
“AAWWHH SH**TTTT!!!!” Dengus Ozi saat merasakan kembali sakit yang hebat di kepalanya.
Ia membenamkan kepalanya di bawah bantal seraya mencengkram kuat bantal itu. Wajahnya sampai memerah dengan pembuluh darah di dahinya yang menonjol jelas di permukaan kulitnya.
Wajahnya merah padam, ia meringis kesakitan merasakan nyeri yang teramat hebat.
“AARRGGHH!!!!” Rasanya ia ingin berteriak sejadinya sambil berguling-guling di Kasur melampiaskan rasa sakitnya.
Apa ia akan mati sekarang?
Begitu pikir Ozi.
Satu tangannya mencengkram kepala sementara satu tangan lainnya berusaha menggapai obat yang ia taruh di atas meja samping tempat tidurnya. Susah payah ia menggeser tubuhnya ke tepian tempat tidur, melawan kekakuan kaki yang semakin menjadi.
Saat serangan di kepalanya itu datang, kedua kakinya memang selalu kaku. Seperti orang lumpuh yang terkadang kakinya terasa berat hingga kebas tanpa rasa.
Ozi masih berusaha menggeser tubuhnya hingga,
“BRUK!!!!” Ia terjatuh dari atas tempat tidur.
“AWWHH!!” Ia hanya bisa mengaduh saat punggungnya menghantam lantai dengan keras. Sangat nyeri.
Tubuhnya sampai melengkung dengan kedua lutut yang sampai ke dada. Sulit sekali menahan rasa sakit di kepalanya.
Matanya yang merah kini sudah berair. Dengan sisa tenaga ia berusaha meraih botol obat yang malah terjatuh dan membuat obat jereda sakit itu jatuh berserakan.
Satu per satu ia punguti obat itu dan menelan 3 butir obat sekaligus tapi seperti masih ada sisa obat yang mengganjal di tenggorokannya.
Sekalipun sudah tertelan, efeknya memang tidak langsung terasa. Perlu waktu beberapa saat sampai kemudian obat itu berreaksi.
Ozi masih berusaha untuk bangkit dengan tubuhnya yang lemas. Ia bersandar pada lemari kecil seraya berusaha mengatur ritme nafas dan air liur yang begitu sulit untuk ia telan.
Nafasnya masih terengah dengan rasa sakit yang belum juga reda.
Hampir sekitar satu jam Ozi duduk di lantai bersandar dengan lemah. Ia memandangi tablet putih yang berserakan dan coba ia kumpulkan. Setelah rasa sakit di kepalanya sedikit berkurang, ia berusaha untuk bangkit. Berpindah ke atas tempat tidur dan membaringkan tubuhnya di sana.
Ia berpikir mungkin kematiannya sudah semakin dekat. Tidak lama lagi ia akan meninggalkan Bella dan Saras.
Perlahan air mata menetes dari mata Ozi yang merah. Selemah ini ia sekarang. Tangannya gemetaran dan kakinya yang kaku untuk melangkah. Jika kemudian ia pergi, siapa yang akan menjaga Bella dan Saras? Bagaimana kalau Bella kembali terpuruk. Apa ia akan tenang di atas sana?
Ozi hanya bisa menangis sesegukan sambil menunduk. Semenakutkan itu jika kemudian ia pergi saat belum siap. Cukup lama Ozi termenung meratapi dirinya sendiri.
Setelah mulai tenang, Ozi menyalakan ponselnya. Membuka-buka gallery ponsel dan melihat banyak foto di sana.
Satu foto yang paling menarik untuknya adalah foto yang sempat di kirimkan Inka dulu. Foto saat Bella sedang beristirahat di salah satu sudut favoritnya di PH. Gadis itu menengadahkan wajahnya, memandangi bunga morning glory yang tumbuh merambat. Cahaya matahari menerangi wajahnya yang ceria. Bibirnya tersenyum dengan binar mata yang indah.
Kakinya ia celupkan ke dalam kolam renang dan tidak lupa ada headset yang melingkar di atas kepalanya, menutupi pendengarannya.
Bella tampak tenang. Ketenangan yang tidak di lihatnya beberapa hari ini. Dan ia tahu benar, apa yang membuat Bella tidak tenang belakangan ini.
“Apa sebenarnya mau lo?” Tanya Ozi saat ia menemui Amara siang tadi.
Setelah melihat tayangan konfrensi pers film, perasaannya tidak tenang. Ia benar-benar tidak menyangka kalau Amaralah yang berusaha untuk menghancurkan Bella dengan cara yang licik dan jahat. Ia seperti tidak mengenali wanita yang duduk dengan anggun di samping Rangga yang selalu menggenggam tangannya dan bersandar manja.
“Emang lo pikir apa yang gue mau? Gue kan cuma ngelakuin yang lo mau bang. Misahin Bella sama Rangga. Itu aja.” Sahut Amara dengan tenang.
Ia bahkan mengangguk-angguk yakin di ujung kalimatnya saat melihat ekspresi kesal Ozi padanya.
“Lo udah kebangetan Ra. Gue gak pernah minta lo nyakitin Bella. Gue cuma minta lo untuk bantu gue nyadarin Bella kalau Rangga itu gak cocok buat dia.” Ucap Ozi, pelan namun penuh penekanan.
“Loh, emang itu yang gue lakuin. Gue coba bikin dia sadar. Tapi gue kan punya cara sendiri bang. Sama seperti cara yang lo lakuin waktu nyadarin gue kalau nyokap gue cuma aib buat gue!” tegas Amara dengan mata membulat marah.
Rupanya gadis ini masih mengingat bagaimana dulu Ozi membawanya keluar dari rumah karena Amara selalu mendapatkan perlakuan kasar dari ibu dan laki-laki yang menjadi teman bermalam ibunya.
Apa sebenarnya Amara tidak menerima usaha Ozi untuk melindunginya? Apa ia lebih suka mendapat perlakuan kasar juga pelecehan dari laki-laki yang datang ke rumah ibunya?
“Gue tau lo sedih. Gue juga tau lo sakit Ra. Tapi tinggal sama mereka, gak akan bisa bikin hidup lo tenang! Lo akan terus di siksa. Di kasih pemahaman negative tentang diri lo. Padahal lo gak kayak gitu Ra."
"Gue akan ngelindungin lo. Lo harus pergi sejauh mungkin dari mereka. Hem?” Ucap Ozi saat meyakinkan Amara agar keluar dari rumah.
Sambil menangis Amara menurut pada Ozi tapi siapa sangka, beberapa hari setelah Amara keluar dari rumah, ibunya di temukan tidak bernyawa di sebuah kamar hotel.
Kenyataan itukah yang belum bisa Amara terima?
“Lo harus tau, salah satu bagian dari di paksa pergi dari yang orang kita sayangi adalah trauma. Dan salah lo gak memperkirakan itu bakalan terjadi sama Bella.” Ekspresi Amara jelas mencibir. Lihat saja senyumnya yang sinis.
“BRAK!!!” Ozi memukul meja di hadapan mereka membuat banyak pasang mata di café menatap keduanya.
“Apa sih yang gak gue lakuin buat lo?" Sambil memainkan kuku ia bertanya dengan santai pada Ozi.
Meniup kukunya yang panjang dan cantik lantas memandangi jemarinya yang lentik. Puas memandangi keindahan salah satu anggota tubuhnya, ia kembali menatap Ozi.
"Gue lakuin semua yang lo mau. Gue laporin semua yang dilakuin Rangga dan Bella. Gue udah berusaha ngasih tau dia pelan-pelan kalau lo sama nyokap lo gak akan bisa nerima Rangga. Gue juga berusaha merusak semua kemungkinan moment manis Bella sama Rangga. Tapi Bella terlalu bebal. Dia keras kepala. Dia gak akan percaya pada apapun yang lo dan gue omongin sebelum dia ngeliat dengan mata kepalanya sendiri.”
“Dan lo tau,” Amara mencondongkan tubuhnya pada Ozi.
“Setelah liat Rangga tidur sama gue pun dia masih bilang kalau dia bisa maafin Rangga dan bisa ngelupain semuanya. Adek lo murah juga ternyata. Eh, ups!” Bisik Amara dengan senyum terkekeh di ujung kalimatnya.
Ozi hanya bisa mengeram kesal mendengar ucapan Amara. Menatap gadis itu dengan tajam dan Amara hanya mengendikkan bahunya acuh seraya kembali bersandar pada sandaran kursi.
“Karena gue udah sempet bikin dia nangis, anggap ajalah kita impas. Lo gak perlu berterima kasih karena gue uda bantu lo misahin mereka. Hem?” Imbuh Amara dengan acuh.
“Lo sakit Ra!” Dengus Ozi dengan penuh penekanan.
Mata merahnya menatap Amara dengan tajam seperti hendak mencabik-cabik wajah cantiknya yang menunjukkan ekspresi polos.
Wanita itu hanya tersenyum tipis, meneguk minumannya dengan santai lantas pergi meninggalkan Ozi dalam kekesalannya.
“Gue yang traktir.” Kalimat itu di ucapkan Amara sebelum melenggang pergi dan memakai kacamata hitamnya.
“SH*TTT!!” Dengus Ozi.
Kalau saja Amara bukan seorang Wanita, mungkin ia sudah menghajar Amara hingga babak belur.
Ozi sadar, beberapa hal yang Amara ucapkan memang benar adanya. Ia meminta Amara melaporkan apa yang di lakukan Rangga dan Bella. Terutama yang di lakukan Rangga di belakang Bella. Lihat saja deretan pesan laporan yang di kirim Amara padanya.
“Rangga nyamperin Bella ke PH.”
“Mereka lagi ngedate.”
“Adek lo di cium Rangga, awas di makan, hahaha...”
“Rangga keceplosan bilang hubungan dia sama Bella terlalu berat.”
“Gue udah ngobrol sama Rangga, kayaknya dia belum ada pikiran buat nikahin Bella deh. Sorry.... Tapi ini good news kan sebenarnya?”
“Mereka lagi marahan.”
“Rangga bikin Bella nangis.”
“Bella kena pukul Rangga.”
“Lo harus liat Rangga gandeng cewek lain.”
Pesan ini di sertai foto. Foto Rangga menggenggam tangan wanita yang baru Ozi sadari ternyata itu tangan Amara. Kemarahan terlalu membutakan matanya.
“SHIT!!!” dengus Ozi sambil melempar ponselnya.
Benda pipih itu pun jatuh dan hancur berantakan di lantai. Entah berapa ribu baris pesan yang di kirimkan Amara padanya yang membuat ia semakin membenci hubungan Bella dengan Rangga. Terlalu banyak kecemasan yang ia rasakan setiap kali membaca pesan yang dikirim Amara.
Rupanya ia salah telah mempercayai Amara selama ini.
“Rangga gak akan dateng ke acara makan malam kalian. Kayaknya dia sibuk sama ceweknya.”
Pesan itu menjadi pesan terakhir yang di kirim Amara untuknya. Di lengkapi sebuah foto yang menunjukkan Rangga tengah terlelap di atas Ranjang dengan tubuh nyaris telanjang.
Akhirnya Ozi hanya bisa mengeram kesal. Rasanya ia ingin menghancurkan semua yang ada di hadapannya. Foto ia bersama Amara dan Bella masih tersusun rapi di atas meja. Dengan satu lemparan bantal,
“Praaankk!!!!”
Foto-foto itu berjatuhan dan hancur di lantai. Andai saja kamar Ozi tidak berada di lantai atas sendirian, mungkin Saras akan berlari menghampirinya saat mendengar kegaduhan itu.
Dengan sisa tenaganya, Ozi berusaha bangkit dari tempat tidur. Langkah kakinya yang gontai membawa ia untuk turun ke lantai 1.
Kamar Bella yang ia tuju saat ini. Ia berdiri di depan pintu dengan satu tangan bertumpu pada dinding kamar Bella. Ia menangis sendirian di sana. Mata merahnya kini basah dan ia tidak meneruskan langkahnya untuk masuk ke kamar Bella.
Nyalinya terlalu kecil untuk menemui Bella secara langsung.
Jujur, ekspresi tenang yang coba di tunjukkan Bella saat konfrensi pers malah membuatnya sesak. Ozi jatuh terjongkok di depan kamar Bella. Ia bersandar pada dinding kamar seraya menangkup wajahnya. Ia hanya berani sampai sini. Dan kini ia sendirian di sana. Menyesali apa yang sudah ia lakukan selama ini.
"Dek, apa maaf gue cukup buat nebus semua kesalahan gue?"
*****