
Di sebuah ruangan dengan setting kamar pengantin, menjadi tempat pengambil scenes film menuju selesainya syuting kali ini. Ini adalah scene utama yang menjadi salah satu klimks* film romansa yang di tulis Bella.
Crew bersiap untuk melakukan pengambilan gambar agar tidak kurang dari satu apapun. Scene ini di buat sesempurna mungkin agar penantian penonton terbayarkan dengan jalan cerita yang menarik dan pengemasan scene yang apik.
“Lampunya bikin redup bagian belakang yang ini agak terang supaya dapet siluete-nya.” Devan mengarahkan penata cahaya yang berada di belakang layar.
“Segini bos?” Tanya salah satu crew.
“Iya cukup. Bunga-bunganya tolong pindahin ke sebelah sana, supaya gak bertumpuk di sini.”
Kali ini Roni yang beranjak dan merapikan bunga.
“Di sini?”
“Ya, udah di situ aja.” Devan mengacungkan ibu jarinya pada Roni.
“Kamera gimana, aman?”
“Yoi, aman..” Kemal mengacungkan ibu jarinya pada Devan.
“Okey, kita latihan dulu sebelum take. Pemain bersiap.”
Rangga dan Amara mulai masuk ke tempat syuting dengan latar sebuah kamar. Suasana yang di buat romantis seolah menegaskan kalau ini akan menjadi malam terindah bagi Michael dan Minara.
“Roll, action!” Aba-aba Devan memulai adegan.
Minara berjalan menghampiri Michael yang sedang terduduk di sofa. Laki-laki itu masih sibuk dengan ponselnya setelah mengakhiri satu panggilan.
“Apa kamu belum merasa lelah?” Tanya Minara yang duduk di samping Michael. Ia menyentuh pundak Michael dan memijatnya perlahan.
“Maaf, tadi ada yang harus aku selesaikan.” Cepat-cepat Michael menaruh ponselnya dan mengalihkan fokusnya pada Minara.
Minara tersenyum kecil seraya mendekat pada Michael.
“Bisakah kalau sekarang aku meminta waktumu hanya untukku?” Gadis itu berbisik manja di telinga Michael dengan tatapan yang menggoda.
Ia mengusap dada Michael yang sedikit terbuka karena tali pengikat kimono mandinya yang longgar.
“CUT!” Adalah suara Devan yang mengakhiri adegan itu.
“Kenapa? Apa yang salah?” Amara langsung protes. Devan mengakhiri adegannya padahal imajinasinya benar-benar sedang terkumpul.
“Redupkan sedikit matamu jangan terlalu antusias. Kamu terlihat seperti wanita penggoda.” Pinta Devan tanpa ragu.
“Adegan usap dada itu gak ada, yang harusnya ada adalah lo ngasih perhatian intens ke si Michael supaya si Michael tersentuh. Inget, lo gak lagi berperan sebagai wanita b*nal.” Indra ikut menambahkan.
“Ck!” Amara berdecik sebal karena usahanya di patahkan begitu saja oleh sang sutradara dan assistant-nya.
“Kita ulangi dari kamu duduk sebelah Michael.” Lanjut Devan.
“Okeeyy bersiap.” Indra memberi aba-aba.
Di belakang sana beberapa orang tertawa kecil melihat usaha Amara yang di patahkan oleh sutradaranya. Gadis itu melirik Bella yang tampak tidak terganggu sedikitpun oleh usahanya merayu Rangga.
“Roll, action!” Seru Devan.
Amara menghela nafasnya sebelum memulai dialog. Walau kesal ia harus melanjutkannya.
“Bisakah kalau sekarang aku meminta waktumu hanya untukku?” Lagi, gadis itu berbisik manja di telinga Michael dengan tatapan yang di buat sayu.
Ia sedikit mencondongkan dadanya pada Michael membuat laki-laki itu tampak terkejut secara alami.
“Bisa. Hanya saja, aku takut menyakitimu.” Lirih Michael menatap Minara dengan khawatir.
Minara tertawa kecil, ia menatap Michael dengan lekat.
“Aku sudah menjadi milikmu Michael, bukankah kamu tidak akan menyakiti sesuatu yang sudah menjadi milikmu?”
Minara mendekat pada Michael. Melonggarkan tali kimononya sendiri hingga bagian atas tubuhnya terekspose setengah dada. Ia mendekat dengan agresif pada Michael.
“Ra, tunggu!” Tiba-tiba saja Rangga menahan tubuh Amara agar tidak semakin mendekat. Konsentrasinya sudah bubar jalan gara-gara penampilan terbuka Amara.
“Kamu kenapa sih?! Kita lagi berakting Rangga! Ini namanya penghayatan, improvisasi visual dari penjelasan di script.” Protes Amara yang kesal karena Rangga menghentikan aksinya.
“Tapi adegan tadi gak cocok sama deskripsi yang ada di script.” Lirih Rangga penuh penekanan. Ia melirik Bella yang duduk di samping Devan.
“Emanganya kenapa? kamu gak nyaman karena ada perempuan itu? IYA?!!!” Seru Amara yang tiba-tiba naik pitam.
“CUT! CUT! CUT!”
“Lo berdua kenapa sih?!” Protes Indra yang kesal dengan keributan tidak penting dari dua pemain itu. Ia menaruh dengan kasar headset yang melingkar di kepalanya.
“Rangga nolak beradegan sama gue gara-gara ada perempuan itu!” Tiba-tiba saja Amara menunjuk Bella.
Tidak hanya itu, Ia pun berjalan dengan cepat menghampiri Bella yang tampak terkejut dengan tingkah arogan Amara.
“Lo bisa gak sih pergi dari sini?! Jangan ganggu konsentrasi gue sama Rangga!” Amara bahkan mendorong bahu Bella hingga Bella mundur beberapa langkah.
“Maksud lo apa sih?!” Devan segera menahan tubuh Bella yang nyaris ambrug.
“Oh, jadi pak sutradara juga lebih belain script writernya di banding pemain? Lo gak tau aja kalau mereka main mata.” Amara tersenyum sinis pada Devan.
“Ingeeett loohh, walaupun lo punya cerita yang bagus, tanpa pemain hebat kayak gue, script lo cuma jadi sampah. Sama kayak hidup lo!” Ucap Amara dengan ringan.
“Dan Lo harus tau kalau adanya lo di sini tuh ganggu banget! Gue sama Rangga gak bisa konsentrasi gara-gara ngeliat muka lo!” Tunjuk Amara pada Bella, penuh kemurkaan.
“Ara!” Lisa yang sadar artisnya membuat kericuhan segera menghampiri. Ia memegangi tangan Amara dengan erat.
“APA?!! Lo juga mau belain dia?!” Amara mengibaskan tangan Lisa dengan kasar.
“Lo udah keterlaluan Ara!” Kali ini Bella menimpali.
“Waahh lihat, tuan putri akhirnya angkat bicara." Amara tersenyum lebar seraya bertepuk tangan pelan.
"Seneng lo banyak yang belain?” Amara tersenyum sinis pada Bella.
“Tentu, gue perlu bicara karena gue ngerasa lo udah gak professional.” Timpal Bella tanpa ragu. Tangannya mengepal menahan kemarahan yang selama ini ia tahan.
“Gak professional lo bilang? Lo yakin, gue yang gak professional di sini? Bukannya lo?” Amara bersidekap dengan ekspresi menantang Bella.
Ia ingin tahu, sejauh mana Bella bisa menghadapinya.
“Lo nyadar gak kalau lo sendiri yang ngehambat proses syuting ini?”
"Iya dong, makanya lo sekarang di cap sebagai PE-LA-KOR!” Amara menunjuk-nunjuk wajah Bella dengan puas. Lihat saja senyumnya yang sarkas.
Bella hanya menggeleng. Amara mulai menggila menurutnya.
“Kenapa? Lo gak terima?” Amara menatap Bella sarkas.
“Nyadar lo sekarang kalau lo berada jauh di bawah gue?” Tatapan Amara benar-benar mengintimidasi.
Bella menghela nafas dalam sebelum menimpali Amara. Ia merasa, Amara sudah tidak bisa lagi di biarkan.
“Ra, harus gue kasih tau satu hal sama lo.” Ia menatap Amara dengan tajam.
"Apaan tuh? Penasaran gue?!" Dengan gaya meledek, Amara mendekatkan dirinya pada Bella. Ia menyingkap helaian rambut yang menutupi telinganya.
“Sejujurnya, gue udah gak peduli sama sekali sama lo, termasuk hubungan lo sama Rangga. Itu udah gak ngusik hidup gue sama sekali.”
“Di sini, gue udah bersikap profesional. Buat gue, lo cuma pemain film yang di kontrak untuk memerankan peran utama dengan benar. Gak lebih dari itu.”
“Urusan pribadi lo, gue sama sekali gak mau tau. Lo mau gunjingin gue bareng fans-fans lo silakan. Lo mau menanamkan asumsi sama orang-orang tentang gue yang pelakor silakan. Gue gak ambil pusing.”
“Tapi satu hal yang gak bisa gue biarin yaitu, lo ngerusak script gue dengan peran lo yang terlihat binal seperti tadi. Lo mau improvisasi silakan, tapi pastikan yang lo lakuin sesuai karakter di tokoh ini, bukan sebagai Amara.”
“Lo udah pernah ngerusak hidup gue dan kali ini, gue gak akan biarin lo ngerusak hal berharga dalam hidup gue walau menurut lo ini hanya sebuah sampah.”
“Jadi harusnya lo udah bisa tenang dong. Cukup lakukan pekerjaan lo sesuai kontrak yang udah lo tanda tangani. Bukankah seperti itu yang seharusnya dilakukan oleh pemain besar seperti lo?” Tandas Bella dengan penuh penekanan.
Setelah sekian lama, baru kali ini Bella memberanikan dirinya untuk menghadapi Amara. Sosok wanita yang pernah sangat ia sayangi sebagai sahabat juga saudara. Tapi kemudian sosok ini menjadi seseorang yang paling dalam menancapkan pisaunya di ulu hati Bella.
Harus Bella akui kalau Amara pernah menjadi ketakutan terbesarnya. Ia takut jika kemudian ia gagal menghadapi Amara dengan intrik untuk menjatuhkannya dan membuatnya kembali terpuruk.
Tapi saat tahu ternyata pikiran Amara sedangkal itu terhadapnya, Bella menjadi tahu kalau sebenarnya ia lah yang ditakuti Amara. Wanita itu berlindung di belakang kalimat “Rangga lebih memilih saya.” Ya, kalimat itu yang selalu ia banggakan dan akan ia gunakan untuk menjatuhkan Bella.
Namun sayangnya, Bella sudah tidak terpengaruh lagi dengan hal itu.
“Okey, udah puas lo nyerang Bella?” Tanya Indra yang kini berdiri di antara dua wanita itu. Ternyata sulit untuk bersikap netral dalam kondisi seperti ini.
Ia menatap wajah Amara dan Bella bergantian. Ia yakin, Amara kalah telak dari Bella yang menghadapinya dengan tenang. Kalimat Bella tadi telah berhasil menjatuhkan harga dirinya yang selangit.
Amara hanya terpaku seraya menatap Bella penuh kebencian. Ia mengepalkan tangannya dengan erat lantas memalingkan wajahnya dan meninggalkan Bella pergi.
“Okeeyy good.. Emang bagusnya lo yang pergi.” Gerutu Indra saat melihat Amara berlalu pergi.
*****
Di ruang make up kini Amara berada. Ia tengah memandangi wajahnya sendiri dengan dingin. Ia tidak terima, Bella mempermalukannya di depan banyak orang.
“AARRGG!!! ****!” Dengusnya seraya memukul-mukul meja rias dengan kedua tangannya.
Ia benar-benar tidak menyangka kalau Bella akan berani menghadapinya. Ia tidak terima dikalahkan begitu saja oleh gadis itu.
“Lo pikir lo bisa menang dari gue Bell? Gak, lo gak akan bisa menang.” Lirih Amara dengan penuh penekanan. Lihat saja matanya yang menyalak merah memandangi wajahnya sendiri.
“Lo belum tau lo sedang berhadapan sama siapa.” Ia tersenyum sinis. Ya, ia masih punya kesempatan untuk menjatuhkan Bella.
Serangkaian rencana di susun Amara dalam pikirannya. Di mulai dengan mengeluarkan ponselnya dan ia menghubungi salah satu admin fansbase-nya.
“Kalian masih tertarik cerita soal Rangga dan perempuan itu?” Tulis Amara pada sebuah pesan direct message yang dulu sempat ia abaikan.
“Ya ampun queen… Akhirnya queen balas pesan mimin.”
“Tentu, kami masih sangat tertarik mendengar gosip perempuan itu.”
“Tapi, apa queen akan baik-baik aja setelah cerita hal menyedihkan ini sama kami?”
Amara tidak lantas menjawab. Tentu ia punya rencana sendiri.
“Ra! Apa yang kamu lakuin?!” Tiba-tiba saja Lisa mengambil ponsel dari tangan Amara.
“Lo apaan sih?! Gak usah ikut campur, INI BUKAN URUSAN LO!!” Timpal Amara yang segera merebut kembali ponselnya dari tangan Lisa.
“Ra, udah aku bilang, jangan di terusin. Jangan lakuin apapun! Kamu mau ini mempengaruhi film kamu?”
“Ini debut pertama kamu, Ra!” Lisa berusaha mengingatkan.
“Gue gak peduli. Gue bener-bener gak peduli. Mau film ini hancur kek, atau gagal tayang sekalipun, udah bukan urusan gue lagi. Yang mau gue lakuin sekarang adalah ngehancurin perempuan itu. Perempuan yang dengan berani bikin orang-orang nyerang gue.” Amara masih dengan kemarahannya yang memuncak.
“Ra! Tolong jangan bertindak gegabah. Gimana kalau ujungnya masyarakat tau, kamulah yang jadi selingkuhan Rangga? Pernah gak kamu mikir sampe ke situ?”
“Itu gak akan terjadi Lisa sayang.” Amara berujar dengan santai.
“Yang saat ini menjadi korban, adalah gue. Netizen akan lebih bersimpati dan percaya sama gue. Lo pikir perempuan itu punya keberanian buat tampil di media? Jangan naif lo. Gue lebih kenal dia dibanding lo.” Amara masih dengan keangkuhan dan rasa percaya dirinya yang tinggi.
“Ya udah, terserah kamu.”
“Aku udah pusing. Aku nyerah Ra, aku berhenti!” Tegas Lisa pada akhirnya.
Ia sudah sangat pusing meladeni semua tingkah Amara dan kali ini kesabarannya habis.
Ia mengambil tas nya lantas berjalan keluar dari ruang make up.
“PERGI SANA LO! GUE GAK BUTUH MANAGER BEGOK KAYAK LO!” Seru Amara dengan penuh kekesalan.
“AARRGGHHH Brengsek!!” umpatnya saat melihat Lisa pergi begitu saja.
*****
Lanjuttt?
Jangan lupa like, komen dan votenya yaa...
Tapi, sebentar deh, aku ada info tambahan nih.
Ada recomend novel lainnya dari temenku, Silakan mampir yaa...
Judul: Doctor and Love
Penulis: Rya Kurniawan