Bella's Script

Bella's Script
Memandangi 2



“Nggak dong. Sekarang malah tiap hari gue wa-an sama mas Bima?” aku Inka dengan wajah ceria.


“Hah, beneran? Ngomongin apa sama kulkas dua pintu model bang Ozi?” baru kali ini Bella tidak habis pikir.


“Ya banyak lah. Terutama tentang lo kalo di kantor.”


“Hah, tentang gue?” Bella mulai curiga berbalik dengan Inka terangguk dengan semangat. Ada yang tidak beres menurut Bella.


“Sini hp lo!” Bella meminta denan tegas ponsel Inka. Ada yang tidak beres menurutnya.


“Kenaaapaaa?” ragu namun Inka tetap memberikannya.


Tanpa menjawab, Bella memeriksa ponsel Inka. Ia membuka chat Inka dengan sang kakak.


Puluhan pesan di kirim Inka yang terlihat bukan sebagai pembicaraan dua arah. Hanya Inka saja yang mengirim pesan dan isinya adalah bahasan tentang Bella.


“Dia pulang on time mas.”


“Bella kayaknya bakalan mulai sibuk soalnya pindah departemen.”


“Dia satu divisi ama sutradara baru tapi kayaknya mereka gak akur deh.”


“Mas Bima udah makan? Aku lagi makan soto, kata Bella mas Bima juga suka soto ya?”


“Bella kayaknya pulang telat, ada perpisahan dulu sama tim artistic. Uuuhhh so sad, aku gak satu departemen lagi sama Bella rasanya sepi banget.”


“Gimana kabar mas Bima sama tante Saras? Bella bilang mas Bima pindah tempat kerja ya? Wah, aku bakal jarang ketemu mas Bima dong?”


“Bella penat banget kayaknya, dia lagi diem sendirian di pinggir kolam sambil ngelamun. Aku temenin dulu yaaa…”


Itulah beberapa barisan pesan yang kerap di kirim Inka pada Ozi dan tidak pernah di balasnya. Hanya di baca saja.


“Brengsek emang!” dengus Bella seraya membenamkan ponsel di tangan Inka.


“Lo kenapa Bell?” Inka bingung sendiri melihat reaksi Bella yang meradang.


“Lo gak usah wa-an sama abang gue lagi. Lo gak perlu nanya kabar dia. Dia tuh emang, aaaarrrgghh!!!!” geram Bella.


Ia beranjak dari tempatnya. Membiarkan celana jeans-nya masih tergulung dan bergegas pergi.


“Bell lo mau kemana? Kenapa gue gak boleh wa-an lagi sama mas Bima?” seru Inka yang diabaikan Bella.


“Gue salah apa sih Bell?” gumam Inka seraya menatap Bella yang berlalu pergi meninggalkannya. Entah mengapa perasaannya jadi tidak enak.


Tiba di ruangannya, Bella segera menutup laptopnya. Memasukkannya ke dalam tas dan merapikan mejanya dengan berisik.


“Lo kenapa sih Bell?!” rupanya Rini cukup terganggu dengan kebisingan yang di buat Bella. Namun Bella tidak menanggapinya.


Ia memakai tas ransel miliknya dan bergegas pergi.


“Kemana?!” Devan yang terkejut melihat tingkah Bella, segera menghadang jalannya.


Bella menatapnya dengan laman dan penuh kemarahan. Tanpa di sangka, Bella mengambil kunci mobil dari tangan Devan dan bergegas pergi.


“Eh Bella, lo mau kemana?!” seru Devan. Ia tidak lagi memperdulikan tatapan penuh keterkejutan Melisa dan Rini. Di susulnya Bella yang berjalan dengan cepat.


“Mobil gue manual Bell!” seru Devan saat berhasil menyusul Bella di tempat parkir.


Bella hanya terdiam. Memandangi pantulan wajahnya dan bayangan Devan di belakangnya. Devan inisiatif mengambil kunci di tangan Bella, yang ternyata tanpa perlawanan. Ia pun membukakan pintu untuk Bella dan Bella menurut saja, duduk di kursi penumpang tanpa protes.


Tanpa banyak bicara Devan melajukan mobilnya menuju jalanan. Ia berbaur dengan kendaraan lain. Jam bubar kantor memang selalu ramai hingga mengharuskannya berhenti beberapa kali untuk menjaga jarak dengan kendaraan lain.


Dari spion tengah ia mencoba memperhatikan ekspresi Bella yang tampak kesal. Tangannya mengepal sedari tadi. Entah apa yang membuatnya marah. Selama  perjalanan tidak ada yang berbicara. Bella bahkan tidak protes saat Devan membawanya ke arah jalan pulang.


Tiba di rumah, Bella langsung turun. Pintu mobil ia banting dan Devan hanya bisa melongo. Langkahnya begitu cepat menapaki vaping block dan masuk ke dalam rumah tanpa menutup lagi pintunya.


“Beneran lagi dapet kayaknya.” Gumam Devan sambil bergidik. Ternyata wanita yang sedang PMS itu menakutkan.


“Udah pulang sayang?” sapa Saras saat melihat kedatangan Bella.


Bella meraih tangan Saras untuk ia salimi dengan kedua mata yang seolah mencari seseorang.


“Abang mana?” tanyanya. Menaruh ransel di atas kursi lantas berjalan cepat menuju kamar Ozi.


“Abang lagi sakit dek, jangan di gangguin.” Tahan Saras yang di abaikan Bella.


Tidak tertahan, Bella langsung membuka pintu kamar Ozi.


“Astaga, gue kira siapa. Tumben udah pulang.” Sapa Ozi saat melihat Bella yang muncul dari balik pintu.


Bella terdiam memperhatikan sekitar. Ozi masih berada di atas tempat tidur dan berbaring. Tubuhnya di tutupi selimut dengan wajah sedikit pucat. Tidak tega sebenarnya tapi Bella harus bicara.


“Lo apain Inka?” tanyanya mengintrogasi. Kedua tangannya bersidekap di depan dada dengan tatapan tajam.


“Inka? Apa urusannya sama gue?” Ozi balik bertanya. Ia bangun dari tidurannya, bersandar pada sandaran tempat tidur seraya menatap Bella penuh tanya.


“ADA!!” seru Bella dengan mata membulat.


“Lo manfaatin dia buat mata-matain gue kan? Lo nyuruh dia lapor apapun yang gue lakuin supaya lo yakin kalau gue jarang ketemu Rangga. Dan yang paling parah, lo bikin dia berharap sama lo. Lo bolehin dia ngirim pesan tapi gak pernah lo bales. Keuntungannya cuma buat lo karena bisa mata-matain gue tapi pelan-pelan lo malah bikin Inka sakit nantinya.” Cerocos Bella dengan cepat.


Ia tahu benar bagaimana rasanya berusaha ada untuk seseorang namun tidak pernah di anggap ada dan di abaikan.


“Lo jahat banget sih anjir!” satu bantal di lempar Bella pada Ozi.


Ozi hanya termangu melihat apa yang Bella lakukan. Ia tidak menyangka kalau akan secepat ini ia ketahuan.


“Dek, gue,”


“Diem lo!” dengan cepat Bella mematahkan kalimat Ozi. Tatapannya masih berapi-api penuh kemarahan.


“Lo kalau gak suka sama Inka, lo harusnya larang dia buat deketin lo. Jangan bikin dia berharap. Lo tau kan kalau dia suka banget sama lo?”


Ozi hanya terdiam, ia membiarkan kemarahan Bella meluap dahulu sepenuhnya.


“Hampir tiap malem dia nangis cuma karena ngerasa kesepian dan berharap orang-orang yang dia sayangi peduli sama dia dan merhatiin dia.  Inka lebih butuh perhatian dari gue. Dan Sekarang lo malah ngasih dia beban, ngasih dia harapan yang gak seharusnya lo kasih.”


“Lo gak tau inka, lo gak kenal inka. Dan lo gak berhak bersikap seenaknya sama dia!” tegas Bella dengan telunjuk lantang menunjuk ke arah Ozi. Nafasnya terengah kelelahan.


Apa yang Inka rasakan, Sebagian besar bisa ia rasakan. Terlebih keinginan untuk di pedulikan oleh orang yang ia sayangi. Puluhan pesan yang di kirim Inka pada Ozi dan di abaikan begitu saja, seolah mengingatkannya pada rasa lelah menunggu balasan pesan dari Rangga.


Tidak nyaman rasanya di perlakukan seperti itu tapi ia tidak bisa melawan apalagi berontak. Ia hanya sedang bertahan, mempertahankan orang yang ia sayangi agar tidak lepas dari genggaman. Meski ia sadar, mungkin ia sedang bertahan sendirian.


“Gue mohon, lo berhenti manfaatin Inka. Dia sahabat gue. Gue sayang sama dia. Kalau lo gak percaya sama gue, itu urusan lo. Tapi gue mohon, jangan tambah beban Inka, jangan libatin dia dalam masalah kita.” Tegas Bella dengan tersengau-sengau. Ia berusaha menahan tangis yang coba ditahannya. Dadanya terasa sesak dan berat seperti mau meledak.


Entah kesedihan mana yang coba ia tahan. Apa melihat Inka yang diabaikan atau mengingat dirinya yang sadar berada dalam posisi yang sama denan Inka. Yang jelas saat ini dadanya sangat sesak.


Ozi tidak menimpali sedikitpun. Ia hanya termenung seraya memandangi wajah Bella yang sendu dan matanya yang sedikit basah. Kedua tangannya masih mengepal namun tidak seerat tadi.


Tanpa berlama-lama, Bella pun pergi dari kamar Ozi. Ia melewati begitu saja Saras yang ada di belakangnya yang sejak tadi menyimak pertengkaran kakak beradik ini. Ada juga Devan yang terduduk di sofa tanpa bersuara apalagi berani menatap Bella. Semuanya diam, semuanya hening.


“Abang perlu sendirian mah.” Ujar Ozi saat melihat Saras akan masuk ke kamarnya.


Saras hanya mengangguk seraya tersenyum. Mungkin kedua anaknya memang perlu waktu untuk menenangkan dirinya masing-masing.


“Gue gak suka sama lo. Jangan lakuin hal apapun buat menarik perhatian gue. Karena itu sia-sia.” Kalimat itu yang kembali Ozi ingat saat ia bertemu Inka.


Gadis itu tertunduk lesu dengan mata berkaca-kaca. Seperti hatinya baru saja di patahkan dengan cara yang terlampau sadis.


“Keliatan banget ya kalau aku suka sama mas Bima?” ujar Inka seraya tersenyum kelu.


Bima memalingkan sejenak pandangannya dari Inka, untuk melihat keadaan di sekelilingnya. Ia tidak suka melihat wanita menangis, jangan sampai ia menjadi iba pada gadis ini.


“Aku gak tau seperti apa tipe gadis yang disukai mas Bima. Aku juga gak tau apa aku cocok atau nggak sama mas Bima. Tapi, aku sedang berusaha. Mengenal mas Bima dari dekat dan menjadi apapun yang mas Bima mau. Aku akan berusaha dan aku yakin pasti bisa.” Tegas Inka penuh keyakinan.


Kali ini gadis itu benar-benar tersenyum, seperti tanpa beban mengatakan semua yang ada di kepalanya.


“Lo yakin ngomong gitu sama laki-laki yang lo gak kenal?” Ozi jadi tersenyum dalam hati mendengar pemikiran gadis ini. Terlalu polos menurutnya.


“Aku tau mas Bima kok. Hobi mas Bima, makanan kesukaan mas Bima. Apa yang bikin mas Bima marah dan apa yang bikin mas Bima seneng.” Ucap Inka dengan penuh keyakinan.


“Gue gak suka cewek yang terlalu mengejar laki-laki. Itu yang paling penting harus lo tau.” timpal Ozi, serasa menang satu point dari Inka.


“Hehehehe… Mas Bima perhatian banget sama aku. Makasih udah cemasin aku. Tapi aku baik-baik aja walaupun harus berusaha agar bisa di dekat mas Bima.” Lagi, Inka tersenyum di ujung kalimatnya.


Entah seperti apa otaknya mempersepsikan kalimat Ozi.


“Lo gak ngerti maksud gue?” Ozi mentautkan kedua alisnya, bingung dengan jawaban Inka.


“Nggak. Makanya aku mau lebih mengenal mas Bima. Biar setiap kalimat mas Bima bisa aku mengerti dengan baik.” Sahut Inka dengan penuh percaya diri.


Ozi sampai menggelengkan kepalanya, benar-benar tidak paham.


“Kasih aku kesempatan sekali ini saja, aku janji aku akan sangat bermanfaat buat mas Bima. Ya anggap aja untuk sementara kita FWB. Friend with benefit. Hehehe…” inka mencondongkan tubuhnya pada Ozi agar suaranya lebih jelas terdengar saat ia berbisik.


“Lo?” Ozi sampai kehabisan kata-kata. Dari sekian banyak wanita yang mengejarnya, baru kali ini ada gadis yang seterang-terangan Inka. Tanpa rasa takut.


“Lo tau kan arti kalimat yang lo omongin tadi?” Ozi berusaha menggali isi pikiran Inka.


“Tau!!” sahutnya dengan yakin.


“Aku juga tau kalau mas Bima gak akan jahat sama aku. Gak akan ngelakuin hal buruk sama aku.”


“Inka, lo perempuan dewasa dan gue laki-laki dewasa. Lo yakin kalimat tadi lo tujuin buat kita?” Ozi jadi ikut mencondongkan tubuhnya pada Inka.


“First of all, makasih mas Bima udah inget nama aku. Second, aku yakin kalimat itu buat kita. Karena aku orang yang bisa di ajak bekerjasama dalam tim. Pokoknya kalau mas Bima butuh bantuan aku, aku siap bantu deh. Gitu pokoknya, friend with benefit.” Inka benar-benar antusias dan akhirnya membuat Ozi terkekeh. Ia bahkan mengulurkan tangannya untuk berjabat namun Ozi mengabaikannya.


Tidak ada rasa kecewa di wajahnya, ia hanya menggulung lagi tangannya yang ia taruh di atas meja, lantas tersenyum manis.


Bima, Bima dan Bima, entah sudah berapa kali gadis ini memanggilnya dengan nama itu. Sangat langka. Kalau Bella tahu, mungkin akan sangat marah. Karena ia tidak suka di anggap anak kembar dengan kakaknya.


Tanpa Ozi tahu kalau Bella pernah mengatakan, “Cuma lo yang manggil bang Ozi dengan panggilan Bima dan gak gue getok!” ucap Bella kala itu.


“Kenapa, karena terdengar tulus dan hangat?” begitu timpalan Inka waktu itu yang di balas gelengan kepala oleh Bella, seperti yang dilakukan Ozi saat ini.


“Gue cuma memprioritaskan Bella dan nyokap dalam hidup gue.” Ujar Ozi.


“Aku tau!” sahut Inka cepat.


“Mantan pacar gue banyak dan lo bakal saingan sama banyak perempuan lainnya.”


“Aku tau!” lagi Inka menyanggupi.


“Gue gak suka ngerespon pesan atau telpon dari cewek yang gak gue suka.”


“Gak apa-apa. Tapi bukan berarti aku gak boleh kirim pesan dong? Iya kan, iya dong?!” semangat Inka semakin menggebu yang membuat Ozi akhirnya tertegun sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.


Entah seperti apa isi kepala anak ini, tapi bagi Ozi kalau Inka sesemangat ini, biasanya semangatnya akan cepat padam.


“Aku tau mas Bima sayang banget sama Bella. Mas Bima selalu pengen Bella itu dalam jangkauan mas Bima. Nah, aku bisa jadi mata mas Bima buat mantau Bella. Aku juga bisa jadi tangan mas Bima kalau Bella perlu pegangan. Dan aku juga bisa jadi telinga mas Bima kalau Bella perlu tempat cerita. Gimana?”


“Dan gue gak bisa jadi apapun buat lo.” Tegas Ozi.


“Gak masalah. You are my friend, dan aku bermanfaat buat mas Bima. Deal?” Inka kembali mengulurkan tangannya pada Ozi tanpa ragu.


Ozi tidak mengiyakan ataupun menolaknya. Ia memilih beranjak dari tempatnya dan meninggalkan Inka.


“Asyiikk… Nanti aku chat mas Bima yaaa? Hati-hati di jalan. Aku juga bakal sampe rumah dengan selamat.” Seru Inka tanpa ragu.


Ozi hanya tersenyum di tempatnya, tanpa menoleh ataupun memberi respon. Sementara Inka santai saja saat beberapa pasang mata menatapnya jijik.


“Calon suami. Maklum, cowok mah gitu. Gengsian!” ujarnya sambil berlalu pergi, mengabaikan pasang mata yang menatapnya..


****