
Sarapan pagi ini sedikit berbeda dari biasanya. Di meja makan tidak hanya ada 3 orang yang menikmati sarapan seperti beberapa tahun terakhir melainkan 5 orang. Ada Devan dan Ibra yang pagi ini ikut bergabung di meja makan.
Belakangan Ibra sudah tidak canggung lagi berkunjung ke rumah ini. Saras menyambutnya dengan baik begitupun Ozi dan Bella. Semuanya terasa lebih menyenangkan terlebih setelah Ozi merasakan kalau ia memang memiliki ikatan yang kuat dengan adik sambungnya ini.
Seperti pagi tadi, Ozi sendiri yang menelpon Ibra untuk datang pagi-pagi dan sarapan bersama.
"Gimana kuliah lo, lancar?" Ozi mengoper segelas susu yang disiapkan Saras untuk sang adik.
"Lancar. Gue mulai belajar pengukuran Bang. Nyesel banget gue waktu SMA sering kesel sama guru Fisika, tau-taunya sekarang ilmunya kepake banget. Mesti sungkem minta ampun gue sama dia." Aku Ibra, sekali lalu menyuapkan nasi goreng buatan Saras ke mulutnya.
"Nasi gorengnya enak tante, mantap!" Sempat-sempatnya ia mengacungkan jempol pada Saras yang masih melanjutkan masakannya di depan kompor.
"Iya, makan yang banyak supaya gak banyak jajan yang aneh-aneh di kampus." Timpal Saras yang tersenyum kecil pada anak sambungnya.
"Dia bukan anak kecil kali mah, gak mungkin juga jajannya permen." Iseng Bella menimpali.
"Udah gede juga tetep harus mamah ingetin, biar gak lupa. Adek juga, jangan banyak makan yang pedes-pedes. Nanti sakit lambungnya kambuh." Ia mengingatkan Bella yang ada di sampingnya.
"Iyaa Mah... Cium juga nih!" Bella mengecup pipi Saras dengan gemas. Menyenangkan melihat wajah Saras yang berseri bahagia seperti ini.
Ibra ikut tersenyum melihat tingkah sang kakak. Iseng juga rupanya.
“Ngomong-ngomong, kak Bella cantik banget sih pagi ini. Habis mandi besar ya?” Goda Ibra seraya tersenyum tengil pada sang kakak.
“Pake ngomong segala, makan aja udeh!”
Telur goreng yang baru selesai di buatnya, ia taruh di tengah-tengah mereka. Ia menyendoknya dan menyuapkan sesendok potongan telur ke mulut Ibra hingga mulutnya penuh makanan.
Sementara Ozi hanya melirik sang adik dengan senyum tertahan.
“Kenapa, lo juga mau telor goreng?” Bella sudah mengulti sang kakak lebih dulu sebelum Ozi ikut meledeknya. Rasanya wajahnya sampai gerah karena menahan malu di ledek seperti itu.
“Udaahh,, cukup bilang iya, mereka juga paham kok.” Timpal Devan yang berusaha menenangkan Bella. Ia membalas sang kakak ipar yang tersenyum padanya.
“Iissshhh!! Masss...” Bella mencubit paha Devan dengan gemas.
“Awwhh...” Devan sampai mengaduh karena rasa pedas dan perih dari cubitan Bella.
“Rasain!” kesalnya seraya menjulurkan lidah pada suaminya.
“Adeekkk...” Suara Saras yang kemudian terdengar.
“Iyaa Mah, maaf... Habisnya mereka jadiin aku bahan bulyyan sepagi ini. Emang Mamah tega apa?” Bella bersandar manja pada sang ibu.
"Udah akh jangan main ledek-ledekan, di terusin makannya." Dengan bijak Saras menengahi.
"Rasain!" Dengus Bella yang tersenyum tengil penuh kemenangan.
"Mamah emang the best lah!" Dikecupnya kembali pipi Saras sebelum kembali ke kursinya dan duduk tenang di samping Devan.
Ia duduk dengan anggun, menaruh serbet di atas pangkuannya dan memulai makan layaknya seorang tuan putri.
"Silakan di lanjutkan makannya." Ujarnya saat beberapa pasang mata menatapnya gemas. Devan tidak segan untuk mencium pucuk kepala Bella dengan gemas.
"Kakak lo noh! Banyak gaya!" Ozi menyenggol Ibra sambil terkekeh. Ibra membalasnya dengan tawa kecil dan yang bersangkutan, tetap duduk dengan tenang menikmati makanannya.
“Lo ada kelas jam berapa hari ini?” Tanya Ozi melanjutkan kalimatnya.
“Jam 10, dosennya telat katanya masih di perjalanan, pulang mengikuti seminar.” Sahut Ibra dengan santai.
“Pulang ngampus jam berapa?”
“Jam 2 juga udah balik. Kenapa emang? Abang perlu bantuan gue?” Ibra jadi memperhatikan Ozi yang tampak berpikir.
“Nanti gue wa.” Sahut Ozi yang kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.
“Lo kalo mau di anter, gue juga bisa nganter lo. Emang lo mau kemana?” Bella ikut ambil suara.
“Gak usah, lo kan harus ke kantor.” Tolak Ozi, menolak penawaran sang adik.
“Hari ini gue sama Bella gak full di kantor. Rencananya gue mau ngajak Bella ke lembaga sensor film sama ngurus hak cipta. Jadi kalau lo butuh bantuan gue sama Bella, kita fleksible kok.” Devan ikut menambahkan.
“Ya udah, nanti gue hubungi kalo gue butuh bantuan kalian.” Tutup Ozi.
“Okey.” Devan menyahuti.
******
Perjalanan ke kantor dihabiskan Devan dan Bella untuk bercerita satu sama lain. Tangan mereka saling menggenggam menikmati waktu yang mereka miliki bersama.
“Mas, aku mau nanya boleh?”
“Boleh, kenapa? Kok kayaknya serius banget?” Devan mengecup tangan kanan Bella yang di genggamnya.
“Emm,, Aku kan ada rumah dan mobil, yang dulu di pakai sama temen-temenku. Aku udah nawarin Ibra buat nempatin biar dia gak usah tinggal sama tantenya yang galak dan kalau mau kemana-mana gampang. Mas gak keberatan kan?” Tanyanya hati-hati.
Jika dulu ia membuat keputusan sendiri, kali ini ia merasa kalau ia harus memberitahu Devan, sebagai suaminya.
“Apa kamu gak ada pikiran untuk menempatinya nanti?”
“Emmmm,, Nggak. Aku gak mau tinggal di rumah itu. Rumah itu ngasih aku banyak kenangan buruk.”
Bella selalu merasa sesak setiap kali teringat saat ia melihat Rangga dan Amara keluar dari rumah itu dengan pakaian yang minim.
Ia akui, walaupun ada banyak kenangan baik di rumah itu, tapi hanya kenangan buruk yang membekas di hati dan pikirannya.
“Kalau aku sih gak masalah. Toh rumah sama mobil itu punya kamu. Aku gak punya hak buat ngatur. Kalau itu rumah kita, baru aku akan mempermasalahkannya. Hanya saja, kamu harus yakin dengan keputusan kamu sendiri.”
“Iyaa, aku udah yakin. Aku juga kepikiran Ibra. Aku tau persis gimana perlakuan tantenya sama Ibra."
"Harusnya aku sama abang kan ngelindungin dia. Makanya aku pikir, ini salah satu cara aku buat ngelindungin Ibra. Dia perlu hidup dengan normal seperti orang pada umumnya.” Terlihat kecemasan dari raut wajah Bella.
“Kamu punya hati yang baik, aku seneng dengernya. Kalau sekiranya itu bikin kamu bahagia, go ahead, aku gak akan ngelarang.”
“Emm,. Makasih Mas...” Bella bersandar di bahu Devan, tempat ternyaman yang selalu menjadi favoritnya.
“Sama-sama sayang.” Devan mengusap pipi sang istri dengan lembut. Rasanya halus dan kenyal.
*****