Bella's Script

Bella's Script
Rasa berdebar



“Lo mau kemana?” tanya Niko saat melihat Rangga mengeluarkan motor sport-nya dari garasi. Ia pun sudah memakai helm lengkap dengan jacket kulit.


“Nyari angin. Lo mau ikut?” Tawarnya.


“Why not? Gue juga bosen dalem studio terus. Perlu liat yang bening-bening.” Sahut Niko sambil terkekeh.


Setelah pulang dari Surabaya, mereka memang belum ada kegiatan manggung lagi. Beberapa hari ini juga Rangga terlihat sering keluar rumah tanpa memberikan alasan yang jelas. Sementara Niko dan teman-temannya lebih banyak menghabiskan waktu di studio.


“Ada urusan.” Hanya itu jawaban Rangga saat di tanya mau kemana.


Niko merasa, ini waktu yang baik yang bisa ia gunakan untuk mencari tahu ada apa sebenarnya dengan sahabatnya.


Dengan motor sport itu mereka melintasi jalanan yang mulai sepi. Hanya beberapa kendaraan yang berpapasan dengan mereka dan saling bersahutan memberi tanda.


Warung kopi pinggir jalan yang di pilih Rangga saat ini. Warung kopi ini memang langganan ia dan teman-temannya kalau sedang ingin menghabiskan waktu.


“Punya lo.” Niko menaruh gelas kopi milik Rangga.


“Thanks.” Sahutnya. Ia masih memandangi nyala lampu yang ada di depan sana dengan pikiran yang entah tertaut kemana.


Niko duduk di sampingnya sambil menikmati wangi kopi yang menenangkannya.


“Gimana kabar lo sama Bella?” tanya Niko hati-hati.


Ia tahu benar kalau sahabatnya baru berbaikan dengan Bella setelah beberapa kali drama pura-pura sedang pergi dilakukan Rangga untuk menghindari Bella.


“Baik.” Sahutnya pelan. Ia ikut mengambil kopinya. Mencium aroma wangi dari biji hitam bubuk itu.


“Sorry kalau gue terkesan ikut campur tapi gue pikir gue perlu ngomong sebagai sahabat lo.” tiba-tiba saja Niko berbicara serius, membuat Rangga menolehnya sejenak tanpa protes.


“Lo sama Bella udah pacaran lama banget. Gue rasa lo harus mulai terbiasa menyesuaikan diri sama Bella. Dalam artian, secara pemikiran. Lo udah puas kan main-mainnya?” selidik Niko.


Rangga tidak lantas menjawab, ia memilih menyeruput minuman hitam pekat di tangannya dengan perlahan seperti otaknya tengah ikut menikmati rasa pahit itu.


“Lo tau Nik, omongan lo selalu bikin gue ngerasa kalau lo suka sama Bella.” Kali ini laki-laki itu tersenyum sinis.


“Lo selalu terlihat berusaha membuat perasaan Bella nyaman dengan nasihat-nasihat yang lo kasih lewat gue. Tanpa lo nanya, gimana perasaan gue.” Rangga menoleh sahabatnya yang kini terdiam menyimak pembicaraannya.


“Jujur sama gue, lo masih suka sama Bella kan?” tatapan Rangga terlihat penuh selidik.


“Ya, gue gak munafik, gue suka tipe perempuan kayak Bella.” Sahut Niko tanpa ragu, membuat Rangga berdecik sebal.


“Hanya saja, itu sebuah bentuk kekaguman doang bro, gak lebih. Gue selalu mikir kalau lo beruntung banget dapetin Bella. Dan soal gue ngasih nasihat sama lo, karena gue ngerasa lo udah jauh berbeda dari Rangga yang dulu. Rangga yang selalu ngehargain perempuan, terutama Bella. Gue khawatir lo nyesel kalau suatu waktu Bella capek sama sikap lo yang jadi acuh gini.” Tutur Niko dengan penuh kesungguhan.


Rangga tidak lagi menimpali. Ia hanya terdiam di tempatnya sambil memandangi layar ponselnya.


“Makasih sayang,..” tulis pesan yang muncul di notifikasi layar ponsel Rangga.


Niko tersenyum sinis melihat pesan yang tanpa sengaja terlihat olehnya. Kalau sudah ppesan dari orang itu, sudah pasti ada nominal uang yang di kirimkan Rangga pada orang tersebut.


******


“Iya, hahahahha… Lo bener banget. Waktu itu aja lo sampe gak mau makan cuma gara-gara naik satu ons doang. Jadi emang paling bener, jangan di timbang.” Suara Ozi yang terdengar jelas dari pintu kamarnya.


Sedari tadi ia asyik bertelepon dengan seorang wanita. Kalau di lihat dari cara bicara Ozi, sepertinya seseorang yang cukup dekat dengannya.


“Tok tok!” Bella mengetuk pelan pintu kamar Ozi.


Laki-laki itu segera menoleh. Bella memberi isyarat agar Ozi segera turun untuk makan dan Ozi hanya mengacungkan ibu jarinya sebagai jawaban.


Bella menikmati lebih dulu makan malamnya bersama Saras. Ia hanya makan salad yang dibuatnya sore tadi.


“Adek gak makan nasi?” tawar Saras, padahal ia sudah memasak makanan yang enak-enak.


“Nggak mah, ini aja.” Bella terlihat gelisah, tidak seperti biasanya.


“Adek kenapa?” di genggamnya tangan Bella yang berada di sisi mangkuk salad.


“Gak apa-apa mah, Cuma lagi banyak pikiran aja.”


“Oh iya, acara besok gimana konsepnya mah?” Bella mencoba mengalihkan pembicaraan.


Saras tersenyum kecil mendengar pertanyaan sang anak. Rasanya ia paham banyaknya pikiran Bella itu berasal dari mana.


“Adek gak usah cemas. Besok itu, mamah pengen bener-bener menikmati waktu mamah bersama keluarga.”


“Sejak papah pergi, kita sibuk sendiri-sendiri, pergi keluar pun kalau ada undangan keluarga aja. Nah sekarang, mamah mau menciptakan moment yang menyenangkan termasuk buka moment untuk mengenal laki-laki pilihan adek.” Terang Saras.


“Maksud mamah, mamah yakin mau ngasih kesempatan buat aku sama Rangga?” Bella masih tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


Ia masih ingat bagaimana 2 tahun lalu Saras menentang hubungannya dan berpikiran kalau Rangga hanya mempermainkannya. Sama persis dengan Ozi saat ini. Ia bahkan tidak terima dan berniat melaporkan Rangga ke Polisi saat tanpa sengaja melukai Bella.


Tapi waktu membuat Saras tersadar, kalau kebahagiaan putrinya lebih penting. Saras sudah lebih membuka diri namun Ozi masih tetap sama. Pandangannya terhadap Rangga selalu buruk. Paling tidak, hambatan dalam hubungannya jauh berkurang. Ia tidak perlu berbohong walau ujung-ujungnya ketahuan atau sembunyi-sembunyi saat Rangga mengantarnya pulang.


“Mamah ngasih kesempatan buat adek sama kepercayaan adek terhadap laki-laki yang adek cinta. Kalau ternyata pilihan adek masih nak Rangga, mamah bisa apa?” sahut Saras dengan bijak.


“Makasih banyak mah, makasih…. Adek sayang mamah.” Di peluknya Saras dari samping. Ia benar-benar tidak menyangka.


“Iya sayang sama-sama. Mamah juga udah ngomong sama abang buat ngasih kesempatan yang sama buat adek sama laki-laki pilihan adek. Tolong jangan kecewain lagi mamah sama abang yaa…” pesan Saras dengan sungguh.


“Iya mah, adek sama Rangga gak akan ngecewain lagi mamah sama abang.” Janji Bella dengan penuh keyakinan.


******


Bella tampil di luar biasanya. Ia terlihat feminine dengan pakaian simple dress di bawah lutut dan rambutnya yang di biarkan tergerai. Tampilan yang berbeda dimana biasanya ia hanya mengenakan celana jeans dan kaos oblong di tambah rambut yang hanya di cepol sembarang.


“Ini hari special jadi aku harus terlihat rapi.” Gumam Bella saat memoles sedikit wajahnya dengan bedak tabur. Tidak lupa ia menambahkan lipstick warna nude dan menajamkan matanya dengan memberi sedikit eyeliner dan maskara.


Alisnya yang tidak terlalu tipis, di berikan sedikit browcara saja hanya agar terlihat rapi dan tidak berantakan.


“Done!” serunya.


Ia berputar di depan cermin dan tertawa kecil. Setelah sekian lama, baru kali ini lagi ia berdandan layaknya seorang perempuan.


“Malem yang.” Ucapnya berlatih menyambut Rangga.


“Eh nggak gitu, senyumnya kurang.” Ia memprotes dirinya sendiri.


“Malem sayang, makasih udah dateng.” Ucapnya lagi dengan senyum terkembang.


“Ah lebay, gak elegan!” deciknya menertawakan dirinya sendiri.


“EHM! Okey, kita coba lagi.” Bella menegakkan tubuhnya, memandang dirinya yang nyata di depan cermin.


“Hay Ga, makasih ya udah dateng.” Ujarnya lembut diikuti segaris senyum tipis elegan.


“Nah! Itu baru gue. Cakep juga…” ujarnya memuji dirinya sendiri.


Ia merapikan anak rambut yang menutupi dahinya. Ia tidak terbiasa berponi hanya di buat layer di sisi kiri dan kanan wajahnya saja. Baginya, penampilannya malam ini terlihat cukup untuk membuat Rangga terpesona.


“Deekk, berangkat yuukk!!” panggil Ozi dari luar kamar.


Tanpa menyahuti, Bella segera membuka pintu.


Ozi terperangah untuk beberapa saat melihat sosok cantik di depannya.


“Anjiiirrr!!! Lo Bella adek gue! Cakep bener!” Ozi berusaha menjawil hidung bangir Bella namun Bella segera menepuknya.


“IIhhhh abaang, nanti bedak gue luntur!” protesnya. Ujung hidungnya sedikit merah terjawil Ozi.


“Hahahhaahha… Lo bedakan? Pantesan gak terlalu minyakan.” Ozi terkekeh di depan Bella.


“Eehhh resek! Cuma karena lo abang gue yaa, lo gue bolehin ngetawain gue kayak gitu. Dan kali ini aja!!! Liaat aja kalau depan Rangga lo masih berani nertawain gue!” ancamnya sambil mengacungkan telunjuk.


“Rawrr!!” Ozi balas menggigit telunjuk Bella dengan gemas.


“IIsshhhh jigong lo anjirrrrr!!!!” di leletkannya telunjuk Bella pada kemeja Ozi.


“Heh! Berani lo ya!!” seru Ozi.


Yakin Ozi akan membalas, dengan segera Bella berlari menjauh. Mendapati Saras yang sedang berada di ruang tamu, ia segera bersembunyi di belakang Saras untuk berlindung.


“Abang, adekkk ini kenapa malah lari-larian?” seru Saras yang di putar Bella ke sana kemari untuk mencari perlindungan.


“Pegangin adek mah, abang mau gigit bentar!!!!” seru Ozi layaknya anak kecil.


“Aduuhhh kalian udah pada gede, ngapain masih kayak gini!!! Abang malu akh, itu jakun udah nongol juga! Jenggot udah banyak!” ledek Saras pada sang putra.


“Hahahahaha….” Ozi dan Bella malah sama-sama tertawa dengan renyah.


Di hampirinya Saras dan Bella lalu ia peluk dengan erat.


“Abang sayang kalian, muach! Muach!” dikecupnya pipi Bella dan Saras bergantian. Ozi memang orang yang tidak sungkan menunjukkan kasih sayangnya pada orang terdekat.


Untuk beberapa saat mereka terdiam. Suasana haru tiba-tiba saja terasa.


“Mamah juga sayang abang sama adek,,,” lirih Saras seraya mengusap tangan Ozi yang memeluknya dari belakang. Di usapnya pula pipi Bella yang ada di sisi kiri wajahnya dan bersandar pada bahunya.


Bella hanya terdiam seraya menahan sesak saat ingat kalau saat ini Ozi sedang sakit. Walau tubuhnya mungkin kesakitan tapi Ozi bisa menyembunyikannya dengan baik. Terlampau baik malah hingga membuat Bella merasa semakin cemas.


“Lo sayang gue juga gak?” mengakhiri keheningan, Ozi memilih menggoda Bella.


“NGGAK!!! Gue sayangnya mamah doang.” Seru Bella membalas godaan Ozi.


“Eiitt tidak bisa begitu!” di gigitnya lengan Bella dengan gemas.


“AAkkkhhh mamaaaaahhhhh…. Abang ampuuunnn!!!!” protes Bella.


“Hahahahahha…. Kalian ini… Abang udah akh, jangan gangguin adeknya terus.” Saras hanya bisa tertawa.


“Ih anjir, bekas gigi lo ini.” Protes Bella, memperhatikan dengan seksama gigitan Ozi yang membekas di kulitnya yang kuning langsat.


Laki-laki itu hanya terkekeh, tidak terganggu melihat tatapan kesal sang adik.


Di tengah kegaduhan itu, datanglah seseorang dari balik pintu.


“Nak Devan, masuk nak.” Seru Saras saat melihat Devan yang kebingungan melihat orang-orang ini berkumpul di ruang tamu.


“Malem tan. Saya terlambat ya?” ia jadi celingukan. Sepertinya ia melewatkan sesuatu.


“Kagak! Udah akh, yuk kita berangkat!” Ozi menepuk bahu sahabatnya dan membawanya berjalan lebih dulu. tidak memberinya kesempatan untuk terpukau melihat penampilan Bella yang sudah kembali acak-acakan di ganggu Ozi.


******