi itu gak bikin perhatian kita tidak beralih kan?” ada saja jawaban Devan, sepertinya laki-laki ini memang berniat untuk berdebat dengan Bella.


“Ya kalau lo ngerasa perhatian lo teralihkan, lo kan bisa minggir dulu. Jawab dulu telponnya, halaaawww, maaf dengan siapa yaaa? Ada yang bisa saya bantu? Mohon maaf saya sedang menyetir, saya hubungi lagi nanti yaaa... Gampang kan?” ujar Bella beruntun.


“Dan bikin lo kesiangan?” sela Devan seraya menoleh Bella dan beberapa saat menatapnya.


Bella kembali kehabisan kata-kata. “Are you serius?” tanyanya seraya terkekeh.


“Lo gak jawab telpon cuma karena takut gue telat gitu?” lanjutnya dengan tidak percaya.


Devan menggeleng. “Menuhin janji buat nganter lo dengan selamat, itu yang lebih penting.” Tegas Devan.


Bella kembali tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.


“Janji, ohh janji yaa...” lirih Bella seraya menatap Devan.


Tiba di gerbang kantor, mobil Devan berhenti. Mereka sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing.


“Perlu gue ingetin gak, kalau dulu lo pernah bikin janji sama gue tapi sampe sekarang gak keliatan tuh lo ngerasa bersalah ngelanggar janji, bahkan lo gak terlihat berniat buat minta maaf.” Ucap Bella dengan sungguh-sungguh.


Untuk beberapa saat ia menatap lekat Devan, melihat manik hitam yang tajam dan tidak asing baginya. Laki-laki itu memalingkan wajahnya.


“Apa perlu waktu belasan tahun sampe lo sadar kalau  janji itu penting?” tandas Bella.


Devan hanya terdiam. Untuk beberapa saat saja ia membalas tatapan Bella yang menunjukkan kekecewaan sebelum akhirnya memilih melihat ke arah lain.


Akhirnya Bella hanya tersenyum tipis.


“Makasih buat tumpangannya. Lo gak perlu janji buat jemput gue sore nanti, gue bisa janji kalau gue bakal pulang dengan selamat tanpa perlu ngerepotin lo.” Tegasnya. Ia memberi penegasan kata pada setiap kata “Janji” yang ia ucapkan.


Lantas Bella turun dari mobil dan “Brak!” ia menutup pintu mobil dengan cukup keras.


Devan masih terdiam di tempatnya. Memandangi Bella yang berjalan cepat ke kantornya. Di depan pintu masuk wanita itu berhenti sejenak. Mungkin menghela nafas untuk menetralisir suasana hatinya.


Dan di tempatnya, ada rasa tidak nyaman yang di rasakan Devan saat Bella membahas janji. Kenangan lama seperti bersiap untuk dibuka kembali dan kali ini mungkin tidak akan pernah bisa di tutup karena ia tepat berada di dekat seseorang yang pernah ia beri janji di masa lalu.


Lantas apa kali ini ia tidak boleh menjanjikan sesuatu agar orang lain tidak pernah kecewa terhadapnya?


*****


POV Bella


Aku masih tidak habis pikir dengan laki-laki yang mengantarku pagi ini. Ya Devan.


Kalau mengingat namanya, aaarrgghhhh rasanya aku masih sangat marah pada laki-laki itu. Bukan saat ini saja, tapi sejak dulu.


“Temen abang akan pulang ke rumah kita, gue yakin lo juga bakal seneng.” Ucapan bang Ozi beberapa hari lalu memang benar adanya.


Akan ada seseorang yang pulang ke rumah kami dan katanya akan tinggal beberapa lama di rumah kami sebelum bang Ozi yakin kalau temannya itu bisa tinggal sendiri dengan nyaman.


Hah, pulang?


Hahaha.. Rasanya Aku ingin tertawa sinis mendengar kata itu. Pulang itu buatku adalah kembalinya seseorang yang memiliki rumah yang sempat dia tinggalkan dan datang dengan segala kerinduannya pada rumah.


Dan seorang Devan, buatku bukanlah pulang. Pulang itu harus punya tempat yang di tuju dan dia tidak punya. Rumah kami tidak bisa di sebut rumah buat orang seperti dia yang bisa datang dan pergi sesuka hati tanpa pamit dan permisi.


Lagi pula, dia bukan datang dengan segala kerinduan yang dibawanya, melainkan datang dengan penuh keasingan.


Aaarrrgggg!!! Rasanya Aku ingin marah saat melihat wajah berkarakter maskulin itu di hadapanku. Kenapa tidak ada tanda-tanda kalau dia menyesal pernah pergi seenaknya? Aku sampai tidak habis pikir.


“BELSKY!!!!!!”


Astaga! Aku sampai terlonjak saat suara Inka begitu keras di dekat telingaku.


“Apaan sih?! Ngomong pelan dikit bisa kali!” sengitku kesal.


“Yeeeyyy ya lagian gue panggil dari tadi lo diem aja. Malah natap chat sama bang Romi yang terus lo ketik tapi gak lo kirim juga.” Protes Inka ikut kesal.


Aku baru sadar, kalau sejak tadi aku terus typing, membalas pesan bang Romi, kembaran bang Roni ini. Beginilah buka chat di komputer, semua terpampang nyata dan jelas. Inka pun bisa membacanya.


“Iya sory, gue lagi banyak pikiran.” Aku tutup layar komputerku supaya fokus pada Inka.


“Mikirin apa sih, serius banget?” Inka menunjuk dahiku yang selalu berkerut saat berpikir dengan serius. Ia memijatnya perlahan untuk membuyarkan kerutan di dahiku.


“Cuma beberapa kerjaan. Ada apa?” Aku menghela nafas cukup dalam untuk menetralisir perasaanku yang tidak menentu.


“Ini, property baju yang kita pesen kemaren, udah ready. Tapi katanya orangnya gak bisa nganter ke sini. Apa kita pake kurir aja gitu?” mengadu dan langsung memberi solusi memang kebiasaan Inka si cekatan.


“Biaya pengirimannya, siapa yang nanggung?” kalau soal pengeluaran Aku memang sensitive.


“Ya gue bakal minta ke mereka lah, karena kita  belanjanya banyak. Wajib di tanggung mereka!” Inka menjawab dengan penuh percaya diri.


Kami memang sama-sama perhitungan masalah biaya produksi, karena ini harus di pertanggung jawabkan sama Bos kami nantinya.


“Bukan karena kita belanja banyak ka, tapi karena kita minta titik pengirimannya sampe kantor. Kalau masalahnya mereka gak bisa ngirim karena trouble mereka, ya harus jadi tanggung jawab mereka itu barang-barang sampe di sini dengan selamat.”


“Tanpa kurang satu apapun.” Inka melengkapi kalimatku.


“Gue setuju!” imbuhnya sambil mengacungkan jempol.


“Kalau gitu, gue hubungin lagi tuh orang supaya nganter barang dengan selamat sampe sini.” Tidak lupa ia pun menepuk lembut pundakku sebelum pergi.


“Okey, thanks.” Sahutku.


“It’s my job bestie.” Bisa saja dia menimpali.


Aku hanya tersenyum tipis melihat tingkah Inka. Ia langsung melakukan apa yang dia rencanakan, menelpon distributor barang yang kami pesan.


Tetiba perhatianku teralihkan pada notifikasi pesan masuk di chat-ku.


“Bell, ke ruangan saya sebentar. Ada yang perlu kita diskusikan.” Rupanya pesan itu dari pak Eko.


“Baik pak.” Balasku refleks. Aku memang tidak suka melihat notif pesan masuk yang belum aku baca.


Ku ambil ipad-ku beserta handphone. “Ke ruangan pak eko dulu bentar.” Bisikku pada Inka yang masih bertelepon.


Gadis itu hanya mengangguk sambil mengacungkan ibu jarinya tanda setuju.


Di ruangan pak Eko sudah ada beberapa orang produksi yang hadir.


“Misi pak.” Izinku pada pak Eko.


“Iya bel, masuk..” seperti biasa pak Eko menepuk tempat di dekatnya, tempat biasa Aku duduk.


“Makasih pak.”


“Kita mulai aja yaa…” suara pak Eko terdengar serius membuat kami langsung mengangguk sepakat.


“Sinetron kita yang saat ini di garap oleh adit, akan segera bungkus. Dan produser kita, merasa rating sinetron kali ini tidak terlalu bagus. Katanya alur terlalu bisa di tebak. Saya harap, kita bisa mulai membicarakan untuk proyek berikutnya.”


Nafas pak Eko terdengar berat. Ia menatap kami satu per satu seperti meminta dukungan.


Salah satu resiko saat rating program kami tidak terlalu bagus adalah kami akan kehilangan banyak investor dan penawaran kerjasama dari beberapa iklan brand terkenal. Hal ini tentu saja membuat kami harus berpikir keras tentang biaya saat akan memulai proyek berikutnya.


Tidak bisa di pungkiri, sebelum kami bisa mendapatkan rating yang baik, biaya produksi program kami akan sangat besar dan itu menjadi tanggung jawab PH untuk mempertahankan kelangsungan proyek kami yang lainnya. Maka tentu ini sangat mengganggu pikiran pak Eko juga tim, termasuk Aku.


“Selain itu, salah satu sutradara kita juga akan lepas akhir bulan ini karena masalah kesehatan, tapi untungnya saya sudah mendapatkan jawaban dari salah satu rekanan untuk rekomendasi sutradara baru.” Kami sedikit bisa bernafas lega bersamaan.


“Dia memang masih muda tapi track record-nya sangat baik. Hanya perlu beradaptasi dengan system kerja kita. Dan Bell,” beliau langsung menatapku.


“Ya pak?” laki-laki paruh baya itu menatapku lekat untuk beberapa saat seperti ingin mengatakan sesuatu tapi ragu.


“Ada yang bisa saya bantu?” mungkin dengan begini pak Eko bisa langsung terbuka.


Sejenak ia mengalihkan pandangannya pada Melisa dan wanita itu tertunduk. Aku tidak terlalu mengerti apa arti tatapan mereka, mungkin mereka sudah berbincang sebelumnya.


“Ada ide cerita baru gak buat program sinetron?” deg, aku memang sudah menduganya dan hanya bisa membuatku tersenyum.


Aku toleh Melisa dan dia balas menatapku dengan berusaha tenang.


Memang selalu seperti ini. Saat Melisa sang script writer kehabisan ide, Pak Eko akan meminta ideku. Sebuah sinopsis lengkap dengan plot biasanya dan kemudian akan di kembangkan oleh Melisa.


Sebenarnya Aku selalu merasa tercuri, terlebih saat cerita yang Aku buat ternyata tidak sesuai dengan pengembangan yang di buat Melisa.


Tujuan Melisa adalah mendramakan alur yang aku buat sementara aku menginginkan makna dari setiap alur cerita yang Aku buat bukan sekedar romansa.


Tapi lagi, Aku terlalu mencintai PH ini hingga semua yang bisa Aku lakukan untuk berkontribusi di PH ini akan Aku lakukan. Meski harus dengan sukarela Aku memberikan alur ceritaku. Orang-orang mengetahui cerita itu sebagai buatan Melisa dan Aku cukup tutup mulut setelah mendapat seperlima royalty.


Ya, hal ini yang selalu terjadi.


“Ada pak.” Akuku.


Otakku yang suka menghalu dan jemariku yang tidak bisa diam, seperti kombinasi yang tepat untuk menghasilkan sebuah karya cerita yang bisa laku di jual.


“Okey!” pak Eko langsung kembali semangat. Lihat saja senyumnya yang terkembang saat menatapku.


Sementara Melisa, akh sudahlah. Dia sepertinya sangat membenciku sekarang.


Otakmu yang mentok, kenapa Aku yang salah?


*****