Bella's Script

Bella's Script
Kronologis



“Silakan saudari Bella ceritakan kronologis kejadian yang saudari ketahui?” Pinta polisi pada Bella.


Ia menyalakan sebuah perekam untuk merekam semua kesaksian Bella atas laporan yang dibuatnya.


Bella berusaha menenangkan dirinya sendiri sebelum ia mulai menceritakan semua kejadian yang dilihatnya. Tidak hanya penyidik yang ada di hadapan Bella, Devan dan Ozi pun menunggu-nunggu apa yang akan diceritakan Bella sesungguhnya.


“Pagi tadi, korban datang ke rumah saya dalam kondisi penuh luka disekujur tubuhnya. Dia datang dengan sempoyongan sambil memegangi perutnya. Sebelumnya saya tidak mengertahui kalau korban sedang hamil besar. Saya baru melihatnya pagi tadi saat kakinya dialiri darah dan cairan bening kental serta wajahnya yang meringis kesakitan sambil memegangi perutnya yang buncit.”


Baru sampai pada bagian ini, Bella sudah mengepalkan tangannya saat mengingat bagaimana ekspresi wajah penuh kesakitan milik Amara tadi pagi. Ia memejamkan matanya, berusaha mengusir ekspresi tersiksa yang di tunjukkan Amara namun bayangannya malah semakin jelas dan membuat Bella gelisah.


“Kami membawa korban ke rumah sakit dan menurut dokter nyawanya hampir tidak tertolong karena kehabisan banyak darah. Korban menjalani tindakan operatif selama kurang lebih dua jam.”


“Saat saya sedang menunggu, tiba-tiba saja seorang perawat memberikan ini pada saya." Bella menunjuk dua benda dalam plastik yang berisi sapu tangan dan manik-manik.


"Katanya dua benda ini di temukan oleh perawat di dalam saku baju korban. Bisa bapak lihat, pada satu manik yang besar ini, ada noda darah dari kuku korban yang hampir terlepas. Bapak bisa memeriksa kuku korban di tangan sebelah kanan untuk lebih meyakinkan.”


Polisi mencatat kuku, sebagai salah satu yang harus ia periksa.


“Sapu tangan ini kemungkinan milik pelaku karena wanginya sama dengan parfum pelaku saat dia datang ke rumah sakit. Dia memakai parfum He***s seri limited edition yang dikeluarkan saat musim semi dua tahun lalu.”


“Dan untuk manik ini adalah manik dari sepatu milik terduga pelaku. Saya sudah meminta rekaman CCTV kepada pihak rumah sakit yang menunjukkan kalau manik ini adalah bagian dari manik yang menjadi aksesorisnya di sepatu dengan brand C***L. Artikel tentang sepatu itu sudah saya screen shoot di ponsel saya.” Polisi mengagguk-angguk mendengar detailnya cerita Bella.


“Siang tadi, setelah orang yang dimungkinkan tersangka itu, datang ke rumah sakit lalu pamit pulang, saya mengikutinya.”


“Di sebuah cafe yang tidak jauh dari rumah sakit, dia bertemu dengan seorang laki-laki yang memakai hoodie berwarna merah maroon dan membicarakan tentang lokasi penyekapan."


"Foto pertemuan mereka ada di ponsel saya. Saya sempat memvideonya tapi sepertinya suaranya sangat kecil, harus di dengarkan dengan menggunakan headset.”


“Saya sempat pergi ke apartemen tempat tinggal korban dan meminta rekaman CCTV di jam ia tinggal sendirian di apartemennya. Namun beberapa rekaman CCTV terhapus. Saya baru mendapatkan rekaman CCTV dari kamera dashboard mobil milik tetangga unit apartemennya yang di parkir di sebrang mobil yang menculik korban."


"Pelaku menyamar sebagai petugas cleaning service dan membawa korban masuk ke dalam mobil SUV yang diparkirkan di basement B07 sekitar pukul 10.24 malam waktu CCTV.”


“Saya tidak tahu persis korban di sekap dimana mungkin bapak bisa langsung menemui korban yang sudah sadarkan diri. Hanya saja wanita yang menyuruh laki-laki itu, meminta agar laki-laki suruhannya segera membereskan tempat penyekapan.”


Bella tertunduk lesu, setelah menyelesaikan semua kalimatnya. Matanya berkaca-kaca mengingat kekejaman pelaku saat berbicara dengan orang suruhannya. Ia masih tidak bisa membayangkan bagaimana bisa sesama wanita bisa begitu tega menyiksa wanita lainnya hingga nyaris kehilangan nyawanya.


“Terima kasih atas laporan saudari Bella. Kami akan mengambil file foto yang ada di ponsel saudari sebagai barang bukti.”


“Baik Pak.” Bella mengangguk setuju.


“Terima kasih.” Polisi itu memberikan ponsel Bella pada rekannya untuk dilakukan pengambilan beberapa bukti dari ponselnya.


“Ada yang ingin saya tanyakan lebih lanjut pada anda. Sepertinya anda sangat yakin dengan kemungkinan pelakunya. Bisa anda sebutkan identitasnya? Agar kami bisa melakukan penyelidikan leebih lanjut dan lebih cepat.” Tanya polisi lebih detail.


“Iya pak, kalau perkiraan saya tidak meleset, pelakunya adalah Nadine Quinza, seorang model.” Jawaban Bella terdengar meyakinkan.


Polisi segera mencatat nama tersebut dan meminta rekannya untuk melakukan pengecekan.


“Lalu satu pertanyaan lagi. Apa hubungan saudari Bella dengan korban?” Pertanyaan polisi kali ini terdengar mengunci Bella.


Tatapannya tajam dan sangat menuggu jawaban Bella.


Bella tersenyum kelu di bibirnya yang bergetar menahan tangis.


“Korban adalah sahabat saya saat kami remaja.” Aku Bella dengan suara gemetar. Satu bulir air mata bahkan menetes di sudut matanya.


Entah mengapa, mengingat kalau korban adalah sahabatnya saat Bella remaja, membuat dada Bella terasa sesak. Walau tidak ia pungkiri kalau rasa sesaknya saat ini jauh berkurang dibanding rasa sesak yang ia rasakan seharian saat mengumpulkan semua bukti yang membuatnya tercengang.


Walaupun saat ini hubungan ia dan Amara tidaklah baik, namun ia tidak pernah bisa melupakan kalau Amara pernah menjadi sahabatnya yang sangat dekat dan sangat ia sayangi. Wanita itu berhak mendapatkan pembelaan atas ketidakadilan yang dialaminya saat ini.


Melihat Bella yang kini tertunduk lesu, Devan lantas menggenggam tangan sang istri. Dan dalam beberapa saat, tangis Bella tumpah di hadapan penyidik, Devan dan juga Ozi. Tangis yang ia tahan sejak ia sadar kalau Amara nyaris terbunuh sama seperti saat ia SMA dulu.


Untuk beberapa saat, mereka membiarkan Bella meluapkan perasaannya. Satu kalimat pasti yang diucapkan penyidik, “Terima kasih karena sudah berani melapor.” Ucapnya lantas tersenyum penuh simpati pada Bella.


*****