Bella's Script

Bella's Script
Foto keluarga



Sesi foto tetap selalu menjadi sesi favorit dalam sebuah acara begitupun dengan pernikahan Bella dan Devan hari ini.


Walau penataan ruangan hanya di peruntukkan bagi sebuah akad sederhana namun tetap saja pada akhirnya ruang tamu di tata dengan aesthetic oleh duo gadis bertangan creatif Bella dan Inka, semalam. Suasana hangat dan romantis terasa di dalam ruangan itu terlebih saat yang disaksikan adalah sebuah pernikahan.


"Selamat ya bro, bahagia selalu buat lo." Ucap Indra saat memeluk sahabatnya.


"Bell,.. Selamat ya. Seneng gue liatnya." Bella pun di salimi olehnya.


"Thanks you bang."


"Cepet-cepet kasih gue ponakan ya!" Tidak lupa Indra menggoda Bella.


"Aamiin.." Amini saja dulu, pikir Bella.


Puas saling memberi do'a dan selamat juga menggoda pengantin baru, sebagian tetamu sudah lebih dulu pulang. Setelah menikmati hidangan ala kadarnya dan berfoto dengan pengantin, merekapun pamit pulang. Hanya bersisa beberapa orang di rumah itu.


Di sudut ini pula Bella dan Devan di minta untuk berfoto dengan berbagai pose. Inka sang pengatur gaya dan Ozi yang tentu saja merangkap sebagai photographer juga penyelenggara acara. Beruntung peralatan memotret yang Ozi miliki cukup lengkap dan canggih sehingga mereka tidak perlu menyewa jasa photographer profesional untuk mengabadikan semuanya.


“Abang\, mau sampe kapan gue di suruh pose? Gue udah pengen cuci muka.” Protes Bella yang mulai tidak betah dengan *make up*-nya.


“Bentar lagi dek, nanggung dikit lagi. Kita selesein ini sebelum kita ambil foto sama mamah dan yang lainnya.” 4 orang ini asyik sendiri di tambah Indra yang ikut merekam moment melalui video.


Bella dan Devan ternyata object yang menyenangkan untuk di rekam. Bella yang masih malu-malu dan salah tingkah saat di tatap Devan, seolah menunjukkan sisi lain dari Bella yang tidak biasa terlihat. Dan seorang Devan yang dingin, acuh tapi ternyata bisa iseng juga pada istrinya, membuat Indra sesekali tertawa gemas melihat tingkah keduanya.


“Sekarang, lo ngadep depan, kagak usah senyum, mukanya flat aja.” Bella yang diarahkan.


“Lo miring dikit ke arah Bella, fokus pandangan lo ke Bella, jangan ke kamera.” Giliran Devan yang diarahkan.


“Dek, lo liatnya ke ujung sini nih, jangan ke kamera.” Tunjuk Ozi pada ujung kamera.


Bella menurut saja supaya lebih cepat selesai.


“Okey, lo berdua udah inframe, tahan bentar jangan gerak.” Ozi berusaha mengatur fokus kameranya dengan memblur pada beberapa bagian.


Ia memang sengaja membuat semua foto-fotonya sesempurna mungkin karena ia tahu moment ini adalah moment sekali seumur hidup dan tidak boleh dilewatkan siapapun. Moment ini harus di kenang hingga ke anak cucu Bella dan Devan kelak.


Dua orang itu menurut saja, mengikuti arahan Ozi.


Devan tersenyum kecil saat ia melihat sosok Bella dari belakang.


Tubuhnya yang semampai dan sedikit berisi sangat cocok mengenakan kebaya modern buatan Saras. Rambutnya tersanggul rapi dengan hiasan keemasan berbentuk bunga kering tersemat diantaranya. Sungguh penampilan yang berbeda dari seorang Bella yang selama ini selalu terlihat cantik di matanya.


“Van, fokus!” Ozi menjentikkan jarinya saat melihat Devan yang malah tersenyum. Padahal ia di arahkan untuk berekspresi tenang dan cenderung datar.


Mengertilah Zi, ini sulit untuk yang sedang berbahagia. Tapi Devan tetap mencobanya.


“Waaahhh… Kayak di majalah wedding gitu Bell… Aakkhh gemessss…” Inka bersorak riang di samping Ozi.


Ia terus mendekat pada Ozi karena penasaran bagaimana pose mereka yang terlihat di kamera.


“Boleh geser sebentar, gue ambil foto dulu.” Ucap Ozi yang merasa terhalangi.


“Oh iya, maaf mas Bim.” Cepat-cepat Inka menarik tubuhnya sendiri untuk menjaga jarak dari jangkauan sikut Ozi.


Bella jadi tersenyum sendiri, bukan karena pujian Inka tapi karena tingkah dua orang itu. Suasana hangat di rumah ini telah membawa mereka dekat dengan sendirinya. Ozi bahkan tidak lagi bersikap dingin seperti dulu. Ia lebih terbiasa melihat keberadaan Inka di sekitarnya.


Kembali ke foto, beberapa foto telah di ambil walau pandangan Ozi mulai berkabut. Ia beberapa kali mengerjapkan matanya untuk memfokuskan penglihatannya. Ia harus menguatkan dirinya sendiri karena masih banyak moment yang ingin ia potret.


“Okey udah. Sekarang kita foto sama keluarga.” Ujar Ozi.


“Aku panggil tante Saras ya mas Bim.” Inka yang paling antusias menyahuti.


“Okey, thanks.” Timpal Ozi.


Sambil menunggu dan mengatur kameranya, Ozi memperhatikan interaksi Bella dan Devan. Ia tersenyum saat melihat dua orang itu berdiri berhadapan dan saling tatap.


“Apaan?” Tanya Bella karena Devan terus tersenyum padanya.


“Lo cantik.” Puji Devan dengan sesungguhnya. Ia menatap lekat wajah Bella yang membuatnya enggan berpaling melihat hal lain.


“Bisa aja lo..” Bella menyikut lengan Devan dengan sengaja. Wajahnya merona dengan senyum kecil terkembang.


“Lo sendiri, kapan potong rambut?” Bella memperhatikan penampilan Devan yang rapi. Ia sedikit berjinjit untuk mengambil helaian rambut Devan yang jatuh di bahunya.


Rambut gondrongnya sedikit di pangkas rapi, namun masih tidak meninggalkan ciri khas Devan dengan rambutnya yang agak panjang model e-boy cuts namun rapi. Yang jelas lebih pendek dengan batas terpanjang ujung rambutnya adalah se kerah baju. Tambah keren dan maskulin sebenarnya.


“Semalem, pulang dari sini. Bagus gak?” Devan mengguyar rambutnya di hadapan Bella.


“Jelek!” Bella menepuk tangan Devan agar berhenti melakukan hal itu. Tingkah Devan membuatnya salah tingkah karena suaminya terlihat sangat tampan.


“Terima kasih pujiannya.” Timpal Devan yang paham maksud ledekan Bella. Perempuan memang kadang gitu, berbicara berkebalikan dengan perasaannya.


“Dih, malah bilang terima kasih.” Bella berdecik kesal walau walaunya tetap merona dan tersenyum.


Devan ikut tersenyum gemas melihatnya.


“Bell bentar,” Tiba-tiba tangan Devan terulur menyentuh pipi Bella.


“Kenapa, belepotan ya?” Bella langsung melihat tangan Devan yang nyaris menyentuh pipinya.


“Nggak, pengen ngelus aja.” Bisik Devan yang sedikit mencondongkan tubuhnya pada Bella.


Yang di pukul hanya terkekeh, salat tingkah Bella itu lucu menurutnya. Ia menikmati moment seperti ini.


Dan semua tingkah mereka terrekam jelas di kamera Ozi dan ponsel Indra. Dua laki-laki yang pura-pura acuh padahal memperhatikan keduanya. Interaksi alami keduanya jauh lebih menarik.


“Adekkk,, Manggil suami kok masih begitu.” Rupanya Saras sudah datang dan menghampiri Bella.


“Heheheh mamah..” Bella tersipu saat sang ibu menatapnya dengan segaris senyum.


“Nanti adek ganti mah.”


“Bella juga terus meledek Devan tan, katanya jelek.” Devan ikut menambahkan. Pura-pura menderita di depan Saras.


Bella hanya bisa berdecik sebal mendengar aduan sang suami.


“Enak aja! Mantu mamah ganteng gini. Sini deket mamah, mamah mau di tengah ya bang… Abang bisa ikutan kan sebelah adek?”


Menang satu angka, menurut Devan yang tersenyum tengil pada Bella dan di balas decikan kesal di belakang Saras.


“Iya mah, nanti abang deket adek.” Ozi menyetel timer di kameranya. Setelah merasa rapi, ia mendekat di samping Bella.


“Cekrek! Cekrek!” beberapa foto berhasil di abadikan.


Anggota keluarga lainpun ikut bergabung tak terkecuali Inka dan Indra serta si bungsu Ibra.


Berbagai pose mereka ambil dan hasilnya sangat memuaskan, moodpun otomatis berubah ceria.


“Okey, karena fotonya udah selesai, sekarang makan dulu yaa..” Ajak Saras.


“Iya mah.” Bella menyahuti.


“Abang ke atas bentar ya mah. Ada yang harus abang cek.” Pamit Ozi sambil membawa kameranya.


“Iya nak, jangan lama-lama.” Usapan halus di berikan di bahu putranya yang terlihat bahagia.


“Iya mah.” Ozi segera pergi agar bisa segera bergabung makan dengan yang lain.


****


Meja besar yang kini ada di ruang tamu hanya menjadi milik Bella dan Devan. Keluarga yang lain sudah lebih dulu makan saat mereka berfoto tadi. Aneka masakan ada di sana. Semuanya di buat oleh Saras dengan sepenuh hati. Ia pun menatanya dengan cantik, seolah menggambarkan kebahagiaan yang tengah di rasakan keluarga ini.


“Dek, ambilin makannya untuk nak Devan.” Bella mendapat tugas pertama untuk melayani suaminya di meja makan.


Ini bukan sarapan bukan pula makan siang karena masih cukup pagi.


“Iya mah.” Bella mengambil piring dan mengisinya dengan nasi.


“Mau pake apa makannya?” tawar Bella.


“Pake ayam goreng aja, sama tumis sayur.” Pinta Devan.


“Okey… Mau cobain roladenya juga gak, ini enak lo.” Tawar Bella antusias.


“Boleh.” Devan menyambutnya.


Saras tersenyum haru melihat interaksi Bella dan Devan, mereka tampak serasi. Ia tidak pernah menyangka kalau Devan yang sudah ia anggap sebagai anak sendiri ternyata benar-benar menjadi anak laki-lakinya.


Hah, rencana tuhan memang tidak pernah ada yang tahu. Yang jelas, pasti selalu indah.


Mereka mulai menikmati makan bersama untuk pertama kali. Selain mengurus dirinya sendiri Bella mulai belajar mengurus suaminya. Di mulai dari hal kecil seperti mendekatkan air minum pada Devan atau menawarkan hal lain yang mungkin di perlukan oleh suaminya.


“Terima kasih sayang.” Bisikan Devan di telinganya membuat Bella harus menahan senyumnya sendiri. Jantungnya jadi berdebaran tidak karuan hanya karena mendengar kata manis itu di telinganya.


Bisa-bisanya ia berbicara begitu saat mata Saras tidak memperhatikan mereka.


“Gimana makananya, enak nak?” Saras melihat Devan yang tampak menikmati makanannya.


“Enak mah, Devan suka.” Sahutnya dengan senyum kecil.


Bella jadi menoleh sang suami yang memanggil Saras dengan panggilan itu. Ia jadi teringat ucapan Devan beberapa waktu lalu.


“Gue kangen sama nyokap gue. Gue masih pengen manggil dia mamah terus dia menoleh lalu tersenyum sama gue Bell.” Lirih Devan kala itu.


Dan entah mengapa panggilan “Mah” yang Devan sematkan pada sang ibu, membuat hati Bella terrenyuh.


Walau mungkin tidak mengobati rasa rindunya pada sang ibu, apakah Devan sebahagia itu memanggil Saras mamah?


*****


Lanjutt?


Kasih like, komen dan vote-nya ya kakak :)


Sambil nunggu up, silakan mampir ke karya temenku yaaa...


Nama Penulis: Bunga Alika


Judul: Gadis Desa Kesayangan Tuan Muda