
Hari libur yang di nanti akhirnya tiba. Aktivitas Bella pagi ini di mulai dengan sholat subuh berjamaah di mushola kecil rumah mereka, dengan Ozi sebagai Imamnya. Ibadah kali ini terasa khidmat setelah beberapa lama mereka melakukannya di kamar masing-masing.
Selesai berdo'a bersama, mereka saling bersalaman dan berpelukan. Terasa benar kehangatan sebuah keluarga yang sempat hilang dari keluarga kecil ini.
Ozi juga mengajak Bella dan Saras untuk berolah raga. Berlari kecil mengelilingi taman komplek, membeli bubur untuk sarapan dan jajanan lainnya yang menjadi pemuas lapar mata Bella.
“Mau pake telor puyuh?” Tawar Ozi sambil mengangkat sate telur puyuh di tangannya.
Mereka memilih sarapan bubur ayam yang dikenal sudah ada sejak kompleks ini di buat.
Dua wanita pecinta bubur ayam itu saling melirik seperti mencari peluang dan dalam detik yang sama berebut mengambil sate telur puyuh dari tangan Ozi.
“Mana bisa nolak! Sorry mah, soal sate telor puyuh, adek gak akan ngalah.” Cetus Bella sambil terkekeh. Ia begitu lahap menikmati sate telur puyuh di tangannya.
Saras dan Ozi hanya tertawa melihat tingkah si bungsu.
“Iyaaa mamah nyerah deh kalau soal rebutan sate telot puyuh." Aku Saras. Melihat Bella kembali memiliki selera makan yang baik, itu sudah lebih dari cukup.
Bella bergelendot manja pada sang ibu.
"Taman ini makin rame aja ya..." Bella melihat banyak sekali keluarga kecil yang menghabiskan waktunya di taman ini. Sepertinya unit di kompleks ini sudah habis terjual dan para pemiliknya tumpah ruah di sini.
"Taman ini memang selalu jadi tempat favorit sayang, karena keasriannya selalu terjaga." Terang Saras. Ia jadi ikut memperhatikan aktivitas orang-orang di taman.
Perhatiannya kini tertuju pada sebuah keluarga kecil dengan seorang anak balita yang sedang mereka ajak bermain.
"Di taman ini, dulu adek belajar jalan sama papah.” Ucap Saras tiba-tiba. Matanya nanar memandangi jalanan berpasir halus tempat para orang tua mengajarkan anak-anaknya berjalan.
Ia jadi ingat bagaimana bahagianya ia dan suami saat melihat Bella belajar berjalan saat usianya satu tahun. Rasanya baru kemarin, tapi ternyata anak kecil itu sekarang sudah tumbuh dewasa dan usianya hampir seperempat abad.
“Dulu lo kegemukan dek, kaki lo gede banget sampe jejak kaki lo nyata banget di atas pasir. Eh perasaan abang masih nyimpen fotonya deh di laptop.” Sahut Ozi menimpali.
“Hahahaha… Iya..” Saras jadi tertawa kecil mengingat kenangan manis itu. Orang-orang selalu bilang kaki Bella seperti roti sobek namun beruntungnya ia tetap lincah bergerak.
“Kata papah, langkah adek tegas banget. Walaupun kaki adek berat, tapi adek bisa jalan dengan lincah. Kelak, adek akan jadi wanita yang kuat dan pemberani.” Lanjut Saras seraya mengusap rambut Bella dengan lembut.
Bibirnya tersenyum tipis, seraya memandangi Bella yang tengah ia singkapkan helaian rambut dari wajahnya yang kemerahan.
“Dan papah benar, lo tumbuh jadi anak yang kuat dan pemberani. Gak menya-menye. Bahkan terlalu mandiri.” Ozi mentoyorkan kepalanya pada kepala Bella yang membuat gadis itu meringis manja.
“Ish sakit tau!” Dengus Bella, yang kemudian di usap Ozi dengan sayang.
Ia jadi membayangkan kalau anak kecil yang sedang belajar berjalan itu dirinya. Kedua orang tuanya menunggu dengan sabar saat sang anak melangkahkan kakinya lagi dan lagi.
“Lagi nak, sini ke papah.” Seru sang ayah yang menunggu di ujung jalanan berpasir.
Wajah laki-laki itu terlihat sangat senang saat melihat sang anak berhasil melangkahkan kakinya semakin dekat dan dekat lagi ke arahnya.
“Apa dulu papah sebabahgia itu?” Tanya Bella tiba-tiba. Bibirnya tersenyum tipis lantas kemudian wajahnya berubah sedih.
“Sangat, papah sangat bahagia. Tidak ada orang tua yang tidak bahagia saat melihat anaknya tumbuh dengan baik dari hari ke hari. Hanya saja, kesempatan setiap orang untuk bisa bersama orang yang mereka sayangi, itu berbeda-beda. Termasuk papah.” Timpal Saras yang memandanginya wajah sang putri dengan hangat.
“Lo kebanggan papah dulu. Umur tiga tahun udah bisa cerita ke om sama tante pengalaman kita liburan ke kebun binatang. Lo belajar ngomong lebih cepet di banding anak lainnya. Kata papah, saat lo gede nanti lo bakal jadi juru bicara di PBB dan di kenal banyak orang.” Ozi sampai terkekeh kalau mengingat adiknya saat kecil dulu.
Ia sengaja menceritakan kenangan-kenangan manis itu untuk mengurangi rasa kecewa Bella terhadap sang ayah. Bagaimanapun ia tidak ingin sang adik terlarut dalam kemarahannya yang tidak pernah usai.
“Apa sekarang papah kecewa di atas sana?” Tanya Bella seraya memandangi langit luas yang terlihat cerah.
“No, papah gak akan kecewa. Melihat anak-anaknya melakukan apa yang mereka sukai, itu jauh lebih bikin papah bahagia. Termasuk mamah.” Dengan cepat Saras menggenggam tangan Bella yang berada di atas meja, lembut dan hangat.
Bella hanya tersenyum kecil seraya kembali memandangi anak-anak yang berlarian. Ia memang sebahagia itu dahulu. Dan saat ini? Entahlah. Ia bahkan tidak tahu seperti apa definisi kebahagiaan di usianya saat ini.
Selesai berolahraga, mereka kembali ke rumah. Seperti biasa, Ozi kebagian menggendong Bella yang katanya kakinya kram. Akh cerita lama, kalau kata Ozi.
“Repot lo, olah raga dikit aja langsung kram!” Ledek ozi yang mendudukan sang adik di kursi ruang makan.
Ia sampai ngos-ngosan karena mengggendong Bella. Namun harus ia akui, berat badan Bella jauh berbeda dengan sebulan lalu. Lebih susut menurutnya.
“Abaaang… Kebiasaan deh suka ngeledekin adeknya. Nanti adek gak mau makan, mamah yang bingung.” Saras menjewer kuping Ozi dengan gemas.
“Aduduh iya mah ampun..” Rengek Ozi membuat Bella terkekeh sambil menjulurkan lidahnya pada sang kakak.
“Udah pada mandi sana, bau matahari.” Titah Saras yang pasti tidak bisa di bantah.
“Baik mah..” Sahut keduanya bersamaan.
Ozi kembali ke kamarnya begitupun dengan Bella. Ia beranjak setelah kakinya terasa lebih baik.
Mengguyur tubuh di bawah air shower yang dingin ternyata sangat menyegarkan. Sekujur tubuh Bella basah, terasa benar saat bulir air itu meresap ke pori-pori kulitnya yang terbuka lebar.
Menambahkan sedikit lulur pada sabunnya ternyata membuat ia merasa lebih nyaman. Ini akan menjadi mandinya yang paling lama. Sambil bersenandung lirih ia membersihkan setiap lekuk tubuhnya tanpa ada yang terlewat.
Sekitar 15 menit Bella menghabiskan waktunya di dalam kamar mandi. Keluar dari kamar mandi ia masih mengenakan kimono mandi dengan handuk kecil yang membungkus rambutnya yang basah. Ia membuka laci *make up-*nya\, memakai beberapa skin care yang ia beli sebagai rekomendasi dari Inka.
“Ini bikin kulit lo cerah, ini ngilangin bekas jerawat terus yang ini bikin kulit lo plumpy. Pokoknya lo bakal tambah cakep gue jamin.” Instruksi Inka ia ingat baik-baik.
Ia selalu berkata kalau merawat diri adalah salah satu bentuk cara mencintai diri sendiri.
“Inget, sebelum lo mencintai orang lain dan berusaha membahagiakan mereka, cintai dulu diri lo dan bahagiain diri lo sendiri. Masalah kebahagiaan orang lain, bukan tanggung jawab lo secara mutlak. Okey bestie?!” Itu kalimat jitu yang selalu Bella ingat dari Inka.
Ya Inka benar, ia harus belajar mencintai dirinya sendiri sebelum mencintai orang lain.
“Adek mau kemana?” Tanya Saras saat melihat Bella keluar dari kamar dengan pakaian rapi dan penampilannya yang segar.
“Adek ada janji sama temen-temen mah, mau nonton.” Akunya, seraya memakai jam tangan di lengan kirinya.
“Wuiitttwiiiww!!” Ozi sampai bersiul melihat penampilan Bella pagi ini.
“Berisik lo!” Cetusnya kesal.
“Wangi banget. Mau abang anter gak neng?” Bukan Ozi kalau tidak berhenti menggoda.
“Gak usah, nanti anak-anak jemput ke sini kok.” Ia sempatkan untuk melihat jam di tangannya. Harusnya mereka sudah tiba.
Benar saja, ponsel Bella langsung berdering dengan nyaring. Nama Roni yang muncul di layar ponselnya.
“Ya bang? Udah nyampe?” Jawabnya dengan cepat.
“Okey, gue ke depan sekarang.” Lanjutnya setelah Roni mengatakan kalau ia sudah ada di depan rumah Bella.
“Mah, bang, adek berangkat ya.” Pamitnya.
Ia menyalimi Ozi dan Saras bergantian.
“Iyaaa… Have fun ya sayang.” Saras memeluk Bella untuk beberapa saat.
Ia bisa tersenyum lega karena putrinya sudah kembali.
“Iyaaa… Adek mungkin pulang agak maleman, gak usah nungguin buat makan malem yaaa… Assalamu’alaikum….” Terangnya seraya melambaikan tangan.
“Wa’alaikum salam.” Sahut Ozi dan Saras bersamaan.
Mereka sama-sama memandangi Bella yang pergi hingga menghilang di balik pintu.
Ozi menghampiri Saras dan berdiri di sampingnya. Di rangkulnya Saras dari samping.
“Adeknya abang udah gede ya mah.” Ungkapnya penuh rasa bangga.
“Iyaaa.. Makin cantik dan pinter. Mirip mamah dulu waktu muda.” Timpal Saras tidak mau kalah.
Keduanya kompak tersenyum lega.
******
Tiba di salah satu mall besar, David tampak terkejut melihat kedatangan Bella bersama teman-temannya. Ada sekitar 8 orang yang datang termasuk Bella. Padahal ia pikir hanya Bella yang akan datang.
“Apa kabar bro?!” Sapa Roni pada David, sahabatnya.
“Baik. Gue kira cuma dikitan.” Bisik David saat merangkul Roni.
“Tenang, udah gue atur.” Bisik Roni seraya menepuk bahu David.
“Ya udah. Jangan sampe yang lain ngerecokin gue sama Bella.” Ultinya, mengingatkan Roni.
“Hay Bell,..” Sapanya pada Bella.
“Oh hay. *S*orry udah nunggu ya?” Bella tahu kedatangannya terlambat.
“Santai, filmnya masih 10 menitan lagi kok.”
“Ngomong-ngomong, lo keliatan beda banget hari ini.” Puji David seraya memandangi Bella.
Gadis ini terlihat cantik dengan stelan celana jeans dan kaos serta kemeja oversize yang sengaja tidak di kancing. Ia terlihat tomboy seperti biasanya, lengkap dengan topi yang menutupi rambutnya yang tergerai dengan alas sepatu sneaker.
“Bilang aja kalau mau muji cantik. Kiw kiw kiww!!” Timpal Romi, si kembar yang suka menggoda Bella.
“Jaga tuh mata, ampe mau copot.” Rini si ketuspun ikut berbicara.
“Bisa aja lo!” Bella menyikut Rini yang terdekat darinya, sementara David terlihat salah tingkah.
“Inka mana ya, kok belum dateng?” Bella celingukan mencari keberadaan sahabatnya.
“Ya udah, kita tungguin sambil beli cemilan deh.” Ajak Roni.
“Kebiasaan tuh anak telat mulu.” Gerutunya, mirip bapak-bapak kompleks.
“Lo tungguin dah, gue nukerin dulu tiket.” Pamit bapak komplek menuju tempat penukaran tiket.
Masing-masing menuju tempat pemesanan makanan. Mereka memesan pop corn, menu andalan saat menemani menonton.
“Gue mau sosis deh, laper belum sarapan.” Pinta salah satu anak artistik.
“Sodanya 6 yaaa,,”
“Lo apa Bell?” Tanya David yang berdiri di samping Bella.
“Gue coklat anget aja. Biar gak bolak baik toilet.” Pinta Bella.
“Okey, coklat angetnya dua. Biar gue juga gak bolak balik toilet.” Timpal David seraya tersenyum.
Bella hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan David.
“Wah, dia juga dateng ternyata.” Tunjuk Rini pada seseorang yang terlihat di pintu masuk.
Bella ikut menoleh, ternyata yang di maksud Rini adalah Devan. Laki-laki itu berjalan dengan gagah, melepaskan kacamata yang bertengger di atas hidungnya, melipatnya dan menaruhnya di kerah baju. Penampilannya sedikit samar dengan mengenakan topi untuk menyamarkan wajah tampannya.
Tapi aura Devan memang berbeda. Penampilannya yang selalu keren dengan topi dan jaket kulit, semuanya nyaris berwarna hitam hingga sepatu semi boots yang dikenakannya, memang tetap menarik banyak pasang mata para gadis untuk melirik.
“Cakep banget si sutradara kita." Puji Rini dengan mata berbinar-binar.
"Emang harus sekeren itu ya tampilan kalau mau nonton? Eh gue juga dulu waktu muda keren sih waktu nonton sama emaknya anak-anak." Roni yang ikut memeprhatikan jadi mengusap perutnya yang sekarang sudah menggembung khas bapak-bapak.
"Lo sih udah expire bang. Gak yakin dulu lo sekeren itu bang." Timpal Rini yang membuat orang-orang terkekeh mendengar ucapannya.
"Kurang asem nih bocah." Dengus Roni tidak terima.
Tapi Rini seperti tidak peduli.
"Gue kira dia gak dateng, soalnya kemaren gak jelas waktu gue tanya.” Rini mendekat pada Bella. Lihat tatapannya yang penuh ketertarikan pada Devan.
“Karena tau lo ikut kali Rin,” Sahut Bella. Ia pun tidak menyangka kalau Devan akan datang.
“Gue duduk sebelah dia, boleh kan Bell?” Pintanya penuh harap.
“Lo atur aja, gak ada yang ngelarang.” Timpal Bella.
Ia kembali membalikkan tubuhnya melihat menu di hadapannya. Ia sengaja membuang waktu untuk mengabaikan Devan.
“Hay Van,….” Sapa Rini saat Devan mendekat.
Devan hanya mengangguk, ia lebih memilih memperhatikan Bella yang berdiri di samping David.
“Hay,” sapa Bella terpaksa. Meskipun kemaren Devan bertingkah tidak jelas, hari ini laki-laki ini terlihat biasa saja.
“Hay,,” suara Bass nya menyahuti. Mereka sama-sama melempar senyum. Rasanya sedikit canggung.
“Nih tiketnya.” Roni yang baru datang segera membagikan tiket.
“Studio berapa kita?” Rini sudah sangat exciting, membayangkan ia akan duduk di samping Devan selama film di putar.
“Studio 4.” Sahut Roni.
“Hah, studio 4, bukannya gue ngasih tau lo di studio 2?” David yang mendengar segera berbalik.
“Iya, studio 2 tiketnya habis. Jadi gue pilih studio lain.” Timpal Roni sambil mengedipkan matanya pada David.
David terangguk paham, rupanya ini cara Roni agar ia hanya menonton bersama Bella.
“Yaaaahhh…. Gimana sih lo! Ini sih bukan nobar judulnya.” Protes Rini yang tetap mengambil tiketnya.
“Kurang satu lagi, bang Devan belum di pesenin.” Bibirnya sampai mengerucut kecewa.
“Gak apa-apa. Tar beli nyusul bareng si Inka. Ni anak mana sih, kok belum dateng juga?!” Roni ikut celingukan.
Tidak lama berselang, ponsel David berbunyi.
“Lah, ini Inka nelpon gue.” David menunjuk layar ponselnya sendiri.
“Coba tanya, udah dimana tuh anak.” Titah Roni.
David mengangguk sigap.
“Iyaaa, gue udah nyampe di bioskop. Lo masih dimana?” David mengawali kalimatnya. Ia menyalakan mode loud speaker agar semua mendengar.
“Vid sorry, gue gak bisa dateng. Gue ada yang harus di urus. Terus bisa gak lo ke kantor sekarang?” Pinta Inka dengan tiba-tiba dan tergesa-gesa.
“Ke kantor gimana? Gue kan mau nonton sama Bella.” Ia sontak protes dan menatap Bella.
Bella hanya mengendikkan bahunya.
“Iyaaa gue tau. Tapi ini ada yang harus lo setujuin dulu. Ada property yang udah nyampe dan minta pembayaran sekarang. Lo ke sini deh sebentar. Penting banget soalnya ini.” Pinta Inka dengan sungguh-sungguh.
“Akkhh sial…” Adalah Roni yang mendengus kesal. Sepertinya ia sadar kalau Inka sengaja membuat rencana ini.
“Harus sekarang banget emang? Gue udah janji loh sama Bella. Gak bisa di tunda gitu?” David terlihat putus asa.
“Yaa gimana lagi, soalnya ini di tungguin. Gue mau ngomong deh sama Bella. Biar gue yang minta maaf,” Ujar Inka penuh sesal.
“Bella ada di sini, lo ngomong aja langsung.” David terlihat kesal, mendekatkan handphonenya pada Bella.
“Ya Ka, gimana?” Kali ini Bella yang berbicara.
“Belskyyy,, sorry… Gue gak bisa ikut nonton. Property yang gue pesen minggu lalu, datengnya hari ini. Dan mereka minta payment sekarang. Lo gak marah kan kalau gue minta David nyusul ke kantor?” Rengeknya.
“Ya nggak apa-apa lah. Kenapa juga lo minta maaf segala, urusan lo lebih penting Ka.” Timpal Bella seraya menatap David.
David hanya bisa mengguyar rambutnya kasar. Hancurlah sudah semua rencananya yang sudah ia susun sejak beberapa hari lalu.
“Ya udah, gue ke situ sekarang.” Tandasnya seraya menutup teleponnya.
“Sorry nih gais, gue gak bisa ikut nonton. Sorry ya Bell.” David menatap Bella penuh sesal.
“Gak apa-apa Vid. Nonton barengnya bisa lain waktu.” Sahut Bella.
“Ya udah, nih tiket yang udah gue beli. Lo pake aja.” David memberikan dua tiket miliknya pada Bella.
“Gue duluan yaaa.. Nanti gue telpon lo Bell. Bye!” pamitnya.
“Bye Daviddd…” Adalah Rini yang menyahuti.
Kini di tangan Bella ada dua tiket. Lalu, dengan siapa ia akan menonton aksi Keanu Reeves?
Apa dengan laki-laki di sampingnya?”
******