Bella's Script

Bella's Script
Tamparan



Apartemen Casandra unit 906 menjadi alamat yang disebutkan Rangga saat ini. Ia sudah memutuskan kalau kali ini Bella lah yang harus ia lindungi.


Seraya termenung, Rangga memikirkan ucapan Bella beberapa waktu lalu.


“Kamu gak pernah mencintai aku sepenuhnya Ga. Kamu hanya mencintai ego kamu aja.” ujaran Bella seperti tamparan keras yang Rangga dapatkan saat ini.


Bella benar, tidak ada yang benar-benar bisa Rangga lindungi selain egonya sendiri.


Seperti halnya keputusan yang ia ambil sekarang, ia memilih untuk memberitahukan keberadaan Amara walau ia sudah berjanji pada gadis itu kalau ia tidak akan memberitahukan keberadaannya pada siapapun.


Tapi lagi, kali ini lemah. Lemah karena di satu sisi ia tidak bisa membiarkan Bella terus-menerus di pojokkan. Dan lebih dari itu, ia pun tidak mau usahanya hancur sia-sia. Bukankah ia tidak punya pilihan yang lebih baik dari ini?


Benar bukan, pada akhirnya ego dirinyalah yang Rangga selamatkan.


“Akh sial!” dengus Rangga seraya mengusap wajahnya kasar. Semakin ke sini ia semakin sadar kalau ia sangatlah egois.


Baru kali ini ia merasa benar-benar begitu jahat tidak hanya pada Bella tapi juga Amara. Kedua gadis itu kini telah benar-benar pergi dari hidupnya dan hanya ia sendiri yang saat ini terpuruk bersama ego yang selalu lebih ia cintai.


Jika pun kali ini ia menyesal, masih berguna kah semua penyesalan itu? Bukankah Bella tetap tidak akan bisa kembali padanya?


Di tempat berbeda Amara tampak terkejut saat membuka pintu apartemennya. Ia masih tidak menyangka kalau yang datang bukanlah kurir yang mengantar makanannya.


“Kita perlu bicara.” Ujar Jihan yang menatap Amara dengan penuh kekesalan.


Di saat seperti ini, Amara sadar kalau ia tidak bisa menolak kedatangan Jihan setelah tadi mengabaikan semua panggilannya.


“Silakan..” sahut Amara yang membuka pintunya lebar-lebar. Saat Jihan melintas di hadapannya, ia langsung menutupi perutnya dengan bantal sofa. Sayangnya Jihan sudah melihatnya.


“Apa pria bule itu yang melakukannya?” Tanya Jihan seraya melenggang masuk ke dalam unit apartemen Amara.


Suasananya gelap, hanya ada cahaya remang-remang dari lampu tempel dengan udara yang terasa terlalu lembab. Bau makanan sisa tercium jelas mendominasi ruangan yang berantakan ini.


Amara tidak lantas menjawab, ia memilih menutup pintunya rapat-rapat.


“Maaf karena tempatnya tidak cukup rapi.” Amara mengambil satu per satu pakaian yang terserak di atas sofa.


Jihan hanya melirik, ia tidak ada niatan untuk duduk walau hanya sebentar.


“Berapa bulan usia kandunganmu?” Jihan bertanya seraya melirik perut Amara yang membuncit. Amara benar-benar mengejutkannya.


Dari penampilannya yang berantakan, Jihan yakin kalau wanita ini sedang mengalami depresi ringan. Mungkin itu juga alasan yang membuat Amara enggan untuk menjawab teleponnya.


“29 minggu.” Sahut Amara seraya mengusap perutnya perlahan. Sepertinya ia sudah tidak bisa menyembunyikan hal ini lagi dari Jihan.


Jihan menghembuskan nafasnya kasar. Jadi selama ini rupanya Amara menyembunyikan kehamilannya dari semua orang.


“Bersiaplah, kita ke studio sekarang.” Ajaknya tanpa menoleh Amara.


“Ke studio? Untuk apa?” Amara segera menegakkan tubuhnya yang semula bersandar pada dinding.


“APA?!” Amara benar-benar terkejut.


Jihan tidak menimpali ia lebuh memilih menyerahkan secarik kertas yang beberapa waktu lalu diberikan Devan padanya.


Amara menerimanya walau tatapannya masih tertuju pada Jihan.


“Lo gak becanda kan?” tanyanya dengan sangsi.


Ia membaca isi tulisan di kertas itu dan menggeleng pelan, tidak setuju dengan isi tulisan yang ada di tangannya.


"Kita sepakat buat nyerang Bella untuk kedua kalinya, tapi kamu malah mau mengakhiri ini. Ini gak adil." Protes Amara seraya meremas kertas di tangannya dengan kesal hingga ujung jarinya memutih.


Jihan menatap Amara tidak kalah kecewa, namun ia tidak punya alasan lain untuk melanjutkan rencananya terhadap Bella.


“Sudahlah Amara, ini bukan sebuah penawaran tapi perintah. Kamu ikuti saja kata-kata itu dan kamu gak perlu mengatakan apapun di luar script itu.” titah Jihan dengan raut wajah dingin.


“Nggak bisa! Aku gak bisa keluar dengan tampilan seperti ini apalagi tujuannya untuk mengklarifikasi gossip itu. Nggak, aku nggak bisa.” Tolak Amara yang mundur beberapa langkah dari Jihan.


“LO TURUTI AJA AMARA!!!” seru Jihan dengan kemarahannya yang memuncak. Ia menatap Amara dengan mata menyalak. Ia seorang yang tidak bisa dibantah dan tidak akan membiarkan siapapun membantahnya.


Mendengar suara Jihan yang meninggi, Amara hanya bisa terhenyak.


“Lo cari cara buat nutupin perut buncit lo itu. Terserah lo mau diapakan, gue gak peduli. Yang jelas, lo harus datang ke studio untuk klarifikasi.” Jihan sudah tidak mau berdebat lagi. Tenaganya sudah habis hanya karena mengingat kejadian semalam bersama Devan yang terlalu mengecewakan untuknya.


“Oh jadi sekarang kamu ngebela perempuan itu HAH?! Kamu lupa kalau wanita itu musuh kita?” seru Amara dengan kesal.


“PLAK!!!” Bukannya mendapat jawaban, Amara malah mendapat sebuah tamparan keras dari Jihan.


Mulut Amara terlalu lancang karena berani berteriak di hadapannya, maka ia harus membungkamnya.


Amara menyentuh pipinya yang merah dan perih karena tamparan keras Jihan. Telinganya bahkan sampai berdengung karena kerasnya tamparan Jihan. Tega sekali wanita itu.


Satu bulir air mata menetes di pipi Amara namun sayangnya itu tidak membuat Jihan iba.


“Lo akan mengudara jam 10 pagi ini, jadi sebaik lo segera bersiap. Berdandanlah, jangan terlihat seperti gembel yang menyedihkan.” Terang wanita itu tanpa menoleh Amara sedikitpun.


Amara hanya mematung di tempatnya seraya memegangi pipinya yang masih sakit. Ia membiarkan Jihan pergi begitu saja membawa kabar miring terbaru tentang dirinya.


Bisakah ia hadir dan menguntungkan Bella, atau diam saja dan membuat poros perhatian netizen beralih padanya?


Tentu, jika ia menolak permintaan Jihan, wanita itu tidak akan tinggal diam, bukan?


*****