
Di sebuah taman dekat tempat kerja Ozi dulu, kini Bella dan Ozi berada saat ini. Mereka terduduk di atas sebuah bangku dengan posisi masing-masing di ujung kiri dan kanan. Bella masih membuka satu per satu amplop coklat di tangannya dan Ozi memandangi sang adik dengan perasaan yang campur aduk.
Malu, sedih, merasa tidak berguna dan perasaan lain yag membuat Ozi hanya bisa terrunduk lesu.
Ia melihat Bella tersenyum kelu, ia tahu adiknya tengah di landa kekecewaan di antara rasa terkejut mengetahui kalau Ozi sudah tidak bekerja di perusahaan itu. Bukan kecewa karena Ozi sudah tidak bekerja tapi kecewa karena Ozi berusaha menutupi semuanya.
Ia menangkup kepalanya dan mengacak rambut tipisnya dengan kesal. Tiba-tiba saja Ozi mendekat dan mengambil semua berkas dari tangan Bella. Ini tidak bisa dibiarkan.
“Gak usah lo liat lagi.” Ujarnya dengan kesal.
Bella tidak menahannya, ia membiarkan saja Ozi mengambil berkas yang berisi surat lamaran Ozi ke perusahaan lain. Ia memang sengaja menuliskan alamat tempat ia bekerja sebelumnya agar surat balasan atau return suratnya tidak sampai ke rumahnya. Tapi kantor lama pun tidak menjadi tempat yang aman untuk menyimpan semua rahasianya.
Di robeknya surat-surat lamaran itu lantas ia mengeram dengan kesal seraya memukuli kepalanya sendiri. Ia merasa sangat tidak berguna saat ini.
Dengan cepat Bella menahan tangan Ozi agar tidak memukuli kepalanya. Di peluknya sang kakak tanpa sepatah katapun. Ia tahu, saat ini Ozi sedang membutuhkannya sebagai pendukung apapun keputusannya bukan untuk bertanya hal yang tidak perlu apalagi menghakiminya.
Pertahanan Ozi runtuh. Ia terisak di pelukan Bella. Ia menangis sesegukan tanpa menyembunyikan sedikitpun kesedihannya dari Bella.
“Mereka udah gak butuh gue lagi dek. Dunia ini gak butuh orang sakit kayak gue.” Lirihnya seraya mengepalkan tangannya dengan penuh kemarahan dan kesedihan.
Bella tidak menimpali, ia memilih mengusap punggung Ozi yang semakin kurus. Ia bahkan bisa merasakan tulang belakang Ozi yang mulai teraba di balik kemeja abu-abu yang ia kenakan. Bella ikut menangis, usahanya tidak berhasil untuk menguatkan dirinya di samping Ozi.
"Gue bener-bener gak berguna. Gue bahkan gak punya cukup keberanian buat nyampein semuanya sama lo dan mamah. Harusnya gue pergi sejauh mungkin supaya gak menyulitkan banyak orang. Arrgghh sial!" Ia semakin kuat mengepalkan tangannya, kesal dengan dirinya sendiri.
“SSssttt Abang..." Bella berdesis lirih untuk menenangkan Ozi.
Ia mengusap punggung Ozi dengan halus seraya berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Dari ucapan Ozi, bisa ia simpulkan kalau sang kakak bukan resign, melainkan di berhentikan. Tentu ini pukulan yang besar bagi mental Ozi karena di berhentikan dari pekerjaan yang sangat ia cintai.
"Gue sama mamah butuh lo bang. Dan gak akan biarin lo pergi hanya karena lo lagi sakit. Gue sama mamah akan selalu ada di samping lo.” Bella masih berbicara dengan lirih dan suaranya yang bergetar.
Bulir air matanya terus menetes tanpa bisa ia tahan. Ia bisa membayangkan bagaimana sedihnya perasaan Ozi saat ini.
Bella melepaskan pelukannya. Ia mencoba menatap wajah sang kakak yang tertunduk di hadapannya. Di tangkupnya kedua sisi wajah Ozi dan laki-laki itu masih menangis. Menatap Bella dengan putus asa dan air mata berurai.
“Gue capek dek, gue capek jadi beban semua orang. Gue capek di anggap gak berguna padahal gue pernah ngasih kontribusi yang besar buat tempat kerja gue. Tapi, ternyata usaha gue hanya di anggap sebuah kewajiban yang harus gue lakukan untuk perusahaan. Sekecil itu arti usaha gue yang udah membawa perusahaan ini jauh lebih maju.”
“Gue di buang dek, gue di buang.” Ozi memukul-mukul dadanya sendiri saat mengingat sesak yang harus ia tahan saat menerima surat pemberitahuan pemutusan kerja dari kantornya.
Tidak ada kesempatan yang diberikan oleh manajemennya untuk membuktikan bahwa walaupun ia sedang sakit, ia bisa tetap melakukan pekerjaannya dengan baik.
“Heeyy… Ssttt abang hey…” Bella berusaha menegakkan tubuh Ozi yang terus membungkuk.
Matanya sudah basah dengan bulir air mata yang tidak lagi ia tahan.
“Mereka bukan ngebuang lo. Gue yakin bukan seperti itu.”
“Mereka,,” Bella menghela nafas dalam sejenak untuk menenangkan dirinya. Kini Ozi menatapnya, menunggu kalimat apa yang akan Bella ucapkan.
“Apa?” Suara Ozi terdengar parau.
“Istilah apa yang mau lo pake buat mengingkari kalau mereka udah ngebuang gue?”
“Hah, apa? Lo gak usah ngebela mereka.”
“Bagi mereka gue bahkan udah gak berguna buat mereka. Gue gak bisa kerja sesuai deadline. Gue sering ketiduran di meja kerja setelah minum obat. Gue,” Rasanya Ozi tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Ia terengah-engah di antara rasa sesak karena sedihdan marah yang bercampur di dadanya.
“Mereka mau lo sembuh dulu.” Sahut Bella dengan cepat.
Ozi yang semula terunduk sambil meremas kemajanya, kini kembali menatap Bella.
“Ya, mereka mau lo berusaha sembuh dulu. Mereka takut lo kelelahan dan jatuh sakit di tempat kerja. Mereka gak setega itu ngeliat lo kerja keras buat tempat kerja yang cuma sementara.” Suara Bella mulai gemetar.
“Mereka khawatir lo kenapa-napa bang.” Suaranya semakin serak menahan tangis, susah payah ia melanjutkan kalimatnya.
"Gue sama mamah, apa yang bisa kami lakukan kalau lo gak ada, hemh?” Bibir Bella bergetar halus menahan tangis yang bisa pecah kapan saja. Ia bahkan tidak bisa membayangkan kalau kalimatnya itu benar-benar menjadi kenyataan.
Kini Ozi tersenyum sinis mendengar kalimat Bella.
“Lo terlalu naif dek.” Ia membalikkan tubuhnya menjauh dari Bella lantas menatap nanar apapun yang ada di hadapannya.
“Gue udah gak berarti buat mereka tapi lo masih berpikir ada sisi positif dari sikap jahat mereka sama gue. Gue udah gak berguna Bella!!!” Seru Ozi dengan mata menyalak menatap Bella. Kalau sudah namanya yang di panggil, ini berarti Ozi benar-benar marah.
“NGGAK!!” Bella membalas Ozi tidak kalah keras.
“Terserah lo kalau lo masih mau mikir mereka ngebuang lo. Tapi jangan lo mikir kalau lo gak berguna dan gak berarti. Lo berguna dan berarti buat gue sama mamah bang.”
“Gue sama mamah udah minta lo gak perlu kerja. Bukan karena ngerasa lo udah gak berguna di tempat kerja lo tapi karena gue sama mamah ngerasa kesehatan lo jauh lebih penting. Lo harus berusaha sembuh alih-alih berusaha membuktikan kalau lo karyawan paling berjasa di tempat lo kerja.”
“Dan sekarang gue jadi beban buat lo sama mamah? Gitu maksud lo?” Sinis Ozi yang kini memangkup wajahnya dengan kedua tangannya yang lebar.
Bella bisa melihat tangan Ozi yang gemetaran.
“Gak pernah ada beban dalam sebuah keluarga bang.” Bella meraih tangan Ozi lantas menggenggamnya dengan erat.
“Saat gue kesulitan, lo bantu gue. Saat mamah sedih, kita ngehibur mamah. Dan saat gue terpuruk, lo pun ada di samping gue."
"Dan sekarang, gue dan mamah pun mau melakukan hal yang sama buat lo. Percayalah lo gak pernah jadi beban buat gue sama mamah. Gue sama mamah akan selalu ada di samping lo.”
“Ngejagain lo, nemenin lo berobat, nemenin lo makan, menghabiskan waktu sama-sama lebih banyak lagi. Karena, lo bagian penting di hidup gue dan mamah.”
“Itu yang lo harus tau saat ini.” Lirih Bella dengan penuh keyakinan.
Dikecupnya tangan Ozi yang ia genggam, lantas ia tempatkan di pipinya yang kemerahan.
“Gue sama mamah, sayang sama lo dan akan selalu ada buat lo. Jadi jangan pernah ngerasa kalau lo sendirian Ngehadapain semuanya.” Tegas bella seraya menatap mata sang kakak dengan lekat.
Ozi berusaha tersenyum walau air matanya tetap menetes.
Sedetik kemudian ia meraih tubuh Bella untuk ia peluk. Ia memejamkan matanya kuat-kuat dan merasakan benar kalau kehadiran Bella adalah salah satu sumber kekuatannya. Ia bersyukur masih memiliki Bella dan Saras yang selalu ada di sampingnya.
“Gue saya lo dek.” Lirih Ozi seraya mengecup kepala Bella dengan dalam.
“I know. We love and care each other and I feel blessed.” Timpalnya seraya menepuk lengan Ozi yang melingkar ditubuhnya.
Sehancur apapun ia, sesedih apapun ia, kelak ia tidak akan meninggalkan orang-orang di sampingnya kecuali tuhan memang sudah memanggilnya.
Itu janji yang Bella ucapkan dalam hatinya.
“So, shall we go to eat? Keberanian itu perlu dukungan tenaga.” Bisik Bella pada Ozi.
Ozi hanya terkekeh tanpa melepaskan pelukannnya. Ia malah semakin mengeratkannya lagi. Ada saja kalimat Bella yang membuatnya tersenyum lega. Ia memandanggi satu titik di depan sana, lantas mengecup kepala Bella. Bella benar, saat mereka bersama-sama, ini adalah sebuah karunia.
“Aahhh abang, gue sesek tau!!!” Keluh Bella berusaha melepaskan pelukannya dari Ozi yang sedang gemas pada adiknya.
Ozi hanya terkekeh. Adiknya yang satu ini memang pelipur lara.
"Okey, ayo kita makan pepes ikan." Ozi menarik tangan Bella untuk beranjak.
"Nasinya, nasi liwet ya!" Timpal Bella seraya mengalungkan tangannya di lengan Ozi.
"Why not!" Sahutnya lagi.
Mereka pergi meninggalkan bangku taman dan membiarkan surat jawaban lamaran Ozi jatuh berserakan. Bella benar, kalau ia ingin sembuh fokusnya sekarang bukanlah ke mencari pekerjaan. Tapi mengumpulkan kesiapan mental untuk menghadapi prosedur tindakan medis yang mungkin akan panjang dan menakutkan.
Tapi saat ini, ia sudah siap. Ia siap demi sebuah kesembuhan.
****