Bella's Script

Bella's Script
Keluarga dan kecemasan



Tirai itu akhirnya di buka. Tirai yang menjadi batas antara Saras dengan sang putra. Saras segera mendekat, memperhatikan lekat-lekat sosok Ozi yang bisa di lihatnya dari jendela.


Ozi masih terlentang tidak berdaya dengan seorang perawat di sampingnya yang sedang menyuntikkan obat melalui selang infusan. Saras tersenyum ketir saat melihat gambaran monitor yang bergelombang walau entah mengartikan apa.


“Pasien baru selesai kami seka. Dokter akan datang sekitar jam 10, sedikit terlambat karena harus menyelesaikan tindakan operatif. Mohon ibu menunggu di dekat sini.” Ucapan perawat yang kini ada di samping Ozi, cukup membuat Saras mengangguk pelan.


“Apa anak saya sudah sadarkan diri sus? Kata dokter harusnya pagi ini dia sudah siuman?” Cemas Saras.


“Saat ini pasien sudah tidak di bawah pengaruh bius bu. Namun, seperti apa kondisinya saat ini, dokter yang nanti akan menyampaikan pada ibu.” Penjelasan perawat tadi cukup membuat perasaan Saras tidak karuan.


Matanya berkaca-kaca menahan tangis, mempertanyakan mengapa sang putra masih juga belum sadarkan diri.


Helaan nafas dalam beberapa kali di hela Saras. Ia memukul-mukul pelan dadanya sendiri dengan kepalan tangannya untuk mengurangi rasa sesak yang berjogol di dadanya. Namun tidak berhasil sama sekali. Rasa khawatirnya masih tetap sama malah semakin besar.


Melihat ke sisi kiri dan kanan, ia pun mendapati keuarga pasien lain yang sedang mengkhawatirkan keluarganya. Ada seorang nenek yang menangis sesegukan karena cucunya yang berusia 8 tahun masih belum sadarkan diri setelah mengalami kecelakaan fatal yang mengancam nyawanya.


Ada seorang kakak yang meraung-raung menangisi sang adik karena baru pulang merantau dan mendapati sang adik yang koma di dalam ruangan berkaca itu. Ada pula seorang ayah yang hanya bisa mematung menatap putrinya yang baru saja dinyatakan mati batang otak dan menunggu persetujuan keluarga untuk mencabut semua peralatan.


Masih banyak keluarga lain yang dengan kecemasannya memikirkan kondisi keluarga mereka di dalam sana. Sekali lagi, Saras tidak sendiri. Namun hal ini tidak lantas membuat cukup bisa menghilangkan kecemasannya terhadap Ozi.


“Mah,,” Suara Bella terdengar memanggilnya dari belakang.


Saras menoleh dengan wajahnya yang terlihat sendu. Gadis itu masih terengah karena berjalan dengan sangat cepat menghampiri Saras.


“Apa dokternya udah visit?” Melihat ekspresi Saras, Bella sangat takut kalau ada hal buruk yang sedang mengancam sang kakak.


Saras tidak lantas menanggapi, ia memilih menghampiri Bella, menatapnya lekat-lekat dengan mata yang berkaca-kaca lalu di peluknya gadis yang bingung itu dengan erat.


“Kata perawat, bius abang sudah di hentikan tapi, abang masih belum sadarkan diri.” Lirihnya dengan terbata-bata.


“Brug!” beberapa barang di tangan Bella jatuh begitu saja dari genggamannya bersamaan dengan bulir air mata yang menetes tanpa di minta.


Ia mengabaikan semuanya dan memilih membalas pelukan Saras dengan erat.


“Mamah takut sayang, mamah takut kalau abang gak bangun lagi,,,” Saras terisak dipelukan Bella.


“Ssssstttttt…. Mah...” Dengan cepat Bella berdesis, berusaha menenangkan Saras dengan usapan lembut di punggungnya.


“Mah, kita duduk ya…” Adalah Devan yang berinisiatif menawarkan Saras untuk duduk agar bisa lebih tenang.


Saras melerai pelukannya dari Bella lalu mengangguk setuju. Bella membawanya duduk di kursi tunggu, menyeka air mata Saras dan menggenggam tangannya dengan erat.


“Apa udah ada penjelasan dari dokter mah?” setelah terlihat tenang, Devan memberanikan diri untuk bertanya.


Saras menggeleng. “Dokter masih ada tindakan di ruang operasi. Sekitar jam 10 beliau akan memeriksa abang. Ya Allah…. Jangan siksa aku dengan segala kegelisahan dan ketakutan ini….” Lirih Saras seraya menundukkan kepalanya dan menangkup wajahnya dengan kedua tangan.


Bella menoleh sang suami yang ada di sampingnya dan Devan membalasnya dengan genggaman erat di tangan Bella.


“Mah, untuk saat ini Ozi sangat membutuhkan dorongan semangat dan do’a dari kita semua, terutama mamah. Devan paham kalau mamah sangat mencemaskan kondisi Ozi tapi, ada baiknya kita tidak menyimpulkan sendiri hal apapun sebelum mendapat penjelasan mendetail dari dokter.”


Devan berusaha mengingatkan. Ia tahu, mungkin ini tidak berefek banyak bagi ibu mertuanya tapi paling tidak, ia berusaha mengingatkan.


“Astagfirullah….. “ Saras mengusap wajahnya lalu melepaskan tangkupan tangannya.


“Kenapa mamah begitu berburuk sangka sama takdir Allah, padahal pengetahuan mamah sangat terbatas?” Ia menegakkan tubuhnya yang semula condong seperti ingin rubuh.


Bella bisa menghela nafas lega setelah mendengar Saras menyadari sendiri kekhilafannya.


Tidak jauh dari tempat mereka, ada seorang remaja yang tengah berdiri memandang 3 orang keluarga Fauzi.


Di tangannya ia membawa obat yang tadi minta ditebus oleh perawat. Sedikit mengintip dan Ibra mencarinya di internet, obat ini berfungsi untuk mengurangi pembengkakan di otak. Isi kepalanya sudah menduga yang tidak-tidak namun kemudian ia sadar bahwa pengetahuannya sangat terbatas, seperti yang di katakan Devan.


Ada baiknya ia berserah dan berprasangka baik tanpa meracuni pikirannya sendiri dengan hal-hal buruk. Percaya saja bahwa takdir tuhan itu maha baik.


Ia memilih untuk segera memberikan obat ini pada perawat. Ia akui, setelah Bella, Ozi adalah orang kedua yang membuatnya memiliki kecemasan pada orang lain


“Tuhan, akhirnya aku memiliki keluarga yang bisa aku cemaskan dan aku do’akan kebaikannya.” Batin Ibra dengan langkah lebar menuju ruang perawat.


******