Bella's Script

Bella's Script
Profesionalitas



Bekerja secara professional dengan pasangan memang tidaklah mudah terlebih saat kita memiliki masalah pribadi dengan pasangan sekaligus rekan kerja. Hal itu pula yang dirasakan Rangga saat ini.


Sejak tiba di lokasi syuting, Amara terus bersikap dingin padanya. Saat Rangga bertanyapun sering kali ia mengacuhkannya. Rangga jadi berpikir, setelah kejadian semalam, siapa sebenarnya yang seharusnya marah? Pertanyaan itu yang terus muncul di benak Rangga.


Saat ini Ia melihat Amara sedang merias wajahnya di depan cermin sementara ia duduk di sofa menunggu gilirannya di panggil untuk take. Ia berusaha fokus pada script yang tengah di bacanya meski sikap Amara benar-benar mengganggu pikirannya.


“Ra, mau pake baju yang mana? Dress yang ini mau?” Tawar Lisa, menunjukkan sebuah dress yang masih tergantung di hanger. Dress bermotif bunga kecil itu terlihat cocok kalau dikenakan oleh Amara yang memiliki tubuh tinggi semampai.


Amara melirik sedikit baju yang ditunjukkan Lisa dari pantulan kaca.


“Gue gak suka warnanya. Bahannya juga bikin gerah.” Tolak Amara yang melanjutkan memoles wajahnya dengan bedak padat.


“Yang ini gimana?” Lisa menunjukkan baju yang lain dan Amara hanya mendelik tidak suka.


“Talinya bikin gatel. Lo tau kan kalau kulit gue sensitive sama bahan semi kulit gitu?” Lagi Amara menolak.


“Ya udah, lo pilih sendiri deh mau yang mana.” Lisa menyerah. Ia mendorong rak tempat ia memajang baju-baju yang disiapkan untuk Amara ke hadapan gadis itu. Terkadang keinginan Amara memang sulit di tebak.


Amara memutar kursinya lantas memandangi baju-baju yang ada di hadapannya.


“Coba yang itu.” Tunjuk Amara pada mini dress berwarna abu muda.


Lisa membawakannya untuk Amara. “Lo cobain dulu.” Ujarnya.


Dengan malas Amara beranjak. Ia mengganti bajunya di ruang ganti. Namun tidak lama suaranya terdengar,


“Mba, bantuin gue. Resleting-nya susah.” Teriak Amara dari ruang ganti.


“Iya, bentar.” Lisa menghampiri seraya membawa beberapa baju lain untuk di coba Amara.


Lisa melihat Amara sudah memakai mini dress itu namun resleting-nya masih terbuka.


“ Ini kan size lo Ra. Coba tahan nafas bentar.” Pinta Lisa seraya menarik resleting naik ke atas.


Amara menahan nafasnya sebentar dan Lisa terus menarik resleting naik. Tapi baru sampai pertengahan punggung Amara, resleting-nya tidak bisa naik lagi. Jarak kedua sisi resleting terlalu renggang.


“Kok gak muat ya? Padahal ini kan masih masuk ukuran lo yang biasa.” Lisa mengecek label di dekat reslieting dan ukurannya memang ukuran Amara.


“Coba gue ukur dulu lingkar pinggang lo.” Lisa inisiatif mengambil meteran lipat untuk mengukur lingkar pinggang Amara.


"Angkat tangan lo."


Amara menurut saja dengan perintah Lisa.


“Nambah 3 senti Ra. Lo gemukan deh kayaknya.” Ujar Lisa. Ia pun berpindah mengukur lingkar lengan Amara.


“Ini juga nambah, hampir 1 senti. Lo banyak makan malem ya sekarang? Perut lo juga agak buncit.” Protes Lisa.


Amara jadi ikut memandangi perutnya yang agak buncit. Rasanya tidak enak untuk di lihat.


“Iya, kalau malam sekarang gue sering laper. Makanya keluar buat cari makanan.”


Amara sengaja mengeraskan suaranya di bagian itu membuat daun telinga Rangga meruncing dan terpaksa menyimak perbincangan dua wanita itu.


“Lo makan nasi putih ya kayaknya. Padahal gue udah stock oat sama apel di kulkas, kenapa lo makan yang lain?” Protes Lisa. Tensi darahnya memang selalu naik kalau tahu Amara mulai tidak patuh.


“Berisik lo ya!” Tiba-tiba saja Amara mendorong Lisa menjauh.


“Emang kenapa kalau gue gemukan? Tinggal beli baju yang baru aja susah amat. Toh gak pake duit lo juga!” Emosi Amara mendadak terpancing. Ia berbicara dengan cepat dan beruntun.


“Lo sensi amat sih Ra. Perasaan lo sendiri yang nyuruh gue ngingetin kalau lo lupa ngatur pola makan atau bentuk badan lo berubah.” Lisa jadi ikut kesal. Ia menaruh dengan kasar meteran yang ada di tangannya.


Sejak pagi Amara terus berulah. Dimulai dari tidak mau berangkat bareng Rangga karena sedang marahan dan minta Lisa yang jemput padahal ia sudah kesiangan. Lalu muter-muter Jakarta untuk mencari bubur ayam favoritnya. Baru sampai lokasi ia sudah menyuruh Lisa membeli jambu cristal yang di beri bubuk cabe. Dan sekarang, masalah baju yang membuat Lisa emosi.


Aaaarrgghhh hari ini Amara benar-benar membuat Lisa kelelahan padahal baru setengah hari berjalan.


Mendengar ujaran Lisa, Amara tidak menjawab. Ia hanya berlalu pergi dan duduk kembali di meja riasnya. Rangga jadi ikut memperhatikan Amara. Gadis itu tidak lagi mendebat Lisa melainkan malah menangis.


Konsentrasi Rangga benar-benar buyar. Ia menaruh script-nya lalu menghampiri Amara. Di tariknya kursi lalu duduk menghadap Amara.


“Kamu kenapa sih Ra?” Ia menatap Amara dengan tajam.


“Kita memang lagi ada masalah, tapi tolong kita professional saat di kerjaan. Jangan ngerusak suasana dan mood orang di sekitar.” Lanjut Rangga tanpa melepaskan pandangannya dari Amara.


“Iyaaa.” Sahut Amara seraya mengusap air matanya.


Melihat Amara yang tiba-tiba begini, Lisa pun jadi tidak tega. Setelah mengenal Amara beberapa bulan ini, baru kali ini ia melihat Amara menangis karena perdebatan mereka. Padahal Amara bukan seseorang yang mudah untuk ditaklukan saat berdebat.


“Ra, gue minta maaf kalau lo kesinggung sama sikap gue.” Lisa menghampiri Amara dan berdiri di belakangnya.


“Gue gak bermaksud nyakitin lo. Cuma terkadang, lo terlalu kekanak-kanakan dan gak masuk akal. Lo juga terlalu seenaknya. Jujur terkadang gue capek sama sikap lo yang kayak gini." Terang Lisa apa adanya.


Ia menghembuskan nafasnya kasar saat melihat Amara yang terisak.


“Raa,,, Udah dong.."


"Rangga bener, kalian boleh punya masalah pribadi. Tapi di kerjaan, please.. Tunjukin profesionalitas lo. Gak cuma lo yang pusing, kita semua juga sama. Gue sendiri pun punya masalah pribadi. Nyokap gue sakit. Laki gue kelilit hutang gara-gara judi online, anak gue lagi susah makan. Mana ART tiba-tiba minta berhenti. Pusing gue Ra. Tapi gue berusaha untuk professional saat kerja.”


“Jadi tolong, hargai usaha kita semua.” Lisa sampai memohon pada Amara.


Amara tidak menjawab. Ia memilih beranjak dari tempatnya lalu mengambil baju yang tadi di tunjukkan oleh Lisa dan sempat ia tolak. Ia pun masuk ke ruang ganti tanpa berbicara apapun.


“Astaga Ranggaaaa,, Pacar lo bener-bener bikin gue pusing!” Dengus Lisa. Pelan namun penuh penekanan. giginya sampai menggeretak dan tangannya mengepal gemas.


Kalau saja Amara anak kecil, mungkin sudah ia sentil.


“Sorry mba.” Hanya maaf yang bisa diucapkan Rangga. Ia paham benar kekesalan Lisa. Namun saat inii ia hanya bisa mengusap wajahnya kasar lantas termenung. Iapun tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Amara.


Semalam saat Amara sudah bisa di ajak bicara, gadis itu mengatakan,


“Aku cuma memenuhi undangan Nadine untuk makan malam. Keith nganter aku pulang karena aku gak bawa mobil. Dan soal gesture Keith sama aku, itu hanya hal biasa. Tidak ada artinya sama sekali karena aku gak punya perasaan apapun sama Keith. Apa iitu cukup?” Kalimat itu yang menjadi penjelasan Amara semalam.


Gadis itu terlihat kelelahan hanya karena berdebat cukup panjang dengan dirinya. Moodnya benar-benar naik turun.


Dan sejak semalam, Amara mendiamkannya. Ia bahkan meminta Rangga untuk pulang dan tidak ingin bertemu untuk saat ini.


“Bro, di panggil tuh sama bang Devan. Di suruh bersiap karena bentar lagi giliran lo take!” Suara salah satu crew tiba-tiba membuyarkan lamunan Rangga.


“Okey, kita tunggu ya, jangan lama.” Timpal laki-laki itu untuk kemudian berlalu pergi.


Rangga beranjak dari tempatnya. Ia merapikan penampilannya yang sudah siap untuk take. Di ambilnya kembali script yang tadi ia baca.


Tidak lama, Amara keluar dari ruang ganti. Ia sudah tampil cantik seperti biasanya.


“Udah siap atau masih perlu touch up?” Tanya Rangga berusaha menetralisir keadaan. Mengalah saja dulu untuk saat ini daripada urusan semakin runyam.


“Iya, aku udah siap.” Jawab Amara seraya menghela nafas dalam lalu menghembuskannya. Ia berusaha menenangkan dirinya sendiri.


“Semangat ya Ra. Masalah kita tadi jangan diinget-inget dulu. Sekarang tunjukkin dulu kualitas kerjaan lo.” Lisa berusaha menenangkan.


Amara hanya mengangguk lantas mengambil script-nya dan berjalan lebih dulu keluar ruangan.


***


Di tempat berbeda, Inka masih mempersiapkan setting tempat untuk scene yang akan di ambil. Ia di temani Bella yang ikut menata bunga, mengubah ruangan indoor itu menjadi sebuah cafe yang di tata aestetic dengan berbagai efek yang ia ciptakan.


Inka jadi memandangi Bella yang terlihat menikmati pekerjaannya. Selain menulis, menata ruangan adalah keahlian Bella.


"Belsky, sebelah sini bagusnya pake tirai apa ya?" Tanya Inka saat berada di hadapan sebuah jendela besar yang terlalu polos.


Bella jadi menoleh ke arah Inka.


"Wooden Venetian Blinds⁣ kayaknya cocok. Nanti pencahayaannya minta dari sebelah sana aja." Tunjuk Bella pada salah satu sudut.


"Ide yang bagus." Sahut Inka yang antusias. Ia segera membawa tirai yang sudah siap pasang untuk menutupi jendela.


"Ngomong-ngomong Bell, udah ada kabar dari mas Bima? Masih transfusi gak sekarang?" Inka jadi teringat pada Ozi. Kemarin ia tidak sempat bertemu langsung dengan Ozi.


"Labu terakhir itu sekitar jam 8 selesainya. Dokter meminta untuk cek ulang lab, semoga hasilnya baik." Bella jadi ikut harap-harap cemas mengingat ia sedang menunggu kabar sang kakak dari Saras.


"Nanti sore, boleh gak gue ikut ke rumah sakit." Inka segera mendekat pada Bella lantas melingkarkan tangannya di lengan Bella.


"Boleehh kaann? Boleh ya, ya ya?" Ia bergelendot manja di lengan Bella dan sesekali bersandar di bahu kokoh itu.


"Boleh lah. Tapi lo jangan tersinggung ya sama sikap abang. Mungkin dia akan bersikap dingin sama lo. Dia selalu gitu sama lawan jenis." Bella mengingatkan Inka. Ia tidak ingin sahabatnya patah hati dan menangis tersedu-sedu seperti saat tiba-tiba pulang dari rumahnya tempo hari.


"Enggak lah. Mental gue udah lebih kuat sekarang. Lagian, kalau cinta kan harus di perjuangkan. Iya kan? Lo mau kan iparan sama gue?" Inka menatap Bella penuh harap.


"Iya." Sahut Bella pendek.


"Nah gitu dong. Kalau gitu kasih gue kesempatan sebanyak-banyaknya yaa buat deket sama mas Bima. Gue akan berusaha selalu ada buat dia, kayak seseorang yang selalu ada buat lo." Ujar Inka seraya melirik seseorang di sebrang sana.


Bella hanya menggeleng tapi kemudian matanya ikut melirik arah yang dimaksud Inka. Rupanya yang dimaksud sahabatnya adalah Devan yang sedang mengarahkan para pemain. Laki-laki itu tampak serius mengarahkan para pemain.


"Oh iya Bell, kok bisa sih Ibra kenal sama mas Bima? Emang mereka pernah ketemu ya?" Inka kembali dengan rasa penasarannya. Apalagi saat Ibra begitu siap untuk mendonorkan darahnya tanpa berpikir panjang.


Mendengar pertanyaan Inka, Bella jadi mengalihkan perhatiannya dari Devan. Ia memandangi setangkai bunga di tangannya yang iseng ia putar-putar.


"Dia, adek gue." Sahut Bella dengan santai.


"HAH?!" Namun tidak sesantai itu dengan Inka.


"Trang!!" Saking kagetnya Inka sampai menjatuhkan obeng yang ada di atas meja samping dirinya.


"Gimana, gimana tadi? Ibra adek lo? Bukannya lo cuma berdua sama mas Bima?" Inka sampai mengorek kupingnya, khawatir salah dengar.


Bella terangguk pelan. Ia duduk di sisi jendela yang lumayan lebar.


Ia menghela nafasnya dalam. Lantas tersenyum pada Inka. Sudah ia duga, orang-orang akan terkejut  mendengar hal ini termasuk Inka. Namun entah mengapa perasaannya malah jadi lebih lega saat mengakui siapa Ibra sebenarnya.


"Dia anak ketiga bokap gue." Sahut Bella yang tetap berusaha tersenyum.


Inka tidak lantas menimpali. Ia lebih memilih duduk di samping Bella dan menatap gadis itu dengan ekspresi yang tidak bisa di jelaskan. Di genggamnya tangan Bella dengan erat.


"Jadi posisi dia sama dengan gue?" Tanya Inka yang masih penasaran.


"Ya." Sahut Bella pendek seraya memandangi tangannya yang digenggam Inka. Hangat dan menenangkan.


"Apa rasanya lebih baik?" Inka sangat penasaran dengan perasaan Bella karena mungkin saja ketiga kakaknya pun merasakan hal yang sama dengan Bella.


"Much better, Ka." Aku Bella seraya menghembuskan nafasnya perlahan.


"Dulu gue selalu takut kalau orang-orang tau siapa Ibra. Gue takut orang-orang bertanya, gimana bisa Ibra jadi adik gue." Bella menjeda kalimatnya dengan mengambil setangkai bunga lainnya.


"Gue gak membenci Ibra tapi saat melihat anak itu gue seperti melihat banyak kesedihan dan kesalahan yang tidak seharusnya terjadi di hidup gue. Dia datang di saat Gue mengharapkan script yang sempurna di hidup gue tanpa ada orang yang tersakiti atau menyakiti di dalamnya."


"Tapi kemudian gue sadar, orang-orang yang hadir dalam hidup gue tanpa pernah gue duga adalah orang-orang yang dikirim tuhan agar jalan hidup gue lebih berwarna. Kesedihan itu tidak selalu hitam, kebahagiaan dan cinta tidak selalu merah muda. Dan orang-orang itu adalah warna lain yang membuat gue tersadar kalau harusnya gue bahagia karena bisa melihat banyak warna di hidup gue dan mungkin tidak semua orang alami."


Bella menatap Inka dengan sendu.


"Ibra salah satu orang yang membuat gue merasa kalau tersenyum itu tidak selalu karena bahagia dan menangispun bukan selalu karena kita bersedih." Bella menyatukan dua tangkai bunga di tangannya kemudian ia kecup dengan lembut.


Tiba-tiba saja Inka mendekat dan memeluk Bella dari samping. Ia menempatkan dagunya di bahu Bella lantas sedikit menoleh sahabatnya.


"Kenapa lo gak membagi perasaan ini sama gue Bell? Mungkin saja dengan begitu, gue bisa sedikit mengerti perasaan abang-abang gue? Mungkin aja gue bisa menjadi salah satu alasan mereka menangis walau bukan karena sedih." Lirih Inka.


Ia sangat menyayangi ketiga kakaknya namun ketiganya sangat membenci dirinya. Rasanya ia ingin kembali ke masa dulu. Masa dimana ia hanya dikenal sebagai anak adopsi dari sebuah panti. Dengan begitu, bukankah mereka tidak akan membenci Inka?


"Karena semua butuh kesiapan dan keberanian, Ka. Bukan hanya kesiapan dan keberanian menerima seseorang tidak terduga di hidup kita tapi kesiapan dan keberanian untuk menerima kalau kita terluka, kita kecewa dan kita marah tapi sebenarnya kita menyayanginya. Buat gue, itu jauh lebih menyulitkan dibanding mengingkari semuanya." Terang Bella dengan sesungguhnya.


Inka tidak lagi menimpali, ia hanya menatap Bella dengan lekat. Ia mencoba mencerna apa yang Bella utarakan. Satu hal yang bisa ia petik, Bella telah membuatnya melihat kehadiran seseorang dari sudut pandang lain.


Lalu, bisakah ketiga kakaknya kelak memiliki pemikiran yang sama dengan Bella dan menerima kehadirannya?


****


Lanjut gak nih?


Sebelum lanjut, jangan lupa like, comment dan votenya yaa...


Makasih ;)