Bella's Script

Bella's Script
Berpisah dengan masa lalu



Mengurusi segala administrasi tentang film ternyata cukup menyenangkan. Bella bertemu dengan banyak orang di industri perfilm-an. Pengalaman Devan yang mumpuni dan ternyata mengenal banyak orang, membuat semua proses berjalan lancar.


Dimulai dengan pergi ke Lembaga Sensor Film lalu kali ini mengurus Hak Cipta. Serangkaian proses ini Bella ikuti bersama tim Lawyer dari PH.


Dulu, setelah selesai syuting semua masalah administrasi ini di serahkan pada Lawyer. Ada satu dua orang yang ikut namun tidak pernah Bella. Kali ini, ia ingin mengetahui lebih banyak tentang prosedur administrasi dan ketentuan terkait hal ini.


Ternyata prosedur administrasinya tidaklah pelik asalkan kita mengikuti semua aturan dan memenuhi syarat administrativ yang telah di tentukan.


Selesai dengan semua urusan, mereka memutuskan untuk kembali ke PH. Lawyer PH pulang terpisah dengan Bella dan Devan.


“Sayang, aku ke toilet bentar ya, kamu bisa tunggu di sana.” Tunjuk Devan pada sebuah bangku tunggu di area taman belakang bangunan ini.


“Iya mas. Sini, aku bawain laptopnya.” Bella meminta laptop yang di bawa Devan.


“Makasih sayang…”


“Sama-sama…” Bella mengambil alih laptop dari Devan.


“Tunggu yaa, aku gak lama.” Pesan Devan seraya mengusap pucuk kepala sang istri, ini sudah menjadi kebiasaanya. Bella hanya mengangguk saja seraya mengiyakan.


Devan pergi lebih dulu menuju toilet dan Bella menunggu, duduk di bangku taman. Ia melihat ke sekeliling taman yang asri dengan bangunan tinggi menjulang. Tempat ini memang cukup asing bagi Bella. Selama ini ia hanya mendengarnya saja dan mengetahui alamatnya namun tidak pernah datang langsung ke sini.


Sambil menunggu Devan, Bella memainkan ponselnya. Ia mengecek pesan masuk dan ada satu pesan masuk dari Inka.


“Belsky.. Lo balik lagi ke PH gak?” Tulis Inka sekitar 10 menit lalu. Rupanya saat Bella berbicara dengan orang-orang di dalam, pesan ini di kirim Inka.


“Bukan, gue perlu masukan lo buat tata panggung nanti malem. Perasaan ada yang kurang gitu.”


“Kirim dulu fotonya, gue liat bentar.”


Tidak berselang lama, foto penataan panggungpun di kirim Inka. Ada sekitar 8 foto dan foto terakhir adalah foto Inka bersama Roni yang berpose menangkupkan kedua tangan di depan dada sebagai tanda ucapan terima kasih.


“Iya sama-sama, gue liat dulu.” balas Bella.


Bella mulai memperhatikan satu per satu gambar, memperbesarnya untuk melihat detail yang terasa kurang. Di gambar pertama ia tidak menemukan apa-apa, foto ini di ambil dari sudut kiri. Tapi hal berbeda Bella temukan di foto kedua, memang terlihat ada yang kurang dari sudut ini.


"Minta juru lampu, mindahin lampu sorot yang deket speaker ke tengah. Biar simetris kalo lampu sorotnya cuma satu." Tulis Bella.


Asyik memandangi foto dan berbalas pesan, Bella sampai tidak sadar kalau seseorang sudah duduk di sampingnya. Ia memandangi Bella dengan segaris senyum saat melihat wajah serius Bella yang begitu menarik. Beberapa helai anak rambut menutupi wajahnya membuat kesan cantik alami itu ketara semakin kuat.


“Bell,..” Panggil sebuah suara yang sangat tidak asing bagi Bella.


Bella langsung terhenyak dan mencengkram ponsel di tangannya. Ia sedikit bergeser sebagai refleks saat sadar jarak ia terduduk dengan orang itu terlalu cukup dekat.


“Rangga,?” Lirih Bella dengan penuh keterkejutan.


*****