
Antara lega dan kecewa saat Bella tahu siapa sebenarnya pelaku penyebaran video behind the scene syuting film kemarin. Video yang sengaja di potong pada bagian seolah Bella menjadi selingkuhan Rangga. Totalitas Rangga dalam memerankan karakternya ternyata malah menjadi boomerang karena yang dihadapi Rangga adalah Bella, bukan Amara.
Sejujurnya ia pun tidak bisa menyalahkan opini masyarakat. Mereka beropini karena terpancing oleh video yang menyebar dengan cepat.
Dan saat ini, Bella sedang berusaha menenangkan dirinya. Bella memilih menyendiri di taman belakang PH, tempat ia biasa menghabiskan waktu. Mencelupkan kakinya ke dalam kolam, melihat derai air terjun buatan di dinding juga melihat bunga-bunga yang bermekaran di sekitarnya.
Bella termenung, ia tidak bisa menyembunyikan keterkejutan sekaligus air mata saat ia mengingat kalau pelakunya adalah teman satu timnya sendiri, Rini.
Bagaimana bisa Rini melakukan hal seperti ini? Padahal wanita itu sudah bekerja sangat lama di PH ini. Wanita itu juga yang selama beberapa bulan terakhir membantunya selama proses syuting.
Ya, mereka memang tidak terlalu dekat sebelumnya. Namun Bella tidak menyangka kalau Rini akan menjadi musuh dalam selimut. Itu yang membuat Bella tidak habis pikir.
Ia terus bertanya pada dirinya sendiri, sebenarnya apa yang salah dengan dirinya? Setiap kali ia merasa kalau ia cukup dekat dengan seseorang baik secara professional dan interpersonal, selalu ada saja celah untuk orang tersebut menyerangnya dari jarak dekat.
Ya, sangat dekat sampai Bella tidak menyadari kalau yang melakukan hal seperti ini adalah seorang Rini. Hujaman pisaunya sangat tajam dan dalam sampai Bella kesulitan menghela nafas saat mengingat wanita itu.
“Astaga…” Bella mengusap wajahnya kasar saat tidak ada satupun kemungkinan alasan yang mampu ia pikirkan.
Di belakang sana, ada Devan yang tengah berjalan menghampiri sang istri. Wanita itu tengah tertunduk lesu, termenung memikirkan banyak hal. Bella pasti masih sangat shock dengan semua yang di lihat dan di dengarnya hari ini.
Dan hal inilah yang menjadi salah satu alasan Devan tidak ingin Bella ikut ke PH hari ini. Ia yakin istrinya akan merasakan kegundahan setelah tahu siapa pelaku dari penyebaran video itu.
“Boleh aku duduk di sini?” Pinta Devan saat sudah tiba di samping Bella.
Bella menoleh sang suami yang tinggi menjulang di sampingnyaa. Ia sampai menengadah, melihat wajah Devan yang seperti tepat di bawah cahaya matahari.
Ya, hari ini Devan menjadi cahaya matahari PH ini. Ia yang berhasil menjebak pelaku penyebaran video itu hingga mengungkapkan dirinya begitu saja tanpa ia sadari.
“Hem,” sahut Bella dengan segaris senyum. Lantas kembali menatap kakinya yang terrendam di dalam air kolam. Rasa dinginnya cukup menenangkan.
Devan ikut terduduk di samping Bella, ikut mencelupkan kakinya setelah menggulung celana panjangnya hingga ke batas lutut. Ia duduk dengan jarak beberapa senti saja dari Bella.
Sekarang ia bisa paham mengapa Bella sangat suka diam di sini dan mencelupkan kakinya ke dalam kolam. Ketenangan ini rupanya yang dicari sang istri.
“Tempatnya nyaman. Apa kamu menatanya sendiri?” Devan mengawali obrolannya dengan Bella. Memperhatikan lingkungan sekitar Bella yang di tata dengan aestetic.
Wanita itu tersenyum lantas terangguk.
“So, what do you feel, right now?” Devan menatap wajah sang istri yang berusaha tenang di hadapan suaminya.
“I don’t know.” Bella menggeleng. Ia bahkan tidak tahu perasaannya seperti apa.
“Marah, ya. Kecewa, ya. Sedih, ya. Lega, ya. Lalu, apa nama perasaan seperti itu?” Bella balik bertanya pada sang suami.
Devan terangguk kecil mendengar pertanyaan istrinya. Ia bisa memahami perasaan Bella saat ini, pasti sangat kecewa dan tidak menyangka.
“Maafin aku Bell.. Harusnya aku lebih cepat menemukan pelakunya supaya kamu tidak terlalu lama merasa tidak nyaman seperti itu.” ucap Devan seraya menatap wajah sang istri lekat-lekat.
Bella tersenyum kecil mendengar permintaan maaf suaminya.
“Terima kasih atas kerja keras kamu, mas. It’s mean a lot for me.” Angguk Bella dengan penuh kesungguhan.
Devan terangguk, tentu ia harus menceritakan ini pada Bella, agar kelak istrinya lebih waspada.
“Semua bermula saat aku dan Kemal mengecek CCTV kantor juga kamera semua cameramen. Kemal mengecek rekaman di kamera cameramen sementara aku mengecek di CCTV.”
“Tidak ada yang aneh, sampai kemudian aku merasa ada potongan CCTV yang hilang. Hanya beberapa detik saja.”
“Aku sama Kemal mencoba meng-combine itu. Melihat satu per satu detail video dan akhirnya ketemu. Dalam waktu 42 detik, di malam hari, dua orang pelaku mengambil hasil pekerjaan Kemal di komputernya.”
“Report dari temanku, dia juga mengupload video itu dari ponselnya. Itu terlihat jelas dari IP address pengupload pertama walau dia menggunakan fake akun.”
Hal ini yang membuat Devan sempat berdebat panjang dengan sahabatnya pagi tadi.
Ia meminta Frans untuk mem-banned semua berita tentang Bella tapi sayangnya Frans tidak bisa melakukannya. Akhirnya Devan meminta Frans untuk mencari siapa peng-upload pertama video itu dan untunglah Frans menemukannya, hingga mendetail.
Devan menghembuskan nafasnya lega seraya menoleh Bella yang sedang menyimaknya.
“Kemal sempat bertanya sama salah satu kameramennya tapi dia tidak mengaku. Aku sama Kemal terus mengumpulkan bukti sampai akhirnya aku memutuskan untuk menjebak pelaku di pertemuan hari ini.”
“Aku meminta pak Eko untuk membahas masalah soundtrack, dimana hanya Kemal dan pelaku yang tahu kalau Eko memiliki clip yang sudah dia siapkan untuk official video soundtrack film kita nantinya.”
“Beruntungnya pelaku gak sadar. Dan ya, pelaku itu menunjukkan dirinya sendiri di depan kita.” Devan tersenyum dengan ringan penuh kelegaan.
Bella berdecak kagum dalam hatinya. Suaminya benar-benar luar biasa. Dalam diamnya Devan, Bella tidak pernah menyangka kalau Devan melakukan banyak hal untuk dirinya.
“Makasih mas, makasih banyak.” Ucap Bella dengan penuh kesungguhan.
Devan tersenyum kecil pada sang istri. Ia menatap lekat sepasang mata yang seperti mendapatkan kembali energinya.
“Kalau mau berterima kasih, berterima kasihlah paling tidak dengan tersenyum. Setengah hari ini, aku liat kamu murung terus. Hati aku sedih Bell…” Di usapnya pipi Bella dengan lembut penuh perasaan.
Ucapan Devan membuat Bella tersenyum ringan. Matanya sampai berkaca-kaca karena tidak kuasa menahan haru dan sedih di waktu yang bersamaan.
“Ssstttt… Kamu lebih cantik saat tersenyum.” Devan mengusap bulir air mata yang menetes di pipi Bella. Ia berusaha keras untuk menghibur sang istri.
“Sesekali kamu boleh menangis untuk mengekspresikan perasaan kamu. Tapi tidak untuk hari ini. You doing well, Bell. Aku sangat bangga sama kamu.” Puji Devan dengan tulus.
Ia melihat dengan jelas bagaimana Bella membuat keputusan yang sebenarnya akan menyakiti dirinya. Namun ia sadar, ia tidak bisa egois. Banyak hal yang akan hancur jika ia hanya mengikuti kemarahannya.
“Tolong bertahan sebentar lagi dan jangan takut karena kamu gak akan sendirian melewati semua ini.” Janji Devan dengan penuh keyakinan. Sudah banyak rencana yang ia susun di kepalanya dan ia yakin ia bisa melakukannya, demi Bella. Wanita yang ia cintai.
Bella terangguk seraya berusaha menahan tangisnya. Ia berhambur memeluk Devan dengan erat, sangat erat.
“Aku gak tau harus gimana mengahadapi ini mas. Tapi saat aku sadar kalau aku punya kamu, aku tau semua tidak akan semenakutkan yang aku bayangkan. Terima kasih mas…” lirih Bella penuh perasaan.
“Sama-sama sayang… Ingat selalu kalau aku akan selalu ada di samping kamu.” Tegas Devan.
Bella terangguk yakin. Akhirnya ia bisa bernafas dengan lega. Apapun yang terjadi kelak, ia pastikan ia akan menghadapinya dengan berani.
*****