
Sekembali dari toilet, Devan di ajak berkeliling oleh Jihan. Memperkenalkan Devan dengan banyak kolega yang bekerja di bidang perfilman. Ia berjalan dengan bangga, memperkenalkan pada banyak orang laki-laki gagah di sampingnya. Matanya mendelik sinis pada setiap wanita yang berani melirik pujaan hatinya.
Dan saat ini mereka sudah berada di salah satu sudut ruangan yang lebih mirip dengan balkon.
“Sepertinya anda sangat mengenal baik orang-orang yang hadir malam ini.” Puji Devan. Pada bagian ini, ia cukup mengagumi Jihan sebagai seseorang yang memiliki banyak relasi.
“Yaa, sebagian besar dari mereka adalah rekanan papah saya. Beliau sudah 30 tahun lebih ada di dunia perfilm-an ini jadi relasinya cukup banyak.” Aku Jihan dengan penuh kebanggan.
“Ya, saya bisa melihatnya. Mereka begitu menghormati Anda, tentu bukan tanpa sebab. Anda muda, pintar dan dari keluarga berkelas, tentu saja sangat mudah membangun relasi bisnis untuk meneruskan usaha di bidang ini.” Ucapan Devan terdengar penuh kesungguhan.
“Waw, pujian anda menempatkan saya menjadi wanita sempurna malam ini. Terima kasih banyak.” Jihan terangguk takjim penuh kebanggan.
Devan hanya mengangguk kecil dengan ucapan Jihan.
“Mohon maaf, ada yang ingin saya tanyakan.” Devan menjeda senyum penuh kebanggan milik Jihan.
“Tentu, silakan.” Jihan begitu antusias. Semakin banyak pertanyaan semakin menyenangkan untuknya.
“Menurut saya, dengan relasi anda yang kuat anda bisa bekerja sama dengan PH manapun. Mengapa anda memilih bekerja sama dengan PH kecil seperti saat ini?” Hal ini mengusik rasa ingin tahu Devan.
“Emm…. Tidak banyak alasan selain saya ingin membuktikan bahwa saya bisa merintis semuanya dari nol. Saya ingin mematahkan pendapat orang-orang bahwa semua terlalu mudah bagi saya. Mereka harus tahu bahwa saya bisa sukses tanpa bergantung pada nama besar papah.” Terang Jihan penuh kebanggan.
Devan hanya terangguk, benar dugaannya selama ini, Jihan seorang yang ambisius.
“Oh ya ampun, karena asyik berbicara anda sampai tidak sempat minum yaa… “ Jihan berujar penuh sesal.
“Tidak masalah, saya tidak haus.”
“Tapi tetap saja, saya bukan tuan rumah yang baik.” Cepat-cepat Jihan memanggil *assistant-*nya untuk mengambilkan Devan minuman.
Seorang wanita segera menghampiri dan mengangguk takjim pada Jihan. Dengan isyarat mata Jihan menyuruh wanita itu memberikan minuman pada Devan.
“Silakan tuan.” Segelas minuman white wine di berikan oleh wanita itu dengan ragu-ragu.
“Terima kasih.” Sambut Devan.
Setelah Devan menerima minuman itu, Jihan segera mengibaskan tangannya, memberi isyarat agar assistant-nya itu pergi.
“Silakan di nikmati. White wine ini sangat lezat.” Jihan lebih dulu meneguk segelas minuman di tangannya, tanpa menurunkan pandangannya dari Devan.
Devan masih memainkan gelas di tangannya, mencium wangi anggur yang khas dan lembut. Sorot mata Jihan seperti tidak sabar menunggu Devan meminum minumannya.
Di menit berikutnya tiba-tiba saja Devan menjauhkan gelas itu dari mulutnya lantas membuang minuman itu di atas pot tanaman di sampingnya. Ia sedang menguji kecurigaannya.
“Kenapa anda membuangnya? Apa anda tidak menyukai minuman ini?” Jihan tampak terkejut karena Devan membuang minumannya. Padahal ia sangat berharap Devan meminumnya.
“Tidak apa-apa, saya hanya tidak suka minuman beralkohol.” Sahutnya ringan. Melihat keterkejutan Jihan yang berlebihan, sepertinya kecurigaannya benar.
“Minuman ini sangat menyegarkan, membuat tubuh terasa hangat. Tidak bisakah anda mencicipinya sedikit saja?” ucapan Jihan benar-benar memaksa, membuat Devan tersenyum kecil.
“Nona, tolong jangan lupakan kalau saya seorang sutradara.” Ucap Devan dengan tegas.
“Apa maksud anda, tentu saya tau anda seorang sutradara. Tapi bukan berarti anda berhak membuang minuman yang sudah saya siapkan.” Jihan dengan rasa tidak terimanya.
“Saya mohon maaf kalau anda tidak berkenan. Saya juga mengucapkan terima kasih karena anda sendiri yang menyiapkan minuman ini.”
“Ctak!” Ujaran Devan seperti menyentil Jihan. Gadis itupun langsung terdiam saat ia sadar dengan ucapannya sebelumnya.
“Kalau anda ingat saya seorang sutradara, harusnya anda ingat juga kalau saya sangat mumpuni membaca ekspresi mikro dan makro seorang pemain watak. Walau saya akui saya tidak begitu mahir membaca siasat seseorang.”
Jihan benar-benar bungkam, susah payah ia menelan salivanya dengan kasar. Ia masih berpikir, bagaimana mungkin Devan tahu kalau minuman itu ia siapkan dengan membubuhkan sesuatu di dalamnya?
“Acting anda cukup mumpuni nona, namun saya tidak tertarik untuk bermain peran dengan anda apalagi menjadi tokoh yang ada di dalam permainan anda.”
Devan mengangkat tangan kanannya dan menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya.
Dengan satu Gerakan itu saja, Jihan langsung terhenyak. Belum selesai keterkejutannya karena Devan mengetahui siasatnya, sudah Devan tambahkan dengan menunjukkan cincin yang melingkar di jarinya.
“A- Anda sudah menikah?” Wanita itu sampai tergagap.
“Ya.. Saya sudah menikah. Dan pernikahan saya sangat bahagia.” Aku Devan dengan penuh kesungguhan.
Entah karena ucapan Devan atau karena minuman alkohol yang diteguknya, Jihan sampai terhuyung. Ia tidak menyangka kalau Devan sudah menikah.
Tanpa Devan tahu, seseorang sudah berdiri di belakangnya dan melihat interaksi ia dengan Jihan.
****