
Lagi berwarna abu kehitaman tidak hanya dirasakan oleh Inka. Disampingnya ada Bella yang setia menemani sahabatnya walau ia sendiri masih perlu dikuatkan.
Di depan pusara Wibisono, Inka menangis lirih. Ini taburan bunga kesekian kalinya yang Inka taburkan di atas makam sang ayah yang tutup usia semalam.
Rasa sedih sudah pasti dan rasa hancur jelas terasa.
“Papah pergi Bell, gue gak punya siapa-siapa lagi…” Isak Inka yang terkulai lemah seraya meremas tanah merah dan lembab itu.
“Sssttt…. Lo gak boleh ngomong gitu...” Bella segera membawa Inka kepelukannya. Di banding kehancuran yang dialaminya, kehancuran Inka jauh lebih besar.
Satu-satunya tempat sahabatnya bersandar, kini sudah pergi. Hanya ada tiga orang laki-laki yang terus menatapnya dengan tidak suka.
“Lo gak sendiri Ka. Lo punya gue, abang sama mamah. Hem..” Ucap Bella berusaha menenangkan sahabatnya.
Inka terangguk pelan namun tidak lantas menghentikan tangisnya. Ini kehilangan yang luar biasa yang dirasakan Inka saat ini.
Di balik kacamata hitamnya, Ozi melihat Inka dengan iba. Sejak semalam gadis ini tidak berhenti menangis. Dalam keadaan tidak sadarpun, ia masih berusaha memanggil-manggil sang ayah. Tentu ini kehilangan yang berat bagi Inka.
Melihat Inka yang terpuruk begini, entah mengapa hatinya ikut merasakan sakit. Ada perasaan perih yang mampir setiap kali melihat air mata menetes dari sudut mata sipit Inka.
Di sebrangnya, Ozi melihat ketiga kakak Inka yang juga telah kehilangan ayah mereka. Entah karena mereka laki-laki atau karena tidak terlalu dekat dengan Wibisono, sehingga mereka terlihat biasa saja. Dan tidak jauh dari mereka, tampak seorang wanita berpakaian serba hitam dengan kerudung yang menutupi sebagian wajahnya, tengah menangis sesegukan. Ozi perhatikan baik-baik dan wajah wanita itu tampak tidak asing.
Ada kesamaan antara wajahnya dengan wajah gadis di pelukan Bella.
Segera tersadar, Ozi beranjak untuk menghampiri Wanita itu. Hatinya seperti tergiring untuk mendekat pada wanita cantik yang kini sudah tidak muda lagi.
Di anatara orang-orang yang mengelilingi pusara, wanita itu berada. Tapi saat Ozi mendekat, dengan cepat wanita itu menghilang.
“Permisi,” ucap Ozi pada wanita yang berdiri persis di tempat wanita tadi.
“Oh maaf.” Ucapnya lagi saat sadar kalau dia bukan wanita yang tadi Ozi lihat. Lalu kemana perginya wanita itu?
*****
Pulang dari makam, Inka diantar pulang oleh Ozi. Masih terlihat sedih namun gadis itu sudah tidak lagi terisak. Hanya sesekali Inka mengusap sisa air mata di pelupuk matanya dengan helaan nafas yang terdengar berat.
Melihat gadis ini, ia jadi teringat pada wanita yang tadi dilihatnya. Ia perhatikan baik-baik wajah Inka dari pantulan spion dan ia semakin yakin kalau mereka ada kemiripan.
“Lo punya tante atau bibi?” tanya Ozi tiba-tiba. Ia sudah tidak sabar menahan rasa penasarannya.
Inka menggeleng. Sebuah helaan nafas di ambilnya.
“Papah anak tunggal, beliau tidak punya saudara lagi selain adik sepupunya, om Eko.” Terang Inka dalam satu kalimat.
Ozi mengangguk-angguk paham. Rupanya wanita tadi bukan keluarga dari ayah Inka. Apa mungkin keluarga dari ibunya? Tapi jika di pikir lagi, Inka tidak satu ibu dengan ketiga kakaknya. Wajah mereka pun hanya sedikit memiliki kemiripan.
“Mas Bima gak usah khawatir, aku biasa tinggal sendiri kok di rumah. Jadi mas Bima gak perlu nitipin aku sama siapapun.” Ucap Inka yang berusaha menjawab kecemasan di wajah Ozi.
Sayangnya, bukan itu yang Ozi maksudkan.
Ucapan Inka tadi, sedikit banyak mengusik pikiran Ozi akan janjinya pada Wibisono. Gadis yang kini tengah meremas tisuenya. Bisa Ozi bayangkan kalau gadis ini pasti akan menangis sedirian di apartemennya yang sepi. Siapa yang akan menghiburnya, sementara ia sendiri tidak akan mengizinkan Bella untuk keluar rumah lama-lama.
Dan pertanyaan ini yang kemudian terbersit di pikiran Ozi.
“Hah?” Inka langsung menoleh pada laki-laki itu dan Ozi membalasnya dengan lirikan singkat.
“Kenapa?” Tanya Ozi saat melihat Inka yang hanya mematung. Bukankah gadis ini sangat menyukainya, tapi kenapa mendadak bingung saat ia mengajaknya menikah?
“Mas Bima ngajak aku nikah?” Inka mengulang pertanyaan yang beberapa saat ini menggema di pikirannya.
“Ya. Apa yang salah?” Ozi merasa kalau Inka menyalahkan ajakannya.
“Aku gak mau.” Sahut Inka seraya meremas kuat tissue di tangannya. Sungguh ini pertentangan yang hebat antara pikiran dan perasaannya.
“Serius? Bukannya lo suka sama gue?” Ozi masih tidak percaya dengan Jawaban Inka.
Wajah sedih Inka memerah dengan cepat saat mendengar pertanyaan itu. Tentu saja ia sangat menyukai laki-laki yang duduk di sampingnya tapi ia merasa ada yang salah dengan ajakan Ozi.
Sambil menunggu jawaban Inka, Ozi memilih menepikan mobilnya.
“Kenapa kita berhenti di sini?” Tanya Inka yang panik. Kenapa laki-laki ini selalu tiba-tiba dan mendesak?
“Lo belum jawab pertanyaan gue. Kenapa lo gak mau nikah sama gue, bukannya lo suka sama gue?” Lagi, Ozi mengulang pertanyaannya dengan tegas.
“I-Iyaaa.. Aku suka sama mas Bima. Tapi aku gak mau mas Bima ngajak nikah cuma gara-gara udah janji sama papah. Aku gak mau cuma aku sendiri yang cinta tapi mas Bimanya enggak.” Takut-takut Inka melirik Ozi yang sedang memandanginya.
“Lo pikir orang bisa ngajak nikah tanpa perasaan cinta? Script Bella yang mana yang memperngaruhi pikiran Lo?” Pertanyaan Ozi terdengar serius.
“Em, enggak maksud aku,”
“Cup!”
Kalimat Inka terputus dengan sendirinya saat tiba-tiba Ozi mendaratkan sebuah kecupan di kepala Inka. Untuk beberapa saat keduanya terdiam. Inka dan Ozi sama-sama memejamkan matanya, menikmati desiran halus yang merambat di aliran darahnya dan membuat jantung mereka berdegup sangat kencang.
Inka bisa merasakan kalau ucapan Ozi bukanlah candaan semata. Dan saat ia membuka mata, Ozi tengah menatapnya dengan laman.
“Gue gak pernah bercanda sama masalah perasaan apalagi soal ajakan untuk menikah.” Tegas Ozi dengan tatapan hangat yang tertuju pada Inka.
Ucapan Ozi membuat Inka bungkam. Gadis itu berusaha menelan salivanya kasar-kasar saat ia sadar kalau Ozi memang sedang sangat serius. Entah dorongan apa yang membuat Inka kemudian mendekat, berusaha mensejajarkan dirinya dengan Ozi dan hendak mencium bibir Ozi yang begitu lantang mengajaknya menikah.
Hanya tinggal beberapa senti saja jarak ia dengan Ozi tapi kemudian telunjuk Ozi mendorong dahi Inka untuk menjauh.
“Lo mau apa? Lo belum jawab pertanyaan gue.” Ujarnya dengan kesal.
“I-iyaa, aku mau nikah sama mas Bima.” Jawab Inka malu-malu. Berniat romantis namun Ozi malah mempertanyakan jawabannya.
Dan tanpa di duga, kini Ozi yang lebih dulu mendekat dan memiringkan kepalanya untuk mencium Inka. Inka sampai terhenyak di tempatnya saat ia merasakan kecupan lembut bibir Ozi di bibirnya. Rasanya hangat dan menggelikan terlebih saat Ozi mengigit bibirnya sensual.
Tanpa ragu, Inka membalas kecupan Ozi dan mengalungkan tangannya di leher Ozi. Semuanya di mulai dan keduanya sudah yakin dengan keputusan masing-masing.
“Aku akan menikahinya.” Batin Ozi dengan penuh keyakinan.
*****