Bella's Script

Bella's Script
Pilihan



Sudah sangat lama Bella tidak menginjakan kakinya di kantor, tepatnya sejak proses syuting di mulai. Sesuai jadwal hari ini crew memutuskan untuk break syuting. Mereka harus membicarakan hal penting dengan manajemen dan crew. Untuk itu mereka berkumpul di kantor.


Ruang kerja menjadi tempat yang pertama di tuju Bella. Ia memilih akan berdiam diri di sana sambil menunggu rapat yang masih sekitar setengah jam lagi baru akan di mulai.


“Pagi Mel, apa kabar?” Sapa Bella pada wanita cantik yang datang nyaris bersamaan dengannya.


“Pagi. Kabar gue baik.” Melisa memandangi Bella seraya mengerutkan dahinya.


“Eh, tumben lo ke kantor?” Ia sedikit terkejut rupanya.


“Iya ada rapat sama pak Eko dan mba Jihan bareng para crew.” Terang Bella.


“Oh Okey. Gue duluan.” Melisa berjalan mendahului Bella menuju ruangannya.


Bella hanya mengangguk saja, mereka memang tidak sedekat itu untuk sekedar berbasa basi. Jadi harap maklum.


Masuk ke ruang kerja, suasananya masih sama. Posisi dudukpun masih sama yang berbeda adalah,


“Apaan ini Mel?” Bella segera menuju meja kerjanya saat melihat banyak hadiah dan bunga di atas mejanya.


“Gak tau, banyak cowok yang naroh hadiah sama bunga di meja lo. Padahal udah gue bilang kalau suka sama lo, samperin langsung ke lokasi. Eehhh malah pada di taro di sini semua. Bau ruangan jadi campur aduk gini sama bau bunga buat lo.” Cerocos Melisa sambil menyemprotkan parfum dari dalam tasnya.


Bella jadi tersenyum kecil. Beberapa bucket bunga memang sudah layu dan hanya ada 1 yang masih segar. Melisa benar, wangi bunga yang macam-macam jadi bercampur.


“Sorry yaa udah bikin lo gak nyaman.” Lirih Bella seraya mengambil satu bucket bunga yang ia coba baca pengirimnya.


“Hem.” Hanya itu sahutan Melisa.


“Busett!! Apaan ini Bell?” Rini yang baru datang pun ikut kaget.


“Gue juga gak tau. Lagi liat satu-satu.” Sahut Bella yang masih asyik membaca satu per satu kertas yang menempel pada tiap hadiah dan bunga.


“Wiihh… Ada yang pake puisi. Ehm!” Rini berdehem sebelum membacanya.


“Kemarin, aku tidak melihat Pelangi tapi rasanya aku tidak merasa sedih. Tapi saat aku tidak melihat wajahmu, aku malah merasa resah.”


“Eeaaakkk… Ini yang ngirim pasti titisan WS Rendra nih.” Iseng Rini berkomentar dan membuat Bella tersenyum.


“Cepet ceria lagi ya Bell.. Kantor sepi gak ada lo… Gak ada yang nyapa gue.” Rini berlanjut membaca tulisan di toples coklat. Itu coklat kesukaan Bella.


“Hay Bell, Yang terpenting di dunia ini, bukan seberapa kali lo jatuh tapi seberapa kuat lo yang selalu berusaha bangkit. Ganbate..”


“Eeemmm pecinta anime jepang nih kayaknya.” Rini membaca post it yang ada di sampul buku motivasi.


“Gak ada namanya semua tapi Bell.” Imbuh Rini.


“Iya, mereka men-support gue dengan tulus tanpa perlu gue tau itu siapa yang jelas mereka ada di sekitar gue.” Terang Bella. Rasanya jadi terharu.


Ia keluar dari ruang kerjanya, melihat ke sekeliling ruangan.


“Terima kasih gaisss… Gue udah balik lagi dan gue lebih baik sekarang.” Teriak Bella dari Lorong.


Mereka yang ada di ruangan masing-masingpun hanya tersenyum. Mereka adalah yang merindukan suara ceria Bella.


“Syukurlah.” Ujar salah satu petugas keamanan yang mendengar suara Bella di receptionist.


Lantas ia mematung dan tersenyum. Menyentuh dadanya yang berdebar kencang. Berulang kali ia mengucap syukur dalam hati atas perhatian sebesar ini dari rekan-rekan kerjanya. Ia merasa sangat beruntung. Ternyata keluarganya tidak hanya Ozi dan Saras tapi seisi PH ini. Ia benar-benar merasa bersyukur.


Dari kejauhan ada Devan yang baru datang. Ia berjalan perlahan menghampiri Bella seraya memandangi gadis itu dengan senyuman.


“Haayy..” Sapa Bella seraya melambaikan tangannya pada Devan.


Devan balas melambaikan tangannya. Laki-laki itu terlihat sangat rapi pagi ini. Ia juga tersenyum.


“Udah liat hadiah-hadiiahnya?” Tanya Devan yang kini berdiri di hadapan Bella.


“Hem, bikin gue penasaran, siapa sebenernya orang-orang baik itu.” Sahut Bella dengan wajahnya yang masih ceria.


“Yaaa lo gak perlu tau kan. Anggap aja itu dari seseorang yang lo bantu untuk fotocopy dokumen. Dari seseorang yang berterima kasih karena lo nyalain lampu ruangannya saat dia gak bisa beranjak. Seseorang yang lo beliin vitamin buat anaknya yang lagi sakit dan gak punya uang. Seseorang yang lo tanya kabar istrinya saat dia lama gak pernah pulang. Atau dari seseorang yang lo kasih sarapan saat dia tergesa-gesa berangkat ke kantor, bisa jadi juga dari seseorang yang lo tanya kabarnya saat dia merasa gak ada yang peduli sama dia. Dan orang-orang lainnya yang mungkin mendapat perhatian kecil dari lo padahal buat mereka itu sangat bermakna.” Terang Devan dengan sesungguhnya.


Bella jadi tertegun, benarkah sebermakna itu yang ia lakukan?


“Lo tau, seseorang pernah bilang, lo matahari di PH ini Bell. Lo redup, mereka ikut sedih. Jadi, tetaplah menjadi Bella yang ceria yang berani menghadapi apapun, terutama menghadapi keraguan lo sendiri.” Ia memandangi Bella yang tersenyum dengan mata berkaca-kaca.


“Thanks Van.” Lirihnya seraya menyeka air mata yang tiba-tiba menetes.


Devan hanya tersenyum di tempatnya seraya memandangi Bella yang terus tertawa tapi air matanya tidak berhenti mengalir.


“Lo patut untuk bahagia Bell.” Tegas Devan.


Bella hanya mengangguk-angguk, mencerna semua kalimat Devan sebagai perhatian yang berarti dari orang-orang di sekitarnya. Ternyata ia seberuntung itu.


*******


Di ruang rapat kini sedang di putar beberapa video pendek yang akan dijadikan teaser untuk film mereka. Tim editor membuat 4 video agar dapat di pilih salah satunya.


“Gimana?” Tanya Kemal, sang Editor. Mereka sudah selesai menonton semua video pendek itu.


“Cukup bagus. Bell?” Indra mengalihkan perhatiannya pada Bella yang masih berusaha mencerna tayangan yang di tontonnya. Ia tahu benar, pendapat Bella penting.


“Ada yang kurang?” Eko ikut bertanya, karena Bella tidak lantas menjawab.


Biasanya gadis ini sangat cepat memberi respon dengan berbagai pertimbangan yang matang.


“Kok gue gak dapet feel nya ya bang?” Bella balik bertanya pada Indra, juga menatap Indra yang kini menatapnya laman.


“Masa sih Bell, padahal gue udah baper banget liat adegan mereka.” Rini berbisik lirih.


Indra jadi ikut berpikir. “Menurut lo Van?” Indra bertanya pada Devan yang berusaha mencerna ucapan Bella.


Bella jadi tercenung, memikirkan apa yang kurang dari teaser yang ia tonton.


“Bisa jadi kurang dapet feel-nya karena kita belum ngasih soundtrack.” Kali ini Devan yang berbicara.


“Emm,, bisa jadi.” Indra mengangguk setuju.


“Okey, ada ide untuk soundtrack nya? Atau mungkin part mana dari lagu yang mau di masukin buat soundtrack di teaser-nya.” Kemal balik bertanya.


Ia pun berpikiran sama, mungkin karena belum ada soundtrack yang bisa di gunakan.


“Saya udah menerima beberapa kandidat lagu dan penyanyi untuk mengisi soundtrack, coba play Ka lagu yang ada di flash disk om.” Pinta Eko pada Inka.


“Iya om.” Inka menyalakan lagu dari laptopnya dan memperdengarkannya pada semua orang. Mereka tampak khidmat menyimak.


Lagu pertama, mereka kompak menolak. Lagu kedua Indra dan Devan yang tidak setuju dan lagu ketiga, Bella yang tidak setuju.


“Hah, nggak ada soundtrack yang tepat ya…” Eko memijat pelipisnya yang berdenyut pening. Perkara soundtrack memang pekerjaan yang sulit.


“Apa kita coba hire penyanyi lain?” Inka bertanya pada semua orang yang tampak sedang berpikir.


“Kenapa nggak kita coba pemain utama kita yang nyanyi.” Tiba-tiba saja Bella memberi ide.


“Hah, maksud lo Rangga? Lo yakin Bell?” Adalah Inka yang langsung bertanya.


Bella mengangguk pelan.


“Waktu kita gak banyak buat nyari soundtrack yang pas. Kenapa enggak kita minta pemain utama buat lagu berdasarkan cerita filmnya. Selain nantinya dia lebih mendalami perannya, dia juga bisa nulis lagu dan bisa nyanyi. Bukannya cara seperti itu bisa cepat membuat lagunya booming? Bisa untuk promosi juga bukan?” terang Bella dengan yakin.


Roni yang duduk bersebrangan dengan Bella menatap tidak percaya. Tepatnya seisi ruangan menatap tidak percaya dengan ide Bella.


“Tapi Bell, dia kan mantan lo. Lo yakin mau bikin dia makin naik?” Bisik Rini setengah tidak rela.


“Saya setuju.” Devan langsung menyahuti untuk mematahkan kalimat Rini.


Bella yang sedang termenungpun beralih menatap Devan.


“Kenapa tidak kita coba dengarkan beberapa lagu dari pemain utama. Kalau cukup baik, kita tawarkan soal pembuatan soundtrack ini. Dia setuju kita kasih, kalau dia gak setuju, kita cari penyanyi dan penulis lagu lainnya. Tapi mungkin harus melewati audisi terbuka dan akan memakan waktu lama.” Devan berpendapat dengan tegas.


“Okey, kita akan coba.” Akhirnya Eko memutuskan.


“You okey?” Bisik Devan pada Bella. Gadis ini yang ia cemaskan sekarang.


Bella mengangguk yakin seraya tersenyum. Melihat Bella seperti ini saja sudah bisa membuat Devan menghela nafas lega.


*****