Bella's Script

Bella's Script
Tragedi Surabaya



Pagi-pagi Bella sudah terlihat tergesa-gesa. Ia hanya cuci muka, gosok gigi dan berganti pakaian. Yang ia pakaipun hanya sebuah celana jeans, kaos oblong dan hoodie tebal milik Ozi. Tangannya dengan lincah mengetik beberapa huruf di aplikasi pemesanan tiket pesawat dan ya, ia dapat satu.


Tidak banyak yang ia bawa, hanya membawa dompet di dalam tas kecil serta handphone lantas ia segera menuju bandara.


“Bell, lo harus tolongin gue sama anak-anak.” Sebaris kalimat itu yang di kirimkan Ikhsan dini hari tadi lengkap dengan sebuah foto yang menunjukkan kondisi yang tidak baik-baik saja.


Walau hanya tidur sekitar 2 jam, hal itu tidak membuat Bella menunda apapun. Yang ia tahu, ia harus segera sampai di bandara dan ikut penerbangan pagi ke Surabaya.


Perjalanan terasa begitu panjang padahal hanya sekitar satu setengah jam. Karena macet, baru sekitar jam delapan Bella sampai di Bandara internasional Djuanda. Ia segera menuju kantor polisi, tempat yang akan ia datangi saat ini.


“Kita ketemu di sana ya bang. Sorry ngerepotin.” Tukas Bella pada kuasa hukumnya bang Frans. Frans yang sedang berada di Yogyakarta pun segera ikut menyusul Bella ke Surabaya.


Dengan sebuah taksi Bella tiba di kantor polisi.


“Bell?” Niko nyaris tidak percaya melihat kedatangan Bella di pintu kantor polisi. Bella masih terengah dengan wajah tegang melihat teman-teman band-nya berkumpul di kantor polisi.


“Mana Rangga?” tanyanya. Ia tidak bisa tenang sebelum melihat kondisi Rangga dengan mata kepalanya sendiri.


“Masih di mintai keterangan.” Terang Niko.


“Tunggu, lo kok bisa ke sini?” imbuhnya.


“Gue yang ngasih tau dia.” Sahut Ikhsan.


Bella tidak menjawab, ia berjalan dengan lunglai menuju kursi tunggu. Di usapnya wajahnya perlahan seraya mengatur ritme nafasnya yang masih belum beraturan.


Niko jadi melototi Iksan, karena meminta Bella datang tanpa membicarakannya terlebih dahulu dengan Rangga ataupun dirinya.


“Sorry Bell, gue cuma gak tau harus ngehubungin siapa.” Lanjut Ikhsan dengan perasaan bersalah.


“It’s okey. Justru makasih lo udah ngasih tau gue.” Jawab Bella yang berusaha tersenyum tenang.


“Luka Rangga gak parah kan?” hal itu yang ia cemaskan saat ini.


“Udah baikan. Sebelum di mintai keterangan, gue sama Rangga udah diobatin duluan.” Terang Niko berusaha menenangkan.


Akhirnya Bella bisa menghela nafas lega setelah mendengar kondisi Rangga yang baik-baik saja.


“Gimana kejadiannya? Kenapa kalian bisa di lempar botol?” ujar Bella penuh tanya. Ia menatap Niko dengan penuh kecemasan. Luka di wajah dan tangannya masih terlihat jelas.


“Ya kejadiannya cepet banget Bell. Gue sama anak-anak baru nyanyi lagu ke empat. Tiba-tiba aja seorang penonton ngelempar botol minuman ke arah Rangga. Terus kena pelipisnya dia dan ini, muka sama tangan gue.” Niko menunjukkan lukanya yang sudah di balut kasa.


“Syukurlah kalau udah di obatin. Terus, lo gimana?” Bella beralih bertanya pada Ikhsan.


“Gue aman Bell. Gue kan ketutup sama drum. Dia juga aman, sebelah kanan Rangga soalnya.” Tunjuk Ikhsan pada Deri, sang keyboardis.


“Syukurlah. Bentar lagi kayaknya pengacara gue nyampe. Nanti dia yang bakal ngurus semuanya.” Terang Bella.


“Thanks Bell, lo emang yang terbaik.” Niko menepuk bahu Bella perlahan. Di tatapnya beberapa saat wajah Bella yang masih terlihat gusar, lantas ia tersenyum. Rasanya ia ingin memeluk wanita yang selalu mereka repotkan dengan masalah band mereka.


“It’s okey. Yang penting kalian baik-baik aja.”


“Bell?” sebuah suara yang familiar membuat Bella tersentak. Ia segera berlari menghampiri Rangga yang berdiri di hadapanya.


“Kamu kenapa gak ngabarin?” dengan suara bergetar Bella berusaha berbicara. Di tatapnya wajah Rangga yang terlihat lelah. Benar, ada luka yang sudah di tutupi perban di dahi kanannya.


“Apa masih sakit?” belum sempat terjawab Bella sudah kembali bertanya.


“Nggak, aku baik-baik aja. Kamu sama siapa ke sini? Abang kamu gak ikut kan?” Rangga jadi celingukan memperhatikan keadaan di sekeliling.


“Aku sendiri.” Tegas Bella. Di peluknya Rangga dengan erat, sungguh ia sangat bersyukur karena Rangga baik-baik saja.


“Aku khawatir banget Ga. Sepanjang perjalanan pikiran aku kemana-mana, ngebayangin kamu kesakitan, berdarah di mana-mana. Pikiran aku bener-bener ngelantur.” Rengek Bella yang mulai meneteskan air mata.


“Ssst…. I know. Sorry udah bikin kamu cemas tapi aku baik-baik aja, kamu liat sendiri kan?” tegas Rangga berusaha menenangkan.


Bella hanya mengangguk pelan. Pelukannya terhenti saat ia melihat seseorang yang keluar dari ruang pemeriksaan.


“Ara?” lirihnya.


“Hay Bell,” sapa Amara yang terkejut melihat kedatangan Bella.


“Lo masih di sini?” Bella menatap Amara dan Niko bergantian.


Amara hanya mengendikkan bahunya seraya tersenyum tipis.


“Lo baik-baik aja kan Ra?” berganti Bella memeluk Amara.


Amara kembali terkejut. Pelukan Bella sangat erat, terasa benar kalau Bella sangat mengkhawatirkannya.


“As you see, gue baik-baik aja. Waktu kejadian gue di back stage jadi gak kena apa-apa.” terangnya dengan jelas.


“Syukurlah…” akhirnya Bella melepaskan pelukannya. Ia memandangi Amara, Rangga dan teman-temannya, ia benar-benar bersyukur karena kekasih dan teman-temannya semua baik-baik saja.


Tidak lama, kuasa hukum Bella pun datang. Ia di minta menyelesaikan semuanya permasalahan ini. Rencana untuk berjalan-jalan sebentar akhirnya dibatalkan. Mereka memilih pulang ke Jakarta untuk menenangkan diri mereka.


Perjalanan tidak terduga dari Surabaya ke Jakarta ternyata jadi moment yang menyenangkan. Sepanjang perjalanan Bella dan Rangga selalu bergandengan tangan. Bella pun bersandar dengan nyaman di bahu Rangga, seperti tidak mau beranjak dari sisi Rangga.


“Gimana Ara sama Niko? Mereka balikan lagi?” tanya Bella saat memperhatikan Amara dan Niko yang duduk bersebelahan di pesawat. Keduanya tampak tertidur, mungkin balas dendam karena semalam tidak bisa tidur.


“Kenapa bahas mereka? Bahas kita aja sih.” Protes Rangga yang memalingkan wajah Bella padanya. Seketika tatapan mereka bertemu, membuat darah Bella terasa berdesir saat mata Rangga seperti menguncinya.


“Sorry… Aku cuma,” lirih Bella yang terkejut tidak melanjutkan kalimatnya.


Rangga hanya tersenyum. Di usapkannya ujung hidungnya pada ujung hidung Bella, membuat mata gadis itu membelalak sempurna.


“Ini tempat umum yang…” bisik Bella yang celingukan kesana kemari khawatir ada yang melihat.


“Gak ada yang merhatiin juga.” Timpal Rangga. Di peluknya tubuh Bella dengan erat. Ada ketenangan dalam hatinya, melihat Bella ada di sisinya.


Bella menengadahkan kepalanya sejenak, menatap wajah Rangga yang berada di atas kepalanya. Rangga mengecup dahinya lantas memejamkan matanya seperti tengah menikmati moment kebersamaan mereka.


“Kamu harus selalu baik-baik aja, Ga…” bisik Bella penuh harap.


Rangga mengangguk kecil seraya tersenyum. Ia kembali mengeratkan pelukannya, membuat Bella merasa sangat nyaman.


******


Langit Jakarta hari itu sudah mulai senja dengan mendung yang membuatnya terlihat semakin gelap. Rintik-rintik hujan turun dan membasahi dedaunan yang bergoyang tertiup angin.


Seharian ini Bella ada di basecamp band Rangga. Mereka makan bersama, membereskan rumah, berbincang dan melakukan hal remeh temeh lainnya yang membuat waktu mereka terasa begitu berarti.


Kali ini, sementara Rangga dan teman-temannya beristirahat, Bella memilih meneruskan menulis script-nya. Ia menggunakan aplikasi note di ponselnya untuk mencurahkan inspirasinya hari ini. Kamar Rangga menjadi tempat yang nyaman untuk ia menulis dengan di temani segelas teh hangat yang mulai dingin.


Tidak terasa waktu begitu cepat berputar. Merasa tubuhnya lengket, akhirnya Bella memutuskan untuk mandi dan menyegarkan tubuhnya. Beruntung ada beberapa baju miliknya yang sengaja ia simpan di lemari Rangga dan sekarang bisa ia kenakan.


“Krieet…” suara pintu terbuka dengan hati-hati. Saat Bella menoleh ternyata Rangga muncul dari balik pintu. Seperti ragu masuk ke kamarnya.


“Ada kerjaan?” tanya Rangga.


“Emm.. Iyaa… Aku lagi di kejar deadline.” Rengeknya.


“Sini…” ia merentangkan tangannya menyambut Rangga.


Rangga pun segera menghampiri. Ia duduk di jendela berhadapan dengan Bella.


“Udah seger aja. Baru mandi ya?” Rangga mengusap sisa air yang menetes dari anak rambut di pelipis Bella.


“Hehehehe iyaaa… Soalnya dari pagi aku belum mandi. Cuma gosok gigi sama cuci muka.” Terang Bella.


“Waahh pantesan dari tadi ada yang asem-asem sedep.” Ledek Rangga seraya menguncupkan hidungnya.


“Diiihhhh…. Bohong banget!!!” Bella menjawil hidung mancung Rangga dan laki-laki itu hanya terkekeh. Menarik tangan Bella dan memeganginya. Tidak ada perlawanan dari Bella, ia hanya memandangi tangannya yang di genggam erat oleh Rangga.


Untuk beberapa saat mereka saling bertatapan, melempar senyum satu sama lain. Entah bagaimana cara untuk memulai melanjutkan perbincangan mereka. Rasanya kikuk.


“Aku juga mau mandi deh!” ujar Rangga tiba-tiba.


“Tuh kan, kamu sebenernya yang asem-asem sedep, bukan aku” Balas Bella melepaskan genggaman tangan Rangga.


Tanpa di sangka, Rangga menarik Bella dan membenamkan kepalanya di ketiaknya.


“Orang wangi kok! Coba aja cium.” serunya sambil tertawa.


“Aahhh ayaaaang… Asem tauuu!!!!” protes Bella, berusaha melepaskan diri dari Rangga.


“Sekarang aja bilangnya asem, giliran tadi minta di peluk mulu. Uuhh!!” berganti Rangga yang mencubit pipi Bella dengan gemas.


“IIhhh kamu mah kebiasaan…. Nanti pipi aku tambah tembem taukkk!!!” protes Bella seraya mengibaskan tangan Rangga.


Laki-laki itu hanya terkekeh. “Aku mandi dulu.” Diusapnya wajah Bella perlahan.


“Hem, aku nunggu di luar ya…” timpal Bella.


“Okey. Tapi jangan dulu pulang yaa…”


“Okeeyy….” Bella mengacungkan kedua jempolnya pada Rangga.


Selama Rangga mandi, Bella memilih untuk berdiam di ruang Latihan. Menyentuh tuts keyboard yang ternyata menghasilkan nada fa. Ia berjalan-jalan sebentar, memperhatikan ruang latihan yang mereka bersihkan sama-sama. Sudah tidak ada siapapun di basecamp selain ia dan Rangga.


Setelah asyik berkeliling, Bella duduk di sofa dan melanjutkan menulis.


Beberapa paragraph berhasil ia tulis. Part ke 18 ini merupakan part yang menyenangkan menurutnya. Konflik yang ia buat mulai menemukan plot twist-nya dan membuat Bella semakin semangat untuk melanjutkan karyanya.


“Cup!” satu kecupan di leher Bella mendarat begitu saja. Bella bergidik geli.


Saat ia menoleh, ternyata Rangga sudah selesai mandi. Wajahnya terlihat segar dengan rambutnya yang jigrak dan basah.


“Temen-temen pulang, aku sampe gak tau.” Protes Bella saat mendapati ruang Latihan sepi.


“Iyaaa, mereka pada pulang tadi. Kangen kali sama rumahnya.” Rangga mengitari Bella dan duduk di samping gadis itu.


“Beruntung masih ada kamu di sini.” Tutur Rangga. Ia meraih tangan Bella kemudian mengecupnya.


Seketika pipi bulat Bella merona. Ia tidak bisa menyembunyikan perasaan yang berkecambuk didadanya.


Beberapa saat mereka saling terdiam. Memandang satu sama lain dengan segaris senyum.


“Kamu tuh kadang manis banget gini, kadang bikin aku overthinking kalau udah gak bales chat.” Protes Bella tiba-tiba.


Rangga hanya tersenyum. Di tariknya tubuh Bella untuk ia peluk, membuat gadis itu tersentak dengan wajah yang merona.


“Sama halnya saat kamu asyik dengan menulis, aku pun menikmati duniaku bersama hal lain. Hem?” terang Rangga, seperti meminta pemahaman Bella.


“Banyak hal yang mau aku capai Bell,” lirihnya. Ia menyibak anak rambut di dahi Bella membuat gadis itu menengadah menatap Rangga.


“I know.” Timpal Bella. Ia mengusap pipi Rangga dengan lembut.


“Aku pasti akan selalu dukung kamu Ga. Hanya saja, segala sesuatu itu perlu di komunikasikan, termasuk hubungan kita. Apa yang bikin kita gak nyaman satu sama lain.” Imbuhnya dengan penuh keyakinan.


Rangga tersenyum tipis. Di raihnya tangan Bella lantas ia genggam lalu ia kecup dengan lembut. Di tatapnya mata bulat itu dengan lekat.


Berpandangan dengan jarak sedekat ini, membuat air wajah Bella dan Rangga berubah. Ada Hasrat tertahan dari keduanya. Tidak bisa di pungkiri, telah berpacaran selama bertahun-tahun telah membuat perasaan seperti itu muncul dan terasa begitu kuat.


“You know that I love you, hem?” suara Rangga terdengar sangat lembut. Ia pun mengusap pipi Bella dengan punggung tangannya.


Bella terangguk pelan. Tentu saja ia tahu kalau Rangga sangat menyayanginya.


Perlahan Rangga semakin mendekatkan wajahnya. Di kecupnya pipi Bella perlahan dan gadis itu tidak menolaknya. Hidung bangirnya menyesap wangi Bella, bergerak menelusur garis wajah Bella membuat Bella yang tengah memejamkan matanya, bergidik geli.


Mereka terlarut dalam sebuah romansa yang membuat Rangga melakukan hal lebih dari sekedar itu. Kembali mengecup pipi Bella, menghembuskan nafasnya di sana. Terasa benar hangat nafas Rangga yang menderu, membelai wajah Bella.


Perlahan tangan Rangga mengusap punggung Bella. Memberi sentuhan yang lebih intens membuat bulu kuduk Bella meremang.


Bella sedikit menahan tubuhnya, saat Rangga hendak merengkuhnya dan mengecup bibirnya. Mata Rangga yang semula terpejam, menikmati aliran hangat gairah yang mengalir di tubuhnya, kini terjeda.


“Kamu percaya sama aku kan?” suaranya terdengar berisik. Sangat indah di dengar Bella, dari sudut manapun.


“Hem.” Sahutnya pelan.


“So, why?” Rangga mengernyitkan dahinya saat Bella mengambil tangannya yang tengah mengusap punggung Bella dengan erotis.


“Aku,” entah seperti apa Bella harus menjabarkannya. Dorongan dalam dirinya sangat kuat. Hanya saja, ia merasa kalau semuanya belum boleh terjadi saat ini.


“Kriiinggg,” Suara ponsel Bella terdengar. Bella segera merogohnya dari dalam saku dan berniat mematikannya. Namun saat layar ponselnya terlihat, ia segera melepaskan genggaman tangan Rangga.


“Siapa?” lirih Rangga. Nafasnya masih menderu berbalut kekesalan. Romansa yang ia bangun dengan susah payah, kini berakhir sudah.


“Abang,” lirih Bella. Canggung namun tidak bisa berbohong. Ozi seperti pengingat untuk Bella agar tidak melanjutkan semuanya.


“Huft!” dengus Rangga seraya tersenyum sinis.


“Dia pasti nyariin kamu seharian ini.” Imbuhnya. Wajahnya jelas terlihat kecewa walau ia coba sembunyikan.


Bella mengangguk pelan. “Sorry yang… Kayaknya, aku harus pulang.” Pinta Bella dengan ragu.


Rangga hanya mengangguk. Tentu saja Bella harus pulang karena gadis ini belum menjadi miliknya seutuhnya.


Lagi, kali ini ia harus membiarkan Bella pergi.


*****