Bella's Script

Bella's Script
Gara-gara nasi goreng



Di depan cermin Rangga berdiri. Ia menatap wajahnya yang sedang menatap tajam manik coklat miliknya sendiri. Matanya membulat dengan wajah yang memerah.


“Ekspresi kesal.” Ujar suara di ponselnya dan Rangga langsung menghembuskan nafasnya kasar.


Ia mengubah posisi berdirinya lalu mengepalkan tangan dan mentautkan alisnya. Sudut matanya melirik tayangan di layar ponsel yang memberi contoh ekspresi mikro dan makro yang tepat saat seseorang sedang kesal.


“Arrgghh susah banget!” dengusnya. Ia mengulangnya lagi hingga beberapa kali untuk mendapatkan ekspresi yang tepat.


“Masih latihan By?” Ujar suara yang mendekat menghampirinya.


Siapa lagi kalau bukan Amara.


Wanita itu sudah berdandan cantik dengan mini dress dan high heels yang membuat tubuhnya terlihat semakin langsing dan tinggi serta tas selempang berwarna hitam yang membuatnya terlihat elegan. Wangi parfum khas wanita langsung menyeruak mengisi ruangan.


“Iya, aku masih memperlajari beberapa ekspresi. Kamu mau pergi?” Tanya Rangga.


Padahal tadi Amara berjanji akan membantunya berlatih acting agar tidak di protes terus oleh crew. Tapi setelah asyik memanjakan dirinya di kamar mandi, sepertinya gadis ini lupa.


Ia melempar script di tangannya dan memilih memperhatikan Amara yang sudah tampil cantik paripurna. Entah siapa yang akan ia temui hingga harus berdandan secantik ini.


“Iyaaa, aku mau nemuin temen aku. Katanya dia mau nawarin kerjasama buat iklan."Amara terllihat sangat antusias.


"Sorry ya, aku belum bisa nemenin kamu latihan. Ya By... Gak marah kan?” Dengan cepat ekspresinya berubah merajuk saat melihat Rangga yang terlihat kecewa.


“Gak makan dulu?” Tawar Rangga. Rencananya ia ingin mengajak Amara makan bersama.


“Emmm nggak deh By. Aku kayaknya makan di luar aja. Eh, kamu juga belum makan ya? Ya ampun aku kok sampe lupa buat pesan makanan buat kamu makan malam?” Amara menepuk jidatnya sendiri.


“Sorry…” Rengeknya lagi sambil bergelendot manja.


“Ya udah gak apa-apa. Kamu berangkat gih. Aku juga bentar lagi mau turun. Pulangnya jangan terlalu malem.” Diusapnya rambut Amara yang kali ini berwarna hitam gelap.


“Byy… Aku catokannya lama… Nanti berantakan.” Protes Amara yang segera mengibaskan tangan Rangga.


“Oh Sorry… Kamu tetep cantik kok.” Rangga merapikan rambut Amara dan gadis itu menarik tubuhnya menjauh.


“Aku bisa sendiri. Tuh kan jadi gak rapi lagi.” Ujarnya seraya bercermin. Bibirnya tampak mengerucut.


Rangga hanya tersenyum kecil seraya memandangi pantulan wajah Amara di cermin.


Gadis itu mengeluarkan sisir kecil dari dalam tasnya, menyisirnya pelan.


“Perfect!” Serunya saat sudah selesai.


“Aku berangkat yaaa… Bye!!! Love you…” Satu kecupan di hadiahkan Amara sebelum akhirnya ia pergi sambil melambaikan tangan.


Rangga hanya memandanginya hingga bayangan wanita itu hilang di balik pintu.


Melihat sekeliling apartemen, semuanya tampak kosong. Rangga jadi merasa sepi sendirian, padahal ia suka kehingaran. Akhirnya Ia memutuskan untuk kembali ke unitnya. Ia membereskan beberapa kaleng minuman bersoda lantas mengambil script yang semula ia taruh di atas meja. Perutnya sudah keroncongan minta di isi.


Sambil menuruni anak tangga, ia membuka aplikasi pesan antar. Beragam menu ada di sana tapi tidak ada satupun makanan yang membangkitkan nafsu makannya.


Tiba di depan pintu unit apartemennya, Rangga langsung menekan passcode. “Ting!” setelah suara tersebut ia memutar handle pintu dan pintupun terbuka.


Pemandangan yang biasa ia lihat adalah kamarnya yang berantakan, khas kamar laki-laki. Beberapa botol minuman berjejer di atas meja dan jujur kesemerawutan ini membuat kepalanya pusing.


Sekarang ia harus mulai memikirkan cara membereskan kamarnya agar tidak berantakan sehingga ia bisa istirahat dengan nyaman. Padahal dulu, ada Bella yang selalu membantunya membereskan rumah dan menatanya dengan indah hingga ia memiliki pojok favorit yang bisa ia gunakan sebagai tempat menulis lagu.


Akh, kenapa ia jadi ingat Bella. Suara riangnya kini bahkan mengusik rongga telinganya.


“Sampah kering, taro sini ya yang. Kalau sampah basah, tong sampahnya aku taro di luar. Dua hari sekali mobil sampah bakal ngambilin sampah dari sini. Jadi pastiin, sebelum tidur, keresek sampah yang ini taro di luar juga yaaa…"


"Kalau ngerasa berat, minta gantian sama Niko, Deri atau Ikhsan. Bikin jadwal gitu lah.” Bayangan Bella yang membersihkan rumah lengkap dengen celemek dan sarung tangan kini terlihat jelas di hadapannya.


“Kamu gak usah ngepel, soalnya masih suka basah. Nanti malah jatoh lagi. Jadi sama aku aja pas nanti ke sini sambil restock persediaan makanan kalau-kalau kalian laper pas latihan. Okey!”


Bayangan Bella yang berjalan ke sana kemari terus mengisi pikiran Rangga. Ia seperti melihat Bella yang sedang memeriksa isi kulkas, mengeluarkan makanan yang sudah tidak layak konsumsi dan mengisinya dengan makanan baru. Ia juga mengambili bajunya yang kotor, merogoh satu per satu saku Rangga, lalu..


“YEEAAYY!!! Ada duit dua ribu. Buat aku yaaaa….” Serunya dengan wajah sumeringah.


“Sering-seringlah kamu lupa naro uang di saku, biar jatah aku tambah banyak, hehehe.…” Kekehan gemas itu membuat Rangga tiba-tiba rindu.


Masih teringat jelas celoteh Bella yang selalu mengisi harinya dulu. Setelah pulang bekerja, gadis itu selalu menyempatkan datang ke studio untuk menyiapkan dan mengecek apapun yang mungkin Rangga perlukan.


Kenapa bayangan Bella terus muncul di pikirannya? Apa ia benar-benar merindukannya?


“Stop Rangga, stop!!!” Rangga berusaha menyadarkan pikirannya sendiri.


Untuk mengalihkan pikirannya Ia memunguti beberapa botol yang berserakan dan memasukkannya ke tempat sampah.


Perutnya semakin keroncongan dan ia tidak tahu harus memesan makanan apa.


“Apa bikin mie aja?” Gumamnya.


Ia menghampiri lemari makanan dan isinya kosong, hanya ada satu bungkus biscuit yang kemasannya sudah terbuka dan isinya melempem. Entah makanan kapan.


"Akh siall!" Dengusnya seraya menutup lemari makanan dengan keras.


Ia juga membuka penanak nasi dan hanya ada sisa nasi yang nyaris kering di sana.


“Nasi goreng.” Tiba-tiba saja ia ingat menu putus asa yang biasa di buatkan Bella untuknya.


Rangga membuka ponselnya. Mencari folder yang sengaja ia sembunyikan untuk mengarsipkan foto dan videonya bersama teman-teman bandnya dan tentu saja Bella. Ia memang sengaja menyembunyikannya karena khawatir Amara melihatnya.


Ketemu, video tutorial membuat nasi goreng itu di temukan Rangga. Dan ia mulai memutarnya. Menaruh ponselnya bersandar dan bayangan wajah Bella pun terlihat.


“Yang ini beneran di rekam?” Tanya Bella yang cengengesan malu sendiri karena Rangga memvideonya.


Tangan kanannya sudah memegangi pisau dan tangan kirinya memegang spatula.


“Iya Bell, kamu bersikap biasa aja. Santaaaii…” Sahutan suara ringan dan tawa receh miliknyapun terdengar. Akh entah kapan terakhir kali ia bersuara seriang itu.


“Tapi videonya jangan di upload yaaa…. Malu aku gak pede. Terus kameranya jangan deket-deket, nanti badan aku semua yang keliatan dan makananya malah gak keliatan.” Bella memang bawel sejak dulu dan itu yang membuat suaranya terus terngiang di telinga Rangga.


“Okey, mundur dikit, biar bahan makanannya kerekam.” Lagi ia mengarahkan.


“Sip, posisinya udah bagus.” Sahut Rangga sang cameramen.


“Okey, kita mulai. Jadi di sini neng Bella pacarnya aa Rangga mau bikin nasi goreng khas mamah mertuaaaaaa, mamah Saraaassss…..” Seru Bella yang sambil tertawa-tawa karena geli sendiri.


Rangga jadi ikut tertawa melihat tingkah Bella.


“Bahannya, ada nasiiiii, terus bawang-bawangan… Yang ini bawang merah, ini bawang putih terus ini emaknya bawang.” Bella mengangkat tinggi-tinggi bawang di tangannya.


Gadis ini tidak pandai memasak, nama bahan makanan saja ia tidak hafal tapi terus berusaha membuatkan Rangga makanan.


“Bawangnya shahrukhan.” Sahut Rangga menggoda.


“Ahahahaha iya bener, bawang aca-aca nehi-nehi alias bawang Bombay. Hahahaha...” Bella begitu girang saat ingat nama bawang di tangannya.


Ini menarik untuk Rangga. Itulah alasan mengapa ia meng-zoom wajah Bella alih-alih meng-zoom bahan makanan. Ekspresinya terlalu lucu. Lihat, ada butiran garam juga di pipinya. Rambutnya yang di cepol terlihat lucu saat beberapa helai rambutnya ikut bergoyang seiring ritme ia bernafas.


“Bawangnya di potong dulu, ukurannya segini cukup lah yaaa… Jangan terlalu tebal nanti gak mateng. Eh ini ketebelan gak sih yang?” Bella menunjukkan potongan bawang pada Rangga dan Rangga hanya mengacungkan jempolnya sambil menahan tawa.


Ia sendiri mana tahu irisan bawang seperti apa yang ideal untuk di goreng.


“Ini bumbunya. Ada merica, dikit aja. Terus garem, mecin juga dikit biar gak bego. Eh tapi berdasarkan artikel yang aku baca, mecin itu gak bikin bego loh yang. Yang bikin bego itu adalah jatuh cinta, EEAAAAKKK!!!! Hahahaha…” Bella tertawa sendiri sambil menunjukkan symbol hati dengan jarinya pada Rangga.


Rangga kembali tertawa mendengar ujaran Bella.


Bella mulai memasak. Awalnya matanya membulat karena bingung bahan mana dulu yang harus ia masukkan. Setelah semua bumbu masuk, matanya kembali membulat dengan wajah excting karena ia bisa menghindar dari cipratan minyak.


"Hahahaha... Gilaaa, keren banget gue. Gak ada minyak yang nyiprat ke kulit." Pujinya setelah berhasil memasukkan semua bumbu.


Sekitar 5 menit ia mencampur semua bumbu dan nasi lalu jadilah nasi goreng yang ia tata dengan cantik di atas meja. Kalau masalah menata makanan, Bella memang ahlinya walau ia tidak yakin seperti apa rasa masakannya.


“Wuuhuuuu,,, Masih berasap yang. Ayok sini Cobain. Taro aja kameranya.” Serunya dengan semangat.


Di taruhnya handphone pada phone holder dan tetap merekam mereka. Ia menghampiri Bella untuk mencoba nasi goreng,


“Enaaakkk!!!” Di luar dugaan Rangga berkomentar sepenuh hati setelah menyuap satu sendok nasi goreng ke mulutnya.


“Waaahh berhasil dong yaaa akuu…” Wajahnya langsung terlihat bangga.


“Berhasil gaissss….” Beberapa kali ia mengacungkan jempolnya pada kamera.


“Baik pak Rangga, gimana komentarnya tentang nasi goreng buatan saya? Enak kah, atau ada yang kurang?” Berlagak layaknya reporter, Bella pura-pura menjadikan tangannya sebagai microphone dan memberikannya pada Rangga.


“Enaaakk.. Sekali bikin bisa langsung sold out ini. Tapi ini apa ya?” Rangga mengangkat potongan bahan makanan yang berwarna putih dan utuh.


“Iya, apaan itu ya?” Bella ikut penasaran.


“Astaga yang, ini bawang…. Akh tidak, bawangnya gak mateng. Matiin kameranya, matiin yang. Ini memalukan!!!” seru Bella yang panik.


"HAHAHA....!!!" Rangga tertawa sampai terpingkal-pingkal.


Cepat-cepat Rangga mematikan kameranya dan tayangan selama kurang lebih 17 belas menit itu pun berakhir.


Akh, kenapa sekarang dadanya terasa sesak? Bukannya harusnya ia tertawa melihat video itu, tapi mengapa malah ingin menangis. Apa yang salah dengannya?


Rangga hanya terdiam di tempatnya. Membiarkan video itu berputar untuk kedua kalinya. Rasanya ia rindu pada suara Bella.


******


Pagi ini Devan bangun lebih awal namun hingga jam 7 pagi ia masih berdiri di depan cermin kamar mandinya sambil bersenandung lirih. Entah mengapa rutinitas mandinya pagi ini jadi lebih lama dari biasanya.


Masih menggunakan handuk yang melingkar di pinggangnya, ia memperhatikan otot tubuhnya yang terjaga kekokohannya.


“Iya, lo ganteng.” Ucapan Bella semalam terus terngiang di telinganya dan membuat ia tersenyum sendiri memandamg wajahnya.


“Bagian mana yang menurut dia bagus? Hidung, pipi, rahang atau bibir gue?” Ia jadi bertanya pada bayangannya sendiri.


Padahal tidak sedikit kaum hawa yang memuji ketampanannya tapi baru Bella yang membuat ia benar-benar memperhatikan wajahnya sendiri.


Kenapa seberarti itu ucapan Bella semalam. Apa karena khasiat nasi goreng? Entahlah.


Belum puas dengan mamandangi wajahnya sendiri dan mencari point mana yang membuat Bella berkomentar kalau ia tampan. Kali ini Ia merasa harus membersihkan wajahnya yang sudah lama tidak bercukur. Sedikit banyak ini membuat wajahnya sedikit kusam.


Ia sengaja membasuh kembali wajahnya beberapa kali, membiarkan air menetes melewati rahangnya lalu tersenyum sendiri pada bayangannya. Ingatan akan tatapan Bella sebelum memejamkan matanya seperti muncul dari kaca.


Beruntung ada kesadaran kalau hari semakin siang, membuat ia mempercepat persiapannya. Ia segera membalurkan krim cukur ke bagian pipi, kumis dan dagu. Mencukurnya perlahan, dengan tenang agar tidak terluka. Setelah bersih dari rambut halus, ia membilas kembali wajahnya dan memberikan pelembab yang ia tepuk-tepukan ke wajah.


Rasanya segar dan wajahnya jauh lebih cerah.


Hal berikutnya yang ia lakukan adalah menyisir rambutnya dengan rapi, memberinya sedikit gel rambut lalu mengikat helaian rambutnya yang gondrong. Diusapnya rambut yang kini terlihat kelimis dan rapi.


Terakhir adalah mengenakan baju yang nyaman. Hari ini ia sengaja tidak memakai kaos oblong seperti biasanya, melainkan mengenakan kemeja yang membentuk postur tubuhnya dengan sempurna.


Beberapa potong kemeja yang tidak jadi ia pakai bertumpuk di atas tempat tidur. Warna navy menjadi pilihannya pagi ini. Tidak lupa ia menggulung lengan panjangnya hingga menyisakan satu lipatan saja di bawah sikut.


Semprotan parfum maskulin menjadi penutup penampilannya hari ini.


“Tring!” sebuah pesan masuk dan Devan segera mengeceknya.


“Sarapan di lokasi ya, gue udah nyiapin sarapan banyak.” Senyumnya langsung merekah saat tahu kalau Bella sang pengirim pesan yang membuat ia semakin semangat.


“Bawa apa?” Ia sudah mengetik tapi ia hapus lagi.


“Jatah gue banyak gak? Makan gue kan banyak.” Pesan kedua ia ketik tapi lagi ia hapus juga.


Ada apa dengan pikirannya yang sudah tidak fokus sepagi ini. Ia sampai menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.


“Apa gue perlu bawa kopi?” sebaris pesan kembali ia ketik.


Tapi setelah di pikir-pikir, kenapa harus bertanya segala. Pesan itupun ia hapus lagi.


“Ya." Ia mengetik satu kata itu saja.


“Cewek lebih suka cowok yang misterius.” Gumamnya sambil tersenyum penuh siasat.


Tapi baru akan di kirim, otaknya menghentikan ketikan jarinya.


“Tapi kan Bella lagi berhenti berlari, kenapa malah gue suruh ngejar? Akh Devan, ayolah ada apa sama lo hari ini?” Devan frustasi sendiri.


Sekedar membalas pesan Bella saja ia sampai pusing setengah mati.


“Ayo berpikir, berpikir, berpikir!!!” gerutunya memaksa otaknya berpikir.


Tapi tidak ada satupun kalimat yang muncul di kepalanya.


Kira-kira ia harus membalas apa? Ada yang punya ide?


******