
Di tengah obrolan Jihan dan Amara, seorang wanita datang menghampiri. Wanita itu datang dengan wajahnya yang sendu dan sembab. Gelas di tangan Jihan pun langsung di turunkan.
“Ada apa lo ke sini?” Tanya Jihan, pada seseorang yang tidak lain adalah Rini.
Wanita itu tidak lantas menjawab. Ia memilih duduk di hadapan Amara dan Jihan, mengambil botol minuman di hadapan mereka lalu meneguknya.
"Aaahhh... Shi*t!!" Ia meringis, menahan pahit di mulutnya. Rasa minuman ini tidak terlalu familiar di lidah Rini namun membuatnya ketagihan dengan efek yang sangat cepat, membuat tubuhnya menjadi hangat.
“Heh, apaan lo!” Seru Amara, hendak mengambil botol minuman dari tangan Rini, namun Jihan segera menahannya. Membiarkan Rini melanjutkan apa yang sudah di mulainya.
Kedua wanita itu memperhatikan wajah Rini yang langsung kemerahan setelah meneguk minuman beralkohol itu. Ia menundukkan kepalanya, berusaha menahan rasa pusing berputar di kepalanya.
Tidak sekali saja, Rini kembali meneguk minumannya, “Aaahhhh...” Ia berdesis lirih.
“BRUG!” Ia menaruh botol minuman di tangannya dengan kasar. Ia tersenyum sinis melihat tatapan tajam dua wanita dihadapannya.
“Gue kalah.” Ujarnya dengan senyum kecil, mengasihani dirinya sendiri.
“Dan lagi-lagi dia yang menang.” Sambungnya.
“Lo ngomong apa sih?” Amara tidak begitu paham dengan yang diucapkan Rini.
“Hah, di saat seperti ini lo malah bersikap pura-pura gak tau. Lo pikir apa lagi yang bisa bikin gue sampe kayak gini?” Rini menatap Amara dengan sinis, begitupun Jihan.
Jihan hanya terdiam, ia menyandarkan tubuhnya pada kursi dan memperhatikan gerak gerik Rini yang sibuk membuka tas ranselnya.
Ia mengeluarkan setumpuk tebal kertas yang sudah di jilid dan “Brug!” di taruhnya di atas meja.
“Gue udah bikin script ini selama 4 bulan. Sesuai janji lo, lo harus mengontrak script ini dan menjadikannya film box office.”
“Buk Buk Buk!” Rini memukul-mukul tumpukan kertas di hadapan mereka dengan puas, sambil tersenyum miring.
“Kenapa di serahin ke gue? Kenapa gak ke Eko aja?” Jihan balas sinis pada Rini.
“Eko? Hahahahaha.... Eko lo bilang?” Rini tertawa pedih di depan wajah Jihan.
“Laki-laki tua itu ngebuang gue! Dia bahkan gak minta gue untuk bertahan waktu gue bilang gue mau berhenti. BRENGSEK!!!!” seru Rini dengan penuh kemarahan. Tangannya mengepal kuat menahan kekesalannya.
“Haa haa haa haaa...” Jihan malah membalasnya dengan tawa. Sekali lalu ia mencondongkan tubuhnya pada Rini.
“Lo ketauan?” Tanya wanita itu dengan ringan.
“Yaaa mau gimana lagi. Semua orang ngedukung perempuan itu. Bahkan mereka kompak menjebak gue.”
“BRENGSEK!!!!”
Bisa-bisanya rencana yang sudah ia susun rapi malah di rusak dan dibuat berantakan oleh Rini.
Toyoran Jihan cukup kuat hingga membuatnya terhuyung. Rini membiarkan saja wajahnya tertutup helaian rambut yang berantakan. Ia meniup helaian rambut yang menutupi wajahnya, lalu tersenyum sinis pada Jihan.
“Hahahaha... Kenapa gue yang bodoh? Gue udah ngelakuin semua yang lo minta dan sekarang, gue datang buat nagih janji lo. Janji buat pake script ini seandainya gue di keluar dari PH sialan itu.” Suara Rini pelan namun penuh penekanan.
Mata jihan langsung membulat. Sungguh tidak tahu diri, kaki tangan yang berada di bawah telunjuknya berniat menjadi kepala.
“Apa lo bilang? Bikin film dari script sampah punya lo?”
“Mana mungkin gue sebodoh itu...” Jihan menarik tubuhnya menjauh dari Rini, lantas bersidekap, menyilangkan tangannya di depan dada.
“Lo gagal di tengah-tengah, mana mungkin gue mau memenuhi janji gue. Perempuan itu bahkan masih berdiri tegak kan dengan dukungan dari orang-orang bodoh di PH itu? Lo gak berguna brengsek!”
Jihan mengangkat tangannya hendak menyentuh kepala Rini, namun dengan segera Rini menahannya. Ia mencengkram tangan Jihan dengan erat, sangat erat hingga Jihan merasakan panas dan sakit di waktu yang bersamaan.
“Jangan main-main sama gue.” Rini beranjak bangkit dari tempat duduknya. Saat mabuk ternyata tenaganya berkali lipat hingga membuat Jihan meringis.
Amara segera mundur karena ketakutan.
“Kalau lo gak memenuhi janji lo, gue juga bisa ngehancurin karir lo dan juga lo!” Tunjuk Rini pada Jihan dan Amara, bergantian.
"Lo pikir gue gak tau kartu as lo berdua?" Rini tersenyum sinis penuh kemenangan. Ia sadar benar kalau Jihan dan Amara tidak akan membiarkan siapapun merusak reputasinya, termasuk Rini.
“Okey! Okey! Gue turutin mau lo! Lepasin tangan gue!” Jihan berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman tangan Rini. Tangannya sangat sakit seperti mau patah. Tidak ada pilihan lain selain mengiyakan dahulu permintaan Rini.
“Pak!”
Rini mengibaskan tangan Jihan begitu saja. Gadis itu terhuyung karena dorongan Rini yang kuat. Ia memegangi pergelangan tangannya yang berdenyut ngilu.
“Bagus. Rupanya lo cukup pintar.” Rini tersenyum sinis di tempatnya.
“Dasar perempuan gila.” Batin Amara yang mundur menjauh dari Rini. Ia tidak menyangka tatapan Rini saat menggila ternyata sangat menakutkan.
“Script ini silakan lo simpan dulu. Hubungi gue saat lo udah siap untuk menandatangani kontrak sama gue.” Lagi Rini menepuk script di hadapannya dengan penuh kebanggan.
Jihan tidak bergeming. Ia hanya menatap script yang ada dihadapannya. Sekali ini saja ia menuruti dulu permintaan Rini, sebelum kemudian ia melenyapkan wanita gila itu.
“Haha.. Hahahaha...” Puas dengan yang dilakukannya, Rini pun beranjak pergi. Ia melambaikan tangannya pada Jihan dan Amara dengan senyum penuh kemenangan.
Kehancuran ini, sudah seharusnya bukan ia saja yang merasakannya.
*****