
Detik bagi Bella seperti berhenti saat dari balik tirai ia melihat dua laki-laki sedang berjabat tangan di depan penghulu.
Semuanya hening sampai kemudian yang terdengar hanya,
“Dub! Dub! Dub! Dub!”
Detak jantungnya terus berulang semakin lama semakin kencang. Gumpalan otot di rongga dadanya semakin berloncatan saat melihat wajah serius Devan yang di tatap tajam oleh Ozi.
Saatnya telah tiba, dimana Ozi akan mengalihkan tugasnya sebagai wali Bella kepada calon suaminya. Beberapa saat lagi tanggung jawab Bella akan beralih pada Devan. Membayangkan hal itu, mendadak seluruh otot di tubuh Bella seperti terjaga dan bersiap. Tangannya mengepal, semakin kuat, berpegangan pada tangan Saras dan Inka yang tidak pernah ia lepaskan genggamannya.
Usapan halus Saras di punggungnya tidak lantas membuat Bella merasa lebih tenang. Tubuhnya tidak bisa di ajak kompromi, mungkin hingga ijab qobul selesai di ucapkan.
Detik-detik terasa begitu lambat di rasakan Bella. Bella menelan salivanya kasar-kasar saat menunggu kalimat itu di uapkan Devan.
Dari sudut matanya Bella melihat wajah Saras yang sudah tampak sedih dan haru, juga Inka yang berusaha tersenyum padanya padahal ia pun sama tegangnya. Bella hanya bisa tertunduk sambil melafalkan do'a-do'a yang diajarkan sang kakak. Ia baru mengangkat pandangannya ketika sebuah suara tegas terdengar.
“Devan Rama Aziz, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan adik saya, Bella Andini Fauziah binti Fauzi, dengan mas kawin seperangkat alat solat dan sebuah mobil Van di bayar tunai.”
“Saya terima nikah dan kawinnya Bella Andini Fauziah binti Fauzi, dengan mas kawin tersebut di bayar tunai.”
“SAH?”
“SAH!!!” Seru para saksi.
“Alhamdulillah…” Mereka bersama-sama mengucap syukur.
Bella tidak bisa lagi berkata-kata. Satu bulir air mata haru lolos menetes di sudut matanya mengiringi lantunan do’a yang di pimpin oleh bapak penghulu.
Bella masih tertunduk seraya menengadahkan kedua tangannya, bermunajat pada sang pencipta, mengamini setiap do'a baik untuk pernikahannya.
Rasanya syahdu, sedih, haru dan beragam perasaan lainnya yang tidak bisa Bella ungkapkan lagi.
Saras memeluknya dengan erat, tangisan lirih menggema di rongga telinga Bella.
"Alhamdulillah nak... Mamah sangat bahagia..." Hanya itu yang dipekikkan Saras di sela tangisnya yang tidak tertahan. Di kecupnya kedua pipi dan dahi Bella dengan penuh sayang.
Bella tersenyum kecil, dengan air mata yang ikut menetes saat melihat sepasang mata Saras yang merah dan basah menatapnya penuh haru. Wanita itu bahkan masih sesegukan saat melerai pelukannya sendiri. Sapu tangan berwarna broken white dengan motif bunga teratai ikut menyusut air matanya yang tidak berhenti menetes.
Tidak berselang lama, berganti Inka yang memeluknya. Gadis itupun ikut menangis.
"Bahagia selalu ya Bell.... Setelah menikah, lo harus lebih bahagia dengan orang yang lo sayang." Ucap Inka lirih.
Bella terangguk yakin mengamini ucapan sahabatnya.
Pada akhirnya ia sampai pada titik ini. Titik dimana ia harus bersikap lebih dewasa dan menyadari bahwa semakin dewasa banyak hal yang semakin rumit yang harus ia pikirkan.
Tapi sekali lagi, dewasa itu tentang pilihan. Dan dengan menikah, Bella memutuskan untuk melangkah ke tahap hidup yang tidak sesimple dulu. Banyak tanggung jawab yang akan diembannya bersama seorang laki-laki yang tengah mengusap wajahnya seusai mengucap Aamiin dan kini tertegun dengan senyum tipis yang ia tunjukkan saat pak penghulu menggodanya.
Dia tampak bahagia walau mungkin kebahagiaannya tidak sempurna. Namun sempurna adalah tentang sudut pandang kita dan Devan memilih berdamai dengan sudut pandangnya sendiri.
“He’s great. He’s my man.” Batin Bella, seraya menatap wajah Devan yang samar-samar terlihat di balik tirai.
“Silakan mempelai wanitanya di bawa ke sini. Sepertinya mempelai laki-laki sudah tidak sabar untuk bertemu istrinya.” Pangilan itu seolah menyadarkan Bella dari lamunannya. Terdengar suara tawa dari keluarga saat mendengar ujaran bapak penghulu.
Detak jantung Bella yang seolah sempat terhenti kini kembali berdetak.
Devan ikut menoleh ke arahnya, memandang dari balik tirai dengan tidak sabar menunggu saat Bella keluar.
Saat bayangan Bella muncul dari balik tirai, laki-laki itu tertegun. Menatap lekat wajah wanita yang hari ini resmi menjadi istrinya. Jantungnya berdesir, entah mengapa debaran jantung yang semula berloncatan mulai berdetak lebih tenang dan tenang lagi. Seperti ia sudah menemukan muara dimana hatinya harus berlabuh.
Ada kelegaan saat melihat wajah Bella yang tampak malu-malu tertunduk sambil berjalan menghampirinya.
“Masha allah cantiikk yaa… Betul ini istrinya?” Pak Penghulu menepuk lengan Devan dan laki-laki itu terhenyak kaget.
Ia tersenyum namun tidak bisa menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca menahan haru. Akhirnya, wanita yang ia cintai resmi menjadi miliknya.
“Betul pak.” Devan tidak kuasa untuk menyembunyikan wajah bahagianya. Matanya bahkan enggan berkedip, tidak ingin ada sedetikpun yang terlewat saat Bella datang ke hadapannya.
Saat Bella berjalan dengan di damping Saras dan Inka. Devan segera berdiri menyambutnya. Lantas keduanya berdiri berhadapan dengan terlihat kikuk.
“Salim dulu neng Bella sama suaminya. Mau di panggil apa nih, mas, ayang, cintaku, sweet heart atau apa pun silakan. Yang jelas, pertahankan panggilan itu sampai kalian menua nanti yaaa." Candaan pak penghulu seperti oase di tengah kegugupan Bella.
"Ingat, sebagai dua orang yang saling mencintai, yang boleh berganti hanya gelar belakang, jangan panggilan sayang. Itupun hanya Allah yang boleh menyematkannya.” Siapa sangka akhir kalimatnya menjadi nasihat bijak bagi Bella dan Devan.
Ia bisa sediki tersenyum setelah tadi memasang wajah tegangnya. Bella melihat sekilas Devan yang memandanginya dengan segaris senyum. Apa dia benar-benar sebahagia itu hingga matanya sangat berbinar?
Akh jantung Bella masih jedag jedug tidak karuan saat menatap sepasang mata elang yang kini redup sayu menatapnya penuh kasih. Ia merasakan perasaan yang jauh berbeda antara saat Devan mengungkapkan cintanya dengan setelah ijab qobul.
Jika dulu ia melihat laki-laki ini penuh dengan kekaguman atas keberaniannya, kali ini, lebih dari itu. Ia merasa kalau ia telah benar-benar jatuh cinta pada sosok tegap dan gagah yang tidak pernah terbayang akan sesempurna ini mengisi script hidupnya.
Devan mengulurkan tangannya. Dengan tangan gemetar Bella meraih tangan itu kemudian menyaliminya.
Rasanya seperti ada letusan kembang api yang menyala hingar di rongga dadanya, saat ia mencium tangan Devan untuk pertama kalinya.
Dengan kikuk Ia menurut saja tanpa berani mengangkat wajahnya menatap Devan. Tidak untuk saat ini, ia terlalu gemetaran. Dan di saat seperti ini, ada saja hal yang membuat perasaan Bella semakin tidak karuan.
“Okey, boleh dong ganti posisi dengan cium kening. Udah boleh kan pak?” Indra mengganti permintaannya.
“Boleh dong, kan udah SAH!!” Ujung kalimat bapak Penghulu benar-benar penuh penekanan.
Akh sial, Bella tidak bisa menyembunyikan raut wajah merahnya karena malu menjadi perhatian banyak orang. Suara tawa kebahagiaan terdengar jelas dari orang-orang yang berjumlah bahkan kurang dari 15.
Bella melepaskan tangan Devan. Ia dan Devan bingung sendiri harus memulainya seperti apa.
Ternyata seorang sutradara yang biasa men-direct orang pun bisa salah tingkah saat ia sendiri yang harus berperan.
“Permisi, gue bantu yaaa,,,” Inka segera menghampiri, karena sadar sahabatnya mati gaya.
“Iya coba di bantu, tegang sekali sepertinya pengantin kita. Tegangannya tingkat tinggi, hahaha…” Bapak penghulu memang jagonya melempar guyonan khas bapak-bapak. Laki-laki dewasa di ruangan itupun ikut tertawa tak terkecuali Ozi. Gemas melihat kepolosan dan kebingungan adiknya.
“Tegang amat lo.” Sedikit menurunkan bahu Bella yang tegang lalu merubah posisi tubuh Bella berhadapan, lebih dekat dengan Devan.
“Berisisk!” Kesal Bella. Sudah tahu tegang, malah di olok-olok.
“Lo rileks dikit, anggap lo lagi nge-direct diri lo sendiri buat beradegan mesra sama Bella.” Inka pun menyiapkan Devan.
“Lo tau kan cara nyium kening?” Sempat-sempatnya Inka menggoda hingga dirinya sendiri terkekeh.
Mata Devan membola mendengar ledekan sahabatnya Bella.
“Paham.” Tegasnya. Ledekan Inka ternyata membantu Devan menetralisir rasa gugupnya.
Ia mulai bisa mengendalikan diri. Mendekat dirinya pada Bella lalu menyentuh kedua sisi wajah Bella dengan hati-hati. Dalam beberapa saat ia sedikit merundukkan tubuh jangkungnya lantas mengecup kening Bella dengan lembut, penuh perasaan. Mata Bella membulat sempurna untuk beberapa saat karena keterkejutannya. Tapi kemudian ia memilih memejamkan matanya dan ikut menikmat desiran halus yang merambat melalui urat nadinya.
Bella sampai mengepalkan tangannya sendiri menahan getaran halus yang membuat perasaannya membuncah.
“Tahan, tahan…” Indra sengaja memperlambat interkasi mereka. Beberapa foto sudah di ambilnya dan ia abadikan pula dalam bentuk video di kamera ponselnya.
“Udah?” Tanya Devan saat tiba-tiba orang-orang sudah terdiam tidak bersuara.
“Sudah. Dari tadi juga sudah. Tapi kami gak berani ganggu, sepertinyaa masnya masih menikmati yaaa mencium kening istri.”
“Hahahahaha…” Lagi banyolan pak penghulu membuat seisi ruangan tertawa.
Devan dan Bella pun tidak bisa menyembunyikan wajah malunya. Mereka menarik tubuh satu sama lain agar sedikit menjauh. Sudah cukup mereka di goda orang-orang seisi ruangan ini.
“Okeylah kasian di godain melulu. Sekarang foto pake buku nikah. Silakan..” Pak penghulu memberikan masing-masing buku nikah berwarna merah dan hijau pada Bella dan Devan.
“Kasih liat ke depan.” Seru indra.
“Dek, geser dikit, lo kejauhan.” Ozi ikut mengarahkan.
“Oh, okey.” Bella menggeser tubuhnya mendekat pada Devan dan masih menyisakan celah.
Tanpa Bella duga, Devan melingkarkan tangannya di pinggang Bella lantas menariknya mendekat. Bella terhenyak kaget hingga hanya bisa menyacungkan buku nikahnya sementara wajahnya menatap Devan dengan kaget.
Yang di tatap tampak berdiri tenang meraasa menang. Ia menatap kamera dengan senyum terkembang seraya menunjukkan buku nikahnya.
“Cekrek!” Begitulah gambaran foto yang kemudian menjadi wallpaper ponsel Devan.
“DEEVAAANNNNN!!!!” Geram Bella pelan dan penuh penekanan pada sang suami.
Devan hanya tersenyum dan melanjutkan pengambilan foto dengan lebih santai.
“Dari sini ketauan Bell, siapa yang yang mulai bucin.” Bisik Devan dengan hembusan nafas hangat yang menerpa daun telinga Bella.
“Aaarrgghhh tidaaaakkk..” Pekik Bella dalam hatinya.
******
Devan emang ente kadang-kadang :)
Tambahkan Like, komen, vote dan favoritnya buat penganten yaaa... hhehehe
Gomawooo, lope
Sambil nunggu up, jangan lupa mampir juga ke karya temenku yaa...
Tapi jangan lupa balik lagi, hahaha....
Nama penulis: Sofa Marwa
Judul: Ternyata Dia Jodohku