Bella's Script

Bella's Script
Lebih dari 3 kata kecil



“Ting tong. Ting tong!” Suara bel didengar jelas oleh Bella.


Bella yang saat ini sedang berada di ruang keluarga dan menonton tv sendirian, dengan malas melihat ke arah pintu. Seharian ini ia menghabiskan waktunya dengan malas-malasan, berbaring di atas sofa, menonton tayangan apapun yang lewat walau tetap pikirannya tidak berada di sini.


Dengan malas ia bangkit. Merapikan cepolan rambutnya yang berantakan sebelum akhirnya ia beranjak pergi untuk membukakan pintu.


“Ting tong. Ting tong!” Lagi suara bel terdengar.


“Ya bentar.” Sahut Bella yang beberapa langkah lagi sampai di mulut pintu. Tidak sabar sekali pikirnya.


Ia memutar kunci dan knop pintu, seketika matanya langsung membulat saat ia melihat siapa yang muncul di balik pintu.


“Astaga!” Serunya yang cepat-cepat menutup kembali pintu rumah dengan paniknya lalu bersandar di balik pintu.


Jantungnya berdebar kencang saat melihat siapa yang tadi berdiri di hadapannya.


“Bell, ini gue.” Ujar Devan yang kaget pintunya di tutup lagi.


“Mau ngapain lo kemari? Gue lagi gak mau ketemu sama lo Van.” Sahut Bella dari balik pintu.


Ia bersandar pada daun pintu seraya menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia belum siap menghadapi Devan.


“Bell, come on, jangan kayak gini. Gue paham lo perlu waktu tapi jangan menghindar kayak gini dari gue. Gue perlu ngeliat lo, buat mastiin kalau lo akan baik-baik aja Bell….” Terang Devan dari luar sana.


Bella hanya terdiam seraya berpikir. Apakah ia siap untuk bertemu Devan sementara kondisinya sedang seperti ini? Pikirannya masih kacau sejak kejadian pagi tadi.


“Gue minta maaf kalau kejadian tadi pagi bikin lo gak nyaman. Cara gue, waktu dan tempat yang gue ambil juga gak mempertimbangkan kondisi lo. Gue terlalu egois dan terburu-buru hingga membuat lo merasa terpojok dan terbebani. I'm really sorry, Bell.” Tutur Devan dengan penuh sesal.


Ia tertunduk lesu di hadapan pintu yang masih tertutup, namun ia yakin Bella masih berada di balik sana.


Mendengar penuturan Devan, Bella jadi menegakkan tubuhnya. Harus ia akui, Devan laki-laki yang gentle. Di balik sikapnya yang dingin dan terkesan acuh, ternyata ia sangat peka.


“Bell, ada yang harus lo tau. Saat gue bilang kalau gue mau menikahi lo, itu karena gue cinta sama lo. Gue gak lagi becanda.” Terdengar Devan melanjutkan kalimatnya dengan penuh kesungguhan.


“I said that I love you. "


"Saat gue mengatakan itu, gue benar-benar mencoba menyampaikan perasaan gue yang sebenarnya tidak bisa terwakili hanya oleh tiga kata kecil itu.”


“Gue mencoba mengatakan bahwa lo berarti buat gue lebih dari pada siapa pun yang ada di dunia ini. Gue mencoba ngasih tahu lo bahwa gue mengagumi lo dan gue sangat sangat menghargai waktu yang kita habiskan bersama, selama ini.”


“Gue mencoba menjelaskan bahwa gue menginginkan lo, lebih dari itu gue membutuhkan lo. Gue seperti tersesat dalam pikiran indah setiap kali gue mikirin lo. Dan setiap kali gue natap lo dengan penuh keyakinan gue mencoba ngasih tau lo bahwa lo adalah hal terbaik yang pernah ada dalam hidup gue.”


“You mean a lot for me Bell.. But I know, gue gak bisa seegois itu maksain perasaan gue sama lo.”


“Lo pernah bilang, gue adalah option di hidup lo dan itu gak masalah buat gue. I’ll try my best dan berusaha untuk menjadi pilihan terbaik buat lo. Prioritas adalah tentang usaha, seperti usaha gue buat nunjukkin kalau lo penting buat gue.”


“Tapi, sebesar apapun perasaan gue, gue akan tetap memberikan hak lo. Hak untuk memiliki perasaan lo sendiri. Lo punya hak sepenuhnya untuk menentukan lo akan menerima gue atau nggak, It’s up to you, as you will happy dengan pilihan lo.”


“Lo prioritas gue, gue cinta sama lo. Lo gak usah ngerasa terbebani. Senang atau sedihnya perasaan gue, bukan tanggung jawab lo. Lo hanya perlu tau, gue bersungguh-sungguh dengan ucapan gue.”


“I'm really love you Bell,...” Lirih Devan seraya menyentuh daun pintu yang menjadi batas ia dengan Bella. Ia terpekur di tempatnya. Ini usaha yang bisa ia tunjukkan sebagai bentuk kesungguhannya pada Bella.


Di balik pintu, Bella hanya bisa tersedu. Ia menangkup wajahnya yang sembab. Semua perkataan Devan membuat dadanya sesak. Ya, hanya sesak yang ia rasakan saat ini.


Lebih dari 10 menit mereka saling terdiam. Setelah mampu mengendalikan dirinya, Bella kembali membuka pintu.


Devan masih berdiri di hadapannya. Ia tersenyum kecil pada Bella saat mata sembab gadis itu menatapnya. Ia mengulurkan tangannya, memberikan ponsel Bella yang tertinggal di rumahnya. Tidak di sangka, rencana untuk mengembalikan ponsel Bella, berubah menjadi usaha untuk menunjukkan perasaannya.


“Thanks.” Suara Bella terdengar lemah. Ia mengambil ponsel di tangan Devan dengan gemetar.


Devan hanya mengangguk pelan.


Hanya beberapa menit mereka bertemu. Lantas Bella kembali masuk, tapi beberapa detik kemudian langkahnya terhenti. Ia berbalik seraya menatap Devan.


“Saat ini, gue gak tau harus jawab apa. Terima kasih buat semuanya. Tapi, yang gue butuhkan saat ini hanya diri gue sendiri. Gue butuh berdamai dengan diri gue dan keadaan yang gue hadapi. Sorry Van.” Lirihnya.


Bella menatap lekat laki-laki yang kini berdiri tegak di hadapannya. Wajahnya yang tenang, memberi Bella keberanian untuk mengatakan apa yang ia butuhkan saat ini. Ia yakin, Devan bisa dengan bijak memahami apa yang menjadi keinginannya.


“No problem, don’t say sorry. Gue tau, ini lebih berat buat lo.” Devan mengusap air mata Bella dengan lembut.


“Take your time Bell, selama apapun itu. Gue pastikan gak akan ada yang berubah sama perasaan gue. Tapi gue mohon jangan menghilang dari jangkauan gue. I need to see you.” Imbuhnya seraya mengusap kepala Bella. Laki-laki itu tersenyum namun matanya merah dan berkaca-kaca. Bella tahu, ini pun bukan hal yang mudah untuk Devan.


“Ya.” Hanya itu sahutan Bella yang di balut senyuman kelu.


“Masuklah, udaranya dingin.” Pinta Devan saat Bella terlihat ragu.


Beberapa saat kemudian, Bella pun masuk. Ia meninggalkan Devan yang masih mematung di depan pintu. Untuk saat ini, ia hanya ingin menatap pintu yang menjadi batasnya dengan Bella sambil menunggu gadis itu kembali membukanya.


*****


Dentingan gitar terdengar mengalun indah dari salah satu sudut di area food court. Food court itu berada tepat di sebrang sebuah taman yang biasa di datangi warga sekitar untuk menghabiskan waktu luang mereka di sore hari hingga malam. Menikmati jajanan khas pasar malam, makanan berat sebatas ayam goreng dan lele goreng juga minuman dingin dan manis yang biasa di jajakan di sana.


Ada Niko di sana yang sedang mengisi waktunya dengan mengamen. Ia memasang beberapa audio sederhana di dekatnya agar suara petikan gitarnya terdengar ke banyak penjuru.


Sambil menikmati makanannya, beberapa orang mendekat, mereka mencoba menikmati penampilan Niko yang seorang diri.


Dentingan gitar akustik itu perlahan di isi suara lembut Niko. Ia menyanyikan lagu milik Lewis Capaldi - Someone You Loved yang membuat suasana terasa begitu hangat dan romantis.


“I'm going under and this time, I fear there's no one to save me


This all or nothing really got a way of driving me crazy


I need somebody to heal


Somebody to have


Somebody to hold


It's easy to say


But it's never the same


I guess I kinda liked the way you numbed all the pain.”


Orang-orang di sekitar semakin mendekat dan duduk di bangku-bangku kosong yang biasanya di gunakan sebagai tempat makan. Mereka mulai menikmati suara Niko yang mengalun lembut. Ada yang menonton saja, ada yang sambil makan ada juga yang asyik merekam dan ikut bernyanyi.


Seraya memejamkan matanya Niko mencoba menikmati setiap nada yang ia dentingkan bersamaan dengan baris lirik yang ia ucapkan.


Tanpa Niko sadari, ada seseorang yang duduk di salah satu bangku sambil memperhatikannya. Laki-laki bertopi itu tersenyum kecil menyaksikan penampilan Niko hingga akhir.


Satu lagu selesai di nyanyikan. Orang-orang bertepuk tangan tak terkecuali Rangga. Niko tersenyum ramah saat beberapa orang menghampirinya dan mengisi kotak di dekatnya dengan uang pecahan kecil.


“Rangga?” Sapa Niko saat melihat sahabatnya berdiri di hadapannya.


“Yap, ini gue.” Sahut Rangga. Ia merentangkan tangannya, menyambut sahabat yang sudah lama tidak di temuinya.


“Gimana kabar lo bro?!!” Tanya Niko seraya menepuk-nepuk bahu Rangga yang di peluknya.


“Seperti yang lo liat. Gue baik-baik aja.” Rangga balas memeluk Niko.


Mereka saling menjaga jarak dan saling memandangi. Memang tidak ada yang berubah dari mereka selain Rangga yang terlihat lebih kurus.


“Boleh gue gabung?” Tanya Rangga. Sudah lama ia tidak bernyanyi bersama Niko.


“Wah, itu kehormatan buat gue. Ayok!” Dengan senang hati Niko memberikan gitarnya pada Rangga.


“Thanks bro.” Sambut Rangga. Ia segera mengalungkan tali gitar dan menyetel posisi snar favoritnya.


Sementara Niko memilih mengambil keyboard yang ia simpan di belakang. Hah, semangatnya tiba-tiba menggebu melihat sang mantan vokalis band-nya berdiri di depannya.


“Maju Ko.” Ajak Rangga.


“Okey.” Niko terlihat bersemangat. Biasanya Rangga selalu meminta agar ia hanya sendirian di depan tapi kali ini, ia minta di temani.


“Lagu biasa?” Tanya Rangga.


“Lo yakin?” Niko menatap Rangga sanksi.


“Kenapa enggak? Ini saatnya mereka tau lagu kita bukan?” Rangga menatap para penonton dengan penuh rasa percaya diri.


Jujur, memegang gitar dan microphone terasa seperti ia tengah memegang dua senjata ampuh yang biasa ia gunakan untuk menaklukan dunia.


Bersiaplah mereka akan di buat terlena oleh suara dan penampilan Rangga bersama Niko.


“Treeng...” Suara petikan gitar Rangga mulai terdengar.


Niko menyambutnya dengan suara dentingan keyboard dan melodipun berpadu. Penonton antusias bertepuk tangan. Barisan bangku mulai terisi penuh bahkan beberapa di antara mereka bersedia untuk berdiri demi menyaksikan penampilan dua laki-laki di hadapan mereka.


“Hey, kamu gadis bermata coklat


Lihat aku yang kini di hadapanmu


Tidakkah kau merindukanku


Merindukan saat kita bersama dan tertawa.


Harus kau tau,


Malam-malamku sepi tanpa mendengar kabarmu


Memandangi fotomu tak juga cukup


Rinduku kini berubah sendu


Kau hinggar yang selalu ingin aku dengar


Kau sinar yang selalu memberiku terang


Datanglah padaku,


Mendekatlah gadisku


Biar ku peluk kau sepanjang waktu...”


Barisan bait itu terdengar mendalam dinyanyikan Rangga. Matanya sampai berkaca-kaca saat mengingat kalau lagu ini ia ciptakan bersama Bella. Bayangan ia dan Bella saat membuat lagu ini terus berkelebat di pikirannya. Tawa renyahnya masih jelas terdengar saat ia mencoba menyanyikan lagu Rangga dengan sedikit fals. Semuanya seperti baru kemarin tapi sayangnya, kini semua hanya kenangan.


Mendengar Rangga yang begitu menghayati lagunya, membawa para penonton terlena menikmati penampilan dua lelaki tampan itu. Mereka ikut terlarut dan merasakan benar pesan mendalam yang tersirat dari lagu tersebut.


Suara musik mereka yang bergema pun menemani Bella yang tengah sendirian di kamarnya. Ia masih menangis tersedu-sedu menghadapi dirinya sendiri. Perasaannya tengah berkecambuk tidak menentu. Entah apa yang harus ia lakukan sekarang.


Sementara Devan, ia memilih untuk berlari mengelilingi taman, untuk mengusir rasa gundahnya. Tubuhnya sudah bercucuran keringat tapi tidak lantas membuatnya berhenti berlari, berusaha merubah suasana hatinya yang tidak menentu.


Kenapa cinta harus sepelik ini?


****